Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Ada apa dengan Bunga Anggrek?


__ADS_3

"Boleh, berarti kita harus ke Jogja nih," ujar Angkasa semangat.


"Sebenarnya Mas Bimo sama Kak Tia sudah menanyakan, apa maksud Pak Asa saat pemutaran film perdana kemarin."


"Lalu kamu bilang apa?"


"Aku belum jawab apa-apa."


"Loh, aku 'kan serius melamar kamu, Salma bukan main-main. Nanti mereka mengira aku tidak serius." Angkasa memandangnya kecewa.


"Aku tidak mau mendahului, siapa tahu benar semua settingan."


"Kamu belum percaya ternyata, ayo kita menemui kakak iparmu sekarang." Angkasa menyalakan mobilnya dan mengarahkan ke tempat tinggal Salma.


"Pengalaman yang membuatku tidak gegabah dalam mengambil tindakan dan keputusan. Maaf kalau aku sudah buat kecewa, mungkin beginilah resiko menjalin hubungan dengan wanita yang sudah berstatus janda." Salma terkekeh pelan.


"Apa salahnya dengan status kamu? Akupun bukan pria lajang. Aku duda, Salma walaupun tidak punya anak sepertimu." Angkasa mengerutkan keningnya tak setuju.


"Mungin berita yang berkembang di luar sana, tidak pernah sampai di telinga Pak Asa. Orang-orang berbisik di belakang kita, mempertanyakan kenapa seorang Angkasa yang hebat memilih seorang janda beranak dua. Wanita yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan, karir juga baru mulai, usia sudah tak muda lagi seperti artis pendatang baru yang masih segar. Sejujurnya akupun bertanya hal yang sama, mengapa Pak Asa melamar saya. Itupun sangat mendadak karena sebelumnya kita tidak pernah ada komitmen apaun. Wajar bukan saya curiga dan tidak yakin dengan kesungguhan Pak Asa?"


Salma menatap Angkasa yang sedang fokus dengan kemudinya. Lipatan kening pria itu semakin bertambah banyak. Sepertinya ia sedang memikirkan jawaban yang tepat agar tak terjadi kesalahpahaman antar mereka.


"Salma, kamu memang belum mengenal saya terlalu dalam. Pertemuan dan perkenalan kita sangat singkat, aku akui itu. Tapi tanpa kamu sadari, Salma aku itu fansmu sejak lama."


Salma tergelak cukup kencang ketika Angkasa mengatakan hal itu. Bagaimana bisa seorang pesohor Ibukota mempunyai idola dari daerah, sedangkan dia belum lama masuk ke dunia hiburan di kota besar.


"Lagi-lagi kamu tidak percaya." Angkasa menggelengkan kepalanya kecewa tapi juga tersenyum geli.


Tiba-tiba Angkasa menyanyikan sebuah tembang lawas yang menjadi sebutan nama Salma saat siaran radio dulu, hingga terkenal sampai sekarang.


"Ingat dengan lagu ini?" Angkasa melirik lalu bersenandung lagi. Salma hanya mengangguk seraya tertawa kecil. Nyanyian Angkasa mengingatkannya ketika pria itu melamarnya di dalam gedung bioskop.

__ADS_1


"Ini lagu kesukaan almarhum Mamaku. Saat aku kecil, Mamaku tiap pagi saat kami bersiap berangkat sekolah, selalu memutar lagu ini di radio butut keluarga kami. Hingga nada dan lagu ini melekat di kepalaku."


"Lagunya memang enak, lagu lama tapi masih bisa dinikmati di masa kini," timpal Salma.


"Kamu benar, karena aku suka sekali lagu itu aku sering memutarnya di mobil saat perjalanan seperti ini. Akhirnya almarhum istriku, jadi ikut-ikutan suka dengan lagu favoritku." Angkasa tertawa kecil dengan mata menerawang jauh.


Entah mengapa saat Angkasa mengenang mantan istrinya, hati Salma berdenyut tak nyaman. Senyumnya yang lebar seketika surut. Apa ia sedang merasa cemburu dengan orang yang sudah tiada?


"Debby jadi jadi tahu kebiasanku. Dia ikut-ikutan memutar lagu itu tiap kita jalan. Lalu setelah dia tiada, lagu itu bagai momok untuk aku. Lagu itu tak pernah kuputar lagi. Sampai suatu ketika, saat aku di perjalanan sendirian, aku mendengar siaranmu di radio."


"Siaran radioku? Sampai di Jakarta?"


