
Otak Angkasa berputar dengan cepat mencari alasan agar tetap terlihat profesional di mata Salma.
"Maaf, konsep besarnya dipegang sama Emran. Dia yang bisa menjelaskan secara detail," ucap Angkasa setelah berhasil menguasai keadaan, "Sayangnya dia keluar kota kamu jadi ga bisa ketemu dia."
"Tidak apa-apa, Pak mendengar berita baik dari Pak Asa seperti ini saja, saya sudah senang." Salma mengembangkan senyumnya lebar. Angkasa semakin merasa bersalah dibuatnya.
Ziiiiiingggg ....
Keduanya terdiam dan saling menatap tanpa tahu harus berbicara apa lagi.
"Em, baiklah kalau begitu saya pamit dulu." Salma mengangguk pelan lalu berdiri. Ia melangkah menuju pintu keluar dengan langkah yang sangat berat. Kedua kakinya menolak untuk pergi dari sana. Ia masih ingin bersama dengan Angkasa, tapi rasa malunya jauh lebih besar untuk berlama-lama mencari bahan pembicaraan.
Sementara itu mulut Angkasa seolah terkunci rapat ketika wanita yang wajahnya selalu mengganggu tidurnya tiap malam itu, berdiri dan akan meninggalkan ruangannya.
"Salma!" panggil Angkasa, akhirnya dapat mengeluarkan suaranya sebelum wanita itu menggapai pegangan pintu.
"Ya, Pak?" Salma sontak berbalik. Secercah harapan muncul ketika mendengar panggilan Angkasa.
"Kamu mau pulang?"
"Iya, ada yang harus dibahas lagi?" tanya Salma berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu bersemangat.
'Terlambat tanyanya, Asa! Dia sudah sampai pintu, jelas dia mau pulang!' Angkasa merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Ada."
"Oh ya, Pak. Tentang apa?" Salma berjalan kembali mendekati meja kerja Angkasa dan duduk di tempatnya semula.
'Aduh, Salma jangan buru-buru duduk, 'kan belum dipersilahkan,'
Tak kalah gugupnya Salma menyesali tubuhnya yang terlalu cepat merespon panggilan Angkasa.
Ziiiiiinnggg ....
__ADS_1
Untuk kedua kalinya mereka diam dan hanya saling menatap.
"Komisi ... kamu minta komisi berapa untuk acara barumu ini," ujar Angkasa cepat.
"Komisi? Saya pendatang baru, Pak mana berani mengajukan tarif," sahut Salma sembari tertawa malu.
"Loh, semua orang meski baru atau lama harus punya rasa menghargai diri sendiri, kamu boleh mengajukan standart kamu berapa untuk satu kali pengambilan gambar." Angkasa tersenyum lebar. Bukan karena topik pembicaraan, tapi ia senang karena ada bahan pembicaraan yang dibahas walaupun sebenarnya untuk tarif talent sudah ada yang menangani dan ada standartnya sendiri di perusahaan. Tapi tentu untuk Salma semua bisa dia atur sesuai keinginannya.
"Saya ikut saja berapapun yang ditulis dalam perjanjian kontrak nanti. Diberi kesempatan sebesar ini saja saya sudah sangat bersyukur sekali."
"Jangan pernah merendahkan diri dan bakatmu, Salma kamu sangat berharga di mata pria yang tepat ... eh, maksud saya di mata pemirsa yang melihat." Angkasa menahan rasa gatal di tenggorokannya akibat hampir tersedak ludahnya sendiri.
Salma sendiri tak dapat digambarkan bagaimana rasanya mendapat tatapan penuh rasa dari Angkasa. Namun akal sehatnya kembali menguasai perasaannya yang sempat melambung tinggi.
'Jangan mudah terbuai, Salma! Senyuman dan tatapan itu bukan hanya untuk kamu. Sudah biasa kalau Pak Angkasa memuji tiap talent yang bekerja di bawah naungannya!'
"Terima kasih, Pak, tapi sungguh untuk awal ini saya mengikuti saja bagaimana baiknya yang diberikan perusahaan Bapak untuk saya," ujar Salma. Ia menghapus semua perasaan melow yang sempat membuainya, lalu menegakkan punggung dan mengangkat dagunya menatap Angkasa lurus.
