Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Perubahan


__ADS_3

Angkasa menggiring istrinya yang masih berdiri termangu tak percaya sembari mengusap-usap perutnya. Ia membawa Salma duduk bersandar di atas ranjang yang sudah disusunnya dengan tumpukan bantal.


"Mas Asa ga lagi ngerjain aku 'kan?" Salma terus mengusap perutnya yang masih rata.


"Ya masak aku niat ngerjain kamu ngajak satu keluarga?" Angkasa mengikuti gerakan tangan istrinya mengusap-usap perut.


"Tadi juga ngerjain aku, bilang dia, dia, dia itu siapa yang dimaksud?" Salma menekuk wajahnya.


"Ini yang ada diperutmu. " Angkasa megecup perut Salma sekilas. "Benar 'kan dia hadir di malam kejutan yang aku buat untuk kamu. Sejak janin, sepertinya aku dan dia sudah sehati. Niatnya buat kejutan untuk kamu, eh dia malah ga mau kalah ikut kasih kejutan juga." Angkasa mengecup gemas perut Salma.


"Aku kok ga merasa hamil ya?"


"Memangnya dulu saat mengandung si kembar rasanya seperti apa?"


Salma melayangkan ingatannya pada awal kehamilannya yang pertama. Saat itu, pernikahannya baru dua minggu, ia sudah dinyatakan mengandung. Sempat orang disekitarnya menuduh kalau kehadiran si kembar ada sebelum ia menikah.


Kegagalannya dalam mengarungi rumah tangga serta perselingkuhan Armand kerap dikaitkan oleh karma dugaan zinah yang ia lakukan. Namun, ia berusaha mengabaikan omongan miring itu, ia menutup kedua telinga si kembar dan tetap melangkah maju.


Awal kehamilan si kembar, ia lalui dengan bahagia karena merupakan awal dari hidup barunya sebagai murni ibu rumah tangga. Namun, kehamilannya yang besar dari wanita pada umumnya sama sekali tidak menarik simpati ibu mertuanya yang selalu menuntutnya untuk mengerjakan semuanya sendiri.


Tak cukup pekerjaan di rumah tangganya sendiri, tapi kediaman ibu mertuanya pun tetap dirinyalah yang mengerjakan dengan alasan harus banyak gerak, agar kelahiran anak kembarnya lancar tanpa operasi. Alhasil perutnya membesar seiring bertambah usia kandungan, tapi dengan tubuh yang semakin kurus seperti orang mengidap busung lapar.


"Sama kok, mungkin karena aku tidak menyangka diberi secepat ini dalam usia yang sudah tidak muda lagi." Salma tersenyum haru. Ia tidak mau membeda-bedakan situasi kehadiran si kembar dan calon bayinya nanti.


"Aku juga tidak menyangka, Tuhan beri aku kesempatan lagi untuk punya anak."


"Mas Asa senang?" Satu tangan Salma beralih mengusap kepala suaminya yang bersandar di perutnya.


"Senang sekali. Begitu temanku mengatakan kalau kamu sedang mengandung, aku turun ke tempat acara dan langsung mengumumkannya sendiri," ujar Angkasa bangga.


"Jadi semua orang sudah tahu? Wartawan yang hadir juga ikut mendengar? Berarti aku orang yang terakhir tahu kalau aku sedang mengandung?" Salma menutup mulutnya dengan mata membesar. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hebohnya berita di media sosial besok.

__ADS_1


"Eh, iya juga ya. Aku tadi tidak berpikir sampai sana karena terlalu bahagianya. Aku harap kamu tidak marah." Angkasa menegakan tubuhnya lalu mensejajarkan pandangannya tepat di wajah istrinya.


"Gak, aku tidak marah hanya sedikit khawatir kata orang tua jaman dahulu pamali mengabarkan kehamilan di usia kandungan yang masih muda."


Wajah Angkasa seketika pucat, ia teringat bagaimana Debby yang sedang hamil besar terputar-putar di dalam mobil yang terbalik.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan tentang hal itu. Jangan pikirkan yang buruk, mulai sekarang kita harus membawa hanya hal-hal yang baik ke dalam rumah dan pernikahan ini." Salma menangkup wajah suaminya dan memeluk suaminya yang nampak tegang dengan pembicaraan malam ini.


