Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Aku tak diajak


__ADS_3

"Kamu? Yaaah, kadangkala, tapi aku 'kan sudah mengenalmu luar dalam. Terbukti kalau aku selama ini tidak pernah membuatmu kecewa." Bimo tersenyum manis pada istrinya, "Betul juga, lebih baik kamu cari penginapan dulu besok kita bertemu lagi dengan badan yang lebih segar dan pikiran yang jernih." Bimo langsung beralih pada Angkasa, meski wajah istrinya belum menunjukan rasa puas akan jawabannya.


"Baik kalau begitu. Mmm ...."


"Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Aku sangat mengenal adikku," sela Bimo saat Angkasa melirik ke arah pintu kamar Salma.


Angkasa mengangguk lalu berdiri dari duduknya mengikuti Bimo yang sudah terlebih dulu berjalan ke arah pintu masuk. Walaupun terasa berat tak bertemu Salma yang masih dalam keadaan marah, mau tak mau ia tetap menuruti permintaan sang tuan rumah.


Di perjalanan memakai mobil sewaan dari bandara, Angkasa mengirimkan pesan pada Salma. Ia meminta maaf jika sikapnya ada yang menyinggung calon ratunya itu dan juga menanyakan kenapa hanya di dalam kamar terus.


'Kenapa tidak bilang kalau mau cari hotel? Aku sedang menidurkan si kembar, apa susahnya mengetuk pintu?'


Walaupun hanya berupa tulisan, Angkasa sangat yakin kalau pesan itu bernada marah.


'Aku minta maaf, aku hanya tidak mau mengganggu istirahatmu. Besok aku datang lagi. Kamu istirahat dulu ya.'


Angkasa tidak mau memperpanjang persoalan yang baginya seharusnya tak ada.


Ia memfokuskan untuk acara penting di esok hari. Ia tidak mau kembali ke Jakarta sia-sia. Mungkin kakak ipar Salma terlihat mudah diatasi, tapi di mata Angkasa, Bimo tak mudah diluluhkan hanya sebatas keyakinan perasaan apalagi harta dan kedudukan.


Sampai di penginapan, Angkasa segera menghubungi Pak Iwan, teman sekaligus seniornya di dunia Entertain. Angkasa menyampaikan semua niat baiknya untuk menjadikan ibu si kembar istrinya, dan ia meminta Pak Iwan menjadi saksi sekaligus wakil keluarga dari pihaknya.


Pagi-pagi benar, Angkasa meluncur ke toko bunga dan memesan bouquet mawar merah yang cukup besar. Inginnya ia memakai bunga Anggrek ungu, tapi tak mudah mendapatkan bunga jenis itu untuk dijadikan rangkaian.


Setelah puas dengan hasil rangkaian karya pegawai toko bunga, Angkasa kembali lagi ke hotel tempatnya menginap. Ia taruh bunga di kamarnya, lalu turun kembali ke Mall yang menjadi satu dengan hotel tempatnya menginap.


Angkasa melebarkan langkahnya, mencari toko perhiasan yang ada di dalam Mall. Begitu menemukan yang ia cari, Angkasa langsung memesan sebuah cincin dengan mata berlian di tengahnya. Tak lupa ia membeli sesuatu yang harapannya dapat memperlancar semua urusannya.

__ADS_1


Angkasa kembali ke kamarnya dengan perasaan lega dan badan yang lelah. Jika biasanya berkeliling mencari sesuatu ia lempar ke sekretarisnya, kali ini dengan kakinya sendiri ia bagai lompat dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu singkat. Semua ini ia rela melakukan hanya demi lancarnya rencana yang ia susun semalam.


Sengaja Angkasa tidak mengabari Salma seharian, ia ingin Salma merindukannya. Akan sangat senang sekali jika wanita itu yang menghubunginya duluan. Angkasa hanya memberikan kabar pada Bimo, jika sore nanti akan ada mobil yang menjemput mereka.


Sejak semalam Angkasa hanya membalas pesan singkatnya tanpa menelponnya, membuat Salma sedih, kecewa dan juga marah. Marah pada dirinya sendiri, karena merasa terlalu 'murah.'