"Baiklah kalau begitu." Angkasa mengangguk. Ia sempat terkejut melihat perubahan sikap Salma yang berubah dalam sekejap.
"Silahkan." Angkasa mengangguk tak yakin.
Setelah keluar dari gedung yang bernuansa biru langit itu, Salma segera berjalan menuju ke halte terdekat. Halte yang sama saat Angkasa menemukannya ketika hujan turun lebat.
Sekarang ia hanya berdiri sendiri dalam halte di waktu orang sedang sibuk bekerja. Salma menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras. Hatinya dan pikirannya sedang bedebat antara harus pergi atau bertahan dalam ruangan yang sama dengan Angkasa.
"Perasaan apa ini? Tidak mungkin ini cinta, aku hanya merasa kesepian." Salma duduk menunggu di halte, mengangkat kepalanya memandang ke langit yang sedang berawan. Di sudut hatinya ada harapan akan awan mendung yang datang menutupi langit dan menyebabkan hujan lebat seperti tempo hari. Ia berharap Angkasa akan datang dan memberikannya sebuah payung atau menawarkannya sebuah tumpangan seperti yang biasanya terjadi saat hujan deras.
"Hujaaan turuunlaaaahh ...." Salma menengadahkan kepalanya keatas mencari-cari awan hitam di atas langit.
Sementara itu di waktu yang sama, Angkasa yang berada di lantai paling atas gedung kantornya mengamati Salma sejak wanita itu keluar dari gedung dan berjalan di trotoar lalu menghilang tak terlihat karena tertutup atap halte.
Ia pun memandang langit yang sama dan mempunyai harapan yang sama dengan Salma.
__ADS_1
"Kenapa cerah hari ini, di mana kamu hujan saat aku butuh kamu?" Angkasa bergumam cemas sembari melihat ke arah langit dan memantau Salma yang masih di dalam halte.
Harapannya sirna begitu bis yang menuju daerah tinggal Salma, merapat di halte dan membawa wanita itu pergi dari sana. Menutup rasa kecewanya, Angkasa lalu meraih ponsel dan menghubungi kawan lamanya sekaligus rekan kerjanya.
"Halo Mran, kamu sedang apa?"
"Seminar lah," sahut pria berkumis tipis di seberang sana.
"Tolong bantu rancangkan sebuah program acara televisi yang spesial tema seperti talkshow."
"Talkshow tentang apa? Politik? Selebritis? Gosip? Kesehatan, olahraga atau apa nih? Random banget sih mintanya."
"Terserah lu deh, yang sekiranya bisa angkat pasar televisi yang lagi menurun pemirsanya akhir-akhir ini."
"Ya gampang lah nanti aku pikirkan. Udah ya, dua jam lagi aku jadi narasumber mau siap-siap," ujar Emran cepat dan akan menutup sambungan teleponnya.
"Ga bisa ditunda terlalu lama ini. Sebelum kembali dari Makassar, kamu sudah harus punya gambaran program acara ini," tegas Angkasa.
"Buset! Pesanan siapa ini? Orang penting nih kayaknya."
"Udalaaahh."
"Ga bisa secepat itu, Asaaa! Aku belum ada gambaran apa-apa. Dasar membuat program minimal ada unsur apa gitu, misalnya topik, segment pasar, jam tayang banyak laah."
"Talkshow yang cocok dibawakan oleh wanita usia 25 tahunan. Orangnya kalem, keibuan, suka menyanyi, memberi motivasi dan tips kehidupan, anggun, tapi bisa juga tampil ceria dan energik," papar Angkasa bersemangat. Emran terdiam sejenak di seberang sana.
"Kamu mau buat acara dengan dasar pembawa acaranya? Gilaaa, fix kamu lagi jatuh cinta pasti hahahahaa ...." Emran tergelak kencang di seberang sana.
"Breng sek!" Angkasa menutup sambungan ponselnya. Ia menggelengkan kepala dan tersenyum malu mengingat kelakar Emran yang menggodanya.
...❤️🤍...
Haaii yuuk aku bawa cerita seru lagi untuk temanin waktu senggang kamu. Masukan ke dalam rak bukumu ya
__ADS_1