Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Perasaan terpendam


__ADS_3

Jane turun dari mobil Angkasa dengan berat hati. Pengalamannya yang tidak pernah ditolak pria, membuat harga diri dan egonya terluka. Ia menutup pintu mobil Angkasa dengan sedikit dihempaskan.


Tanpa berpamitan, Angkasa langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera menginjak pedal gas, sebelum emosinya ikut tersulut gara-gara kelakuan artis baru itu.


Di dalam mobil, ingatan Angkasa terbawa lagi pada saat kejadian malam itu. Rasa bersalah dan menyesal kembali mengganggunya. Darah yang mengalir dari sela kaki Debby dan mata yang terpejam rapat tak terbuka lagi hingga istrinya itu masuk ke liang lahat bersama calon bayinya, terus berputar di kepalanya.


Matanya sudah mulai kabur karena terhalang oleh air mata. Angkasa membanting kemudinya ke tepi jalan dan berhenti di sudut yang gelap.


"Debbyyyy ...." Angkasa merintih dan menelungkupkan kepalanya di atas kemudi.


Empat tahun sudah berlalu, tapi gambaran kejadian malam itu masih terekam jelas di ingatannya. Andaikata istri dan calon bayinya tiada karena sebab yang lain, ia mungkin tidak sampai frustasi seperti ini. Namun kenyataannya ia lah penyebab kematian istri dan calon bayinya.


Saat itu media massa serta media sosial, secara bertubi-tubi memberitakan kejadian naas sekaligus penyebab kematian istrinya. Hampir setengah tahun setelah itu ia tidak pernah menampakkan diri di depan umum, hingga pemberitaan itu berangsur mereda.


Sejak saat itu Angkasa menjadi orang yang tertutup akan dunia luar. Hidupnya hanya untuk kerja dan menghabiskan sisa waktu hidupnya. Sialnya pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan dunia entertainment, tak bisa membuatnya terhindar dari pertanyaan seputar topik pasangan hidup.


Pertemuannya dengan Salma pertama kali hanya melalui suara. Saat Salma masih menjadi penyiar radio, istrinya adalah pendengar setia acara yang dibawakan oleh Salma saat mereka melakukan perjalanan menggunakan mobil. Ketika istrinya sudah tiada, Angkasa yang merasa kesepian dalam perjalanan pulang dari kantor, tanpa sengaja kembali mendengar suara Salma membawakan siaran di radio.


Sejak saat itu ia menjadi penggemar Salma menggantikan mendiang istrinya. Terlebih Salma sering mendendangkan lagu Setangkai Anggrek Bulan yang juga lagu favorit almarhum ibunya.


'Salma ....'


Ingatan Angkasa tiba-tiba beralih pada Salma. Ia mengambil ponselnya lalu dengan tangan bergetar menahan gejolak di dalam dada, ia mengetikkan sesuatu di sana dengan cepat.


Salma mengambil ponselnya dari atas nakas. Layar ponselnya yang menyala dalam gelap dengan suara dentingan beberapa kali menandakan ada beberapa pesan yang masuk sekaligus.


'Salma, kamu sudah tidur?'


'Maaf kalau saya mengganggu.'


'Saya ingin menyampaikan sesuatu sama kamu.'

__ADS_1


Angkasa menunggu balasan pesan dari Salma dengan perasaan cemas. Sejenak ia menyesal telah mengirim pesan pada Salma, tapi terlambat pesan itu sudah terbaca dan terlihat Salma sedang mengetikkan sesuatu di seberang sana.


'Belum, Pak. Ada yang bisa saya bantu?'


Angkasa berulang kali mengetik, tapi dihapusnya kembali. Ia sebenarnya bingung akan apa yang ingin ia sampaikan. Perasaan dan pikirannya yang masih kalut, membuatnya melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Namun pesan sudah terkirim, ia harus menyampaikan sesuatu agar tidak terlihat aneh di mata wanita yang diincarnya.


'Besok saya jemput kamu jam sembilan. Kita bicara tentang acara yang akan kamu bawakan,'


'Baik Pak, besok saya langsung datang ke kantor. Bapak tidak perlu kemari dulu.'


'Baiklah, kalaupun menjemput kamu saya tidak ada masalah.'


'Terima kasih, tapi benar tidak perlu repot, Pak. Nanti saya berangkat sendiri.'


Setelah merasa lega jarinya tidak lancang menuliskan sesuatu yang mungkin dapat membuat Salma menghindarinya, Angkasa menyalakan mesin mobil lalu kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.


