
Salma tertegun melihat nomer panggilan video yang tertera di layar ponselnya. Sudah lebih dari tiga kali nomer itu tampil di layar ponselnya, tapi ia acuhkan. Jangankan panggilan video, panggilan biasa pun akan ia abaikan jika tak tahu siapa pemilik nomer yang menghubunginya. Karena tak dianggap Salma, tak lama pesan masuk dari nomer yang sama.
"Pak Emran?" gumam Salma. Akhirnya Salma berani menjawab panggilan video setelah sedikit merapikan rambutnya.
"Selamat sore Mba Salma, mohon maaf ya saya mengganggu sore begini."
"Tidak apa-apa. Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Begini, terkait peranmu sebagai Nabila kami ingin kamu melakukan pendalaman karakter."
"Baik, nanti saya baca kembali naskahnya dan mendalami karakter Nabila. Jika saya kesulitan saya akan menghubungi Pak Emran atau Pak Memet, benar begitu?"
"Benar, eh bukan-bukan seperti itu, tapi kami ingin yang lebih." Emran sekilas melirik ke arah belakang kamera ponselnya. Seseorang sedang menuntunnya untuk berbicara.
"Lalu bagaimana, Pak? Apa saya harus melakukan observasi?"
"Tidak perlu, ini cerita romansa Salma, bukan dokumenter. Peran utama wanita dan pria cukup saling mengenal lebih jauh dan membangun chemistry."
"Ow."
"Sebentar ya, saya coba hubungi Pak Asa yang memerankan Marcel semoga beliau tidak sedang sibuk." Emran menekan-nekan layar ponselnya. Salma hanya mengangguk-angguk patuh, tanpa tahu kemana arah pembicaraan Emran.
Salma terkejut ketika tiba-tiba wajah Angkasa muncul di layar ponselnya. Sekarang kotak di ponselnya terbagi tiga, wajahnya, wajah Emran dan Angkasa. Ia menyesal tidak sempat menyisir dan menggunakan bedak untuk menutupi minyak di wajahnya karena belum sempat mandi sore.
"Oh hai, sore Emran, sore Salma. Ada apa ini, tumben panggilan video." Angkasa tersenyum sembari membuka berkas yang ada di meja. Sesekali matanya bergantian menatap layar ponsel lalu ke arah berkasnya. Dari layar ponsel Salma, Angkasa terlihat sangat sibuk. Tanpa ia ketahui, percakapan sore ini sudah direncanakan oleh dua pria itu.
Emran merapatkan bibir menahan tawanya melihat akting atasannya yang konyol, padahal dua jam sebelum ini Angkasa ngotot ingin merancang agar Salma dan dirinya dapat lebih dekat di luar lokasi syuting.
__ADS_1
"Selamat sore, Pak Angkasa maaf mengganggu, sepertinya lagi repot. Kalau begitu nanti saja kami hub---"
"Oh tidak apa-apa, saya siap mendengarkan." Angkasa menaruh alat tulisnya dan memusatkan perhatian pada layar ponselnya. Emran menyeringai sinis. Menggoda Angkasa yang berpura-pura sibuk dan seolah tak butuh dirinya, sangat mengasyikan. Padahal saat ini mereka berada dalam ruangan yang sama dengan jarak berjauhan.
"Begini, Pak demi kelancaran proses syuting nanti berjalan, bagaimana jika sebaiknya antara pemeran utama sejak dini sudah dibangun chemistry. Maaf loh, Pak ini hanya usul saja. Kalau Bapak repot tidak usah dipaksa---"
"Oh tidak-tidak, demi kelancaran film ini saya selalu ada waktu. Saya harus profesional 'kan Pak Emran? Di sini saya hanyalah pemain, menurut saja apa kata Pak Emran sebagai produser. Saya setuju dengan usul Pak Emran, jadi bagaimana rencana selanjutnya," sahut Angkasa cepat.
Salma duduk tegak tak berani banyak bergerak memperhatikan kedua pria dalam layar ponselnya saling bercakap.
