
Pak Memet yang sudah tahu siapa pemeran utamanya, memberi kode pada Salma untuk berdiri dan memperkenalkan diri. Punggung Salma terasa dingin merasakan tatapan para pemain lainnya saat ia perlahan mulai berdiri. Suara kasak kusuk di sekitarnya semakin keras terdengar.
Emran menyeringai dan melirik ke arah Angkasa yang masih berusaha fokus dan tampil berwibawa.
"Dia?" bisik Emran. Angkasa tak merespon, ia berpura-pura sibuk membaca naskah miliknya sembari sesekali mengamati Salma yang berdiri menghadapnya.
"Cantik, beda banget dari wanita-wanita yang mengantri di belakangmu. Another level emang cantiknya, ada sesuatu yang bikin ga bisa berpaling memandangnya," ucap Emran menilai Salma masih dengan berbisik di samping Angkasa.
Mendengar pujian Emran untuk wanita yang dipujanya, Angkasa merasa terancam.
"Lihatnya ga usah gitu banget, bisa ga. Biasa aja lihatnya," sembur Angkasa balas berbisik.
"Loh, lucu sekali kamu ini. Orangnya lagi ngomong, wajar kalau aku lihatin dia. Ga cuman aku, semua sedang memandangnya."
Sementara itu Salma masih berdiri memperkenalkan diri dan tokoh yang akan ia perankan. Semua peserta rapat tidak ada yang memperhatikan direktur mereka sibuk berdebat sambil berbisik dengan managernya. Mereka seakan terpikat ketika Salma berbicara di depan.
Benar kata Emran, kecantikan Salma sulit digambarkan. Kecantikannya bukan seperti bintang korea ataupun artis berdarah campuran, tapi Salma mempunyai kecantikan Asia alami. Dengan rambutnya yang hitam, panjang dan lurus hingga ke punggung, serta matanya yang teduh tapi mempunyai sorot yang tajam, Salma terlihat anggun. Didukung kemampuannya berbicara di depan umum, membuat Salma semakin terlihat berkelas.
"Terima kasih, Salma," ucap Pak Memet setelah Salma selesai memperkenalkan dirinya dan mempersilahkan untuk kembali duduk. Tak ada calon pemain yang bertepuk tangan. Wajah mereka terlihat kecewa sekaligus iri pada Salma.
Perkenalan selanjutnya terus berlangsung, hingga sampai pada peran pendukung. Setelah semuanya selesai, Pak Memet segera menjadwalkan waktu untuk proses pembacaan naskah.
"Aku ga tahu kamu ikut main dalam film ini. Aku kok ga lihat kamu ikut audisi? Yang aku lihat semua yang ada di sini ,ada waktu audisi hari terakhir. Cuman kamu yang ga aku lihat dari audisi pertama sampai terakhir." Jane mendesak Salma ketika pertemuan di ruang rapat berakhir.
__ADS_1
"Aku audisi kok dua hari lalu, mungkin jadwalnya kita berbeda," ucap Salma membela diri. Ia memang menjalani audisi, tapi tanpa sepengetahuannya audisi itu hanyalah formalitas dan ia hanya sendirian dan satu-satunya peserta saat proses audisi untuknya berlangsung.
"Baru dua hari yang lalu? Siapa yang audisi kamu?" kejar Jane masih penasaran.
"Kurang tahu, mungkin team audisi. Waktu itu aku disuruh baca dialog dan mencoba ekspresi marah, sedih dan senang."
"Itu aja?" Suara Jane meninggi. Ia merasa ada yang tidak beres, karena audisi yang ia jalankan bersama calon pemain lainnya sungguh rumit dan memakan waktu hingga lima kali proses penyisihan. Mengapa Salma terkesan mudah dan langsung mendapatkan peran utama?
Tanpa mengatakan apapun, Jane kembali berjalan masuk ke dalam ruang rapat yang masih terbuka pintunya. Di dalam Pak Memet, Emran dan Angkasa masih mengobrol santai dengan beberapa calon pemain lainnya.
"Permisi, Pak saya mau tanya. Audisi yang sebenarnya itu seperti apa ya? Mengapa kami yang menjalani proses audisi secara normal kalah dengan Salma yang hanya audisi sekali saja langsung dapat peran utama? Maaf, Pak hanya ingin tahu saja dari pada nanti saat sudah syuting tapi kami masih menyimpan prasangka," ucap Jane lugas.
