
Saat Salma akan memalingkan wajahnya dengan raut tak setuju dengan ucapannya, Angkasa menahannya dan menggiringnya untuk duduk di tepi ranjang. Angkasa mengerti jika pembicaraan ini cukup sensitif, apalagi berurusan dengan kaum hawa yang mengedepankan perasaan dan mengesampingkan logika. Salah bicara sedikit akan berbuntut panjang dan berdampak pada hubungan pernikahan selanjutnya.
"Begini, begini. Duuh, mama si kembar ini kalau ngambek seperti ini rupanya." Angkasa mengusap air mata istrinya yang masih menetes.
"Anak-anak sudah tidur?"
"Hmm."
"Aku mau dongeng, tapi khawatir kamu ketiduran sebelum sempat cuci muka sama ganti baju."
"Apaan sih. Aku bukan anak kecil."
"Loh, ini memang dongeng untuk yang sudah dewasa." Angkasa mengerling menggoda, tapi hati Salma yang masih kesal melihat itu sebagai ejekan.
"Ayo, ayo. Ganti baju dulu lalu cuci muka." Angkasa menggiring istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku bisa sendiri." Salma menggerakan bahunya, menepis halus tangan suaminya yang merangkul bahunya.
"Oke, oke, aku tunggu di sini ya."
Selepas Salma masuk ke dalam kamar mandi, Angkasa pun juga bersiap. Isi kepalanya berputar mencari penjelasan yang mudah dimengerti oleh wanita yang sedang kecewa dan cemburu.
"Duduk sini." Angkasa menepuk sisi ranjang begitu istrinya keluar dari kamar mandi dengan daster panjang dan lebar, "Mendekat dong, 'kan Mas mau cerita." Angkasa menarik tubuh Salma hingga istrinya itu jatuh kepelukannya.
"Maaf ya, aku mungkin belum sempurna menjadi seorang suami untukmu." Angkasa mengulang perkataannya sebelumnya, "Belum ada dua bulan kita menikah, kamu sudah menangis seperti ini. Suami macam apa aku." Angkasa mengusap-usap punggung Salma dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Mau cerita apa sih?"
"Ow, tunggu ceritanya ya?" Angkasa pura-pura terkejut.
__ADS_1
Sambil mengulum senyum, ia melanjutkan, "Janji jangan marah dan tidur sebelum ceritanya selesai ya."
"Hmm."
Angkasa merapatkan pelukannya, memastikan agar istrinya tidak kabur sebelum ia sampai pada inti ceritanya.
"Saat kehilangan Debby, aku merasa duniaku sudah berakhir saat itu. Aku sering mengurung diri di dalam kamar dan membiarkan Emran mengambil kendali pekerjaanku. Ya, serapuh itu mentalku dulu."
Angkasa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. Menceritakan ini sama dengan membongkar rasa sakit yang pernah ia rasakan dulu. Ia merasakan badan Salma yang bergerak ingin melepaskan diri. Angkasa yang sudah siap dan bisa memperkirakan reaksi istrinya, tak membiarkan Salma lepas dari pelukannya.
"Keluarga dan teman yang peduli padaku saat itu berulangkali mengatakan aku harus ikhlas dan harus melanjutkan hidup. Aku ikhlas, tapi hidupku seakan sudah tidak ada tujuannya lagi. Apalagi kedua orangtuaku sudah tidak ada lagi dan aku juga tidak punya saudara. jadi untuk siapa aku bekerja keras?"
"Banyak juga yang menjodohkanku dengan wanita lain. Bahkan banyak yang dengan sukarela menawarkan diri." Angkasa terkekeh geli mengingat masa itu.
"Tapi yang namanya sudah mati rasa, tidak ada yang bisa mengerti."
"Sampai suatu saat aku berada dalam titik terendah dan pasrah, aku merasa Tuhan berkata padaku, 'Sabar Angkasa, kamu hanya perlu sabar.' Aku jawab, 'Oke, Tuhan, aku akan sabar. Berikan aku petunjukmu."
"Lalu, aku mendengar suaramu. Ya, hanya suaramu di siaran radio. Aku sudah pernah cerita ini sebelumnya 'kan?" Angkasa menunduk dan melihat Salma mengangguk. Istrinya itu tampak antusias mendengarkan ceritanya.
