Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Pria yang paling pengertian


__ADS_3

"Mas! Apa-apaan sih. Jangan bikin malu," bisik Salma geram.


"Biar dia tahu aku siapa, Salma." Dengan arogan Armand tanpa malunya bersikeras.


"Memangnya anda siapa, Pak Armand?"


Salma dan Armand terkejut dan serempak menoleh ke arah belakang. Sedangkan pria yang diajak bicara Salma sebelumnya, seketika mundur dan menghilang ketika bos besarnya mendekati mereka.


"Eh, Pak Angkasa. Begini, Pak saya tadi ketinggalan rombongan yang antar catering, sekarang pulang mau numpang mini bus ini, eh dilarang sama dia." Armand menunjuk ke arah pria tadi.


"Ehh, bukan begitu, Paak." Pegawai itu ketakutan, tangannya mengatup di depan Angkasa dengan wajah panik.


"Iya, iya saya mengerti. Lanjutkan pekerjaanmu biar saya yang tangani ini." Angkasa menepuk pundak pegawainya. Matanya yang sejak tiba di lokasi hingga sekarang tidak bisa lepas kemanapun Salma pergi, sudah tentu tahu apa yang terjadi sejak awal.


"Maaf, Pak kami bikin kacau." Salma menunduk resah.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang salah. Maaf ya, Pak Armand pegawai saya hanya mematuhi peraturan. Kalau Pak Angkasa mau ikut dalam mini bus, dia harus minta ijin sama atasannya di kantor."


"Pak Angkasa 'kan bos dari segala bos di kantor, bisa dong langsung ijinkan saya."


"Semua ada prosedurnya, Pak Armand saya tidak bisa serta merta melangkahi atasan langsungnya." Angkasa tersenyum tipis. Baginya seorang atasan tetap harus menaati peraturan, sekalipun ia pemilik perusahaan itu sendiri.


"Alaaah, terlalu rumit. Lalu saya bagaimana?"


"Biar saya antar, rumah Pak Armand di mana?"


"Tapi saya mau ke rumah Salma."


"Untuk apa?" sergah Salma terkejut. Tanpa meminta dan pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba mantan suaminya itu ingin ikut ia pulang.


"Aku mau ketemu anak-anak, Salma, wajar dong aku rindu dengan mereka. Kamu ga boleh melarang aku menemui anak-anakku."


"Aku tidak melarang Mas Armand ketemu sama anak-anak, tapi bukan sekarang!"

__ADS_1


"Lalu kapan? Kalau aku minta, pasti kamu persulit aku ketemu mereka, ya kan?"


"Aku tidak pernah mempersulit, tapi ini sudah malam. Perjalanan pulang ke rumahku itu jauh, lebih baik atur waktu lain kali saja kalau mau ketemu anak-anak. Bisa di mall atau tempat lain." Salma tidak ingin Armand tahu tempat tinggalnya, karena sewaktu-waktu ayah dari anak-anaknya itu akan seenaknya datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


Keduanya saling berdebat di depan Angkasa yang bingung sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Kalian ...."


"Saya suami Salma," ujar Armand dengan cuping hidung membesar bangga.


"Kita sudah bercerai, Mas," ucap Salma ketus. Ia tidak rela masih menyandang sebagai status istri Armand, "Dia mantan suami saya, Pak." Salma mempertegas.


"Dulu memang bercerai, tapi besok siapa tahu kita rujuk." Tangan Armand menggamit pinggang Salma yang langsung ditepis dengan kasar oleh wanita pujaannya. Api di kepala Angkasa seketika menyala, tapi ia tetap harus dapat menguasai diri. Masih banyak mata di lokasi syuting yang mengawasinya, lagipula dia bukan siapa-siapa bagi Salma.


"Maaf Salma, tolong bilang ke Pak Memet saya mau pinjam naskahnya. Punya saya hilang," pinta Angkasa.


"Baik, Pak." Seperti kelinci yang lepas dari kandang, Salma berlari kecil ke arah sutradara yang sedang membereskan barangnya. Permintaan Angkasa baginya seakan pintu keluar dari himpitan Armand.


"Istri anda di mana, Pak Armand?"


"Sudah pulang," sahut Armand tak acuh. Matanya masih terpaku pada sosok wanita yang sedang berbicara pada sutradara.