Paginya Salma sudah berada di kantor Angkasa bahkan sebelum pria itu datang.


"Pa-pagi,' sahut Angkasa sedikit terkejut. Ia sedikit terlambat pagi ini dikarenakan semalam sulit memejamkan mata. Bukan karena rasa sedih dan bersalah atas kejadian empat tahun yang lalu, tapi perasaan gundah yang disebabkan oleh wanita di hadapannya ini, "Sudah lama?" lanjut Angkasa berbasa-basi.


"Baru saja."


Angkasa mengangguk kikuk dan memberi kode agar mengikutinya. Salma mengikutinya dengan wajah cerah dan bersemangat, sebaliknya dia dengan wajah yang penat dan kusut. Sembari berjalan, Angkasa mengusap-usap matanya memastikan tidak ada kotoran di mata sisa tidur semalam.


"Sudah sarapan?" tanya Angkasa ketika mereka sudah sampai di depan ruangan Angkasa.


"Sudah, kalau Bapak mau sarapan biar saya tunggu di luar." Salma mundur begitu Angkasa akan mempersilahkan ia untuk masuk ke dalam.


"Eng ... Gak, gak saya juga sudah makan. Masuklah." Angkasa membuka pintu ruangannya lebih lebar. Biasa menikmati sarapan di ruangannya saat pagi, kali ini terpaksa ia harus bersabar menahan lapar. Sekretarisnya yang sudah siap mengangkat telpon hendak menghubungi cafetaria kantor, menurunkan tangannya kembali melihat kode yang diberikan oleh bos besarnya.


"Mmm ... Tunggu sebentar ya, saya panggilkan Pak Emran," ujar Angkasa setelah beberapa saat mereka duduk berhadapan saling diam dan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Angkasa benar-benar merasa gugup sekarang. Ia belum siap dengan kedatangan Salma sepagi ini. Bahkan ia sempat lupa menyuruh wanita itu untuk datang ke kantornya pagi ini, karena pesan singkat yang ia kirimkan semalam seharusnya bukan itu isinya melainkan isi hatinya.


"Mir, panggil Emran ke ruangan saya." Angkasa mengangkat telepon menghubungi sekretarisnya.


"Pak Emran 'kan ada di Makassar Pak?"


"Makassar? Ngapain dia di sana?"


"Seminar. 'Kan Pak Asa yang minta untuk mewakili perusahaan."


Angkasa terdiam dan menggigit bibirnya cemas. Bagaimana ia bisa sekacau ini merencanakan sesuatu. Ia adalah orang yang teratur dan dapat mengendalikan situasi.


"Aduh saya minta maaf. Saya lupa kalau Pak Emran berangkat ke Makassar hari ini." Angkasa menutup teleponnya dan menggosokan kedua tangannya di celana dengan gugup. Ia merasa tidak enak seakan hanya bisa memberi janji dan tidak terlihat profesional, "Tapi tenang kamu jangan khawatir, semua konsep untuk acaramu sebenarnya sudah siap," sambung Angkasa cepat saat melihat wajah Salma yang kecewa.


"Begini, kamu akan membawakan acara baru yang mungkin belum pernah ditayangkan di stasiun televisi manapun. Emm, kamu 'kan biasa berbicara dan berjualan di media sosial, bagaimana jika kamu bekerjasama dengan penggiat media sosial yang sedang naik daun untuk mewawancarai orang-orang yang inspiratif untuk anak muda," jelas Angkasa berapi-api.


Salma mengkerutkan kening mendengar penjelasan orang nomer satu di perusahaan itu. Bagaimana tidak, untuk sekelas Angkasa Wiryawan konsep acara tersebut sangat tidak terarah dan terkesan asal.


"Saya tidak mengerti." Salma menggeleng.


Bahu Angkasa sontak turun lunglai. Biasanya ide segar selalu bermunculan di kepalanya, tapi kali ini otaknya tiba-tiba lumpuh untuk berpikir kreatif di depan wanita ini.


...❤️🤍...


Mampir juga ke karya temanku yuk


Blurb :


Menikah dan membangun rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan merupakan impian setiap orang. Begitu pun dengan Tsamara Asyifa Gibran. Namun, bagaimana jadinya bila sang suami tidak pernah sekalipun mencintai wanita itu dan belum bisa move on dari mantan kekasih?


Akankah Tsamara terus mempertahankan rumah tangganya bersama Bimantara atau malah membuka hatinya untuk Yudistira?

__ADS_1



__ADS_2