
Salma menoleh mengikuti arah pandang Pak Iwan, begitu juga Tia. Hanya Bimo yang menatap datar karena sudah melihat sejak Angkasa muncul di ambang pintu.
"Pasti bukan untuk aku bunganya," ujar Tia menggoda.
"Buat Salma." Angkasa tersenyum tersipu sembari memberikan bouquet mawar kepada Salma.
"Bunganya besar, saya harap keseriusanmu jauh lebih besar," celetuk Bimo.
"Duduk di sini, Pak Asa." Melihat kecanggungan Angkasa, Tia berdiri dari duduknya memberikan tempat untuk Angkasa di sisi Salma.
"Bunganya besar sekali," ucap Saa tersipu. Ia sudah lupa tangis bombay saat di rumah tadi. Rangkaian bunga itu sangat besar hingga menutupi tubuh bagian atas Salma. Si kembar yang penasaran dengan bunga yang dipegang Mamanya, berebut ingin melihat dari dekat.
"Semoga bunganya dapat mengobati kegalauan hati Salma seharian ini," ucap Tia.
"Kenapa galau?" bisik Angkasa.
"Mba Tia, apaan sih." Salma melirik ke ke arah Tia dari balik bunga yang dipeluknya.
"Kita berkumpul di sini, apakah hanya untuk mengagumi bunga yang kamu bawa, Asa?" Semua terdiam mendengar ucapan Bimo yang dingin.
"Maaf." Angkasa mengusap-usap tangannya yang basah karena keringat di atas celana panjangnya, "Langsung mulai atau makan dulu?" bisik Angkasa pada Pak Iwan yang duduk di sampingnya.
"Baiknya makan dulu, kalau perut kenyang hati dan kepala jadi dingin dan tenang," bisik Pak Iwan. Angkasa mengangguk-angguk gugup. Sebenarnya Bimo tidak terlihat garang, tapi aksi datar dan tak acuhnya itu membuat Angkasa salah tingkah.
"Sudah malam, kita sebaiknya makan dulu. Cakra sama Candra pasti sudah lapar ya? Ada puding dan es krim, mau?" Mata si kembar berbinar terang saat pelayan restoran menyusun lauk dan menaruh puding beraneka rasa di hadapan mereka.
"Baiklah, kita makan dulu." Pak Iwan tersenyum lebar. Sejak tadi menemani Angkasa latihan berbicara, membuat perutnya lapar.
__ADS_1
"Angkasa bisa pimpin doa sebelum makan?" pinta Bimo santai.
Tangan Angkasa terhenti di udara saat ingin mengambil sendok. Semuanya hening dan diam menunggu sang pemimpin membuka doa memulai makan malam.
Semua kepala mengarah ke Angkasa yang tampak gusar. Pria itu semakin panik ketika si kembar tak sabar ingin menyentuh puding mereka.
"Saya harap Pak Asa tidak lupa bagaimana mengucap syukur untuk hal sederhana seperti makan malam, karena sudah lama hidup berkecukupan." Ucapan Bimo terdengar seperti menembus dadanya walau diucapkan dengan senyum di bibirnya.
Diakuinya ucapan Bimo itu tidak sepenuhnya salah. Ia sudah lama tidak mengenal arti bersyukur. Sejak kehilangan istri dan calon anaknya, rasa syukur itu ikut hilang. Apa yang dicapainya setelah itu, ia merasa adalah hasil buah tangannya sendiri.
"Ten-tentu tidak. Hanya maaf kalau salah atau tidak lancar, karena saya sedikit malu kalau di dengar orang." Angkasa memberikan alasan. Wajahnya sudah tak tergambarkan lagi malunya. Walaupun ia dapat memimpin doa malam itu, tapi ia yakin semua orang yang duduk mengelilingi meja terutama Bimo dan Salma, tahu bahwa ia jarang mengucapkan doa.
"Terima kasih, Asa." Bimo tersenyum tipis. Angkasa menggangguk kecil dengan kepala tertunduk. Wibawanya hilang seketika.