"Kalau boleh saran, sebelum proses syuting mulai, Pak Asa dan Mba Salma lebih banyak bertemu."
"Oh, begitu? Seperti apa, Pak Emran mungkin bisa kasih saya gambaran apa yang harus kami lakukan saat bertemu nantinya."
Emran mendecih kesal dalam hati, jelas Angkasa sedang berlaku sebagai pria yang polos. Kawannya itu tak mau terlihat terlalu menggebu di depan wanita yang diincarnya. Jadi Angkasa mengharapkan dirinyalah yang mengusulkan, padahal sejak awal Angkasa sudah menyusunnya sangat rapi.
Angkasa terkekeh senang, bukan karena usulan Emran mendukung kelancaran filmnya, tapi Emran seolah tahu isi hatinya.
"Boleh-boleh, saya setuju. Bagaimana, Salma?" Pandangan Angkasa beralih ke wajah Salma yang tegang.
"Mmm, saya setuju bagaimana baiknya saja," ujar Salma pelan. Bagaimana dia mampu menolak, dirinya hanyalah pemain pendatang baru. Selagi masih dalam batas wajar, tentu ia akan lakukan tapi ini membangun chemistry bersama Pak Angkasa. Entah bagaimana kondisi jantungnya nanti.
"Syukurlah, Pak Asa dan Mba Salma bersedia menerima masukan saya. Oke, saya serahkan kepada Pak Asa dan Mba Salma untuk merencanakan kedekatannya, mungkin mau dimulai malam ini telefon atau jalan berdua." Emran memberikan senyuman menggoda. Tak disangka mendengar celetukannya, Angkasa malah semakin tertawa senang membuat wajah Emran masam karena seperti melancarkan usah pendekatan kawannya itu.
Angkasa memberi kode dengan jarinya, agar ia keluar dari pembicaraannya di telepon. Emran langsung mengerti. "Oke saya pamit dulu ya, silahkan kalau ada yang mau dibicarakan berdua."
Begitu sambungan Emran terputus, hanya wajah Angkasa di layar ponsel Salma. Keduanya saling menatap dalam diam.
__ADS_1
"Anak-anak sehat? sedang apa mereka sekarang?" tanya Angkasa. Emran yang mendengar dari sudut ruangan memutar kedua bola matanya keatas. Pertanyaan Angkasa tak beda seperti seorang ayah menanyakan kabar anak-anaknya.
"Cakra dan Candra sehat, mereka lagi nonton televisi di ruang tengah," sahut Salma canggung.
"Kamu sendiri bagaimana, sehat?" tanya Angkasa lembut. Ia tidak peduli dengan Emran yang memasang wajah mengejek setiap kali ia bersuara lembut.
"Saya sehat, terima kasih. Bapak sendiri, sehat? Sepertinya sibuk sekali."
"Saya sehat juga, terima kasih sudah menanyakan kabar saya. Sudah lama tidak ada yang bertanya tentang kesehatan saya." Angkasa sudah berani menunjukan rasa melankolisnya.
Emran hampir tertawa keras begitu mendengar ucapan Angkasa. Bibirnya hanya mengucapkan kata 'Gombal' tanpa suara.
"Nanti malam ada acara?" tembak Angkasa langsung. Salma menggelengkan kepalanya, "Saya boleh datang ke rumah? ... Permintaan produser supaya lebih terjalin chemistry katannya." Angkasa beralasan.
"Bisa, Pak. Silahkan datang."
"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu nanti malam, Salma." Angkasa memberikan senyuman terbaiknya sebelum memutus sambungan teleponnya.
"Puas?" Emran mengejeknya.
"Bukankah wajar pemeran utama saling dekat sebelum mulai syuting? Sepertinya di proyek lainnya seperti itu," elak Angkasa.
"Benar, tapi kamu beda. Kamu membangun chemistry bukan sebagai Marcel mengejar Nabila, tapi Angkasa Wiryawan mengejar Salma hingga ke pelaminan."
...❤️🤍...
Ada rekomendasi novel baru lagi untuk kalian nih, mampir yuk kita sama-sama baca
__ADS_1