Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Orang asing


__ADS_3

Angkasa mengambil tempat tepat di belakang sopir, dengan begitu ia dapat melihat Salma yang duduk di samping sopirnya.


"Ehem!" Angkasa berdehem sembari membuka kancing paling atasnya.


"Panas, Pak?" Pak Rokim, sopir pribadi Angkasa dengan panik menurunkan suhu pendingin dalam mobil.


"Ow tidak, kecilkan lagi," ucap Angkasa cepat. Ia tidak mau wanita yang duduk di kursi bagian depan beku sebelum sampai di rumah.


"Kamu tinggal di daerah mana, Salma?" Armand mecondongkan badannya sehingga dagunya hampir menempel di kursi yang di duduki Salma. Wajah mantan sepasang suami istri itu cukup berdekatan. Angkasa khawatir jika sopirnya menginjak pedal rem, bibir Armand akan menyentuh pipi Salma.


"Eh, maaf Pak Armand kita sedang di jalan bahaya duduk seperti seperti itu. Tolong gunakan sabuk pengamannya." Angkasa menarik pundak Armand hingga kembali ke posisinya semula. Pria itu menurut saja meski terlihat sedikit kesal.


"Rumahku jauh, biasa aku sampai rumah sudah gelap," ujar Salma sedikit menoleh ke belakang, tepat saat itu Angkasa memberi kode dengan kedipan matanya, "Oh, maaf Pak, sepertinya saya turun di Mall Persada aja, kakak ipar saya bawa anak-anak main di sana." Salma berpura-pura membaca pesan di ponselnya.


"Ow begitu, kebetulan saya juga ingin beli sesuatu di sana." Armand tersenyum senang Salma dapat dengan cepat memahami pesan serta kode yang diberikannya.


"Maksudnya apa, kenapa kok bisa kebetulan saat aku mau ke tempatmu?" Armand menatap curiga ke arah Salma dan Angkasa bergantian.


"Aku juga ga tahu, Mas. Ini Mba Tia baru bilang dia masih ada di Mall Persada." Salma menunjukkan ponselnya sekilas, "Kamu jadi ketemu anak-anak atau tidak?" tanya Salma saat melihat wajah Armand yang bimbang.


"Jadi," sahut Armand ketus. Salma dan Angkasa berusaha tetap tenang.


Sampai di Mall Persada, Armand menahan langkah Angkasa begitu pemilik Asa production itu ingin ikut masuk ke dalam Mall.


"Kami bisa pulang sendiri, Pak. Nanti biar kami naik taxi online saja," ujar Armand. Telapak tangannya menahan dada Angkasa menjauh dari Salma dan dirinya.


"Apa maksudnya?" Mata Angkasa melirik tajam ke arah tangan mantan suami Salma yang menyentuh kemejanya.


"Pak Angkasa silahkan pulang atau mungkin ada urusan lain di Mall ini. Maaf Pak, bukan bermaksud tidak sopan dan mengusir, tapi kami ingin waktu yang berkualitas untuk keluarga."


"Benar begitu, Salma?" Suara gemeletuk rahang Angkasa teredam oleh kerasnya bunyi musik dari pengeras suara di Mall.


"Yang sopan, Mas!" Bukan Angkasa yang menepis tangan Armand, melainkan mantan istrinyalah yang menarik tangannya dari dada Angkasa.


"Aku sudah sopan, Salma. Apa aku salah ingin menikmati waktu denganmu bersama anak-anak seperti waktu dulu?" Tangan Armand beralih memegang lengan Salma.

__ADS_1


"Waktu kita sudah berakhir di meja persidangan, Mas!" Salma menarik tangannya dengan geram, "Sekarang kamu mau bertemu dengan anak-anak atau tidak?" ancam Salma.


Armand mengikuti langkah Salma dari belakang. Kepalanya berulangkali menoleh ke arah Angkasa yang juga mengikuti kemana mereka pergi.


Melihat kakak ipar sedang menemani si kembar bermain di pusat permainan, Salma mempercepat langkahnya.


"Mba, dia datang," bisik Salma sebelum Armand mendekatinya. Tia tidak menjawab, jangankan menoleh melirik ke arah Armand pun ia malas.


Tadi saat adik iparnya itu mengirimkan pesan agar segera bersiap karena akan dijemput oleh pegawainya Angkasa untuk ke Mall, Tia sudah hendak akan memprotes dan menolak keras. Namun setelah Salma menjelaskan alasannya untuk membawa si kembar keluar dari rumah, tanpa berpikir dua kali Tia langsung bersiap secepat kilat.


