
"Apa katanyaa?" Tania mendekatkan telinganya ingin ikut mendengar apa yang Angkasa katakan.
"Sstttt, berisik!" sembur Armand sembari menutup ponselnya agar Angkasa tidak mendengar keributan Tania dibelakangnya, "Eh, maaf Pak Angkasa, saya masih di jalan jadi agak ramai. Boleh, boleh meski hanya makanan kecil kami siap."
"Baik kalau begitu, kami tunggu proposal pengajuannya serta contoh makanan kecilnya sebagai bahan pertimbangan team yang menangani konsumsi di lokasi syuting."
"Baik, Pak Angkasa segera saya kabari dan terima kasih atas kesempatannya."
Begitu sambungan telepon terputus, Armand memeluk Tania seraya bersorak gembira.
"Kita berhasil masuk pengadaan makanan kecil untuk syuting film terbaru, pasti ada Salma di sana." Tanpa malu dan ragu Armand mengungkapkan rasa bahagianya dapat bertemu mantan istrinya di depan Tania.
"Ciiihh! Gak tahu diri, memang apa yang kamu harap kalau bertemu Salma? Dia langsung memelukmu dan berkata aku rindu? Mimpi!"
"Banyak omong! Segera pikiran makanan kecil apa yang mau kamu tawarkan, buat proposal penawaran dan contoh makanannya lalu segera bawa ke kantor Angkasa," titah Armand.
Sementara itu di dalam mobil, Angkasa berusaha mengingat-ingat dimanakah ia pernah melihat Armand. Seharusnya wajah Tania yang ia kenal, tapi kenapa si pria itu yang ia rasa tak asing wajahnya.
Semakin Angkasa mengingat-ingat pernah bertemu di mana dengan Armand, semakin pusing kepalanya. Tanpa sadar ia sudah sampai di lokasi syuting tujuannya.
"Lemes banget, Pak Bos?" sapa Emran.
"Ngapain kamu di sini?" Angkasa melirik sekilas lalu melanjutkan jalannya menuju sudut tempat berganti kostum.
"Mampir aja, siapa tahu di sini butuh bantuan aku," ujar Emran sembari tersenyum. Langkahnya terus mengikuti kemana Angkasa melangkah.
"Tidak ada yang butuh kamu di sini, aku 'kan sudah tugaskan kamu untuk awasi lokasi syuting pertama bukan di sini."
"Saya tahu Bos, lokasi syuting pertama sudah selesai sore tadi. Talent aman, mungkin sudah bobok manis di kamarnya," ujar Emran menelankan kata talent.
Hanya mereka berdua yang mengerti siapa yang dimaksudkan talent oleh Emran. Tentunya bukan semua pemain, tapi hanya satu pemain istimewa titipan Pak Bos.
"Mereka sudah selesai?" Angkasa berbalik menghadap Emran. Semangatnya kembali muncul.
"Hari ini terakhir proses pengambilan gambar terpisah. Kalau lokasi dua ini selesai, besok sudah bisa mulai pengambilan gambar jadi satu lokasi," jelas Emran.
__ADS_1
Wajah Angkasa kembali bersinar, inilah saat yang ia tunggu-tunggu selama proses syuting. Selama dua minggu mereka harus mengambil adegan terpisah, sungguh menyiksa hati Angkasa yang mengira langsung beradegan mesra dengan lawan mainnya.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?" seru Angkasa pada semua kru yang sedang duduk santai.
"Tunggu anda, Pak Bos," timpal Emran sambil menahan ketawa.
"Saya?" tanya Angkasa menunjuk dadanya dengan wajah polos.
"Mari Pak, ganti kostum dan di rias." Salah satu petugas wardrobe mempersilahkan Angkasa masuk ke dalam ruang ganti.
Sisa hari itu di selesaikan oleh Angkasa dengan semangat. Ia tidak sabar untuk memindahkan lokasi syuting menjadi satu dengan Salma.
"Setelah ini kita pindah ke lokasi syuting ketiga?" tanya Angkasa memastikan.
"He em." Emran merespon malas. Sudah lebih dari lima kali atasannya ini membahas hal yang sama.
