Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Cambuk untuk bangkit


__ADS_3

"Mbaa ... Mba Salmaaa." Ada suara yang memanggil namanya terdengar dari kejauhan. Salma buru-buru merapikan rambutnya dan membersihkan sisa-sisa air mata yang membekas dipipinya.


"Ya, Mba ada apa?" tanya Salma pada salah seorang dari team make up yang tadi memanggilnya.


"Mba Salma dicari tuh, sudah waktunya take loh." Wanita itu bersungut kesal.


"Oh, maaf."


Salma melangkah dengan cepat ke arah lokasi pengambilan gambar. Kedatangannya disambut dengan wajah kesal para pemain dan kru yang bertugas.


"Dari mana aja, kamu itu membuat kita semua menunggu tahu," ucap Jane ketus.


"Maaf." Salma tidak ingin berlama-lama di dekat Jane. Ia lebih memilih mendekati Pak Memet, orang yang lebih punya kekuasaan di lokasi syuting itu.


"Pak Memet, maaf saya tadi di toilet ga denger kalau sudah waktunya berkumpul."


"Ow, ga apa-apa Mba Salma. Istirahat aja kalau capek, kita ambil adegan yang lain dulu," ujar Pak Memet santai.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya gak capek kok, siap aja kalau harus langsung dimulai. Saya tunggu di sana ya."


"Diaaan, make up Mba Salma tolong di touch up lagi ya," seru Pak Memet pada wanita yang memanggilnya tadi sebelum ia beranjak pergi dari sana.


Saat berjalan ke arah tempat duduknya, Salma masih dapat mendengar gerutuan wanita yang dipanggil Dian oleh Pak Memet itu di belakangnya. Perempuan itu menganggap dirinya terlalu merepotkan. Salma tetap menegakan kepalanya, ia tidak mau dijajah oleh tatapan orang yang merendahkan dirinya. Apa yang ia dapatkan sekarang, memang sudah sepantasnya dan rejekinya. Tak satupun ia ijinkan mencuri semangatnya untuk bangkit demi kedua anaknya.


Salma berjalan kesana kemari mencari kursi yang tadi ia duduki. Kursi itu sudah tertulis namanya dan memang terlihat lebih nyaman dan istimewa dibanding kursi milik pemain lainnya. Letak kursi itupun memang ditaruh di bawah payung lebar khusus pemain-pemain utama.


"Mba Salma cari kursinya ya?" tegur salah satu pemain yang berada dalam satu lingkaran dengan Jane.


"Iya."


"Kursinya dipinjam dulu sama Sinta ya. Kami mau ngobrol sebentar," ujar April teman Jane.

__ADS_1


"Oh ya ga apa-apa, pakai aja." Salma mengerti ucapan itu sama dengan bentuk pengusiran dia dari para pemain yang duduk berkelompok.


Sinta yang seorang pemain pendukung, disebut menempati kursinya tampak gelisah tak nyaman duduk di kursi pemeran utama. Salma memberikan senyuman pada Sinta, karena ia tahu gadis itu hanya dijadikan alat untuk membuatnya merasa diasingkan oleh Jane dan teman-temannya.


"Heei!, kok sendirian?"


"Biaaan. Bisa ga sih kalau datang, ga selalu ngagetin." Salma menepuk lengan Bian gemas.


"Kamu kok duduk di sini?" Mata Bian beralih dari Salma yang duduk di bangku kayu bersama dengan pemain figuran, ke arah Jane yang berada di bawah tenda teduh bersama dengan pemain lainnya.


"Ga apa-apa, enak di sini."


"Bukannya kamu pemeran utama? Kasihan yang rias kamu tuh, bedak sudah luntur kena keringat."


"Mau pemeran utama atau numpang lewat sama aja, ga apa-apa juga duduk di sini," kelit Salma.


"Gabung di sana yuk!" Bian menarik tangan Salma.


"Kumpul sama yang lain." Bian menunjuk Jane dan kawan-kawan lainnya.