"Mari silahkan." Pak Iwan yang paham kondisi kawannya itu, memecah kecanggungan.
Angkasa tak sanggup menimpali, ia merasa tertampar berkali-kali dengan apa yang diucapkan calon kakak iparnya itu.
"Saya sangat berharap, siapapun pria yang akan mendampingi adik saya nanti dapat menjadi kepala rumah tangga yang baik serta memimpin dari segala hal. Baik ekonomi, akhlak, serta iman. Meskipun adik saya bukan wanita single lagi, tapi bagi saya dia wanita yang punya value dan pantas untuk dicintai juga dihargai," lanjut Bimo.
Angkasa semakin tertunduk. Ia tidak menyangka akan diberikan petuah di saat belum mengutarakan niat baiknya malam ini. Hidangan yang tersaji di atas meja makan terasa hambar dan tak menarik di matanya.
Salma pun tampak resah dibangkunya. Berulangkali ia memberikan kode peringatan pada Bimo, tapi kakaknya itu berpura-pura tak melihat.
"Om, es kimnya mana?" Cakra sudah berdiri di sampingnya dan menarik lengan jasnya.
"Cakra, jangan seperti itu. Habiskan dulu makannya." Salma menarik tangan Cakra agar kembali ke tempat duduknya agar tak mengganggu Angkasa, tapi bagi pria itu kehadiran Cakra bak malaikat kecil yang menolongnya dalam situasi terhimpit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Cakra mau es krim? Ayo Om antar, ambilnya di meja pojok." Angkasa berdiri dan menggandeng tangan Cakra.
"Om, ikut." Candra ikut turun dari kursinya.
Angkasa menggandeng dua bocah kembar itu ke meja pojok, di mana es krim, buah, puding serta kue tersusun rapi. Angkasa menggunakan waktu untuk menyusun kalimat yang akan diucapkan di depan Bimo selama Cakra dan Candra sibuk memilih aneka makanan.
Rangkaian kalimat romantis yang sudah dihafalkan tadi bersama Pak Iwan, menguap entah kemana.
"Mas, jangan ngomong seperti itu." Tia berbisik pada suaminya sementara Angkasa masih bersama si kembar.
"Aku tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Angkasa itu seorang pemimpin, mentalnya pasti sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini."
Angkasa kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang sudah santai dan lebih percaya diri. Ia menebarkan senyuman pada setiap wajah yang mengelilingi meja makan. Angkasa menarik nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.
"Maaf sebelumnya kalau menyela makan malam Mas Bimo dan Mba Tia. Malam ini saya ingin menyampaikan keseriusan saya untuk meminang Salma. Maaf karena waktu yang sangat singkat, saya belum.bisa menghadirkan orangtua saya malam ini. Pak Iwan hadir di sini, karena beliau mengenal saya sejak kecil dan pernah menjadi atasan Salma. Maka saya meminta beliau mewakili keluarga saya, terima kasih Pak Iwan." Angkasa mengangguk sopan.
"Saya memang bukan pria yang sempurna. Mungkin bagi sebagian orang saya terlihat megah dan luar biasa, tapi sebenarnya saya tidaklah sehebat itu. Sejujurnya setelah saya mendengar perkataan Mas Bimo, saya menjadi ragu apakah saya dapat menjadi suami yang dapat diandalkan bagi Salma dan ayah yang baik untuk si kembar. Pada kenyataanya saya pun tak bisa memimpin diri saya sendiri." Salma menoleh dan memandang Angkasa dengan tatapan kecewa.
"Benar apa yang Mas Bimo katakan, Salma berhak mendapatkan pria yang baik."
Semua mata memandang Angkasa. Pak Iwan dan Tia terperangah tak percaya dengan apa yang diucapkan Angkasa, Salma yang memandang sedih juga kecewa, dan Bimo yang menatap lurus dan tanpa ekspresi.
...❤️🤍...
Ada karya temanku yang bagus nih, wajib baca dan masukan ke rak buku kalian ya
__ADS_1