
Tangan Angkasa menggenggam jemari Salma semakin erat. Gemuruh jantungnya berlomba dengan desiran darahnya yang semakin cepat. Angkasa menunggu jawaban Salma sebagai Nabila. Harusnya wanita itu mengangguk dan menjawab lirih 'Aku mau Marcel, aku mauuu ...' lalu saatnya yang ia tunggu-tunggu mereka berciuman.
Namun Salma hanya lekat memandangnya tanpa mengatakan apapun. Hening seluruh orang di studio yang terdengar hanyalah dengung pendingin udara. Mereka semua yang menonton menanti sebuah adegan yang hampir tak mungkin terjadi.
Angkasa Wiryawan, bukan seorang artis. Pemilik rumah produksi terbesar, main film untuk pertamakalinya dan akan melakukan adegan mesra di sebuah film. Tentu tidak ada yang ingin melewatkan adegan di balik layar ini. Semua seperti serempak menahan nafas menanti dua bibir saling bertemu.
Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Angkasa langsung menempelkan bibirnya. Ia tidak mau Pak Memet lebih dulu mengubah pikiran dan memutuskan adegan ini dihilangkan karena melihat Salma tidak nyaman.
Salma sedikit terkejut ketika tangan Angkasa mengangkat dagunya dan menempelkan bibirnya. Tadi saat mata tajam Angkasa menembus bola matanya, ia mendadak lupa dengan semua dialog yang harus diucapkan.
Angkasa tidak hanya sekedar menempelkan bibir, ia tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dirasa tidak ada penolakan bahkan tubuh Salma ia rasakan semakin mengendur, Angkasa memberanikan diri berbuat lebih berani lagi. Ia menyesap lembut bibir Salma dan menyamakan ritme pernafasan mereka.
Keduanya larut dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Tak peduli dengan sorot lampu yang panas, tak mau peduli dengan mata yang terbelalak dan mulut yang terbuka ketika melihat mereka. Keduanya semakin asyik beradu bibir. Tubuh Salma pun semakin pasrah dalam pelukan Angkasa.
"Pak Memeeet," Jane dan para wanita lainnya berbisik risau. Mereka yang tidak tahu ada perubahan naskah, tidak terima ada adegan yang membuat panas mata dan dada mereka.
"Sssstttt!" Tangan Pak Memet mengibas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kecil di hadapannya.
Ketika dilihatnya Angkasa semakin panas, "Cut! ... CUUUUTTT!" Pak Memet berteriak semakin kencang saat atasannya itu belagak tuli.
Salma tersentak, ia mundur selangkah dengan wajah merah padam. Sedangkan Angkasa mengumpat sutradaranya dalam hati, tapi ia masih bisa memasang sikap yang tenang.
"Apa aku tadi menyakitimu?" Angkasa mengusap bibir Salma dengan ibu jarinya.
Salma menggeleng malu. Bisa berciuman dengan Angkasa sekaligus pria yang dikaguminya heh, sakit? apa itu?
"Maaf kalau tadi kamu merasa tidak nyaman," tambah Angkasa.
"Tidak apa-apa, hanya malu aja. Baru ini melakukan hal itu dilihat orang banyak," ucap Salma.
__ADS_1
"Kalau begitu, lain kali kita lakukan di tempat yang tersembunyi." Angkasa semakin berani meluncurkan godaannya.
Mata Salma membesar, celetukan jahil Angkasa membuat kakinya hampir saja salah menginjak saat akan menuruni tangga. Pria ini semakin lama semakin aneh ia rasa.
'Apa benar yang dikatakan Mba Tia, Pak Angkasa ada hati denganku? Aah, tidak mungkin Salma jangan terlalu besar kepala. Jangan hanya karena kamu mendapat peran utama dan melakukan adegan panas itu dengannya, bukan berarti dia suka. Itu semua hanya akting, baginya itu adalah hal biasa. Bisa saja sebenarnya dia terpaksa melakukan adegan itu denganmu,' Salma menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mencoba mengusir rasa yang sempat membuatnya melambung.
Salma tersenyum tipis lalu mengangguk dan langsung masuk ke ruang ganti. Angkasa yang awalnya percaya diri merasa minder seketika, tiba-tiba ditinggal tanpa mengatakan apapun setelah melakukan adegan mesra. Angkasa menghembuskan nafas di atas telapak tangannya, memastikan apakah aroma mulutnya separah itu, 'Wangi kok,'
Sambil berjalan ia terus meniup-niup tangan lalu menciumnya. Dari jauh ia melihat Emran menggelengkan kepala dengan senyum sinisnya.
