
Seiring menutup ponselnya, Angkasa menghembuskan nafas lega dengan mata membesar. Berbicara dengan istrinya akhir-akhir ini, membutuhkan keahlian khusus agar tidak berubah menjadi salah paham yang berakhir dengan perang dingin.
Ia lantas bergegas mengetikkan pesan pada grup yang ada di ponselnya. Grup yang baru ia bentuk sendiri dua minggu yang lalu. Ia memastikan semua persiapan matang dan terencana. Senyumnya terkembang puas ketika semua serempak mengatakan 'beres.'
Pukul empat sore, saat Salma baru saja keluar dari kamar mandi masih dengan rambut tergulung handuk, Bian bersama kekasih blasterannya tanpa pemberitahuan dulu datang berkunjung ke rumahnya.
"Langgeng juga sama si bule," goda Salma sembari mengintip dari celah pilar yang menghubungkan ruang santai dengan ruang tamu.
"Aku sih setia orangnya."
"Maksudnya dia yang kok bisa tahan lama sama kamu."
"Iih, jangan salah, dia bucin banget sama aku."
Salma tertawa menganggapi gurauan Bian, "Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu sama keringkan rambut."
"Ga usah, aku ga lama. Aku kemari mau ajak si kembar main di Mall Platina, di sana ada wahana salju baru." Kepala Bian melongok ke arah belakang Salma. Si kembar yang sedang duduk menonton televisi, menatapnya ingin tahu saat ia mengatakan akan ajak mereka main di Mall.
"Aku ga bisa hari ini, Bian. Suamiku mau ada acara sore ini katanya."
__ADS_1
"Yang mau ajak kamu juga siapa. Aku ajak si kembar aja kok." Tangan Bian melambai memanggil si kembar.
"Kamu mau bawa mereka sendirian?"
"Aku ga sendirian, ada Anthony." Bian menunjuk pria gagah yang duduk seorang diri di ruang tamu.
"Aku ga yakin kamu bisa." Salma menggeleng tak yakin.
"Kamu ga yakin sama aku bisa handle dua anak? Aku dulunya guru TK loh."
"Tapi mere---"
"Begini saja biar kamu tenang, Bik Yut dan Narti aku ajak sekalian. Jadi ada yang bantu jaga si kembar. Lagipula tadi kamu bilang mau ada acara keluar dengan Pak Asa, jadi biar pekerja rumah tanggamu bisa bersantai sejenak."
"Baiklah." Salma hanya bisa pasrah.
"Yeeeeeiii!" Bian dan si kembar serempak bersorak gembira.
Salma merelakan kedua anaknya pergi tanpa di bawah pengawasan dirinya. Keduanya tampak senang dan melambaikan tangan mungil mereka saat berada di dalam mobil Bian.
__ADS_1
"Jangan repotin tante sama om yaa," seru Salma sebelum mobil itu keluar dari halaman.
Salma menutup pintu rumahnya. Sekarang ia benar-benar seorang diri dalam rumah besar berlantai dua itu. Rasanya sangat sepi dan kosong. Salma hampir saja kembali ke kamar dan akan kembali tertidur karena bosan, ketika bel pintu rumahnya berbunyi. Ia yang sudah sampai di lantai atas, kembali turun ke bawah.
"Selamat sore, Bu. Maaf kami sedikit terlambat." Dua orang perias serta penata rambut langganan Angkasa, tersenyum ramah di balik pintu.
"Tidak apa-apa. Riasnya di bawah sini saja ya, kebetulan semua lagi pergi jadi rumah kosong."
"Di mana saja, Bu yang penting nyaman."
Kedua orang itu dengan cekatan menyusun peralatan mereka di atas meja. Kali ini mereka tidak bertanya ia ingin di rias dengan nuansa apa. Seolah keduanya tahu apa yang akan dilakukannya pada wajah dan rambut Salma.
"Mba, ga usah terlalu tebal deh, tipis-tipis aja. Acaranya makan malam aja kok," ucap Salma. Ia merasa risih dengan banyaknya polesan yang dibubuhkan pada kulit wajahnya, tapi perias itu seperti tak mengindahkan permintaannya. Perias itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Salma sudah mulai sedikit emosi dibuatnya. Ia berniat akan mengadukan hal ini pada Angkasa nantinya. Salma memilih diam dan pasrah, karena masih belum merasa pantas untuk menegur orang kepercayaan Angkasa secara langsung.
Salma memilih memejamkan matanya selama dirias, karena kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pening.
...❤️🤍...
__ADS_1
Mampir ke karya temanku yaa