"Besok mulai masuk ke adegan yang mana, Pak Surya?" tanya Angkasa pada asisten sutradara yang malam itu sedang bertugas.
"Masuk adegan Nabila dan Marcel bertemu di pesta, Pak.," ujar apak Surya sopan. Jika pemain yang bertanya seperti ini mungkin ia akan sembur dengan perkataan pedas karena dinilai tidak menyimak naskah dan info secara detail.
"Ini drama romansa, Asa bukan action." Emran berkata mengejek.
"Terseralah apa namanya. Jadi besok saya langsung menuju lokasi ketiga?" tanya Angkasa tak mempedulikan sindiran Emran.
"Bapak tunggu aja di kantor, nanti kami kabari biar Pak Asa tidak terlalu menunggu lama di lokasi. Lagipula tempatnya tidak jauh dari kantor," ucap Pak Surya santun.
"Oh tak apa saya langsung menuju lokasi syuting saja, sekalian ingin melihat proses syuting berlangsung," ujar Angkasa bersemangat. Emran tak bisa menahan rasa ingin tertawanya, ia tergelak sangat kencang sembari menepuk kakinya berulang kali.
"Kamu kenapa sih?" sergah Angkasa gemas.
"Ga apa-apa, yuk pulang cepat tidur biar besok wajahnya segar tanpa kerutan," ucap Emran masih menyisakan tawanya sembari berjalan menuju mobilnya.
Keesokan harinya Angkasa lebih dulu datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum menuju ke lokasi syuting.
"Apa ini?" Angkasa menunjuk ke sebuah piring besar yang berada di atas meja kerjanya. Di atas piring itu tertata beberapa jenis kue kecil dan kudapan ringan.
__ADS_1
"Catering baru, katanya ingin Bapak coba dulu."
"Ga perlu, sudah saya serahkan semua ke team yang bertugas menyediakan konsumsi."
"Tapi ibu yang antar kue tadi ingin Bapak yang memilih, mereka masih menunggu di ruang tamu."
"Aah, merepotkan. Coba kamu yang pilih saja, aku sudah sarapan masih kenyang. Pilih lima macam lalu segera kasih tahu saya mana yang enak biar saya temui mereka nanti." Angkasa mendorong piring besar itu agar di bawa sekertarisnya.
Tak butuh waktu lama, sekertaris Angkasa kembali masuk dengan catatan di tangannya.
"Baik, terima kasih." Angkasa lalu menuju ruang tamu di mana Tania dan Armand sudah menunggu.
"Selamat pagi, Pak Angkasa." Tania langsung berdiri begitu melihat Angkasa membuka pintu.
"Selamat pagi juga, maaf sudah menunggu lama. Saya sibuk menghabiskan kue yang anda bawa tadi, semua enak saya sampai bingung memilihnya," bual Angkasa.
"Senangnya kalau Pak Angkasa suka." Tania tersenyum senang.
"Tapi kami tentu tidak bisa memilih semuanya, jadi ini jenis kue yang bisa Ibu sediakan untuk para kru dan pemain di lokasi syuting." Angkasa menyodorkan catatan yang diberikan sekretarisnya tadi.
"Ini saja?" Raut wajah kecewa Tania terlihat.
"Iya, biar Bu Tania tidak lelah," ucap Angkasa manis.
"Waah, terima kasih Pak Angkasa sudah memperhatikan saya, tapi tidak perlu khawatir beberapa asisten sudah saya panggil kemari agar pesanan untuk Pak Angkasa bisa tepat waktu."
Armand mendecih sinis dalam hati, ia jelas tahu istrinya sedang menebar pesona pada pria lain.
"Baiklah kalau begitu, maaf saya tidak bisa berlama-lama padahal saya ingin sekali berbincang dengan Ibu Tania dan Pak Armand, tapi saya harus pergi ke lokasi syuting." Angkasa bersiap-siap berdiri.
Mata Armand berbinar senang, "Saya boleh ikut?"
...❤️🤍...
Bawa novel baru karya temanku nih, jangan sampai kelewatan yaa
__ADS_1