Angkasa melirik ke arah mana mata Armand memandang. Api di kepalanya terasa semakin berkobar melihat tatapan penuh nafsu dari sorot mata Armand, "Apa kata istri anda Pak Armand, jika anda memandangi wanita lain seperti itu?"


"Salma bukan wanita lain, dia ibu dari anak-anakku. Cepat atau lambat kami juga akan rujuk kembali." Armand berkata sangat yakin.


"Ow."


"Pak, kata Pak Memet naskah nanti akan dikirim lewat email," ucap Salma dengan nafas terengah-engah.


Angkasa menoleh ke belakang, dilihatnya kepala sutradara kawakan itu menggeleng-geleng kesal.


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


"Bagaimana, Pak Angkasa saya bisa 'kan ikut dalam mini bus?"


Melalui isyarat mata, Angkasa meminta pertimbangan pada Salma. Wanita itu menyiratkan keberatan.


"Saya yang antar, biar tidak mengganggu penumpang yang lain," putus Angkasa. Ia tahu Salma kecewa dengan keputusannya, tapi ia tidak bisa membiarkan Salma sendirian menghadapi mantan suaminya. Karakter Armand adalah pria yang nekat dan ia tahu itu. Sebagai pemimpin perusahaan, ia terbiasa menghadapi berbagai macam sifat dan karakter berbagai macam orang, dan ia sudah terlatih menguasai keadaan dengan kepala dingin.


"Silahkan." Angkasa mempersilahkan Armand dan Salma untuk berjalan mendahuluinya.


Sepanjang perjalanan menuju tempat mobilnya terparkir, Angkasa memutar otaknya bagaimana tetap memperbolehkan mantan suami Salma ikut dalam mobilnya, tanpa memperbolehkan ikut ke rumah Salma karena dari perdebatan mereka tadi itulah yang dikhawatirkan Salma.


Angkasa melirik jam di pergelangan tangannya, masih tergolong sore jika anak balita keluar rumah. Ia segera mengirimkan pesan pada Salma dan memberi kode melalui matanya.


Sungguh luar biasa hanya dengan sekali kerjapan mata, Salma sudah paham apa yang ingin Angkasa sampaikan. Apakah batin mereka sudah tertaut? Entahlah hehehe ....


Salma mengangguk setuju lalu mengirimkan pesan pada kakak iparnya yang ada di rumah. Sedangkan Angkasa segera menghubungi orang yang paling bisa ia andalkan dalam situasi dan waktu yang sempit.


"Arrrgghhh! qpdjxn2yqjsjwo!" Emran menggerutu kesal sembari melompat-lompat tak jelas dan memukul udara dengan tangan kosong begitu menerima pesan dari atasannya. Bagaimana tidak, setelah menggantikan Angkasa dari rentetan rapat yang menjemukan, ia yang baru saja turun dari mobil dengan bayangan bisa bersantai di akhir pekan harus menerima tugas tanpa gaji tambahan.


Emran kembali masuk ke dalam mobil dan memutar kemudi keluar dari halaman rumahnya, dengan mulut terus mengomel tak jelas.


"Eh, wanita di depan saja. Biar saya dan Armand di belakang," ujar Angkasa ketika Salma akan duduk di kursi penumpang bagian tengah. Angkasa membuka pintu bagian depan dan meminta Salma untuk duduk di depan samping sopir pribadinya.


Ia tentu tidak akan membiarkan Armand leluasa berduaan dengan calon istrinya dalam gelapnya mobil bagian belakang, bukan?


...❤️🤍...


Haii kali ini mau kenalkan karya kedua aku, sudah tamat juga judulnya : Ternyata itu Cinta mampir ya buat yang belum baca, ceritanya ringan seputar anak ABG tapi ga bikin bosen kok 😁


Cinta itu tidak punya mata, mulut dan juga telinga yang dia punya hanyalah hati. Tidak perlu mata, mulut dan telinga untuk tahu arti Cinta, tapi jika kamu ingin tahu apakah itu benar Cinta, coba tanyakan hatimu – Langit Angkasa


Aku tidak tahu dan tidak kenal apa itu Cinta, tapi aku nyaman dekat denganmu dan tidak mau kaamu menjauh. Apakah itu yang dinamakan Cinta? - Gita Gempita


__ADS_1


__ADS_2