Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Hilang


__ADS_3

"Oh, begitu. Terima kasih, Bik." Salma tersenyum kaku, ia lalu berbalik dan kembali ke kamarnya. Seharusnya ia tidak perlu marah atau kecewa, tapi ia tak dapat menepis rasa tak diterima di rumah ini.


Salma melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dengan perasaan menggantung. Ia merasa asing di rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman baginya.


'Kamu memang orang asing, Salma. Belum genap 24jam kamu menjadi penghuni rumah ini. Bik Yut dan Pak Romli bahkan sudah lebih dulu tinggal di sini. Sisihkan rasa egomu!' Sarah memaki dirinya sendiri.


Hari belum gelap, Angkasa sudah kembali pulang ke rumah. Pria itu tersenyum lebar walau raut wajahnya terlihat lelah. Rentangan tangannya terbuka begitu turun dari mobil. Salma kalah cepat dari kedua anaknya. Si kembar langsung menghambur begitu papa sambungnya itu berjongkok menyambut mereka.


"Main apa hari ini?" Angkasa menggendong keduanya sekaligus di tangan kanan dan kirinya, sementara tas kerjanya Salma yang membawanya masuk.


"Nonton Pololo!"


"Main Pusel!"


Cakra dan Candra berebut memberi laporan.


"Senang?"


"Cenaaanng!"


"Good Boy, sudah mandi belum?" Keduanya serempak menggelengkan kepala. Angkasa menurunkan keduanya yang langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Mamanya sudah mandi belum?" Tangan Angkasa beralih pada istrinya. Ia berbisik di telinga Salma seraya memeluk dari arah belakang.


"Sudah." Salma menggeliat tersipu.


"Mau mandi lagi?" bisik Angkasa.


"Buat apa?"


"Temanin aku." Angkasa menggiring istrinya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.


"Aku bawa kabar untuk kamu," ucap Angkasa saat mereka duduk bersama menikmati makan malam, "Film kita malam minggu besok akan ditayangkan di seluruh bioskop seluruh Indonesia secara serempak."


"Benarkah?" Salma membesarkan matanya tapi tak lama ia menutup wajahnya malu. Ia tak bisa membayangkan adegan ciuman mereka akan ditonton oleh jutaan pasang mata.


"Di saat itulah aku akan memperkenalkanmu pada khalayak umum sebagai istriku. Kamu siap?" Angkasa menggenggam tangannya.


Salma tersenyum, tapi begitu sudut matanya menangkap pintu coklat yang tertutup di ujung ruangan senyumnya perlahan surut.


"Setelah itu, aku harap kamu menolak segala tawaran untuk mengisi acara."


"Kenapa?" Pandangan Salma beralih dari pintu coklat ke wajah suaminya.


"Aku ingin, istriku hanya aku yang melihat." Salma mengagguk ragu.

__ADS_1


Situasi ini seperti de javu baginya. Armand pernah berkata hal yang sama saat awal mereka menikah. Kalimat yang manis dan penuh harapan. Saat itu ia penuh dengan cinta, sehingga apa yang keluar dari tutur kata mantan suaminya adalah suatu perintah yang dilandaskan kasih sayang di telinganya.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Seolah bisa membaca hati, Angkasa bertanya padanya.


Salma melipat bibirnya sebelum mengutarakan isi hatinya, "Apakah, Mba Debby dulu tidak bekerja?"


Angkasa sempat terkejut, tapi dengan kemampuannya yang dapat cepat menguasai keadaan ia menjawab, "Tidak. Hanya ia membantu Ibunya di bidang fashion."


"Ow." Salma menganggukan kepala.


"Kamu takut merasa bosan? Ingin mencari kesibukan?" Angkasa bertanya dengan hati-hati sekali.


"Aku selama ini mendalami pekerjaanku bukan hanya sekedar mencari nafkah, tapi memang disanalah passionku."


"Ow, kamu mau berkarir sebagai entertainment?" Kali ini Angkasa yang mengangguk samar. Tangannya melepas genggaman Salma.


"Eh, tidak juga. Mm, tidak apa aku bisa cari kesibukan lain kalau memang Mas Asa tidak mengijinkan aku bekerja semacam itu." Merasakan perubahan suaminya, Salma meralat ucapannya cepat.