"Ga ada tempat Bian. Tuh kamu dipanggil, aku di sini aja." Salma menunjuk Jane yang melambaikan tangan ke arah Bian.


"Ya sama kamulah kesana, ayuk." Bian tetap memaksa, ia sudah mulai mencium adanya ketidakberesan antara Jane dan Salma.


Salma mengikuti langkah Bian yang menariknya ke arah Jane dan kawan-kawan lainnya.


"Tumben kemari," sapa Jane sembari menyambut salam dan pelukan dari Bian.


"Main aja, kebetulan lewat dekat sini. Pingin lihat dong besti-besti aku main film," ujar Bian seraya merangkul pundak Salma.


"Ow, semoga ga mengecewakan aja," sahut Jane sedikit sinis.

__ADS_1


"Ga apa, wajarlah itu. Ini perdana loh, kamu 'kan juga pertama main film di layar lebar."


"Iya sih, wajar," timpal Jane asal, "Eh, duduk sini Bian." Jane menarik sebuah kursi kosong yang tadinya berisi banyak barang.


"Mm, aku di sana aja deh sama Salma." Bian kembali menarik tangan Salma menjauh dari para wanita yang duduk bergerombol. Jelas ia melihat tatapan tidak suka mereka yang ditujukan kepada Salma.


"Kamu ga apa-apa?" tanya Bian setelah mereka kembali duduk di deretan pemain figuran.


"Ga apa-apa, kenapa?" Salma tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kalau kamu ada kesusahan, ada aku di sini. Jangan sungkan untuk mengeluh, aku dulu juga sama sepertimu. Datang dari pelosok, diremehkan karena wajah dan penampilan tidak sesuai standart ibu kota katanya." Bian menertawakan dirinya sendiri sebelum melanjutkan, "Tapi aku tidak mempedulikan apa kata orang. Bagiku, omongan mereka adalah cambuk buat aku agar berubah menjadi semakin lebih baik."


"Ini kamu?" Mata Salma membesar ketika Bian menunjukkan sebuah foto lama. Di foto itu ada seorang gadis yang gemuk dan bersembunyi di balik teman-temannya. Salma memperhatikan wajah gadis itu dan kembali mengamati Bian. Keduanya nampak sama dari senyumannya, tapi dari bentuk tubuhnya sangat jauh berbeda.


"Iya, kenapa?" Bian kembali tertawa melihat reaksi Salma, "Aku merubah gaya hidupku dan jalan pikiranku. Dari ujung rambut hingga kakiku, sering menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Kalau aku tidak kuat mental, aku sudah terjun dari jembatan semanggi." Bian masih sempat bercanda di sela percakapan seriusnya.


"Makanya aku sering bagikan tips cara hidup sehat dan berolahraga yang baik. Aku senang berbagi semangat dengan orang-orang yang punya masalah kelebihan berat badan seperti aku, karena aku tahu ditertawakan karena body shaming itu ga enak," lanjut Bian. Media sosialnya penuh dengan konten kesehatan, sehingga ia terpilih menjadi salah satu konten kreator yang menginspirasi sama seperti Salma.


"Kamu hebat."


"Kita semua bisa hebat, terkadang kita butuh orang-orang seperti mereka sebagai pemacu semangat kita untuk terus maju," ujar Bian sembari mengerling ke arah Jane dan kawan-kawannya.


"Apaan sih." Salma menggelengkan kepala sseraya tertawa kecil.


"Udalah, aku juga bisa lihat kok kalau mereka iri sama kamu. Kalau dalam karirmu ada cobaan, itu berarti namanya mau naik kelas. Jadi kamu harus kuat dan bertahan."


"Biaaaan." Salma tak bisa menahan rasa harunya. Ia spontan memeluk Bian dan menutupi matanya yang basah di pundak teman barunya itu.


...❤️🤍...


Ada cerita baguus buat kalian. Harus mampir nih ya biar ga ketinggalan jalan ceritanya

__ADS_1



__ADS_2