
"Waahh, pandai sekali kalian bertiga." Suara pintu yang terbuka dan ucapan meledek Angkasa, membuat ketiga karyawannya itu serempak menoleh ke arah pintu.
Sebelumnya Emran dan dua karyawan wanita, diminta oleh Angkasa untuk menemani dua pasang anak kembarnya selama ia menemui tamu. Lalu sekarang setelah tiga jam ia meninggalkan ruangan, ketiga karyawannya itu tampak akur saling membantu walau wajah terlihat lelah.
Emran dan dua karyawan wanita itu enggan menanggapi gurauan atasannya. Mereka tampak fokus menyuapi Cakra dan Candra, juga menimang Nala yang tak mau diletakan dalam kereta bayi.
"Mau kemana lagi?" Melihat atasan sekaligus kawannya tampak bersiap, Emran berjalan mendekati Angkasa.
"Mau jemput nyonya," jawab Angkasa singkat.
"Lalu mereka?" tanya Emran panik.
"Ya aku bawalah, masa aku tinggal anak-anakku di tangan orang yang belum berpengalaman?" ejek Angkasa.
"Ciih." Emran melengos kesal.
"Aku melakukan ini sebetulnya karena perhatian sama kamu loh. Aku tahu Shanti dan Lusi itu ada hati sama kamu. Lihat tuh mereka senang-senang aja main rumah-rumahan sama kamu." Angkasa dan Emran melirik kedua wanita yang masih duduk di sofa.
"Mereka bukan senang main rumah-rumahan, tapi karena potong jam kerja bisa santai di sini," elak Emran walau tadinya ia mengakui apa yang dikatakan Angkasa. Kedua wanita itu sejak tadi berebut mencari perhatiannya. Bersaing memperlihatkan siapa yang paling mahir dan pantas menjadi seorang Ibu.
"Jadi siapa yang lebih pantas mendampingi mu? Atau kamu mau dua-duanya, boleh kok selama bisa berlaku adil. Gimana rasanya tiga jam jadi suami beristri dua?" Angkasa semakin gencar meledek Emran.
"Edan! Sekali aku telepon Salma dan bilang kalau kamu berniat punya dua istri, habis kamu."
"Haduuh, kenapa jadi serius gini kawanku. Aku cuman bercanda."
"Ga lucu. Bagaimana mau punya istri dua, gaji sudah tiga tahun ga ada kenaikan." Emran menggerutu.
"Sudah ah, ibunya anak-anak sudah hampir selesai perawatan. Aku jalan dulu." Tak ingin memperpanjang bahasan tentang kenaikan gaji, Angkasa mengelak menjauh dari Emran lalu mengarah ke sofa di mana karyawatinya masih mengasuh keempat anaknya.
"Ayo Cakra, Candra kita jemput Mama. Shan, Lus, tolong bantu gendong Nala dan Nathan ke bawah ya." Saat kedua karyawatinya mendekat dan berjalan beriringan, Angkasa berbisik, "Gimana, main rumah-rumahan sama Pak Emran, sudah siap belum kalau dilamar?"
__ADS_1
"Saaaa!" Emran berseru memperingatkan, sedangkan kedua wanita yang dimaksud hanya tersipu dan terkikik malu.
Bukan rahasia lagi jika Emran merupakan most wanted man kedua setelah Angkasa di kantor itu. Punya kedudukan bagus, karir yang jelas, dekat dengan atasan dan selalu misterius terkait wanita yang di dekatinya. Membuat para wanita lajang gemas ingin membuat pria high class itu takluk.
Hanya Angkasa dan keempat anaknya yang berada di dalam mobil menjemput Salma. Pria bertubuh tinggi besar itu mencuri perhatian semua wanita yang sedang duduk menunggu antrian di klinik kecantikan.
Angkasa dengan kemeja hitamnya yang dilipat hingga siku, mendorong dengan satu tangan dua kereta bayi yang saling terkait. Sebelah tangannya yang lain ia selipkan di saku celana. Cakra dan Candra berjalan masuk mendahului Angkasa dan kedua adiknya.
Tanpa rasa canggung, Angkasa ikut duduk bersama para wanita di sana. Matanya menaruh perhatiannya pada layar ponselnya, tapi telinga dan indera lainnya menangkap kekaguman mata yang menatap dirinya. Dengan dagu terangkat, Angkasa tersenyum tipis. Ia mendengar bisik-bisik memuja dirinya sebagai Ayah idaman.
