
Angkasa berusaha menahan dua sudut bibirnya agar tidak terlalu mengembang sempurna. Ia tidak mau terlihat konyol di depan semua mata yang memandangnya. Bahkan dua balita bermata bola itupun sedang memandangnya dengan mulut terbuka.
'Kemampuan aktingmu sedang diuji, Asa,'
Angkasa balik menggenggam erat tangan Salma, "Maaf kalau membuat kalian terkejut. Sebenarnya kita ingin mengumumkan hubungan kita setelah proses syuting selesai."
"Ah, eh ... Iya benar." Mata Salma membesar, ia tak menyangka Angkasa akan merespon cepat aksinya. Lingkaran tangannya pada lengan Angkasa terasa semakin terjepit karena pria itu menghimpitnya diantara ketiak.
"Aku tidak percaya." Armand mengepalkan jemarinya.
"Terserah anda mau percaya atau tidak, kami tidak memaksa. Kita jadi makan, Sayang?" Angkasa tersenyum dan bertanya dengan sangat lembut.
Salma tak sanggup menjawab, ia berusaha mengimbangi ketenangan Angkasa. Anggukan kepala serta senyumannya saja yang bisa mewakili jawabannya.
"Salmaaa, kamu hutang cerita sama Kakak," desis Tia berbisik dari arah belakang. Ah, dia hampir lupa keberadaan kakak iparnya itu. Ceramah apalagi yang akan di dengarkannya nanti malam tentang hal merebut pasangan orang lain.
Angkasa tak mau melepaskan tangan Salma yang bergelayut di lengannya. Bukannya ia tak tahu kalau wanita itu berusaha melepaskan diri, tapi tak semudah itu ia menyerah. Siapa suruh mendekat duluan? Bagaikan burung yang salah terbang masuk ke dalam rumah, begitupun Salma sekali menyerahkan diri meskipun itu hanyalah sandiwara tetap tak akan diberikan jalan untuk keluar lagi.
"Pak Armand mau ikut makan malam?" Menyadari kalau Armand tidak berjalan di belakangnya, Angkasa dan yang lainnya sudah berjalan dua langkah, kembali berbalik menoleh ke belakang.
"Kami tidak keberatan kok kalau ada orang asing yang ingin bergabung, benar Sayang?" lanjut Angkasa setengah menyindir. Sekali lagi ia mengusap dan sesekali meremas lembut telapak tangan Salma yang ada di lengannya. Rupanya ia sangat menikmati perannya kali ini.
"Ehm, iya. Ayo Mas Armand kenapa masih berdiri di sana?"
"Aku mau pulang. Berikan nomer ponselmu," ucap Armand ketus.
"Nomer ponsel saya sudah anda simpan kemarin." Bukan Salma yang menjawab, tapi Angkasa sengaja menyela.
"Bukan anda." Armand menatap saingannya sinis, "Berikan nomer ponsel barumu, Salma." Ia membuka ponselnya siap mengetik di sana.
"Maaf, tidak ada seorangpun rela, jika pasangannya masih menyimpan nomer ponsel orang dari masa lalunya."
__ADS_1
"Ini untuk komunikasi masalah anak, bukan urusan anda." Emosi Armand sudah mulai menggelegak.
"Bisa melalui saya, sepertinya Salma tidak keberatan. Bukan begitu, Sayang?" Untuk kesekian kalinya Angkasa menatap, meremas dan mengusap lembut tangan Salma. Ia sangat menyukai kegiatan itu.
"Ehm, Iya. Bisa lewat Pak Asa." Salma membeo gugup.
"Kamu tidak meminta nomer ponsel saya, Armand? Padahal sehari-hari yang bersama Cakra dan Candra bukan Salma, tapi aku," tukas Tia ketus.
"Ah, iya jauh lebih baik berhubungan langsung dengan Mba Tia. Kalau kangen sama anak-anak, kamu bisa minta kirim foto mereka. Kalau harus menunggu Salma pasti lama, dia akan sibuk akhir-akhir ini." Angkasa menepuk-nepuk mesra tangan Salma.
Armand menatap satu persatu wajah yang seolah menantangnya. Mungkin kalau tidak berada di tempat umum, ia akan berteriak dan memaki mereka satu persatu.
"Tidak perlu! Aku akan datang lagi. Salma, aku masih berharap hatimu luluh melihat anak-anak yang merindukanku. Kita masih bisa bersatu demi mereka."
