Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Si kembar generasi kedua


__ADS_3

Tautan panjang bibir keduanya terputus oleh kedatangan si kembar beserta pekerja rumah tangga mereka.


"Mama sama Papi lagi apa?" Cakra yang lebih dulu masuk sempat memergoki keduanya bermesraan. Bocah empat tahun itu berdiri di sisi ranjang Salma dengan pandangan ingin tahu.


"Lagi ngobrol," ucap Salma pelan sembari mengusap bibir bawahnya yang terasa bengkak dan basah. Sedangkan suaminya bergerak ke arah wastafel lalu mencuci tangannya yang tidak kotor, tapi hanya untuk menghindari menjawab pertanyaan si kembar yang selalu ingin tahu.


"Tadi Cakra lihat Papi sama Mama lagi seperti Ariel sama Pangeran di film ... Muuuuhh." Cakra memajukan bibirnya. Tingkah bocah itu mengundang tawa kembarannya dan senyum simpul dari dua pekerja rumah tangga yang sore itu ikut menemani mereka.


Angkasa pura-pura tak mendengar, ia masih tetap pada tempatnya tak mau beranjak dari depan cermin wastafel sembari memperbaiki tatanan rambutnya, sampai seorang dokter dan perawat datang memasuki ruangan.


"Selamat sore, Bu Salma, saya dokter Andini yang akan menangani anastesi Ibu nanti malam. Ini merupakan persalinan Caesar yang kedua bagi Ibu, bagaimana sudah siap atau ada yang mau ditanyakan?" dokter itu tersenyum ramah sekali, tapi belum dapat menenangkan kecemasan Salma.


"Tidak ada, dok."


"Baik kalau begitu, nanti dibantu oleh perawat untuk persiapannya ya. Ini si kembar yang pertama ya, waaah, jadi tidak sabar melihat si kembar generasi selanjutnya." dokter Andini mengusap gemas kepala Cakra dan Candra.


Sayangnya waktu si kembar untuk bersama Ibunya tidak bisa berlangsung lama, Salma harus segera dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi.


"Huuhuuuu, mau tidur sama Mamaaaa," rengek Candra.


"Kita duduk manis di sini saja tidak apa, janji ga nakal dan ga ribut." Cakra yang jauh lebih dewasa mencoba bernegosiasi dengan Ayah sambungnya.


"Papi sangat mau sekali ditemani Cakra dan Candra, tapi dokter dan perawat di sini tidak memperbolehkan anak kecil ada di rumah sakit pada malam hari." Angkasa berjongkok di depan si kembar yang bersikukuh tidak mau beranjak dari atas sofa.


"Kita nanti bisa sembunyi di kamar mandi, Papi sama Mama diam saja jangan bilang sama dokter," ucap Cakra dengan suara berbisik.


"Aaah, sayang sekali rumah sakit ini dilengkapi CCTV. Pasti saat kalian berdua masuk mereka sudah melihat, dan katanya satpam yang berjaga saat malam sangat ketat. Dia suka memeriksa tiap kamar satu persatu, sampai di dalam kamar mandinya. Papi hanya takut kalian dikira pasien yang lari dari kamar, lalu di bawa dan di suntik."

__ADS_1


"Cakra, kita pulang saja yuk. Aku takut disuntik." Candra berbisik lirih.


Ketegaran Cakra akhirnya menyerah melihat kembarannya ketakutan. Keduanya akhirnya mengalah lalu mengikuti pekerja rumah tangga mereka keluar kamar, setelah mencium pipi Papi dan Mamanya.


Setelah hanya berdua, Angkasa duduk di tepi ranjang lalu mengedipkan sebelah matanya, "Hai, mau dilanjutkan yang tadi?"


"Ihh, Mas Asa ini tadi sudah dipergoki anak, masih mau dilanjutkan lagi. Sekarang mau dipergoki dokter sama perawat?" Salma mendorong dada suaminya yang sudah maju merapat kearahnya.


"Biar lebih semangat dan tenang sebelum operasi," rayu Angkasa.


Untung saja Salma tidak tergoda dengan bujuk rayu Angkasa. Baru saja suaminya itu memaksa ingin meraih bibirnya, pintu ruangannya terbuka dengan perawat membawa kursi roda untuknya.


"Maaf mengganggu, Bapak, Ibu, sudah waktunya masuk ruang operasi," ujar perawat senior dengan wajah datar.


Angkasa memperhatikan dengan seksama bagaimana istrinya diperlakukan dalam persiapan operasi. Wajahnya berusaha tenang dengan senyum selalu terpasang di bibirnya. Ia ingin menunjukan pada Salma kalau semua akan baik-baik saja.


