Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Rindu


__ADS_3

"Sakit hati ya? Atau cemburu? Jangan sampai depresi loh," sindir Jane dengan senyum sinisnya.


"Untuk apa? Aku ga ada hubungan apa-apa dengan Pak Asa, kenapa harus sakit hati?" elak Salma. Ia tidak berani menatap mata Jane secara langsung. Salma berpura-pura santai sembari tetap membaca novel online dari ponselnya.


Jane mendekatkan kepalanya lalu berbisik, "Munafik."


Salma memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap Jane. Jika sebelumnya Jane bersikap seperti bunglon, kadang memihaknya dan kadang pula menjadi musuh dalam selimut, tapi kali ini perempuan yang pernah dianggapnya berjasa itu melepas topengnya keramahannya.


"Jangan-jangan kamu yang sakit hati karena berharap lebih, tapi sayangnya Pak Asa menoleh padamu saja tidak. Kasihan sekali kamu Jane." Salma menggelengkan kepalanya dengan tawa tak kalah sinisnya, "Setidaknya aku berteman baik dengan beliau dan dapat perlakuan istimewa dibanding kamu. Kamu iri sama aku? wajar kok." Salma berdiri dari duduknya meninggalkan Jane serta teman-temannya yang mengeluarkan sumpah serapah mereka dengan dagu terangkat.


Sampai di toilet, Salma mengunci pintu lalu membuka kran air. Sesak di dadanya ia keluarkan lewat air mata. Jari tangannya membuka halaman media sosial meski hatinya melarang. Berbagai macam judul ditampilkan di sana tentang Angkasa, semua mengarah pada dugaan calon istri dan tanggal pernikahan orang nomer satu Asa Production itu.


'Kenapa rasanya sakit sih? Tidak mungkin kalau aku sudah jatuh cinta sedalam ini. Rasa itu hanya kagum, tak lebih!'


Salma berusaha menyangkal kata hatinya. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Jane dan kawan-kawannya. Salma menghapus air matanya lalu membuka tas dan mengambil alat riasnya. Ia menyapukan pewarna yang terang di pipi serta bibirnya. Ia juga merapikan alis, bulu mata serta rambutnya. Ia ingin memperlihatkan pada orang di luar sana, bahwa Salma tidak terpengaruh dengan berita receh itu dan ia dalam keadaan baik-baik saja.


Hampir sebulan setelah berita itu tersebar dan mereda akhirnya dengan sendirinya. Selama itu pula jadwal roadshow dan promosi film mereka berjalan dengan lancar tanpa kehadiran Angkasa.


Hari ini pemutaran perdana film mereka bertajuk Ku kejar cintamu sampai Venus. Satu persatu pemeran memasuki gedung bioskop setelah berfoto sebentar di depan ruangan. Kilatan lampu kamera dan suara penggemar memanggil-manggil nama mereka.


Salma melambaikan tangan ke arah penonton yang meneriakan namanya. Sembari melambai, matanya masih berusaha mencari-cari sosok tegap di antara para pesohor yang hadir dalam pemutaran perdana film mereka.


Jujur Salma sangat merindukan kehadiran pria itu baik secara fisik ataupun hanya sekedar say hello lewat pesan singkat, tapi ia langsung menepis perasaannya begitu mengingat Angkasa sudah punya tambatan hati.


Salma berjalan masuk ke dalam gedung mengikuti arahan pengelola acara. Di dalam gedung bioskop sudah banyak penonton lainnya serta awak media yang diundang. Salma diarahkan untuk duduk di barisan tengah bagian depan, yang dikhususkan untuk pemain film serta management produksi yang terlibat.


"Mba Salma, selamat ya." Dari barisan belakang kursinya, Emran mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," sahut Salma dengan senyum tipis dan mengangguk kecil.


"Peran utamanya mana nih?" celetuk seseorang yang duduk di samping Emran.


"Ini, Salma Anggrek Bulan pemeran utama," timpal Emran.


"Bukan, Bos kamu."