Salma berdecih mendengar pernyataan Armand yang tak tahu malu. Sudah jelas kalau si kembar hampir tak mengenalinya. Hubungan yang mesra antara anak dengan orangtua, meski lama tidak bertemu tak bisa ditutupi. Memori indah akan selalu melekat dalam ingatan, sebaliknya selama mereka masih bersama Armand tidak pernah menorehkan kenangan indah dengan si kembar. Lalu apa yang mantan suaminya itu harapkan?
Drrrtt ... drrrtt
"Halo."
"Kalau kamu tidak segera kembali, malam ini juga aku pesan tiket pesawat pulang!" Teriakan Tania yang menggelegar, menembus ponsel hingga Salma yang berdiri cukup jauh dapat mendengarnya.
Tak memberi kesempatan Armand untuk menjawab, Tania langsung memutus panggilan teleponnya. Armand meremas benda pipih di tangannya. Emosinya semakin tak terkendali, andaikan saja ia tidak membutuhkan bantuan wanita itu untuk mendekati mantan istrinya, Tania sudah ia tendang sejauh mungkin.
"Iya aku tahu, kamu mau segera pulang. Cepatlah Tania sudah menunggu, titip salamku untuknya," ujar Salma cepat sebelum Armand membuka mulutnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Armand segera pergi dari sana dengan langkah lebar.
Begitu sosok Armand menghilang di balik pintu kaca yang terbuka dan menutup otomatis, Salma langsung melepaskan tangannya dari himpitan Angkasa, "Maaf Pak, maaf Pak, maaf Pak." Berulangkali ia membungkukan badan di depan bos besar Asa production itu.
"Kamu minta maaf, kenapa?"
"Saya minta maaf mempergunakan Bapak sebagai alasan, tolong jangan marah." Salma mengatupkan telapak tangannya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Apa saya terlihat marah Mba Tia?" Angkasa menoleh ke arah kakak ipar Salma dengan senyum lebarnya, setelah mendapat jawaban dari Tia berupa gelengan kepala, Angkasa membungkuk ke arah si kembar, "Om lagi marah atau senang?"
"Cenang," ucap Cakra seraya tertawa.
"Tuh, mereka aja tahu. Cuman kamu yang bilang saya marah," ujar Angkasa dengan raut jenaka.
"Saya tetap ga enak tadi, terima kasih sudah mengerti."
"Ah, ga apa-apa, dianggap serius juga tak apa. Eh, di sana sepertinya ada bau-bau ayam goreng?" Angkasa segera mengalihkan perhatian Salma dari ucapan nakalnya. Ia menunjuk ke arah gerai makanan siap saji, "Ada yang mau lomba lari ke sana?" Angkasa mengerling ke arah si kembar yang langsung melonjak kegirangan.
Tanpa aba-aba tiga pria beda usia itu berlari ke arah gerai di ujung selasar, meninggalkan Salma dan Tia.
"Yang kamu bilang tadi ke Armand itu tidak benar?" kejar Tia penasaran.
"Ya ga, Mba. Kalau benar Mba sama Mas Bimo sudah pasti tahu duluan."
"Tapi kalian tadi itu seperti beneran loh."
"Kita sudah biasa berakting, Mba jangan terlalu diambil serius yang penting Mas Armand tidak berani macam-macam lagi sama aku." Salma memalingkan wajahnya, ia tidak mau kakak iparnya itu melihat sinar kebohongan di matanya, karena ia juga sangat menikmati sandiwara yang dilakoninya bersama Angkasa.
Tidak seperti apa yang Salma ucapkan, saat Angkasa tadi lomba lari dengan si kembar kakinya terasa ringan bagai menginjak awan. Energinya seketika melonjak berlipat ganda. Bagi Angkasa itu tadi adalah gambaran masa depan, jika Salma menganggap itu hanyalah akting ia tentu tidak peduli.
...❤️🤍...
Sudah baca novel ku yang judulnya "Luna milik Tuan Muda Barra" ? kalau belum yuk melucur sudah tamat juga.
Bagaimana jika kamu terjebak menjadi seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel, dan kamu harus membuktikan jika sang antagonis jauh lebih baik dari sang protagonis?
Jihan terjebak dalam sebuah novel dan mendapat peran antagonis yang berakhir menyedihkan, karena sebelumnya ia menertawakan sang pembuat cerita novel yang menurutnya telah menulis cerita pasaran yang sangat mudah ditebak alurnya.
__ADS_1