
Salma memandang satu persatu lawan mainnya di film yang ia bintangi. Tatapan pemain wanita yang semuanya berstatus single itu, seolah memusuhinya. Sedangkan pemain pria dan wanita dewasa seperti tidak mau ikut campur dalam peseteruan pemain lainnya. Bagi mereka hal seperti itu sudah biasa di dunia peran semacam ini.
"Terserah kalian mau menganggapku seperti apa. Aku di sini hanya ingin mencari nafkah untuk kedua anakku. Aku tidak bisa dan tak mampu mengatur pikiran tiap orang agar sesuai dengan apa yang aku inginkan, jadi aku harap sampai proses syuting ini selesai kita semua dapat bekerjasama dengan baik. Kalau ada yang tak suka dengan kehadiranku atau tersinggung dengan perkataanku maupun sikapku, aku minta maaf." Selesai berkata seperti itu, Salma membungkuk sedikit lalu keluar dengan kepala tegak dari ruang rias, meninggalkan mata-mata yang menatapnya tajam.
Sejak hari itu, Salma bersikap dingin pada Angkasa. Senyum lebar ditanggapi senyuman tipis. Basa-basi yang dilontarkan Angkasa, ditimpali topik serius oleh Salma. Salma juga menghindari kontak mata dengan Angkasa. Ke mana Angkasa pergi, Salma akan pergi berlawanan arah darinya. Hal itu membuat Angkasa frustasi dan greget.
Salma pun dengan tegas menolak adegan yang berlebihan menurutnya, seperti berciuman dan berpelukan erat. Seperti pagi ini, saat Pak Memet menyodorkan perubahan naskah seperti biasa Salma kembali menolak tanpa ragu.
"Maaf, Pak Memet saya tidak bisa."
"Kenapa, Mba Salma, adegan ini masih terbilang wajar kok. Pasangan suami istri berbincang di atas ranjang setelah berhubungan intim. Tidak melakukan apa-apa." Pak Memet mencoba meyakinkan Salma.
Di belakang wanita itu, nampak Angkasa sedang mengamati perbincangan antara sutradaranya dan wanita yang sedang dikejarnya dengan risau.
"Di sini tertulis sambil berbincang, Marcel dan Nabila saling berpelukan dan Marcel sesekali mengecup Nabila. Ditambah jika narasinya setelah melakukan hubungan suami istri, berarti tidak menggunakan baju?"
"Pakai, Mba Salma. Hanya bagian pundak saja yang kelihatan, 'kan pakai selimut." Pak Memet terkekeh pelan. Ia harus dapat meyakinkan artisnya atas permintaan atasannya, setelah beberapa kali adegan yang dirubah seenaknya sendiri oleh bosnya itu, ditolak oleh Salma.
"Tetap saja, Pak saya keberatan. Kenapa harus diganti, bukankah pakai adegan sebelumnya jauh lebih baik?" protes Salma, ia masih belum tahu ada Angkasa yang mengawasinya. Bukannya ia tidak mau bermesraan dengan pria itu, tapi ada hal yang membuatnya harus mengabaikan perasaannya sendiri.
"Aduh, bagaimana ya ... Adegan sebelumnya agak kurang mengangkat, Mba Salma," ujar Pak Memet memberi alasan. Ia gugup diawasi terus oleh Angkasa.
"Kalau tahu seperti ini, saya tidak akan menandatangani kontrak," keluh Salma. Angkasa yang mendengar itu memberi kode pada Pak Memet agar menjauh dari Salma.
"Maaf, Mba Salma saya tinggal dulu." Pak Memet langsung mundur begitu Angkasa berjalan mendekat.
__ADS_1
"Ada masalah apa, Salma. Saya lihat beberapa hari ini kamu kurang bersemangat." Angkasa menarik sebuah kursi lipat dan duduk tepat di depan Salma.
"Maafkan saya, semoga saya tidak mengganggu jalannya syuting." Salma mengedarkan pandangannya, ia sedang mencari cara agar bisa menjauh dari Angkasa sebelum ada orang yang melihat mereka duduk berdua.
