Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Sudut rahasia


__ADS_3

Salma terbangun di penghujung malam. Ia langsung jatuh tertidur, setelah Angkasa menderanya dengan kenikmatan yang terus menerus. Salma menggeliat dengan mata masih tertutup dan senyum bahagia tersungging di bibirnya. Matanya terbuka ketika tangan dan kakinya tidak mendapati suaminya di sisi sebelahnya.


Salma bangkit berdiri lalu mengenakan kembali pakaian tidurnya, setelah memastikan Angkasa tidak ada bersamanya di dalam kamar maupun di toilet. Ia lalu membuka pintu kamar dengan sangat perlahan agar tak mengganggu penghuni rumah lainnya.


Hari masih gelap dan ini malam pertamanya tinggal di rumah mewah milik Angkasa. Ia sebagai penghuni baru di rumah itu, tentu tak ingin menjadi pusat perhatian muncul tiba-tiba dengan pakaian tidur di pagi buta seperti ini. Ia hanya ingin mengambil minum, sekaligus mencari pria yang telah membuatnya tak berdaya semalam.


Salma berjingkat sembari mengedarkan pandangannya di setiap sudut rumah yang ia lewati. Siang tadi saat mereka sampai di rumah ini, ia tidak sempat memperhatikan tiap detail rumah barunya. Ia terlalu malu dengan pandangan ingin tahu dari karyawan yang ada di rumah Angkasa.


Langkahnya terhenti di tengah anak tangga ketika ia melihat suaminya keluar dari salah satu ruangan di lantai dasar. Angkasa mengusap wajah lalu menyugar rambutnya saat menutup pintu ruangan itu. Salma sudah hendak melanjutkan langkahnya turun ke bawah menemui suaminya, tapi ia hentikan karena merasa suasana hati Angkasa sedang tidak baik. Ia dapat melihat dari raut wajah suaminya yang tampak kusut.


Salma memutuskan menahan rasa haus dan kembali ke kamarnya. Ia naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


'Kenapa aku harus menghindar?'


Salma sempat menyesali keputusannya, tapi mengingat ekspresi wajah Angkasa yang tak biasa tadi, ia akhirnya membenarkan keputusannya. Ia memang berstatus seorang istri dari Angkasa, tapi sejujurnya ia belum mengenal bagaimana karakter dan kebiasaan suaminya. Ia tidak mau sikapnya yang terlalu ingin tahu, membuat Angkasa menyesal telah menikahinya.


Pintu kamar terbuka perlahan. Salma memejamkan matanya rapat. Ia merasakan ranjang yang bergerak di belakang tubuhnya.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Tangan Angkasa melingkar di perutnya.


"Belum," jawab Salma cepat. Ia panik merasa tertangkap basah telah mengintip suaminya dari lantai atas.


"Belum bangun kok bisa jawab?" Angkasa terkekeh geli, "Dingin ya, kok bajunya di pakai? Apa ini kode biar aku ga minta lagi hmm?" Tangan Angkasa semakin membelit tubuhnya.


Salma merasa lega, ternyata Angkasa menebak ia sudah bangun dari pakaian yang ia gunakan.

__ADS_1


"Masih ngantuk, Mas Asa dari mana tadi?" Salma membalikan badan menghadap suaminya.


"Mm ... aku dari dapur." Angkasa sempat berpikir lalu dengan cepat menjawab seraya tersenyum. Salma memandang lurus ke bola mata suaminya, ia mencari jawaban lain di sana.


Pagi harinya di saat semua sudah terbangun dan Salma berusaha mengejar si kembar yang lari bekejaran naik turun tangga, Angkasa memanggilnya.


"Salma duduk sini." Angkasa menarik tangannya duduk di sofa, sebelah tangannya melambai memanggil si kembar. Dua bocah itu segera berlari mendekat dan berebut untuk duduk di pangkuan Angkasa.


"Bik Yut, Pak Romli, Narti kemari sebentar." Angkasa memanggil pekerja yang ada di rumahnya.