Terlebih lagi pagi yang biasanya ada sapaan via pesan singkat, hari ini sampai siang tak ada satupun tanda keberadaan pria itu di kotanya. Ingin ia menelpon atau mengirim pesan, tapi lagi-lagi rasa takut dipandang 'murah' menyurutkan niatnya.


"Sal, nanti malam pakai baju apa?" Tia tiba-tiba datang mengagetkan dirinya yang sedang mengupas bawang.


"Baju apa?"


"Acara nanti malam."


"Mau ada acara apa?" tanya Salma semakin tak mengerti.


"Acara apa sih, aku ga tau." Salma menggelengkan kepala bingung sembari mengecek ponselnya sekali lagi, barangkali ada pesan Angkasa yang ia lewatkan. Tapi ia tidak menemukan apa-apa di sana, baik pesan ataupun panggilan yang tak terangkat.


"Ga tau juga, aku dibilangi sama Mas mu," ucap Tia sembari menggulung rambutnya dan bersiap akan mandi.


"Aku ga tahu juga, Mba. Mungkin acara mereka berdua kali." Sarah menunduk kembali memfokuskan pada bawang merah yang dikupasnya. Sialnya panas bawang dan sakit hatinya berpadu menjadi satu membentuk cairan bening di pelupuk matanya.


"Loh, Mas mu bilang kita semua berangkat, Asa sudah siapkan mobil jemput kita semua."


"Ga mau ah, malu aku ga diajak kok," ujar Salma berusaha menahan tangis.


"Kamu kenapa? Kok mau nangis?" Tia duduk di depan Salma dan berusaha melihat wajah adik iparnya yang menunduk terus.

__ADS_1


"Ga kok, pedes aja mata kena bawang." Salma mengelak sembari mengusap air mata yang akan jatuh, tapi tangan yang bekas bawang semakin memperparah panas di matanya. Salma sudah tidak bisa menahan panas di mata dan dadanya. Ia menangis sesenggukan, tapi mulut terus menyangkal kalau itu hanya karena bawang.


"Sudaaah, biar ga pedih matanya mandi dulu gih." Tia meringkas peralatan masak Salma dan menuntun adik iparnya itu masuk ke dalam kamar mandi, "Buruan mandinya, jangan nangis terus. Kamar mandi hanya satu, nih gantian kitaaaa." Tia berteriak sembari menahan tawanya.


Salma keluar dari dalam kamar mandi dengan mata bengkak. Ia terus menundukkan kepalanya sampai di dalam kamar.


"Keringkan rambutmu, pilih baju yang bagus. Nanti Mba dandanin biar cantik. Cakra, Candra mandi yuk kita mau jalan-jalan."


Salma kembali mengecek ponselnya dan berharap ada pesan dan panggilan masuk saat ia mandi. Geram dan kecewa ketika tak ada satupun notifikasi dari pria yang ingin menjadikannya istri.


"Looh, kok belum ganti baju sih? Buruan, Mba gantiin baju si kembar dulu." Salma masih duduk termenung di depan meja rias ketika Tia masuk dengan si kembar berbalut handuk.


"Mba aku ga ikut ya, kalau si kembar di bawa ga apa-apa," ucap Salma lesu.


"Kamu ini ada-ada saja. Apa perlu aku telepon si Asa itu untuk jemput kamu sendiri?" ancam Tia membesarkan matanya.


"Badanku ga enak, Mbaaa." Salma memberi alasan.


"Badanmu atau hatimu? Udah, nanti kalau Mas mu marah Mba ga mau ikut-ikutan. Kalau kamu ga mau ikut, bilang sendiri sama Masmu dan Angkasa." Wajah Tia memerengut sembari menggantikan baju si kembar.


"Dah, ganteng ponakan tante." Tia mengenakan si kembar kemeja dan celana jeans warna senada, "Mba mandi dulu, kalau sampai Mba selesai mandi kamu belum siap-siap awas aja. Cakra, Candra, suruh Mamamu ganti pakaian nanti kita terlambat." Tia melirik ke arah Salma dengan wajah garang.


...❤️🤍...


Sambil tunggu up besok, mampir karya temanku ya


__ADS_1


__ADS_2