Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Persaingan semu


__ADS_3

Salma terkejut ketika Angkasa mengirimkan dua orang yang membantunya berhias untuk acara nanti malam. Satu orang penata rambut dan seorang lagi penata rias beserta asisten mereka.


"Mas Asa, siapa mereka?" Salma berbicara di ponsel sembari mengintip empat orang wanita yang duduk di ruang tamunya. Empat orang itu membawa beberapa gaun dan berkotak-kotak yang entah apa isinya.


"Mereka penata rias, Salma. Salah satunya orang terkenal tidak mungkin kamu tak mengenalnya."


"Iya, aku tahu. Justru itu aku tanya, untuk apa mereka ada di sini?"


"Untuk mengubahmu menjadi ratuku malam ini." Salma berdecak kesal. Rayuan maut Angkasa semakin lama terdengar semakin basi di telinganya.


"Tidak perlu mendatangkan orang segala kalau hanya untuk merias, aku juga bisa."


"Iya, tapi aku ingin malam ini semua mata tertuju padamu." Salma menghela nafas pasrah. Mau tidak mau ia menerima penawaran suaminya, tidak mungkin meminta keempat orang itu untuk kembali pulang.


"Selamat sore, Bu Salma." Empat orang itu serempak berdiri dan mengangguk sopan pada Salma yang baru muncul di hadapan mereka.


"So-sore." Salma membalas anggukan itu dengan gugup.


"Kita rias di mana, Bu?"


"Ehm, ini baru jam empat loh. Acaranya jam delapan, apa tidak terlalu cepat?"


"Tidak apa-apa, Bu. Biar lebih santai dan hasilnya bagus kalau waktunya lama."


"Baiklah, di kamar saja ya." Salma membawa keempat wanita itu ke kamar miliknya dan Angkasa.


Salah seorang dari mereka membuka kotak-kotak yang ternyata berisi sepatu dan juga membuka beberapa gaun yang masih terbungkus.


"Bu Salma silahkan memilih gaun dan sepatu dulu, karena nuansa riasan nanti akan mengikuti pilihan warna baju."


Salma menelan ludahnya kasar, ia hampir tidak bisa memilih gaun yang ditebarkan di atas ranjang. Seumur hidupnya ia tidak pernah menyentuh atau memakai gaun dengan merk designer ternama semacam ini.


"Semua bagus."


"Saya bantu pilihkan ya, Bu. Bagaimana kalau ini, detailnya simple tapi berkelas. Bentuknya jatuh menyesuaikan badan tapi tidak terlalu memperlihatkan bentuk tubuh. Warnanya membuat kulit ibu semakin bercahaya." Salma hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan penata rias.


"Baiklah, untuk sepatu yang ini ya, Bu tidak terlalu tinggi karena Bu Salma sudah cukup tinggi badannya." Dengan cekatan empat orang itu menyiapkan kebutuhannya.


"Lalu ini untuk si kembar." Penata rias itu mengeluarkan dua stel jas dan manset kecil berwarna coklat muda.


"Anak-anak juga?"

__ADS_1


"Iya, Bu. Pak Angkasa minta disiapkan semua biar serasi." Penata rias itu juga mengeluarkan setelan jas abu-abu gelap besar yang sepertinya akan digunakan untuk suaminya.


"Silahkan, Bu." Salma duduk di depan meja rias miliknya dan mulai pasrah di tangan penata rias dan rambut yang menanganinya.


"Yon, tolong gantikan sebentar. Permisi, Bu saya ke toilet dulu." Di tengah pekerjaannya, penata rambutnya meminta izin buang air kecil.


"Oh ya, keluar dari kamar belok kiri ke ruang bermain, nanti toiletnya ada di sebelah pilar," jelas Salma.


"Iya, Bu terima kasih. Saya sudah tahu tempatnya." Penata rambut itu mengangguk sopan.


"Beberapa dari kami sudah sering dipanggil kemari untuk merias, Bu." Seolah mengerti keheranannya, sang penata rias mencoba menjelaskan.


"Ow, merias siapa?" Salma menyesal setelah sedetik ia melontarkan pertanyaan yang sudah jelas apa jawabannya.


"Almarhumah Ibu Debby," sahut penata rias pelan.


"Mm, cantik sekali ya beliau," timpal Salma pelan. Penata rias itu melihat Salma dari balik cermin sebelum mengangguk samar. Terlihat kalau penata rias itu enggan melanjutkan pembicaraan ini.


