
Salma menyipitkan matanya. Ia mengamati perubahan raut wajah serta perilaku pria yang baru saja menjadi suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Angkasa.
"Apa iya harus dibicarakan sekarang?"
"Itu penting, Salma," ujar Angkasa. Wajahnya semakin dekat dengan sorot mata yang semakin redup.
Keintiman pasangan mempelai di pojok ruang tamu yang sudah disulap menjadi pelaminan itu, mengundang perhatian para undangan. Hampir semuanya ikut tersenyum senang, tapi ada tiga pasang mata yang tak dapat larut dalam kebahagiaan pengantin.
"Bu, kenapa ibu juga mendukung Mas Armand mendekati Salma?" tanya Tania di sela-sela mertuanya berburu makanan dari meja satu ke meja yang lainnya.
"Kamu sekarang sudah punya anak, nanti akan tahu bagaimana rasanya ingin melakukan apapun asal anakmu bahagia."
"Apa menurut Ibu Mas Armand tidak bahagia denganku?"
"Buktinya, dia masih mengejar mantan istrinya. Kamu jawab aja sendiri." Mertuanya melirik sinis, "Salma dapat pria yang jauh lebih mapan, terbukti dia wanita yang berkualitas. Anakku memang bodoh, terlalu terburu-buru menceraikan Salma. Itu semua gara-gara menuruti nafsu aja!" umpat Ibu Armand.
Bukannya mendapat pembelaan dari Ibu mertua, perkataan Ibu Armand semakin menyakitkan hatinya. Ia melihat ke arah Salma yang tampak sangat bahagia dengan suami barunya. Andaikan dulu ia lebih jeli melihat peluang yang ada, mungkin dirinyalah yang menjadi istri Angkasa.
Namun rasa irinya pada Salma yang terlihat begitu dicintai suaminya, membuat ingin mencicipi perasaan itu. Nasi sudah jadi bubur, pria yang diinginkan memang menjadi suaminya, tapi tidak dengan cintanya. Cinta suaminya masih terikat pada mantan istrinya.
"Mas, pulang!" Tania menarik tangan Armand. Suaminya itu hanya duduk menatap lurus ke arah Salma tanpa berniat menikmati sajian yang terhidang.
"Nanti dulu! Aku belum bertemu dengan anakku." Armand menepis tangan Tania. Ia lalu masuk ke dalam rumah mencari si kembar.
"Cakra, Candra. Sini, Nak." Armand melambaikan tangannya pada si kembar yang duduk di dapur bersama para tetangga yang ikut membantu acara keluarga Bimo, "Papa bawa adik buat Cakra sama Candra." Ia lalu mengambil anaknya dari tangan Tania lalu menunjukan pada si kembar agar mereka mau mendekat.
"Lucu." Candra memegang pipi Cessa. Keduanya semakin asyik tenggelam dalam mainan baru mereka.
__ADS_1
"Ini namanya Cessa, lucu ya. Candra sama Cakra mau tinggal sama Cessa?" rayu Armand. Keduanya saling berpandangan bingung.
"Kalau tinggal satu rumah, pasti asyik bisa main setiap hari," tambah Armand. Matanya mengawasi anak kembarnya penuh harap. Mata Cakra melihat ke arah ruang tamu, seakan mengatakan ia hanya mau jika ada Mama.
"Aah, pasti Om jahat yang duduk sama Mama itu tidak mengijinkan Cakra sama Candra main sama Cessa, apalagi tinggal sama Cessa." Armand memasang wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa, nanti Papa yang bilang sama Mama ya biar Cakra sama Candra bisa main terus sama Cessa. Jangan dengarkan Om itu, ini Papa Cakra sama Candra. Ingat ya, Papa sayang kalian." Armand memegang pipi kedua anak kembarnya seolah ingin menghipnotisnya dengan kalimatnya.
"Cakraaa, Candraaa, ayo makan dulu," panggil Tia. Walaupun yang dipanggil si kembar, tapi tatapan tajam ditujukan ke arah mantan adik iparnya.
"Mba, saya masih ingin bicara sama Cakra dan Candra," protes Armand.