"Waktu itu aku sering ke daerah Jawa Tengah, jadi siaranmu bisa kutangkap." Angkasa menoleh sekilas lalu memberikan senyuman manis, tapi senyum itu sudah terasa sedikit hambar di hatinya. Ia tidak suka Angkasa menyebut nama wanita dengan cara manis seperti itu.


'Debby jauh lebih punya kenangan di hati Angkasa, Salma. Kamu orang baru tidak ada apa-apanya dibanding almarhumah istrinya!'


Salma memberi peringatan dalam dirinya. Ia meremas tas di pangkuannya. Sepercik rasa malu menghinggapi hatinya.


"Saat itu kamu sedang memandu siaran nostalgia. Aku menelepon stasiun radiomu dan memberanikan diri meminta untuk diputarkan lagu Anggrek Bulan, saat waktu request di buka. Sebenarnya saat itu aku sedang menguji diriku sendiri, apa sanggup mendengarkan lagu itu lagi." Wajah Angkasa terlihat sendu.


"Akhirnya saat kamu putarkan lagu itu. Setelah satu tahun aku tidak berani mendengarkan lagu Anggrek Bulan, sore itu untuk pertama kalinya aku mendengarkannya lagi."


"Mmm ...." Salma hanya mengangguk kecil. Ia sudah kehilangan selera menanggapi cerita lawas Angkasa.


Angkasa menoleh ke arah samping, ia merasakan ada yang berbeda dari suara Salma.


"Kamu ngantuk?"


"Gak." Salma menggeleng dan menegakan punggungnya.


"Tapi bukan itu pointnya," lanjut Angkasa.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Selama dua minggu berturut-turut aku di Jogja, aku selalu request lagu yang sama. Mungkin kalau kamu ingat."


"Ah yaa, aku ingat ada orang yang maksa untuk diputarkan lagu yang sama setiap hari. Kepala produksi acaraku sampai bosan dan kesal, tapi tetap saja dituruti." Salma terkekeh pelan.


"Iya, karena aku pakai trik dong."


"Kirim makanan ke studio tiap hari?"


Angkasa tergelak kencang menanggapi tuduhan Salma. Ia ingat betul masa-masa di mana, pihak stasiun radio itu mau memutar lagunya yang sama tiap hari.


"Pantes anak studio ga banyak protes. Heran sesuka itu sama satu lagu, apa ga bosen dengernya?" gumam Salma. Jujur ia iri dan cemburu Angkasa mempunyai sebuah kenangan bersama mantan istrinya yang sulit dilupakan.


"Bukan. Aku memang suka dengan lagunya, tapi yang membuat aku menginginkan lagu itu terus diputar bukan hanya sekedar suka. Aku punya CD bahkan piringan hitamnya, tapi aku lebih suka diputar saat kamu siaran." Angkasa memandangnya dalam. Wajah pria itu mendadak serius.


"Kenapa?" Irama jantung Salma berdetak semakin cepat.


"Karena kamu yang memutarnya. Tiap kali setelah kamu memutar lagu itu, kamu selalu ikut bernyanyi kecil sampai siaranmu berakhir."


"Sampai aku dijuluki Salma si Anggrek Bulan." Salma menyunggingkan senyumannya.


"Aku yang memberi nama itu."


"Benarkah?" Salma memandangnya tak percaya, karena memang ia tak pernah tahu dari mana nama itu berasal. Tiba-tiba saja semua orang memanggilnya Salma Anggrek Bulan.


"Mudah saja itu, jika Angkasa sudah menginginkan sesuatu tidak akan gagal," ucap Angkasa angkuh.


Tiba-tiba raut wajah Angkasa kembali meredup, "Aku sudah jatuh hati padamu kala itu. Saat pekerjaanku di Jogja selesai dan besoknya harus kembali ke Jakarta, aku sempatkan datang ke studio saat kamu siaran. Kamu tahu? saat itu aku bawa bunga---"


"Anggrek ungu," desis Salma.

__ADS_1


"Ya," Angkasa mengangguk, "Tapi aku kecewa dan sedih sekali saat rekan kerjamu di sana bilang, kalau kamu belum bisa ditemui karena tunanganmu sedang merancang kejutan untuk melamarmu. Lalu aku tinggalkan bunga itu di receptionist dan langsung kembali ke Jakarta di hari yang sama. Aku berusaha melupakan keinginan untuk bertemu dan mengenalmu lebih dalam lagi."


...❤️🤍...


__ADS_2