
Emran duduk dengan tenang menatap Angkasa yang berada di ujung meja rapat berbentuk oval. Sudah dua bulan berlalu, sejak teman sekaligus atasannya itu mengatakan akan menjadi pemain utama pria di film yang akan ia produseri.
Awalnya Emran masih mengira jika kawannya itu bercanda atau akan berubah pikiran, tapi ia salah. Angkasa sangat serius, bahkan alur cerita sudah siap hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Walaupun pembuatan skenario tetap ia serahkan ke bagian yang lebih berpengalaman.
Tak hanya Emran yang tercengang, tapi hampir semua karyawan terutama yang terlibat secara langsung tak percaya dengan keinginan Angkasa, tapi tak seorang pun berani bertanya selain Emran.
"Aku benar-benar penasaran dengan wanita ini." Emran tertawa mengejek melihat Angkasa yang sejak tadi merapikan rambut dan dasinya. Hari ini adalah pertemuan pertama dengan para artis pendukung yang sudah di audisi sebelumnya.
"Kamu nanti jangan malu-maluin ya." Angkasa memperingati Emran. Setelah berulang kali menyangkal jika ia sedang melakukan pendekatan dengan seorang wanita, akhirnya ia menyerah dan terbuka pada Emran tapi masih merahasiakan siapa wanita yang menjadi target utamanya.
"Yang ada kamu tuh malu-maluin. Wangi sudah kayak habis mandi parfum aja kamu tuh," ledek Emran.
"Masa sih?" Angkasa mulai merasa tak percaya diri, ia berdiri lalu mengibas-kibaskan jasnya agar aroma parfum yang dikenakannya berkurang.
Emran tak bisa menahan rasa gelinya melihat kelakuan kawannya itu. Hampir saja Angkasa mendampratnya, tapi urung karena beberapa karyawan yang terlibat dalam produksi film miliknya mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan rapat.
"Permisi, Pak. Maaf kami terlambat," ujar bagian make up artist.
"Tidak apa-apa, para pemain juga belum datang. Mungkin sebentar lagi," sahut Angkasa.
Beberapa menit kemudian, sekretarisnya menelepon dan memberitahukan jika para calon pemain sudah lengkap dan berkumpul di lobby bawah. Degub jantung Angkasa semakin cepat berdetak seiring semakin dekatnya rombongan pemain memasuki ruangan rapat. Sudah dua bulan ini juga, ia tidak bertemu bahkan menghubungi Salma lagi, karena tidak ada topik yang dapat ia jadikan alasan walaupun hanya untuk sekedar menyapa. Mata Emran lekat menatap segala perubahan sikap Angkasa. Ia sungguh penasaran, wanita seperti apa yang mampu membuat atasannya punya ide segila ini.
Pintu mulai terbuka beberapa pemain pendatang baru dan juga ada yang sudah kawakan, memasuki ruangan rapat.
__ADS_1
"Selamat siang." Para pemain menunduk sopan ke arah Angkasa dan staff lainnya yang berdiri menghadap mereka.
Mata Angkasa menyelinap di antara para calon pemain, mencari sosok yang menjadi tujuannya membuat film ini. Matanya lebih dulu menemukan Jane yang menggerakan jarinya, melambai ke arahnya. Ia akhirnya menemukan ibu si kembar berdiri di barisan tengah, terhalang oleh dua artis yang bertubuh tinggi.
"Mari silahkan duduk," Angkasa menunjuk bangku-bangku yang kosong. Ia berusaha menahan laju bola matanya agar tidak terlalu terpaku pada Salma, karena ia tahu Emran sedang mengawasinya.
"Baik untuk menghemat waktu, kita mulai saja ya." Angkasa menunjuk Pak Memet sebagai wakilnya untuk berbicara. Ia sedikit mencuri pandang ke arah Emran, mata pria itu tajam menyelidiki satu persatu wanita yang ada di ruangan itu.
"Terima kasih, Pak Asa. Saya mewakili perusahaan mengucapkan selamat pada teman-teman yang sudah lolos audisi tahap akhir. Semua yang di sini akan bermain dalam film layar lebar yang ceritanya ditulis oleh Pak Asa sendiri. Tepuk tangan dong." Tatapan kagum dan terkejut mengiringi suara tepuk tangan yang berderai.
