
"Nak, Nak Angkasa." Pria tua itu menepuk-nepuk bahu Angkasa. Ia terlalu larut memandangi wajah Debby dalam potret yang dipeluk mantan mertuanya.
Hatinya tiba-tiba sedikit merasa damai setelah 'berbicara' dengan almarhum istrinya. Dilihatnya Bu Ida sudah sedikit tenang, walaupun masih sesenggukan dihibur oleh kerabat wanita lainnya.
Kilatan lampu kamera pencari berita, bergantian masuk ke dalam ruang tamu. Mereka hanya dapat mengambil gambar dan video sebatas dari teras. Angkasa menarik nafas panjang, ia tidak menyangka acara rutin yang tiap tahun diadakan, kali ini tidak berjalan lancar seperti biasa. Ada drama yang akan berkelanjutan jika situasi ini ia diamkan.
Perlahan Angkasa bangkit dari duduknya lalu ia berjalan menggunakan lutut mendekati mantan mertuanya. Semua mata tertuju ke arahnya, menanti apa gerangan yang akan ia lakukan.
Begitu sampai di depan Bu Ida, Angkasa berhenti lalu membungkukan badan, "Selamanya, Ibu tetaplah Ibuku. Tolong jangan bilang kalau saya bukanlah bagian dari keluarga ini. Debby sudah menjadi bagian dari hidupku, tak pernah ada niatku untuk melupakan almarhum." Terdengar helaan nafas berat dari wanita yang ia panggil Ibu.
Angkasa mengangkat kepalanya, ia berusaha tenang sebelum melanjutkan perkataannya, "Apakah Ibu masih sudi menganggapku sebagai anak?"
Bu Ida memalingkan wajahnya tak mau menatap pemuda yang pernah ia banggakan pada keluarga besar dan tetangganya itu.
"Saya memohon restu pada Ibu untuk menikah lagi." Air liur Angkasa tercekat ketika mengucapkan kalimat itu. Ia tahu sungguh bahaya mengatakan hal itu di situasi yang masih kacau seperti ini. Salah-salah, Ibunya Debby akan meludahinya dan menendangnya keluar dari rumah. Pemandangan itu pastinya akan menjadi makanan empuk untuk pencari berita yang berkerumun di luar rumah.
"Untuk apa kamu meminta restu Ibu?" Dengan suara bergetar menahan emosi, Bu Ida memandang Angkasa yang bertelut di depannya.
"Karena saya menyayangi Ibu seperti orangtua kandungku. Ibu Debby adalah Ibuku, dan saya harap Ibu juga bisa menjadi Ibu untuk wanita yang akan ku nikahi kelak."
Bu Ida menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya ada penolakan besar dan rasa tak ikhlas, tapi ia tak punya kuasa untuk membuat semua berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Debbyyyy ... Debbyyyy ...." Bu Ida meraung sembari menepuk-nepuk dadanya. Para Kerabat wanita yang duduk mengitarinya, mencoba membisikan kata-kata yang menenangkannya.
__ADS_1
"Tenang, Bu, yang sabar."
"Debby sudah bahagia, jangan ditangisi terus ga baik."
"Ikhlas, Bu."
"Bu, apa Ibu sayang sama menantu Ibu ini?" Salah seorang kenalan melontarkan pertanyaan yang membuat Bu Ida terdiam lalu menatap Angkasa dalam.
Air matanya menitik lalu tangannya terangkat mengusap pundak Angkasa, "Kamu pasti akan lupa sama Debby dan Ibu."
"Ibu 'kan Ibuku juga mana mungkin aku lupa. Ibu juga tahu, kalau Mama ku sudah lama tiada, kemana lagi aku akan mengadu?" Angkasa membungkukan badan di pangkuan mantan Ibu mertuanya.
Dulu saat Debby masih hidup, ibu mertuanya ini sangat sayang dan bangga atasnya. Namun sejak kejadian naas itu, jangankan tersenyum menoleh padanya pun mertuanya seolah jijik. Angkasa merasa kehilangan separuh hidupnya kala itu. Tak hanya istri dan calon anaknya, tapi seluruh keluarga Debby yang dulunya akrab berbalik memusuhinya, begitu juga kenalannya yang juga mengenal Debby seperti tak mengenalnya lagi.