"Kamu tidak mengganggu jalannya syuting. Menurutku kamu masih profesional, tapi diammu dan caramu menghindar dariku sangat menggangguku, Salma." Angkasa mencondongkan tubuhnya ke arah Salma dengan siku bertumpu pada kedua lututnya.
Salma sontak memundurkan tubuhnya, ia sedikit terkejut dengan sikap Angkasa yang seperti mengintimidasinya.
"Kalau begitu maaf kalau mengganggu, Pak Asa," ucap Salma lirih. Ingin ia bertanya mengapa hal sepele itu mengganggu seorang Angkasa, tapi ia tidak mau perbincangan ini berlanjut semakin lama.
Suara tawa dan hak sepatu Jane dan kawan-kawan yang mengetuk lantai terdengar mendekat, meski belum terlihat wuujudnya. Salma segera berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Mau kemana? saya belum selesai bicara, Salma."
"Maaf, Pak saya mau ke toilet." Secepat kilat Salma pergi menghilang sebelum kedekatannya dengan Angkasa di lokasi syuting menjadi buah bibir lagi.
"Uring-uringan terus, kenapa?" Emran mendekati Angkasa yang baru saja menutup rapatnya dengan kemarahan yang tak biasa.
"Aku salah ya?"
"Angkasa selalu benar, siapa yang berani menyalahkan kamu?"
"Jangan meledek, aku sedang tidak ingin bercanda."
"Sepertinya serius ini, masalah wanita berlesung pipit itu?" Emran tertawa kecil melihat Angkasa menganggukan kepala, "Ada apa lagi? Jangan bilang kamu ditikung atau ditolak."
__ADS_1
"Sejak adegan kita berciuman, dia seperti menjaga jarak. Apa dia jijik sama aku."
"Mungkin hanya perasaanmu aja, atau bisa jadi kepiawaianmu bermesraan mundur jauh kebelakang karena faktor usia."
"Mran, kalau ga bisa bantu mending balik ke ruanganmu," usir Angkasa kejam.
"Waah, berat ini rupanya. Kamu ga cari tahu dulu, barangkali dia ada masalah atau perkataamu pernah menyinggung dia."
"Kalau aku tahu, aku ga bakal bingung. Aku ga bakal cerita dan tanya sama kamu. Aku bisa atasi sendiri," ucap Angkasa penuh emosi.
"Wuuiih, panasss. Ya udah, aku bisa bantu apa?" Emran sudah tahu arah pembicaraan Angkasa, sebelum kawannya itu meminta ia sudah menawarkan diri lebih dulu.
"Kalau kamu jadi aku, apa yang kamu lakukan?"
"Cari tahu, dekati dan terus terang kalau aku suka dan ingin serius dengannya. Wanita itu butuh kepastian dan komitmen."
"Aku tahu itu, tapi yang aku hadapi ibu dua anak balita bukan seorang gadis. Wanita yang sudah mempunyai anak jauh lebih sulit di dekati dan aku tidak terima penolakan dengan alasan apapun. Makanya aku harus memastikan kalau ia tidak akan menolakku, tapi bagaimana bisa selangkah lebih maju kalau sekarang aku dan dia bagai dua kutub magnet yang sama jika bertemu? Padahal saat aku menciumnya, aku sudah sangat yakin ia ada dalam genggamanku." Angkasa mengepalkan kedua telapak tangannya.
Sementara itu, Armand tak hilang akal untuk mencari tahu dimana Salma membawa kedua anaknya tinggal. Ia sudah menanti rombongan artis dan kru dari lokasi syuting di ujung jalan kantor Angkasa.
Sesuai pengamatannya beberapa terakhir, Salma selalu naik mini bus dari lokasi syuting dan turun di kantor. Lalu mantan istrinya itu akan menunggu bis di halte yang tak jauh dari kantor Asa Production.
Malam ini, ia sedang duduk di atas motor menanti satu persatu orang turun dari minibus. Begitu ia melihat Salma turun dan seperti biasa berjalan menuju halte, ia menunduk dan menyembunyikan wajahnya ketika ibu dari kedua anaknya berjalan melewati dirinya.
...❤️🤍...
__ADS_1
Maaf banget bolong tiga hari ya 🙏🥺 Ada kegiatan yang tidak bisa ditunda