"Teman-teman semua, sudah mendapatkan peran yang sesuai dengan isi cerita nantinya, daan satu lagi kabar yang lebih mengejutkan ... Pak Asa akan ikut bermain dengan kalian semua sebagai peran utama pria."
Semua wanita di sana, sontak membelakakan mata dan terpekik tak percaya. Begitu juga Salma, wanita itu tak bisa menutupi keterkejutannya. Ia menutup mulutnya yang sempat terbuka begitu mendengar ucapan Pak Memet.
"Semua nama tokoh dan pemerannya ada di sini." Pak Memet menunjukan lembaran kertas sembari melirik ke arah Angkasa, "Teman-teman bisa baca dulu skenarionya, sekaligus dipahami karakter yang akan diperankan. Besok kita mulai proses reading supaya cepat masuk ke sesi pengambilan adegan," ujar Pak Memet sembari membagikan lembaran kertas yang sudah menjadi buku kepada para pemain.
Semua antusias menerima dan membuka lembar demi lembar dan membaca tulisan yang ada di dalamnya. Tak terkecuali Salma, ia juga tampak mengamati lembaran naskah yang ia pegang. Dada Angkasa semakin berdetak kencang menanti respon wanita itu. Emran menegakkan tubuhnya, bersiap menyaksikan keributan yang biasa terjadi dalam proses pembacaan naskah. Terkadang ada artis yang tidak suka dengan peran yang diberikan, atau menginginkan peran utama yang sudah dipegang orang lain.
Kasak kusuk mulai terdengar diantara mereka. Semuanya saling berpandangan, menggeleng dan mengangkat kedua bahunya masing-masing. Hanya Salma dan Jane yang tampak masih terpaku pada naskah yang mereka pegang.
"Ada yang ingin ditanyakan sebelum kita jadwalkan proses reading?" tanya Pak Memet.
"Film ini genre nya apa ya, Pak?" tanya Jane. Senyum di wajahnya sudah menghilang tak tahu dimana.
__ADS_1
"Sudah jelas tertulis di sana dan saat teman-teman mengikuti audisi juga sudah diberi tahu, jika film ini bergenre drama romantis."
"Ow, saya sempat bingung kenapa pemeran utamanya bukan pemain yang sudah berpengalaman," ucap Jane tanpa memepedulikan perasaan Salma yang duduk di sampingnya.
"Semua pemeran sudah ditentukan berdasarkan kapasitas dan sudah sesuai dengan karakter peran masing-masing," ujar Pak Memet tegas.
"Emang yang berperan jadi Nabila siapa sih? Kok asing namanya," bisik salah seorang pemain di kursi bagian belakang.
"Baik, kita mulai perkenalan masing-masing pemain dan perannya. Kita mulai dari peran utama." Pak Memet memandang Angkasa dan mempersilahkan dengan sopan.
"Terima kasih, Pak Memet. Sebelumnya saya ingin menyampaikan pada teman-teman semua, terima kasih sudah mau terlibat dalam karya saya. Mungkin karya ini tidak istimewa seperti film yang sudah diproduksi sebelumnya, tapi melalui karya ini saya dapat mengobati rasa jenuh dari tekanan pekerjaan. Jangan pandang saya sebagai pimpinan, tapi sebagai rekan anda selama proses syuting nanti."
"Film ini berkisah tentang percintaan sederhana sepasang manusia pada umumnya. Bercerita tentang bagaimana seorang pria menunjukan dan membuktikan keseriusannya pada seorang wanita yang dicintainya meski banyak halangan yang merintangi hubungan mereka. Saya berperan menjadi Marcel, seorang pria yang mempunyai trauma dan predikat buruk di masa lalu, yang akhirnya menemukan seorang wanita yang dapat meluluhkan hatinya," papar Angkasa berusaha tampak tenang dan berwibawa.
"Terima kasih, Pak Angkasa. Saya yakin film ini meski ide ceritanya terkesan sederhana, jika Pak Emran yang menggarapnya akan menjadi karya yang luar biasa. Baiklah kita beralih ke peran utama wanita." Pak Memet tersenyum menatap ke arah para calon pemain.
Sebagian orang di sana saling tatap dan menyelidik dengan curiga. Termasuk juga Emran yang sejak awal mula sangat penasaran dengan wanita yang akan berperan sebagai pasangan dari Angkasa.
...❤️🤍...
Lagi cari referensi cerita bagus? Mampir sini yuk sambil tunggu bab baru up lagi 😊
__ADS_1