"Kalau untuk Mba Debby, kira-kira dipilihkan gaun yang mana?" Seolah tidak puas, Salma kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Mm, mungkin yang putih," sahut penata rias sekenanya.


"Yang putih juga bagus, kalau begitu saya mau yang putih saja." Penata rias itu sempat tercenung lalu ia memberi kode pada asistennya untuk menyiapkan gaun yang Salma pilih.


Pukul tujuh Salma dan si kembar sudah hampir siap. Angkasa juga sudah pulang dan sedang bersiap.


"Kamu cantik sekali." Angkasa menatapnya kagum.


"Ini karena orang-orangmu pandai merias."


"Tidak, kamu memang cantik mau dirias ataupun tidak. Mereka perias mandiri, Salma bukan karyawanku." Angkasa tertawa kecil.


"Ow aku kira team dari kantormu karena katanya mereka sering merias Debby." Angkasa terdiam sebentar, ia mencoba mencerna nada suara Salma.


"Paaa, Andra anteng?" Diamnya Angkasa terputus dengan kedatangan si kembar.


"Wow, anak Papa semuanya ganteng. Siap berangkat?"


Angkasa mengabaikan prasangkanya, menduga itu hanya perasaannya yang terlalu berlebihan.


Setibanya di tempat acara, tingkat percaya diri Salma tiba-tiba menurun drastis. Dari dalam mobil, ia sudah melihat banyak awak media yang menunggu artis yang akan melewati melewati mereka.

__ADS_1


"It's okay. Are you nervous?" Angkasa menggenggam lembut jemarinya, "Kamu artis, Salma mengapa jadi gugup?" Salma menjawab pertanyaan suaminya dengan seulas senyum.


'Mereka pasti tidak melihatku sebagai Salma, tapi sebagai istrimu. Mereka pasti membanding-bandingkan aku dengan Debby.'


Angkasa lebih dulu turun lalu memutari mobil dan membuka pintunya. Kilatan lampu kamera langsung tersorot pada mereka. Cakra dan Candra sempat takut dan tak mau turun, tapi Angkasa berhasil membujuk mereka.


Angkasa menggiring ketiga anggota keluarga barunya menyusuri karpet panjang berwarna merah. Sesekali ia berhenti dan mengajak ketiganya untuk menyapa dan berfoto sebentar.


"Pak Angkasa, bisa dijelaskan ada hubungan apa dengan Salma Anggrek Bulan?" teriak salah satu pencari berita.


Angkasa hanya tersenyum sembari melambaikan tangan. Ia tak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menjawab pertanyaan dari satu media. Lengannya menggamit pinggang ramping Salma, dengan cara seperti itulah baginya sudah menjelaskan tentang semua.


Memasuki ruang acara, mereka tidak bisa menghindar lagi dari pertanyaan atau celetukan menggoda dari teman sesama artis dan produser.


"Waah, ini gimmick atau apa Angkasa?" Lorenzo, produser layar lebar menepuk lengannya.


"Astaga, seperti itu bukan gayaku."


"Jadi? Beneran nih ceritanya?" Brian, pemilik rumah produksi iklan televisi membesarkan matanya.


"Ini Salma dan ini anak kami Cakra dan Candra. Saya dan Salma sudah menikah di kota kelahirannya dua minggu yang lalu," ucap Angkasa lugas.


"Waah, keren. Sudah tidak betah sendirian lama-lama rupanya."


Angkasa hanya tertawa menanggapi guyonan rekan kerjanya. Mereka lantas beralih ke kelompok yang lain.


"Mm, sudah berani go public, rupanya?" Celetukan seorang aktor senior yang sudah tahu dengan hubungan mereka.


"Ah, senang sekali bertemu dengan, Bang Yos. Saya salah satu fans berat Bang Yos." Salma berkata dengan sangat anggun.


"Benarkah?, terima kasih sekali, Salma. Saya tersanjung digemari oleh istri dari Pak Angkasa." Salma tertawa pelan menanggapi ucapan aktor senior itu.


Angkasa melirik sekilas, ia merasa cara bersikap dan berbicara istrinya malam ini berbeda dari biasanya.


...❤️🤍...


Hai teman-teman 🙏🥰


Saya Aveeii dan seluruh peran halu di novel saya, ingin mengucapkan bagi yang merayakan


Selamat menyambut hari kemenangan.

__ADS_1


Selamat hari raya idul fitri 1444H


Mohon maaf lahir dan batin, jika ada yang tidak berkenan dari cerita yang disajikan 🙏🥰


__ADS_2