Tak tahan menjadi bahan perbincangan para wanita, Angkasa mengangkat wajahnya lalu membalas tatapan mereka dengan senyuman lebar.
"Mau perawatan, Bu?" ucapnya berbasa basi.
"Eh, iyaa ..." Mereka saling bertatapan dan tertawa canggung.
"Saya sedang menunggu istri saya, dia juga sedang perawatan di dalam," ucapnya tanpa ditanya.
"Oooo ...." Sahutan panjang dari para wanita itu.
"Sudah selesai, Sayang? Wow, kamu kelihatan cantik dan segar." Angkasa berdiri menyambutnya. Pria itu merengkuh pinggang Salma lalu mengecup pelipis istrinya di depan para pengunjung lainnya tanpa malu.
"Mas!" Mata Salma membelalak lebar.
Wajah para wanita yang tadinya kecewa dan iri melihat bagaimana pria tampan itu memperlakukan wanitanya dengan istimewa, tiba-tiba terpekik bersamaan.
"Itu 'kan Salma."
"Eh, iya itu Angkasa pantas aku ga asing dengan wajahnya."
"Waah, ada artis."
__ADS_1
Para wanita itu mulai berdiri mendekati sepasang suami istri yang masih saling merangkul. Beberapa wanita lainnya mengangkat ponsel mereka mengambil foto dan video, mengabadikan pemandangan romantis dihadapan mereka.
"Boleh minta foto, Mba Salma?" tanya seorang wanita malu-malu.
"Oh, boleh." Salma mengangguk.
"Mari sini saya yang bantu foto," ujar Hanum, wanita pemilik klinik kecantikan, "Ayo, siapa lagi?" tanya wanita tinggi semampai itu.
Beberapa saat ruang tunggu klinik kecantikan itu berubah menjadi ajang jumpa artis. Keriuhan itu terhenti setelah Nathan terbangun dan menangis.
"Maaf, maaf, kami harus segera pulang, anak-anak sudah mulai bosan menemani orangtuanya," kelakar Angkasa.
Gerak lincah jemari para wanita yang ikut menyaksikan di sana, menunjang cepatnya video beserta narasi berkembang luas di media sosial. Video pendek dan foto yang didukung dengan kalimat romantis serta memuja pasangan baru itu, lewat juga di beranda media sosial Armand.
Jemarinya bergetar ingin menutup layar ponselnya, tapi hati menahan. Senyum bahagia Salma menghiasi hampir seluruh layar ponselnya. Penampilan dua putra kembarnya pun tak luput dari pandangannya.
Terbalut seragam sekolah yang sudah dipastikan mahal biaya pendidikannya, Cakra dan Candra tampak sehat dan bersih. Jauh keadaannya saat masih di bawah asuhannya.
"Sudaaahh, tutup saja ponselmu itu. Mereka toh ga bakal ingat sama kamu. Dasar Salma saja yang maunya hidup enak, ogah hidup susah," ucap Ibunya ketus. Armand menggenggam ponselnya semakin erat.
"Mana ada orang mau hidup susah, Bu. Ibu juga 'kan ga mau hidup susah, buktinya tiap bulan selalu minta uang lebih untuk beli baju dan perhiasan, biar bisa dipamerkan waktu arisan. Ga peduli anak sama cucunya tiap hari makan seadanya, yang penting penampilan Ibu harus cetaaarrr!" sembur Tania ketus.
"Diam kamu, cuman tukang masak aja belagu!" balas Ibu Armand dengan mata melotot.
"Hei, dengan tanganku yang pandai memasak ini, Ibu bisa pamer emas sana sini sama tetangga. Noh, utang di warung bayar dulu, Buk!"
"Dasar perempuan kurang ajar! Armand ceraikan dia!" Ibu Armand berteriak histeris dengan ditambah air mata palsunya seolah dirinyalah yang paling tersakiti.
"Ya, benar ceraikan saja aku, Mas. Aku wanita yang tak berguna. Minta saja istri baru pada Ibumu, yang bisa kamu ajak susah dan kalian peras tenaga dan hartanya!" Tania berteriak semakin berani.
Armand sama sekali tak terpancing dengan keributan dua wanita di sekelilingnya, hatinya sudah beku dan mati. Ia berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar dengan kepala menunduk. Ia memeluk anak balitanya dari Tania yang sedang meringkuk menangis ketakutan di atas tempat tidur melihat Nenek serta Ibunya saling berteriak dan memaki satu sama lain.
__ADS_1
"Papa di sini, jangan takut." Armand menutup kedua telinga putrinya.
...❤️🤍...