"Aku jatuh cinta hanya dari suaramu. Percaya ga?" Salma menggerakan kedua bahunya tak acuh. Angkasa terkekeh dan mencium keningnya gemas.
"Aku bilang dalam hati, 'Yes, ini pasti jawabanMu, Tuhan.' Aku semangat tuh, cari tahu siapa kamu dan berniat langsung datang menemui kamu. Tapi apa yang terjadi, aku kecewa untuk yang kedua kalinya." Angkasa mendesah kesal mengingat kejadian di stasiun radio kala itu.
"Aku kecewa dan sempat marah pada keadaan yang merasa mempermainkanku. Disaat ingin bangkit, tapi langsung dihempaskan oleh kenyataan. Aku kembali ke Jakarta dan menyibukan diri dengan pekerjaan. Tidak mau peduli lagi dengan namanya wanita, jodoh, pernikahan dan keturunan. Aku marah."
Salma bisa mendengar degub jantung suaminya berdetak lebih kencang serta nafasnya lebih menderu saat menceritaan bagian ini.
"Lalu pagi itu aku melihatmu, Salma diantara banyaknya perempuan yang tersenyum padaku. Sayangnya hanya kamu yang tidak tersenyum." Angkasa memanyunkan bibirnya membuat Salma terkikik geli.
__ADS_1
"Aku menahan rasa berharap karena tidak mau kecewa lagi. Aku berpura-pura tak melihat dan menganggapmu ada di sana."
"Tapi ga bisa, Sayang. Jiwa pebinorku muncul ... aauuww." Salma mencubit gemas mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Aku nekat datang ke Jogja dan memintamu menemaniku. Padahal biasanya aku jalan sendirian kemana-mana, tapi aku maunya manja sama kamu minta dianterin." Angkasa tergelak kencang saat Salma berusaha mencubitnya lagi.
"Saat kamu membawa si kembar menjemputku di bandara, aku langsung merasa bahwa ada yang tidak beres dengan rumah tanggamu. Maafkan aku yang saat itu tidak simpati tapi malah bahagia dan berharap kamu berpisah secepatnya." Angkasa tertawa keras.
"Tapi aku jadi mengerti satu hal. Saat itu Tuhan tidak mengijinkan kamu langsung bertemu denganku, karena IA ingin kamu lebih dewasa lagi dalam pernikahan dan kehidupan. Mungkin juga untuk mengimbangi aku yang egois dan rapuh. Aku ditemukan denganmu yang tangguh, sabar dan terlalu peduli dengan perasaan orang lain. Satu lagi yang terpenting, dari pernikahanmu menjadi jalan untuk Cakra dan Candra hadir di dunia. Aku harus berterima kasih pada Armand karenanya aku mempunyai dua putra sekaligus."
Salma mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan mata berkaca.
"Di usiaku yang sudah lewat dari matang ini, belum tentu mendapat seorang anak. Kalaupun ada, mungkin waktuku dengannya tidak selama orangtua lainnya."
"Mas Asa ngomongin apa sih!" Salma memukul dada suaminya kesal. Ia tidak suka dengan pembicaraan yang berubah sedih seperti ini.
"Hehehe, kenyataan toh? Mmm, atau kalau begitu kita harus gaspol dari sekarang."
"Gaspol apaan?"
"Tiap malam buat anak. Kalau bisa satu tahun, satu anak."
"Iiih, ngomong apaan sih. Kok jadi kesana ceritanya."
"Itu memang point pentingnya. Yuk, kita mulai dari malam ini." Angkasa menarik tubuh Salma hingga rebah dan menutupnya dengan selimut hingga tak terlihat seluruhnya.
Salma yang tadinya malu-malu dan menolak, sudah mulai tertawa dan mengimbangi suaminya. Angkasa tersenyum lebar, misinya berhasil. Benar kata orang jika ada pertikaian antara suami dan istri, penyelesaian terbaik ada di atas ranjang dan Angkasa sudah melakukan keduanya. Baik dengan bercengkrama lalu naik ke level yang lebih tinggi lagi yaitu gerak bermandi peluh di atas ranjang.
...❤️🤍...
__ADS_1