
"Kalau suka hanya karena harta dan kedudukan, mungkin saya lebih memilih pemilik stasiun TV sekaligus anggota dewan yang sering mengirimi saya bunga daripada Pak Angkasa, " lanjut Salma seraya kembali menghadap ke penonton dengan percaya diri.
Semua penonton tertawa mendengar celetukan Salma, tapi tidak Angkasa. Wajah pria itu langsung keruh mendengar gurauan yang mengganggu pikirannya.
'Pemilik stasiun televisi yang mana? Anggota dewan? Apa si tua bangka itu? Sial! Kenapa aku bisa tak tahu sainganku berat sekali'
"Pak ... Pak Asa, penonton tanya kalau jadi menikah, Mba Salma masih boleh berkarir di dunia akting tidak?" Pablo melontarkan pertanyaan mewakili penonton.
"Tidak boleh!" sahut Angkasa tegas. Seketika suasana senyap karena terkejut, " Maksud saya, kenapa harus susah-susah bekerja. Syuting itu capek loh, saya ga mau istri saya panas-panasan di luar," ralat Angkasa dengan suara yang lebih halus.
Salma melirik ke arah Angkasa, ada rasa kecewa di matanya. Ingatannya melayang pada saat awal pernikahannya dengan Armand. Saat itu mantan suaminya juga sangat lembut mengatakan bahwa ia akan menanggung dan membiayai kehidupan mereka. Salma yang kala itu sedang di puncak karirnya sebagai peyiar radio, harus rela melepaskan semuanya demi mengabdi pada suami. Tapi apa hasilnya? semua yang Armand janjikan hanyalah janji manis di awal. Pria yang sudah menjadi suaminya selama dua tahun itu, memberikan kekecewaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu cukup sudah tanya jawabnya, kita langsung ke pembagian merchandise ya. Perhatikan nomer tiket yang dipegang ya Bapak dan Ibu."
Sementara pembawa acara memandu pembagian merchandise, para pemain kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Suka cincinnya?" tanya Angkasa basa basi.
Salma mengangkat tangannya lalu mengamati benda kecil yang melingkar di jarinya. Emas putih bertatahkan tiga berlian kecil menghiasi jari manisnya, "Suka. Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum manis sekali.
"Pak Asa kok punya pikiran untuk melamar saya, kenapa tidak ada pembicaraan sebelumnya?"
"Untuk apa saya bicarakan sama kamu kalau mau melamar? biar kamu ada waktu mencari alasan untuk menolak saya?"
"Apa saya tadi terlihat menolak, Pak Asa?"
"Itu 'kan karena dilihat banyak orang. Mungkin karena situasi terjepit, kamu terpaksa jawab iya." Angkasa mencebikan bibirnya. Hatinya masih kesal karena fakta yang baru saja ia dengar tadi.
"Apa saya harus menarik ucapan yang di atas panggung tadi?"
"Loh, kok gitu?"
__ADS_1
"Karena Pak Asa kelihatannya tidak percaya. Mungkin ada baiknya saya ga usah terima lamaran tadi. Apa ini salah satu cara supaya mengundang peminat untuk menonton film produksi perusahaan Pak Asa?" Salma mengangkat tangannya dan mencoba mengeluarkan cincin yang baru saja disematkan Angkasa di jarinya.
"Eh, eh mau apa? Kenapa mau dilepas? Kamu kok jadi marah." Angkasa membawa tangan Salma dalam genggamannya.
"Untuk apa dipakai kalau hanya settingan, kamera sudah mati jadi ga perlu akting lagi."
"Yang bilang ini settingan siapa? Aku sungguh-sungguh mau melamar kamu, Salma Anggrek Bulan. Maaf kalau ini terlalu mendadak dan membuat kamu terpaksa mengatakan iya, karena aku tidak mau ditolak. Kalaupun kamu terpaksa menerima, aku tetap akan memaksa menikahi kamu. Beri aku waktu dan aku pastikan, kamu akan jatuh cinta padaku," ucap Angkasa dengan mata menatap lurus pada bola mata Salma.
"Aku tidak merasa terpaksa." Salma mengulum senyumnya. Ia merasa terbang ke awan mendengar rayuan manis berlebihan dari Angkasa. Perutnya terasa geli serasa banyak kupu-kupu berterbangan.
