
Tangan Angkasa sedikit bergetar saat akan membuka pintu yang mengarahkan dirinya ke ruang tim kreatif. Tubuhnya melarang ia untuk masuk ke dalam, tapi rasa penasaran dan rindu memaksanya untuk menerobos ke dalam.
Saat pikirannya sibuk dengan dugaan apakah ia sedang bermimpi ataukah ini kenyataan, pintu sudah terbuka dari arah dalam.
"Eh, Pak Asa sampai kaget saya," ucap spontan seorang karyawan yang membuka pintu, "Cari siapa, Pak?"
"Emm ... emm, hanya mampir saja," sahut Angkasa tergagap.
Ia sedikit merasa kesal pada karyawan itu, bukankah sebagai pemimpin perusahaan ia bebas pergi ke sudut mana saja di kantor miliknya? Namun ia juga mengerti reaksi spontan yang ditunjukan oleh pegawai tersebut, karena sepanjang memimpin AsaVision selama 10tahun belakangan ini, ia tidak pernah menghampiri ruang karyawan secara langsung. Para petinggi perusahaanlah yang menghampirinya untuk melaporkan dan berdiskusi perihal perkembangan masing-masing departement.
Wajar mata seluruh karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut terpaku oleh kehadirannya. Beberapa orang tampak merapikan meja kerja mereka dan yang berkerumun, bergerak cepat kembali ke tempat masing-masing layaknya anak sekolah yang terpegok guru di jam kosong.
Mata Angkasa ingin menghindar dari sosok wanita yang tadi dikerumuni oleh karyawannya, tapi kepalanya berkhianat tak mau berpaling dari wajah ayu khas Indonesia itu.
"Ada mba Salma si anggrek bulan, Pak," bisik salah satu karyawan yang berdiri di dekatnya. Ingin rasanya Angkasa menjawab 'saya sudah tahu, karena itu saya kemari.'
Salma berdiri dari duduknya dan mengangguk sopan pada pemimpin tertinggi di kantor itu. Angkasa membalas juga dengan anggukan kecil dan senyum di bibirnya.
"Pak Asa ga jadi ke ruang Pak Sulistio?" tanya Jane memutus tautan mata antara Angkasa dan Salma.
"Untuk apa kesana?" sahut Angkasa tak sadar.
"Loh, Pak Asa yang bilang tadi mau ke ruangan Pak Sulistio."
"Ah iya." Angkasa membalikan badan setelah mengangguk singkat ke arah karyawan di ruang kreatif termasuk pada Salma. Rasanya berat keluar dari ruangan itu, ia takut jika pandangannya beralih Salma juga akan menghilang dari sana.
"Temanmu tadi datang sama kamu?" tanya Angkasa setelah keluar dari ruang kreatif.
"Iya," sahut Jane singkat.
"Ngapain dia di dalam tadi?" pancing Angkasa.
"Ga tahu," sahut Jane tak acuh.
"Loh, kamu yang bawa dia kemari kok ga tahu dia mau ngapain kemari?"
"Dia yang minta ikut saya. Mungkin Salma berharap dapat pekerjaan dari Pak Asa," ujar Jane asal.
"Oh ya, kebetulan berarti."
__ADS_1
"Jangan bilang Bapak sudah punya program acara untuk Salma," cetus Jane ketus.
"Baru bayangan aja. Kamu sendiri ada urusan apa datang kemari?" tanya Angkasa sesaat sebelum membuka pintu ruang Art Departement.
"Sa-saya mau ketemu sama Mas Satrio," ucap Jane.
"Silahkan." Angkasa mengarahkan tangannya ke arah lorong yang menuju ke ruang kerja Satrio dan timnya bekerja.
Jane merengut kecewa saat Angkasa masuk dan langsung menutup pintu ruang art departement, tanpa memberinya kesempatan untuk mengekori dari belakang seperti sebelumnya.
"Jane, masih lama?" Salma menepuk bahu Jane yang masih berdiri bingung.
"Kamu sendiri?"
"Aku tadi cuman ngobrol santai aja sama mereka, ga ngapa-ngapain. Pulang yuk."
"Ya udah, kita pulang," sahut Jane kecewa.
Sejenak tadi ia merasa tersanjung jalan beriringan dengan pimpinan nomer satu. Semua mata tertuju kearahnya dan ia berharap gosip segera menyebar dan bisa terwujud nyata. Namun sekarang ia merasa bagaikan plastik bungkus makanan yang ditinggalkan begitu saja, setelah pintu tertutup di depan matanya.