"Kenalkan ini istri saya, namanya Salma." Tiga orang yang duduk di hadapannya menggangguk sopan, "Kalau ini anak saya, namanya Cakra dan yang ini Candra. Mereka kembar, tidak sulit 'kan membedakannya?" Salma tersenyum melihat Angkasa memperkenalkan kedua anaknya dengan bangga.


"Bik Yut ini, sudah bekerja di sini sepuluh tahun lebih, kalau Pak Romli sekitar lima tahun. Kalau Narti, ini anak Bik Yut yang aku panggil untuk bekerja di sini. Tugasnya untuk membantumu menjaga si kembar," jelas Angkasa. Salma mengangguk pelan pada ketiga orang di hadapannya.


"Tolong di bantu ya, Bu Salma ini orangnya pemalu," tambah Angkasa yang langsung ditimpali tawa oleh ketiga pekerjanya.


Salma dan si kembar melepas Angkasa berangkat kerja hingga mobil pria itu keluar melewati pagar rumah mereka.


"Mungkin Bu Salma ada keperluan, Cakra sama Candra biar saya yang temani." Narti menyusulnya di teras depan.


"Baiklah, kalau tidak merepotkan. Saya masih harus merapikan barang yang saya bawa kemarin."


"Tidak apa-apa, Bu memang sudah tugas saya." Narti mengulurkan kedua tangannya ke arah si kembar yang langsung disambut kedua bocah itu.


Salma tersenyum lega kedua anaknya cukup mudah ditangani di hari pertama ini. Saat ia akan menaiki anak tangga, matanya tertuju pada pintu ruangan yang semalam ia lihat Angkasa keluar dari sana dengan wajah yang suntuk. Tak ingin semakin penasaran, Salma menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan naik keatas menuju kamarnya.

__ADS_1


Beberapa saat lamanya, ia disibukkan dengan aktivitas memindah bajunya dan si kembar dari koper masuk ke dalam lemari. Lalu ia melanjukan membenahi koleksi buku miliknya. Salma turun ke lantai satu dengan membawa tumpukan buku itu ke ruang baca yang berada di lantai dasar.


Lagi-lagi matanya tertumbuk pada pintu coklat yang berada di sudut ruangan. Salma bergegas menaruh semua bukunya di ruang baca, lalu keluar lagi dan berjalan ke arah ruangan yang membuatnya penasaran.


Seingatnya, hanya ruang ini yang tidak diperkenalkan oleh Angkasa kemarin. Apa suaminya lupa lalu melewatkannya? Kalau saja semalam ia tidak melihat Angkasa keluar dari balik pintu ini dengan air muka yang tak seperti biasanya, tentu rasa ingin tahunya tak sebesar ini.


Tangannya sudah terangkat hendak mendorong pegangan pintu coklat itu, tapi suara Bik Yut mengejutkannya, "Ibu cari apa?"


"Eh, anu ... Saya cari perlengkapan pel lantai."


"Alat kebersihan semua ada di dapur belakang dekat kolam, Bu."


"Ow, maaf saya kira kamar ini gudang."


"Ibu mau pel lantai yang mana? Biar saya yang pel, Bu." Tak menanggapi ucapan Nyonyanya, Bik Yut kembali ke topik awal.


"Em, kamar anak-anak, tapi biar saya saja yang mengerjakan."


"Jangan, Bu. Bersih-bersih tugas saya dan Narti. Ibu kalau ada perlu lainnya, bisa panggil saya."


"Bik," panggil Salma sebelum wanita awal 40tahunan itu membalikan badannya, "Ini ruangan apa ya?" Salma menunjuk pintu di belakangnya yang tertutup.


"Itu ... Gudang, Bu."


"Ow, jadi benar gudang ya." Salma menganggukan kepala, "Kalau ada barang yang tidak terpakai dalam waktu dekat, saya taruh di dalam sini ya, Bik?"

__ADS_1


Bik Yut terdiam sebentar lalu menjawab, "Nanti berikan saya saja, Bu. Biar saya yang simpankan di gudang."


...❤️🤍...


__ADS_2