"Loh, silahkan. Saya hanya memanggil mereka untuk makan. Ada yang salah?" tantang Tia.
Armand berdecak kesal, dia belum selesai menanamkan petuah di ingatan si kembar, sekarang keduanya sudah kabur menjauh. Armand keluar rumah melewati Tia tanpa berpamitan. Saat melewati ruang tamu, ia sempatkan melirik ke arah Salma. Mantan istrinya itu tersenyum bahagia, sungguh ia tidak rela!
Sore harinya setelah acara yang padat dan tamu yang datang bergantian, seluruh anggota rumah dapat bernafas lega. Angkasa masih berdiam di rumah Bimo. Ia sangat canggung di hari pertamanya menjadi bagian keluarga Salma.
"Loh, Pak Asa masih belum ganti baju? Gimana toh ini, Salmaaa, suaminya dilayanin juga toh." Tia masuk ke dalam kamar lalu menegur adik iparnya.
"Iya, Mba. Ini masih gantikan baju Candra." Salma memberikan alasan. Padahal yang sebenarnya terjadi ia pun gugup, bingung harus bagaimana setelah mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri.
Salma dengan gerakan cepat merapikan tiap sudut kamarnya. Meringkas mainan yang berserakan, menyusun sprei yang terhambur berulang kali meski sudah dirapikan, serta tidak lupa menyemprotkan pewangi ruangan ke kamarnya yang berukuran tidak besar itu.
"Hmmm, wangiiii," ujar kedua bocah kembar itu.
"Sssttt." Salma meletakan jari telunjuknya di depan bibir. Jangan sampai suaminya itu tahu ia mempersiapkan kamarnya sampai sejauh itu.
Setelah di rasa siap, ia membuka pintu kamar dan keluar menemui Angkasa yang setengah berbaring di lantai yang masih beralaskan karpet.
__ADS_1
"Istirahat di kamar saja, Pak," ucapnya gugup.
"Boleh?"
Salma tak menjawab, ia langsung berbalik kembali ke kamar dengan kul uman senyum di bibirnya.
"Om Angkasa mau ganti baju, kita keluar dulu yuk." Salma memanggil kedua anaknya.
"Tidak perlu. Kalian di sini saja," ucap Angkasa sembari tangannya menahan pintu agar tidak terbuka.
"Malu dilihat anak-anak." Salma membesarkan matanya. Ia tidak mau kedua anaknya bingung dengan situasi yang cepat berubah.
"Ya udah, anak-anak yang keluar mamanya tetap di sini." Angkasa tersenyum penuh arti.
"Iiissh, Pak Asa kok jadi seperti ini sih!" Salma jengah ditatap sedemikian rupa di depan kedua anaknya. Si kembar bukannya membela malah ikut tertawa geli melihat mamanya tersipu malu.
"Kenapa? Kita sudah sah, Salma. Aku kira kamu juga kasih kode sama aku."
"Kode apa?" Salma terkejut, apakah tanpa sadar ia juga telah memberi signal-signal genit pada Angkasa?
"Tuh." Angkasa menunjuk di balik pintu dengan dagunya. Rasa malu Salma tak terhindarkan lagi melihat penutup dadanya menyembul di antara baju yang tergantung di sana.
Tanpa mau menoleh dan melihat ke arah Angkasa, ia mengambil semua baju yang tergantung serta kacamata pribadinya lalu langsung keluar kamar tanpa mengajak si kembar.
"Maaaa ...."
Angkasa terkekeh geli. Ia tahu dari gerak geriknya Salma menginginkannya juga, tapi ia harus sabar karena hati wanita yang pernah terluka tidak akan mudah luluh dan gampang ditembus.
Setelah berganti pakaian, Angkasa keluar dari kamar dan mencari istri serta dua anak sambungnya. Ketika menemukan si kembar di depan televisi, ia membisikan sesuatu pada kedua anak itu. Seperti mengerti maksud pria yang menggantikan Papanya, kedua bocah kembar itu lari menemui Mamanya.
__ADS_1
...❤️🤍...