"Ow, lagi persiapan dia. Semoga ga pingsan aja sebelum moment pentingnya," ucap Emran seraya diiringi dengan tawa kecil.


Salma yang mendengar percakapan dua pria di belakang kursinya itu, sontak merasa gelisah dan ingin menangis lagi. Ia berulangkali mengatur nafasnya sambil membalas senyum serta salam yang ditujukan untuknya. Jika dia bukan orang penting yang menjadi sorotan pada hari ini, mungkin ia sudah berlari pulang ke rumah dan mengurung diri dalam kamarnya.


Tak menunggu lama gedung theatre sudah terisi penuh. Beberapa petinggi Asa Production dan Pak Memet selaku sutradara memberikan sambutan serta ucapan terima kasih. Saat nama Angkasa dipanggil dan orangnya tidak ada, kelakar dan celetukan penonton terkait berita persiapan pernikahan Angkasa dilontarkan. Ujung bibir Salma berusaha terangkat seperti penonton lainnya. Ia harus dapat menguasai perasaan dan ekspresi wajahnya, karena kamera wartawan berulangkali menyorot ke arahnya.


Setelah kata sambutan dan pengantar disampaikan, lampu ruangan mulai dipadamkan. Salma bisa bernafas lega, raut wajahnya dapat ia ekspresikan sewajarnya.


Tanpa sadar jarinya meraba pipi yang pernah dikecup oleh Angkasa pada saat syuting. Perlahan jari itu mengarah ke bibir, wajah Salma seketika memerah ketika mengingat hangat bibirnya ketika berada di dalam mulut Angkasa. Ia menggiggit bibir bawahnya dengan mata menerawang jauh.


"Haus?"


Seseorang di sebelahnya menyodorkan sebotol air mineral dingin ke arahnya.


"Pak Asa!" Mata Salma membola, sejak kapan pria itu ada di sampingnya. Sepengetahuan Salma, sejak lampu dimatikan kursi di sisi kirinya kosong.


"Sssttt." Angkasa mendekatkan wajahnya dengan telunjuk di bibirnya.


"Pak Asa ngapain di sini?" Pertanyaan tolol dilontarkan oleh Salma.

__ADS_1


"Saya ga boleh duduk di sini? Bukannya deretan kursi ini untuk pemeran utama?" Kepala Angkasa celingak celinguk ke kanan dan ke kiri, meyakinkan diri kalau ia tidak salah menempati kursi orang lain.


"Bukan, maksudnya sejak kapan?"


"Sejak kamu pegang-pegang pipi lalu bibir dan senyum-senyum sendiri."


Jawaban Angkasa membuat Salma ingin tenggelam dan menghilang di dalam ruangan yang gelap.


"Saya kira kamu haus, bibirnya kering dipegang terus." Angkasa kembali menyodorkan botol yang dibawanya tadi.


Salma menggelengkan kepala, sungguh ia malu bercampur bahagia tak terkatakan. Tak menyangka Angkasa hadir dan duduk di sampingnya. Salma melirik ke samping sekali lagi, ia takut kalau itu hanya halusinasinya saja.


Pria itu tampak gagah di bawah sinar yang menyorot dari layar lebar. Pakaiannya sama seperti saat di kantor, kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku. Sungguh tampan sekali.


"Aku melewatkan adegan dansa ya?" Angkasa kembali mendekatkan kepalanya dan berbisik.


Salma sedikit terkesiap karena tak menyangka saat ia terlena menikmati wajah tampan Angkasa, pria itu malah mendekatkan wajahnya.


"Eh, iya. Baru saja mulai kok." Harum parfum maskulin menerobos indera penciuman Salma, membuat wanita itu lemas tak bertulang.


"Kamu cantik sekali hari ini," bisik Angkasa dengan tatapan sendu namun tajam.


"Ssssttt, tolong jangan berisik!" Emran yang berada di barisan belakang menyela, menghancurkan suasana romantis yang berusaha dibangun Angkasa.


...❤️🤍...


Mampir ke karya temanku yuk. Keren banget loh ini

__ADS_1



__ADS_2