
"Mas, masih ada anak-anak." Salma menghindar saat Angkasa ingin mencuri pipinya untuk dicium.
"Loh, aku hanya mau kasih lihat kamar kita, kok. Ada anak-anak juga tidak apa-apa kalau hanya lihat kamar saja." Angkasa sengaja berjalan pelan keluar dari kamar si kembar. Ia ingin memberi kode pada istrinya agar segera mengikutinya.
Ia mengulum senyumnya saat mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
"Nah, ini kamar kita." Angkasa membuka pintu kamarnya lebar.
Suasana kamarnya yang lama, sudah ia minta dekor ulang sebelum mereka tiba. Cat dinding ia ganti dengan yang lebih terang. Ranjangnya meski masih bagus ia ganti dengan yang baru. Lemari pakaian, meja rias hingga semua pajangan dinding tak ada yang sama. Ia melakukan ini karena tidak ingin ada setitik kenangan tertinggal dari almarhum istrinya.
"Masih bau cat?"
"Eh, iya aku minta di cat ulang karena sebelumnya sudah mengelupas." Angkasa mengusap punggung lehernya gugup. Ia bergegas membuka lemari pakaiannya untuk memastikan sesuatu. Ia dapat menghela nafas lega saat tidak menemukan satupun barang milik Debby.
Angkasa memperhatikan Salma yang masih mengamati kamar milik mereka. Wanita ini yang nantinya akan menggantikan Debby menjadi permaisuri dalam rumahnya.
"Mas?"
"Ah, iya?" Angkasa mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia sempat melamun tadi.
"Ada masalah? Tadi aku panggil kok seperti ga dengar."
"Eh, tidak ada. Kita makan dulu ya, kamu dan anak-anak pasti lapar. Biar barang-barangmu dan anak-anak, diantar ke kamar sama Pak Romli dan Mbok Yut." Angkasa menggiring istrinya ke ruang makan.
Malam harinya akhirnya terjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu Angkasa dan juga Salma.
"Anak-anak sudah tidur?" Angkasa duduk tegak di atas ranjang begitu Salma masuk ke dalam kamar dengan senyum terkulum. Istrinya itu tampak sederhana namun anggun mengenakan daster panjang dengan rambut terikat.
"Sudah." Salma bersandar di pintu yang tertutup. Ia bingung harus melakukan apa selanjutnya.
"Sini dong." Angkasa menepuk sisi kosong pembaringannya, "Eh, eh tunggu dulu." Angkasa menahan langkah Salma, ia berdiri lalu membuka lemari.
__ADS_1
Mata Salma membesar saat Angkasa mengeluarkan sebuah gaun minim berwarna ungu. Baju yang disodorkan suaminya itu tak bisa dinamakan gaun, karena sangat terbuka dan tembus pandang.
"Malu ah!" Salma melipat kedua tangannya tak mau menerima pemberian Angkasa.
"Aku yang pakaikan?" Angkasa berjalan mendekat dengan seringaian di bibirnya.
"Apa harus pakai baju seperti itu?" Salma memandang ngilu gaun yang sudah berpindah di tangannya. Bagian dadanya sama sekali tidak tertutup, hanya ada kain tembus pandang untuk mempercantik aksen di dada.
"Ga harus, tapi aku ingin. Sejak pertama kali kita bertemu, pakaianmu selalu tertutup. Aku ingin melihatmu berbeda malam ini. Aku suamimu, kenapa harus malu?" Sembari bercakap, tangan Angkasa mulai membuka kancing paling atas daster Salma.
"Baiklah, tapi janji jangan ketawain aku ya." Sesungguhnya ia pun penasaran dengan gaun malam itu.
Di beranda media sosialnya beberapa akun menjual benda seperti itu, terkadang ia membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya jika ia menggunakan salah satunya. Namun untuk siapa ia memakai pakaian kurang bahan itu saat masih sendiri? Sekarang suaminya malah memintanya untuk mencoba, bukankah pahala dapat membahagiakan pasangan?
Mulut Salma terbuka saat melihat penampilannya di kaca toilet. Gaun sepanjang setengah paha dengan renda di sekelilingnya dan tali tipis yang menggantung di pundaknya sungguh sangat menggoda. Bagian dada rendah dengan bahan transparan hanya menyisakan bagian tengah yang sengaja tertutup samar.