Baru saja mereka sampai di pelataran parkir, pesan singkat masuk ke ponsel Salma.
'Hanya sendirian.' Baru saja ia akan menyampaikan pesan Angkasa pada Jane, pesan terbaru masuk.
Salma mengedarkan pandangannya, ia merasa gerak geriknya seperti ada yang mengawasi. Tanpa ia sadari, Angkasa sedang mengawasinya di CCTV yang ada di ruang kontrol.
"Ayoo," ucap Jane tak sabar. Ia sudah duduk di belakang kemudi menanti Salma yang menolehkan kepalanya kesana kemari.
"Jane, sori aku pulang sendiri aja. Mmm, aku masih ada perlu."
"Ada perlu apa? Sama siapa?" kejar Jane.
"Melati ... teman lamaku yang tinggal di Jakarta juga," sahut Salma cepat.
"Ya udah, aku duluan," ucap Jane menyisakan pandangan curiga.
Begitu mobil Jane keluar dari pelataran AsaVison, Salma berjalan cepat ke arah cafetaria yang terletak persis di sebelah kantor. Angkasa tersenyum tipis melihat Salma mengikuti arahannya.
"Sudah ketemu, Pak?" tegur pegawai ruang kontrol.
__ADS_1
"Ow, iya sudah. Rupanya saya salah lihat kemarin. Terima kasih ya." Angkasa segera berdiri dan berlalu dari ruang kontrol diiringi tatapan heran dari karyawan yang bertugas.
Sementara itu Salma berhenti di depan cafetaria. Ia merutuki dirinya yang seperti wayang dengan mudahnya menuruti permintaan Angkasa tanpa bertanya sedikitpun. Apa ia juga mengharapkan pertemuan ini? Di mana ia harus menyembunyikan rasa malunya? Ia semakin merasa terlihat seperti wanita yang terlalu haus perhatian. Terlebih ia tadi dengan mudahnya membohongi kawannya yang di duga sedang menjalin hubungan dengan pria yang akan ditemuinya nanti.
'Oh, ya ampun apa yang sudah aku lakukan. Ini jelas salah, apa aku sedang berusaha merebut kekasih temanku sendiri?'
Hati dan pikiran Salma bergulat antara keinginan dan hati nuraninya. Ia masih berdiri terpaku di area parkir cafetaria memandangi suasana di dalam yang cenderung sepi karena sudah lewat dari jam makan siang.
"Kenapa belum masuk?" suara Angkasa yang menegurnya menyadarkan bahwa ia terlambat melarikan diri dari sana.
"Bapak ada perlu dengan saya? Kenapa tidak bicara di kantor?"
"Sekalian makan siang, kalau di kantor pekerjaan datang terus ga sempat makan siang," dalih Angkasa.
"Gimana kabarmu, Salma?" Angkasa mengawali pembicaraan setelah keduanya duduk berhadapan dalam cafetaria.
"Baik," jawab Salma tersenyum, tapi begitu mengingat Angkasa pergi malam itu tanpa mengatakan apapun padanya hatinya kembali mendongkol.
"Syukurlah, gimana kabar si kembar. Mereka sehat?"
"Sehat," sahut Salma singkat. Kali ini tak ada senyum di bibirnya.
Angkasa menganggukan kepalanya, ia mulai bingung mencari bahan pembicaraan. Sejak istrinya meninggal dunia, tak pernah lagi ia berbicara dengan wanita hanya berduaan di luar pekerjaan.
"Lalu bagaimana, ada kesempatan untuk saya?" Salma mengangkat wajahnya. Ia memutuskan antara dia dan Angkasa hanyalah sebatas pekerjaan tidak lebih.
"Kesempatan?"
"Pak Angkasa mau membicarakan tentang pekerjaan dengan saya, bukan?" Salma menampilkan sikap profesionalnya.
"Aah, ya ... Benar. Mmm, sepertinya saya punya bayangan program acara yang cocok untukmu," ujar Angkasa. Otaknya berpikir keras mencari celah membenarkan ucapannya.
"Oh ya? Acara yang seperti apa, Pak?" Salma memajukan tubuhnya antusias. Ia sudah lupa dengan perasaannya. Baginya ini adalah berita terbaik untuk kelangsungan hidupnya dan si kembar.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku yuk
__ADS_1