"Luar biasa, aku tidak di lokasi satu minggu aja banyak sudah sekali kemajuanmu," sindirnya.
"Apa sih."
"Kalian sedang dalam pusat perhatian banyak orang, apa kamu tidak takut?"
"Apa yang harus aku takutkan?" sahut Angkasa tak acuh.
Angkasa terdiam memikirkan ucapan Emran. Pikirannya sama sekali tidak sampai sana sebelum merencanakan perubahan adegan tadi, tapi sekarang ia mendadak khawatir apalagi sikap Salma yang langsung dingin setelah mereka berciuman.
"Tolong awasi, Salma."
"Heeeehh, kenapa akuuu lagi ... Okeee, perintah diterima dan siap dilaksanakan." Emran cepat meralat sebelum tugasnya bertambah dua kali lipat.
Kekhawatiran Emran tak menunggu lama, di ruang ganti Salma harus menghadapi beragam komentar dari pemain wanita lainnya.
"Asyik nih yang habis ciuman sama Pak Asa." Seorang wanita berambut ikal duduk di sebelah Salma. Ia hanya menimpali dengan senyum canggungnya. Ucapan itu tidak terdengar seperti memuji, malah lebih terdengar sinis dan iri.
"Kamu di kamera tadi tuh kelihatan nafsu banget," tambah Wanita berambut coklat disertai tawa terbahak dari yang lainnya, "Tapi ga nyalahin sih ya, siapa sih yang ga mau beradegan seperti itu dengan Pak Asa, ya gaaa." Wanita itu meminta pendapat teman-temannya yang lain. Serempak mereka mengangguk dan berkata 'Ya', "Hanya saja, Salma kamu terlihat kampungan di sisi Pak Asa. Tak bisakah kamu berakting natural saat berciuman?"
__ADS_1
"Natural gimana?"
"Ya ... wanita elegant, mahal seperti itulah," sahut wanita itu asal.
"Aku hanya melakukan apa yang diminta Pak Memet, bukan berarti aku menikmati," sergah Salma. Mengingkari untuk saat ini jauh lebih aman.
"Alaaah! Raut wajahmu tadi ga bisa bohong, Salma. Ga usah munafik!" sembur wanita yang paling cantik diantara mereka.
"Lalu kenapa kalau aku suka, kalian tadi juga bilang andaikan kalian yang ada di posisiku kalian juga senang." Amarah Salma mulai terpancing.
"Kalau salah satu dari kami masih wajarlah, kami masih single belum ada pasangan. Kamu 'kan mau rujuk sama mantan suamimu. Apa kamu ga kasihan sama anak-anakmu jika mereka melihat Mamanya berciuman dengan pria selain Papanya?" tambah Jane. Walaupun cara ia mengatakan lembut tidak sesinis temannya, tapi di telinga Salma ucapan Jane lebih menyakitkan karena membawa-bawa anaknya.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku, Jane jadi diamlah," ucap Salma geram.
"Heei, aku hanya mengingatkan kamu saja, Salma. Aku kasihan lihat mantan suamimu datang jauh-jauh hanya untuk melihatmu, Salma. Dia terlihat masih sangat mencintaimu. Kamu tahu 'kan kalau aku turut bahagia kalau kamu bahagia." Jane menyentuh pundak Salma lembut, tapi langsung ditepisnya dengan kasar.
"Keterlaluan kamu, Salma jangan mentang-mentang sudah jadi artis kamu mau melupakan suamimu. Kamu pikir Pak Angkasa mau sama kamu? Jane itu temanmu yang baik, dia sudah mengingatkanmu agar tidak lupa diri!" Teman-teman Jane emosi melihat perlakuan kasar Salma pada Jane.
"Sudahlah aku tidak apa." Jane berusaha menenangkan teman-temannya.
"Dasar sombong, baru satu film aja belagu."
"Belum terkenal aja sudah lupa punya suami."
"Iyaa, berharap dapet ikan kakap. Mimpi!"
Satu persatu dari pemain wanita lainnya itu, mengutarakan perkataan yang menyakitkan hati dan telinganya.
...❤️🤍...
__ADS_1
Mampir ke karya temanku yuk