Para calon pemain lainnya yang masih ada di dalam ruangan, menganggukan kepala setuju dengan ucapan Jane.
"Pemilihan peran sudah sesuai dengan hasil audisi dan karakter tokoh yang akan diperankan," jelas Pak Memet tegas. Bertahun-tahun menjadi sutradara, membuatnya terbiasa menghadapi protes dan pertikaian antara pemain.
"Kamu dari mana?"
"Dipanggil Pak Sutradara tadi," sahut Jane asal, "Selamat ya dapat peran utama. Aku harap kamu cepat belajar biar ga malu-maluin. Secara kamu 'kan pemeran utama, kalau aktingnya jelek film ga laku," ucap Jane sembari berjalan ke arah parkiran.
"Hehehe iya, terima kasih. Aku juga ga nyangka, dapat peran utama. Aku kira peran pembantu atau figuran aja. Kaget juga baca namaku sebagai peran utama." Salma berusaha mengikuti langkah Jane yang lebar.
"Heran juga aku tuh, kenapa yang jadi peran utama pendatang baru yang ga punya pengalaman seperti kamu."
__ADS_1
Salma mulai tersenyum canggung, ucapan Jane terdengar tidak nyaman ditelinganya.
"Gimana mau laku filmnya, kalau peran utama wanitanya ga menjual," lanjut Jane setengah bergumam, "Untung peran utamanya Pak Angkasa ya, setidaknya ada nilai jual film ini. Orang-orang pasti penasaran dengan akting Pak Asa," ucap Jane kembali tersenyum.
"Hehe, iya," timpal Salma kecut. Walaupun ia juga tidak yakin dengan kemampuan sendiri, tapi mendengar perkataan teman yang paling dekat dengannya saat ini, membuat kepercayaan dirinya turun drastis.
"Sal, sori ya aku ga bisa antar kamu pulang, aku ada acara pemotretan untuk sampul majalah. Kamu naik bis ga apa-apa ya." Langkah Salma yang mengikuti Jane dari belakang, sontak berhenti mendadak.
"Oh ya ga apa-apa, Jane. Masih siang juga, maaf ya merepotkan."
"Kamu beli dong kendaraan, biar ga selalu mengandalkan orang lain. Kasihan juga Pak Asa sampai anterin kamu malam-malam. Jangan-jangan kamu modus lagi deketin Pak Asa biar dapet peran." tuding Jane. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Salma.
"Maksudnya apa? Aku ga pernah minta diantar pulang sama Pak Asa. Beliau sendiri yang menawarkan, karena waktu itu hujan deras."
"Aku hanya memberi tahu, kamu jangan sekali-kali berpikir menjual tubuh agar popularitasmu naik. Cepat atau lambat berita semacam itu akan cepat ketahuan di dunia entartain seperti ini, dan karirmu buuum ... bisa hancur dalam sekejap."
"Kamu ngomong apa sih, Jane." Salma mulai tersinggung dengan tuduhan tak beralasan, "Aku tidak seperti yang kamu katakan. Kalau kamu menginginkan peran itu, silahkan ambil."
"Duuh, gitu aja marah. Aku hanya kasih tahu, kok seperti merasa tertuduh sih." Jane tersenyum mengejek, "Udah ya, aku duluan ga enak mereka ga mau mulai kalau belum ada aku, byee." Jane masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankannya melewati Salma.
Salma berdiri menatap buku naskah ditangannya. Ia membaca nama tokoh dan pemerannya sekali lagi. Namanya tertulis jelas di bawah nama peran utama pria, Angkasa Wiryawan. Nama Jane ada sebagai pemeran antagonis. Sekilas dibacanya lagi naskah dan dialog yang tertulis di sana. Ia mendesah resah dan menggigit bibirnya ketika menemukan banyaknya adegan mesra antara dirinya dan Angkasa. Adegan romantis ringan seperti bergandengan tangan, berpelukan hingga mengecup kening dan pipi tersebar hampir di setiap adegannya bersama Angkasa.
...❤️🤍...
__ADS_1
Karya bagus sebagai rekomendasi untuk kamu nih, mampir dan masukan rak buku kamu yaa