"Malam, Mba Tia," sapa Armand berusaha ramah.


"Malam," sahut Tia datar tanpa melihat ke arah Armand.


"Mana Cakra dan Candra?"


Tanpa bersuara Tia menunjuk ke arah komidi putar dengan dagunya.


"Cakraa ... Candraaa," Armand berseru sembari melambaikan tangannya. Raut wajahnya yang rindu sangat terlihat jelas. Nyeri hati Salma, tak pernah terpikirkan olehnya memisahkan anak dengan ayahnya.


Suara sirene berbunyi, perlahan-lahan gerakan komidi putar melambat. Armand segera mendekati pintu keluar, wajahnya sangat antusias menyambut kedua anaknya yang akan keluar dari pintu permainan.


Angkasa mendekati Salma, "Sudah berapa lama mereka tidak bertemu dengan ayahnya?"


"Mungkin sekitar satu tahun."


"Seharusnya mereka masih ingat."


"Semoga." Hati Salma ikut berdebar layaknya ia yang akan bertemu dengan orang spesial.


"Cakraa, Candraaa, ini Papa, Nak." Armand berjongkok dengan tangan terbuka. Si kembar hanya berdiri sembari saling memandang satu sama lain. Saat Armand maju satu langkah, merekapun ikut mundur selangkah.


"Cakra, Candra, ayo sini sama Papa." Armand maju semakin mendekati anak kembarnya.


"Mama." Candra memanggil lirih. Ia bingung harus berbuat apa, sedangkan untuk mencapai Mama dan Tantenya, ia harus melewati pria yang menyebut dirinya sebagai Papa.

__ADS_1


"Mas, sabar dulu mereka masih bingung." Salma menghentikan langkah Armand dan mendekati kedua putranya.


"Bingung kenapa? Apa kamu tidak pernah mengajarkan pada mereka bahwa akulah Papanya?"


"Harusnya fotoku terpajang di dinding rumahmu, di kamar dan di galeri ponselmu. Agar tiap kali kamu berpergian seperti ini, kamu bisa menunjukan sama mereka bagaimana wajah papanya."


Armand terus mengomel sembari mengiringi langkah Salma yang menggandeng kedua anaknya. Tiap kali Armand akan mengambil tangan Candra atau Cakra dari genggaman Salma, si kembar selalu menolaknya.


"Untuk apa mereka mengenal Papanya, jika kamu tidak pernah berperan sebagai Papanya?"


"Ow, kamu ingin aku kembali menjadi Papa mereka, aku sangat setuju Salma," ujar Armand dengan antusias.


"Mereka tidak butuh statusmu, yang mereka butuhkan nafkah," ucap Salma tegas.


"Ow itu, kamu minta berapa nanti aku transfer." Dagu Armand terangkat, ia tidak mau terlihat tak mampu di depan Angkasa dan mantan kakak iparnya.


"Semua sudah tertulis secara detail di tuntutan perceraian. Mas Armand silahkan hitung saja sendiri, total kewaiiban yang harus Mas Armand berikan untuk anak-anak sejak palu diketok di meja hijau." Tenggorokan Armand tercekik mengingat deretan angka yang tidak pernah ia penuhi.


"Maa, lapaaar."


"Oke, yuk kita makan." Wajah Salma yang tegang mengendur dan kembali ceria ketika memandang si kembar.


"Sampai kapan anda mengikuti kami?" Armand kembali menghadang langkah Angkasa. Ia tidak ingin pria itu semakin melihat kelemahannya sebagai seorang ayah.


"Saya bertanggungjawab dengan artis perusahaan saya."


"Ini diluar jam kerja, maaf kami tidak nyaman ada orang asing, jika kami kumpul keluarga seperti ini."


Salma berbalik dan mendekati kedua pria yang sedang bersitegang. Ia sudah semakin muak dengan kelakuan Armand yang memalukan.


"Pak Angkasa bukan orang asing, dia calon suamiku." Tangan Salma melingkar sempurna di lengan Angkasa.


...❤️🤍...


Haaii, selamat tahun baru 2023 🎉🎉

__ADS_1


Semoga tahun ini kita selalu sehat, semua harapan dan perencanaan kita terwujud di tahun ini 🙏🥰


__ADS_2