Angkasa tersenyum memaklumi. Ia menepuk-nepuk tangan Salma yang tadi digenggamnya, "Baiklah, nanti kita bicarakan lagi."


Pembicaraan malam yang sederhana itu, membuat keduanya merasa ada batas yang tak terlihat. Angkasa dan Salma masing-masing berusaha menjaga hati satu sama lain. Hal itu membuat keduanya canggung dan kaku dalam berucap dan bertindak.


Seperti malam kemarin, malam ini juga keduanya melakukan hubungan suami istri walaupun ada rasa tak nyaman karena pembicaraan sebelumnya.


"Betah."


"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"


Salma teringat akan Bik Yut yang menegurnya saat akan membuka pintu gudang, "Ya."


"Kalau ada sesuatu yang mengganjal, katakan padaku."


"Mas Asa juga, aku harap kita saling terbuka satu sama lain," pancing Salma. Angkasa hanya tersenyum dan mengangguk kecil, selanjutnya pria itu merengkuhnya dan langsung terlelap.


Esok harinya, Salma yang masih penasaran mencoba sekali lagi. Ia membawa turun perlengkapan rumah tangga miliknya yang ia bawa dari tempat tinggalnya dulu.


"Bik, barang ini belum perlu saya gunakan. Saya mau simpan di dalam gudang. Boleh bantu saya?" Salma sudah siap berdiri di depan pintu, menanti pekerja rumah tangga itu membukakan pintu untuknya.


Ia tidak mau dinilai lancang membuka pintu sendiri, terlebih kemarin ia seperti dilarang untuk masuk ke dalam. Sekarang ia ingin memastikan, apakah benar dugaannya ataukah itu hanya pikiran buruknya sendiri.


"Baik, Bu. Nanti saya simpankan." Bukannya membuka pintu, Bik Yut mengambil alih barang dari pelukan Salma.


"Kenapa ga sekarang saja, Bik?" tanya Salma ketika barangnya malah dibawa menjauh dari ruangan berpintu coklat itu.


"Saya masih repot, Bu."

__ADS_1


"Ya udah biar saya saja ya." Salma hendak meraih pegangan pintu, tapi suara Bik Yut menghentikannya.


"Di dalam berantakan, Bu. Banyak debu." Bik Yut tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


Sekali lagi Salma mengalah, ia kembali naik ke atas dengan rasa penasaran yang semakin mengganggu. Saat akan kembali turun ke lantai dasar, ia melihat Candra berjalan keluar masuk dari ruang satu ke ruang lainnya memanggil nama kembarannya.


"Cari siapa, Candra?"


"Cakla."


"Mungkin sama Mba Narti di taman belakang."


"Enda, Mba Narti juga lagi cari Cakla. Aku sama Cakla lagi main kucing tangkap tikus, tapi Cakla ga tahu di mana. Aku panggil dari tadi Cakla ga jawab." Mata bening bocah itu mulai berembun.


Naluri sebagai Ibu mengatakan ada yang tak beres, Salma langsung mencari Narti sembari memanggil nama Cakra.


"Narti, di mana Cakra?" Salma menemukan Narti di taman belakang dengan wajah panik.


"Sa-saya juga lagi cari, Bu. Maaf, kami tadi lagi bermain sembunyi-sembunyian tapi saya tidak bisa menemukan Cakra sembunyi di mana."


Salma berlari mengitari rumah memanggil nama Cakra. Candra dan Narti pun ikut mencari di tiap sudut rumah. Kolong ranjang, lemari baju, kolam, tiap ruangan tak luput dari pencarian mereka.


"Ada apa, Ti?" Bik Yut yang baru datang dari minimarket, keheranan melihat kepanikan yang terjadi di dalam rumah.


"Cakra ga tahu di mana, Bik. Apa dia ikut Bibik pergi ke minimarket?"


"Tidak, saya pergi sendiri." Jawaban Bik Yut semakin menambah pias wajah Narti.


"Jangan-jangan." Bik Yut berjalan cepat ke arah ruangan berpintu coklat.


...❤️🤍...


Terima kasih untuk yang sebar


Like, komen, gift dan Vote 🙏❤️


Yang punya media sosial follow juga yuk


IG : ave_aveeii


FB : cerita aveeii


Tiktok : Cerita Aveeii


❤ U

__ADS_1


__ADS_2