Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Lempar bola


__ADS_3

Bimo menghela nafas pelan setelah semuanya terdiam. Angkasa seolah menggantungkan kalimatnya yang mempunyai beribu arti.


"Lantas siapa menurutmu pria yang terbaik itu?" tanya Bimo.


Angkasa tersenyum dan mendesah pelan, "Satu-satunya orang yang tahu adalah yang menjalankannya sendiri."


"Maksudmu?" Bimo menyatukan alisnya. Ia mulai merasa kesal dengan ucapan Angkasa yang menurutnya terlalu bertele-tele. Jenjang pendidikan serta strata sosial antara ia dan Angkasa memang terpaut jauh. Itu salah satu yang menyebabkan dirinya sedikit merasa terintimidasi, tapi ia tak mau menunjukan pada semua orang.


"Karena ini menyangkut Salma, berarti hanya dia yang dapat menentukan pria terbaik yang boleh mendampinginya." Angkasa menoleh ke arah Salma. Wanita itu terkejut dengan bola mata membesar.


"Hanya Salma yang tahu bagaimana pria yang ia inginkan. Mungkin di mata orang lain, pria itu tak sempurna bahkan bajingan sekalipun, tapi jika Salma merasa nyaman dan bahagia tak ada satu orangpun dapat memaksanya keluar dari kehidupannya."


Semua mata beralih ke arah Salma. Wanita itu tertunduk dalam. Ucapan Angkasa mengingatkannya pada sosok Armand dan pernikahannya dulu. Apa yang dikatakan Angkasa sangat benar sekali.


Dulu omongan apapun tentang suaminya ia tak mau ambil pusing, sampai di depan matanya sekalipun Armand mengkhianatinya ia masih bertahan. Tak hanya Bimo yang tak suka dengan pernikahaanya dulu, tapi tetangganya pun menyarankannya agar ia berpisah dengan Armand.

__ADS_1


Sampai di satu titik ia merasa lelah dan menyerah, ia memutuskan angkat kaki dari sisi Armand. Walaupun banyak rintangan selama proses yang harus ia jalani, tapi dengan niat yang kuat dari dirinya sendiri siapapun tak dapat menghentikannya.


"Jadi menurutmu hanya Salma yang bisa menjawabnya?" ulang Bimo.


"Iya, siapapun pria itu, baik mantan suaminya sekalipun, tak ada yang bisa melarangnya." Angkasa masih menatap Salma.


Dalam hati ia mengucapkan kata maaf berulang kali membuat wanita yang dicintainya merasa terpojok. Namun langkah ini harus ia ambil, karena sampai detik ini ia juga belum tahu perasaan Salma yang sebenarnya.


Jika ia dengan percaya dirinya mengatakan, bahwa dirinyalah pria terbaik untuk Salma bagaimana jika di hati Salma masih ada Armand? Secinta-cintanya dia pada seorang wanita, ia tak mau jika perasaannya bertepuk sebelah tangan apalagi hanya sebagai pelarian. Bukan tidak mungkin Salma masih mencintai mantan suaminya, meski sudah disakiti.


Salma bergerak resah di duduknya. Semua mata yang tertuju padanya membuat ia merasa menjadi terdakwa. Ia mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Angkasa dengan ujung matanya.


Ada rasa kesal pada pria itu. Mengapa situasi sulit ini harus dilemaparkan padanya? Apakah ia harus menjawab, Angkasa adalah orang yang tepat dan aku menyukainya?


'Aaahh! Kenapa juga dia ga langsung bilang niatnya untuk melamar sih? Kalau seperti ini, seperti aku yang melamar dia'

__ADS_1


"Salma?" tegur Bimo.


"Menurut Abang, aku harus jawab bagaimana? Kalau ditanya pria yang tepat aku tidak tahu. Bagaimana aku tahu kalau saat ini, dimataku semua pria sama ... tidak termasuk Abang tentunya." Nada suara Salma menyiratkan kekesalan.


"Jika ada seorang pria yang datang dengan maksud baik, tentu aku senang. Tapi, kalau hanya iseng atau sekedar coba-coba, lebih baik jangan."


"Sal---"


"Sepertinya es krimnya enak, aku mau ambil es krim dulu." Panggilan Angkasa terjeda. Salma berdiri dengan cepat lalu melangkah ke arah meja di pojok ruangan dengan langkah yang lebar.


...❤️🤍...


Mampir juga ya ke karya temanku


__ADS_1


__ADS_2