"Wanita yang akan kamu jadikan istri pasti tak akan mengijinkanmu untuk mengenang anakku lagi, apalagi sekedar berkunjung kemari. Kamu akan menemukan keluarga baru, Ibu dan Debby akan hanya jadi masa lalu yang tak penting." Bu Ida tersenyum getir.
Bisa memalukan jika perkataannya direkam dan dikutip oleh wartawan dan tersebar luas di semua media, padahal wanita yang ia maksud belum tentu mau menerimanya.
"Maka itu saya juga mengharapkan, Ibu tetap mau menjadi Ibu kami nanti." Angkasa menatap mantan mertuanya penuh harap. Jika saja Ibunya Debby ini menolak, tidak jadi masalah. Setidaknya ia tidak berbohong apalagi jika itu benar terjadi, mantan mertuanya sudah mendengar langsung darinya dan bukan dari media.
"Jangan berharap terlalu jauh, Asa. Ibu masih belum rela." Suara Bu Ida melemah.
"Saya mengerti, Bu. Maafkan kalau sudah membuat hati Ibu sakit hari ini, sungguh tak ada maksudku seperti ini." Bu Ida masih menangis walau sudah tak sekeras awal tadi.
__ADS_1
"Saya pamit, Bu. Jika ada kesempatan, akan aku bawa calon istriku," ucap Angkasa dengan percaya diri. Mantan mertuanya itu tak menjawab, hanya kerabat dan kenalannya saja yang menjawab salamnya.
Di dalam mobil menuju ke tempat tinggalnya, Angkasa merasa geli sendiri ketika mengingat saat ia meminta restu pada Ibunya Debby kalau ia akan menikah.
"Menikah ... yang mau dinikahi saja ga merasa." Angkasa tergelak kencang sembari memukul kemudi mobilnya. Ia merasa lucu sekaligus bodoh dalam waktu yang sama.
Proses syuting sudah berakhir, para artis dan aktor pendukung sudah mulai dijadwalkan untuk melakukan roadshow guna mempromosikan film mereka.
Beberapa kali Angkasa tak dapat ikut menghadiri acara meet and greet yang diadakan oleh perusahaannya sendiri. Ia disibukan dengan proyek baru yang melibatkan negara tetangga.
Kalaupun ia hadir, hanya sebentar atau sangat terlambat. Hal inilah yang menggangu pikiran Salma, ia menduga Angkasa sedang mempersiapkan acara pernikahannya. Isi kepalanya sudah teracuni oleh berita yang berseliweran di media sosial tentang Angkasa yang akan menikah dalam waktu dekat.
Saat itu mereka sedang berkumpul untuk membicarakan jadwal roadshow promosi film, "Lihat! Kamu sudah tahu belum berita ini?" seorang teman Jane memperlihatkan berita dari halaman media sosial di layar ponselnya yang lebar, pada Jane dan kawan-kawan yang lain.
Awalnya Salma tak peduli, tapi ia merasa tak nyaman dengan tatapan-tatapan yang seperti menertawainya. Mata Salma beralih dari layar ponsel ke arah Jane dan kawan-kawannya.
Jane tersenyum misterius sembari berjalan mendekat. Lalu wanita tinggi itu, menaruh ponsel di atas meja tepat di hadapan Salma.
Layar yang terbuka menampilkan berita dengan judul yang mecolok mata 'Pimpinan tertinggi Asa Production dalam waktu dekat akan mengakhiri status dudanya,' Berita itu dilengkapi oleh foto Angkasa yang sedang duduk bersimpuh di hadapan seorang wanita setengah baya.
'Siapa pimpinan Asa Production?' Seketika otak Salma berhenti bekerja. Isi kepalanya tahu siapa yang dibicarakan oleh berita tersebut, tapi sudut hatinya tak mau mengakui kebenaran berita yang tertera di .
"Pak Asa akan menikah," ujar Jane mempertegas isi berita di media sosial.
__ADS_1
"Ow." Salma menanggapi singkat, selebihnya mulutnya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
...❤️🤍...