Terdengar ketukan di pintu kamar mandi, tak ada respon pegangan pintu pun berusaha di buka Angkasa.
"Sudah belum? buka dong aku ingin lihat."
"Sudah dipakai belum?" Mata Angkasa mencari-cari tubuh Salma yang tersembunyi.
"Sudah, tapi aku ga mau keluar kalau lampu masih menyala." Salma menutup pintu kamar mandi sebelum suaminya itu menariknya keluar.
"Baiklah." Angkasa mematikan semua lampu yang ada di dalam kamar, "Sudaaah, cepatlah keluar, istrikuuu." Angkasa duduk di tepi ranjang mengawasi pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suasana kamar yang gelap membuatnya harus jeli mengawasi pergerakan dari dalam kamar mandi.
Terdengar pintu kamar mandi yang terbuka lalu menutup dengan cepat. Angkasa memicingkan matanya ketika sekelebat bayangan melintas di depannya dan dengan cepat masuk ke dalam selimut.
"Loh, eh cepat banget? Kamu lari?" tanya Angkasa pada sosok bayangan gelap yang bersembunyi di balik selimut, "Aku nyalain lampunya ya."
"Jangan!" Salma menahan tangan Angkasa yang akan meraih saklar lampu di atas nakas.
__ADS_1
"Okeeey, gelap-gelapan juga tak apa. Tanganku punya mata kok." Angkasa tidak menyibak selimutnya, tapi ia ikut masuk bergabung di dalamnya.
Gaun malam berwana ungu yang menggoda itu, sudah menyelesaikan tugasnya tanpa dinikmati oleh sang pembeli. Angkasa yang tak menemukan cara membukanya, terpaksa membelah kain tipis dari bagian dada hingga ke bawah.
"Kenapa harus dirobek?" protes Salma terkejut mendengar suara koyak kain yang melekat di tubuhnya.
"Susah, aku dari tadi cari kancing atau reselting kok ga ada sih?"
"Memang ga ada, bajunya hanya pakai tali. Mas Asa yang beli kok malah ga tahu sih?" Tangan Salma merapatkan lembaran bajunya yang terbelah di bagian dada.
"Aku ga tahu, lihat yang paling bagus langsung beli." Tangan Angkasa mencoba mengurai genggaman jari istrinya yang mencengkram bajunya.
"Padahal bagus," ucap Salma sedih.
"Nanti beli lagi, kamu bisa pilih yang kamu suka. Memang baju seperti itu di buat untuk dirusak. Ayo, dong buka, Sayang." Tangannya tak berhasil, Angkasa menggunakan bibirnya menyerang daerah sekitar dada Salma yang terbuka.
Pertahanan ibu si kembar itu runtuh. Malam itu ia membiarkan pria kedua setelah Armand menyentuh tubuhnya.
Wajah Salma merona dengan peluh membasahi kening hingga anak rambutnya. Nafas keduanya menderu saling berkejaran. Angkasa tak henti-hentinya menghujam tubuh istrinya dari segala arah. Setelah mengerang serta melenguh hampir bersamaan, keduanya bertukar senyum tersipu.
"Kenapa?" tanya Salma jengah dipandangi Angkasa tajam dengan alis saling tertaut.
"Apa benar si kembar itu anak kandungmu?" tanya Angkasa tiba-tiba.
"Kenapa pertanyaannya seperti itu sih!"
"Aku tidak yakin si kembar lahir dari sini." Angkasa mengusap perut istrinya yang masih terbuka, "Kamu rasanya seperti masih gadis," tambah Angkasa dengan berbisik di telinga Salma.
Meremang semua bulu di tengkuk Salma, apalagi tangan Suaminya itu semakin nakal dan berani turun dari perut ke arah area belahan kakinya.
"Yang terakhir yuk, habis itu kita tidur," rayu Angkasa.
__ADS_1
"Dari tadi juga bilangnya terakhir," keluh Salma. Namun siapa yang dapat menolak permintaan Sang petarung tanggunh di ranjang?
...❤️🤍...