Suhu kamar operasi sangat dingin, membuat Salma tampak sedikit menggigil di atas meja operasi. Angkasa memperhatikan tim medis yang menangani istrinya tampak profesional, membuat ia pun cukup tenang menghadapi pengalaman pertama menanti kelahiran sang buah hati. Alunan musik klasik menambah suasana tenang di dalam ruang operasi.


Selama proses operasi berlangsung, Angkasa berusaha tenang dan sabar meladeni pertanyaan dan ocehan Salma yang dalam pengaruh obat bius. Istrinya itu berulang kali bertanya apakah bayinya sudah lahir? Apakah mereka baik-baik saja? Dan berulang kali juga Angkasa menjawab kalau semua akan baik-baik saja dengan wajah tersenyum.


Akhirnya suara bayi pertama terdengar menjerit lantang, mata Angkasa membesar. Lehernya ia panjangkan agar dapat melihat dari balik tirai yang menutup sebagian tubuh istrinya. Ingin ia berdiri melihat wajah anak kandungan yang pertama, tapi wajah sendu Salma membuatnya tak tega meninggalkan wanita itu sendirian.


Sembari bayi pertama ditangani, suara tangisan kedua melengking menyusul kembarannya. Ruang operasi seketika menjadi riuh dengan tangisan bayi dan gumaman lega para medis yang bertugas.


Angkasa dengan sabar menanti perawat mengantarkan kedua anak mereka ke pelukan Mamanya. Dua bayi yang masih terbalut lendir itu, diletakan perawat di dada Mamanya. Angkasa dan seorang perawat lainnya membantu agar kedua bayi itu tidak tergelincir dari tubuh Salma.


"Terima kasih," bisik Angkasa penuh haru. Ia mengecup kening Salma dalam, lalu kening si kembar. Begitu terus berulang kali.

__ADS_1


"Sudah lahir," ucap Salma lirih.


"Iya, mereka sudah lahir dengan selamat dan sehat. Kamu luar biasa," jawab Angkasa dengan pandangan memuja.


...❤️...


Keluar dari kamar hendak sarapan, Angkasa disambut dengan pemandangan menakjubkan. Pagi itu Salma dengan satu tangan menggendong Nathan yang sedang menyusu, lalu satu kakinya menggerak-gerakan kereta bayi dengan Nala yang hampir terlelap di dalamnya. Sedangkan sebelah tangannya yang bebas, berusaha membuatkan susu untuk Cakra dan Candra yang akan berangkat sekolah di hari pertama mereka.


"Sini aku yang buatkan susu." Angkasa mengambil alih kotak susu dari tangan Salma, "Mana Narti?" Matanya memandang kesal ke arah pintu dapur.


"Lagi buat bekal untuk Cakra dan Candra. Masih pagi, jangan marah-marah." Salma mengingatkan karena Nala yang sudah hampir terlelap kembali membuka matanya.


"Aku ga marah, cuman ga tega lihat kamu seperti ini."


"Wajar, ini 'kan hari pertama Cakra dan Candra masuk TK jadi sedikit ribet." Salma perlahan menaruh Nathan yang sudah kenyang di sebelah kembarannya.


Salma mendorong kereta bayi yang berisi kembar generasi kedua itu, menjauh dari meja makan yang sedikit ramai dari biasanya. Setelah memastikan dua bayi yang belum genap berusia dua bulan itu tertidur pulas, Salma kembali ke ruang makan.


"Sudah, aku bisa buat sendiri. Kamu cukup lihat anak-anak saja." Angkasa menahan tangan Salma yang akan membuatkannya secangkir kopi.


"Ga apa-apa, aku yang mau kok." Angkasa membiarkan Salma melakukan apa yang istrinya itu inginkan.


Dipandangnya tubuh Salma yang belum kembali ke bentuk semula. Mengenakan daster panjang dan lebar serta aroma ASI bercampur keringat yang menguar dari tubuh istrinya, justru menambah seksi di mata Angkasa. Namun ia tahu, jika sebaliknya kondisi itu membuat istrinya merasa tak layak tampil di depan umum.


...❤️🤍...


Haiii, mungkin teman-teman ada yang bertanya-tanya bahkan kesal dan marah karena novel ini dan 2 karya saya yang lainnya lambat update tiap harinya.

__ADS_1


Sekali lagi mohon maaf, karena mungkin saya tidak bisa menulis rutin tapi bukan berarti berhenti di tengah jalan. Semua karya pasti saya usahan tamat.


Saya tahu kok kalau digantung itu nyeseknya sampai ke lambung 🥹🥹


__ADS_2