"Apa?" Angkasa mencondongkan telinganya berpura-pura tuli.
"Pak Asa sudah berhasil," ucap Salma berusaha menahan senyumnya yang melebar.
"Jadi apa yang kamu bilang di atas panggung tadi benar, kalau kamu juga suka aku?" Tanpa sadar Angkasa sudah mengganti sebutan dirinya menjadi aku.
"Tidak percaya?" Salma membalas tatapan mata Angkasa.
Di tengah keriuhan para penonton yang menerima merchandise dan hadiah undian, kemesraan Angkasa dan Salma yang saling menatap seakan tak terganggu.
"Pak Bayu, masa Pak Angkasa tidak kenal. Satu-satunya pemilik stasiun TV dan juga anggota dewan di negara ini hanya satu, ya Pak Bayu itu."
"Sudah kuduga! Dan kamu terima semua bunganya?"
"Terima," sahut Salma polos.
"Kok diterima, Salmaaaa." Angkasa menggeram gemas.
"Bunganya bagus, sayang kalau tidak diterima. Lagian tidak sopan menolak pemberian orang, apalagi itu hanya bunga. Penggemar juga banyak yang kasih bunga."
"Setelah ini jangan sekali-kali menerima bunga dari orang itu lagi," ucap Angkasa tegas, "Kalau dari penggemar masih boleh," tambahnya lagi setelah berpikir sebentar.
__ADS_1
"Kalau dari Pak Suntoro sama Pak Leo?"
"Siapa lagi itu?" sergah Angkasa kesal.
"Pengusaha Real Estate satunya Direktur BUMN kalau tidak salah," ujar Salma sembari mengingat-ingat. Mereka sering datang ke lokasi syuting bawa bunga dan ajak keluar makan siang, kalau makan siang aku tidak pernah mau tapi bunganya aku ambil."
Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa ia duga, kelengahannya membuat wanita yang diincarnya hampir lepas dari genggamannya. Pria-pria saingannya sungguh berbobot dan mengerikan. Selama ini hanya mantan suami Salma yang ia kira menjadi saingan terberatnya.
"Bagus! Tolong setelah ini bungapun jangan kamu terima. Kenapa aku bisa tidak tahu kalau ada yang mendekatimu, orang-orang di lokasi syuting kenapa ga ada yang bilang juga sih!" Angkasa memggaruk-garuk kepalanya kesal, "Sudah benar aku langsung melamar kamu, kalau terlambat mungkin kamu sudah menikah dengan salah satu dari mereka."
"Mereka belum tentu ada tujuan itu, Pak Asa. Barangkali mereka hanya seperti penggemar lainnya."
"Salma, pria sekelas mereka tak akan membuang waktunya hanya untuk sekedar mengajak makan siang dan membelikan bunga jika mereka tidak punya maksud busuk," ujar Angkasa sedikit geram.
"Seperti Pak Angkasa?"
"Maksudnya?"
"Selama ini mendekati saya karena ada maksud 'busuk'?" Salma menggerakan dua jemarinya seperti telinga kelinci.
"Beda, niat saya tulus. Kamu bisa buktikan nanti," sahut Angkasa angkuh.
"Permisi, Bapak, Ibu, maaf mengganggu pembicaraan masa depannya, silahkan keluar kita lanjutkan sesi foto di depan." Emran mempersilahkan keduanya dengan setengah membungkuk. Angkasa tahu kawannya itu sedang mengoloknya.
"Carilah pasangan biar ada yang digandeng seperti ini." Angkasa merenggangkan lengannya memberi celah agar Salma dapat menggelayutkan tangannya.
"Belum ada yang cocok di hati, Bos."
"Spek bidadari di sini banyak, Emran kamu tinggal pilih." Angkasa menunjuk barisan wanita pemeran pendukung termasuk yang ada Jane di dalamnya.
"Wah, kalau seperti mereka mendadak hipertensi saya, Bos."
__ADS_1
Saat melewati Jane dan kawan-kawannya, Salma semakin merapatkan tubuhnya pada Angkasa sembari memberikan senyum kemenangan pada para pemain pendukung wanita yang menatapnya dengan dengki.
...❤️🤍...