Angkasa menarik dan menghembuskan nafas panjang berulangkali. Dari mulutnya terucap untaian doa untuk menenangkan hatinya.


"Iya, kita harus yakin dan mengundang hal-hal yang baik saja," ujar Angkasa membeo.


"Malam ini apa yang mau dirayakan?" Salma mengalihkan pembicaraan dengan senyum terkulum. Jari tangannya menyisir lembut di antara rambut lebat suaminya.


"Kamu sedang berusaha menggodaku?" Mata Angkasa mengerling curiga.


"Emang Mas Asa merasa digoda?" Salma menekuk sebelah kakinya sehingga pakaian yang digunakannya tersingkap naik keatas.


"Hei!" Spontan Salma menutupi pangkal pahanya dengan tawa menggelegak.


"Kamu sendiri yang mengundang." Sejurus kemudian Angkasa membungkam mulut Salma dengan bibirnya, "Aman 'kan?" bisik Angkasa sembari melirik perut istrinya.


"Aman, dia sudah kasih ijin asal Papa mainnya cantik," balas Salma dengan berbisik.


Angkasa merambat turun ke perut Salma lalu berbisik, "Tidur ya, Nak ini adegan dewasa."


...❤️...


Seperti dugaan Salma sebelumnya, berita tentang kehamilannya sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Bagaimana tidak mengundang kontraversi, baru saja diumumkan pernikahan mereka sang pengantin malah sudah mengandung.


Berbagai opini bergulir di media sosial, tapi tidak menyurutkan kebahagiaan keduanya. Mereka seolah tidak peduli dengan apa kata orang di luar sana. Apalagi Angkasa yang sudah pernah mengalami cibiran akibat malapetaka beberapa tahun silam. Baginya ini hanya gosip kecil yang akan hilang seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


Di kota yang lain, ayah si kembar tampak duduk di teras dengan rokok di tangannya. Beberapa cangkir kopi yang sudah kosong dan asbak yang penuh dengan puntung rokok, menemaninya melamun. Sejak media sosial serta berita di televisi menyiarkan pernikahan serta kehamilan mantan istrinya, Armand seperti orang linglung.


"Mas, ada antaran 30 kotak nasi ke jalan belatuk," ujar Tania.


"Aku capek, kamu antar sendiri," sahut Armand sembari mengebulkan asap rokok ke langit-langit teras.


"Kamu capek apa? Aku seharian kerja sendiri di dapur, masih harus jaga anak dengan perut besar seperti ini, tapi kamu malah enak-enakkan duduk ngerokok di sini." Dengan susah payah, Tania mengangkat plastik besar berisi kotak nasi ke dalam mobil.


Kepala Armand perlahan menoleh ke arah Tania yang mondar mandir dengan perut hamil besar dan balita yang mengikutinya dari arah belakang.


Ia seperti merasa mundur lima tahun ke belakang, saat Salma sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dan si kembar mengikutinya dari belakang dengan memegang ujung daster mantan istrinya itu.


Namun apa yang dilakukannya saat itu? Sama seperti sekarang ini, hanya diam dan menganggap semua itu memang tugas seorang istri di dalam rumah.


"Mau kemana kamu?" tanya Armand ketika melihat Tania masuk ke dalam mobil bersama putrinya yang masih balita.


"Antar kotak nasi," sahut Tania dengan wajah kesal. Wanita itu sudah merasa lelah dan percuma berdebat dengan suaminya.


"Turun," ucap Armand sembari mematikan rokoknya.


"He?"


"Kamu turun, aku yang kirim kotak nasi itu," ujar Armand sembari masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.


Tania hanya bisa melongo dan berusaha menahan haru melihat suaminya keluar dari rumah, sudah dengan berpenampilan layaknya manusia dan siap menggantikan dirinya mengantar kotak nasi pesanan pelanggannya.


...❤️🤍...


Haaii pembaca setia ambil saja dia untukmu, novel ini sebentar lagi akan tamat. Mungkin tinggal beberapa bab lagi. Senang sekali masih pada setia mengikuti ceritanya sampai akhir. Terima kasih ya 🥰🙏


Mungkin di sisa akhir bab terakhir ada masukan atau usul ttg cerita ini bisa chat di kolom komentar, nanti saya perimbangkan ya

__ADS_1


__ADS_2