
Kai Bhumi Abinawa, nama yang diberikan Rama kepada putranya sungguh menjadi pengikat benang merah dirinya dengan suaminya sekarang, Rama. Sita tidak menyangka jika orang yang menolongnya saat persalinan dulu kini menjadi suaminya dan tengah mengusap lembut perutnya yang membuncit.
" Sayang… kok kayaknya triple A gerak gerak ya. Guys… kalian harus pelan pelan ya jangan main bola di dalam sana kasihan mommy."
" Hahaha mas bisa aja.. Kalau triple A aktif itu bagus mas. Mas aku jadi penasaran nama apa yang diberikan Kai untuk adik adiknya?"
" Sama aku juga. Tapi bocah itu beneran menyembunyikan rapat rapat. Dia sama sekali tidak memberitahuku."
" Sama mas aku juga. Oh iya mas kata dokter Lisa mungkin aku akan melahirkan di minggu ke 33 atau 34."
" Lah… Bukannya biasanya di minggu 37 atau 38 ya?"
" Katanya kehamilan kembar 3 bisa lebih awal lahir nya."
" Oh gitu… baiklah… bagaimana kalau aku bantu membuat lancar jalan lahirnya. Sekalian mau nengokin triple A. Ayah kangen."
" Haish… itu mah mau mu mas.."
" Memangnya kamu nggak mau ya?"
Rama mengedip ngedipkan matanya genit. Ia langsung menyibakkan daster sang istri dan mengusap perut Sita dengan lembut. Ram ajuga menciumi perut Sita, ia merasakan gerakan gerakan bayi dalam kandungan Sita.
" Hahaha sepertinya kalian juga kangen sama ayah ya. Tenang abis ini ayah tengokin kalian oke. Sttt… Ayah akan pelan pelan biar nggak ngagetin kalian nanti."
Sita terkekeh gemas mendengar Rama yang berbicara tepat di depan perutnya. Rama menarik Sita agar berdiri lalu melepaskan daster Sita sepenuhnya. Ia melihat tubuh Sita dari atas sampai bawah.
" Kenapa… Aku gendut ya."
Rama menggeleng mendengar ucapan istrinya itu. Ia tersenyum lebar.
" Kamu bukan gendut sayang, kamu malah terlihat semakin seksi. Apalagi itu, kelihatan semakin kenceng… aku suka."
" Mas… mesum…"
" Laah mesum sama istri sendiri mah pahala sayang."
Rama mulai mengikis jarak dan melahap bibir Sita sambil membuka pengait kain kacamata yang masih menempel. Ia melepaskan pagutannya dna melihat bukit kenyal kesukaannya. Rama langsung meraupnya perlahan. Ia memainkan lidahnya di sana dan tangannya yang lain meremasnya lembut.
" Beberapa bulan lagi ini akan disabotase oleh triplet jadi seblum mereka lahir aku mau puas puasin dulu."
Sita menggeleng pelan dengan setiap ucapan suaminya.
Rama kembali ke aktivitasnya. Menyusuri setiap inci tubuh istrinya dengan tangan dna dengan bibir. " Akh… " Sita memekik dan Rama hanya menyeringai.
" Sayang… kamu diatas biar triplet nggak kehimpit."
Sita tersenyum wajahnya merona. Rama gemas melihat tingkah istrinya. Sudah seringkali melakukan namun Sita masih selalu saja malu malu. Sita pun menyetujui saran suaminya. Mereka kembali melakukan penyatuan, keduanya memekik saat sampai pada pelepasan masing masing.
" Sayang… tahukah kamu. Kalau kamu sangat hot tadi. Aku suka, terimakasih."
" Sama sama mas."
Rama langsung menggendong sita menuju kamar mandi. Mereka memang terbiasa langsung membersihkan diri setelah berolahraga malam.
__ADS_1
Rama mengisi bathup dengan air hangat. Ia masuk terlebih dulu dan membawa sita setelah itu.
Namun sepertinya Rama kali ini menginginkan ronde kedua. Benar saja, dia sudah meremas bukit kenyal milik Sita sehingga yang empunya memekik.
"Akh… mas…"
" Maaf sayang. Sekali lagi ya."
Sita hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan sang suami. Kembali lagi Rama dan Sita melakukan pelepasan di sana.
"Sini sayang, aku keringkan rambutmu sebelum tidur biar nggak pusing."
"Makasih mas…"
" Sayang… apa nggak sebaiknya kamu mulai cuti. Aku ngeri kalau kalau kamu lahiran di kantor seperti 7 tahun lalu."
" Hahahaha kamu masih ingat mas moment itu?"
" Beeeh masih lah. Tau nggka apa yang aku rasain. Aku tih panik...takut… ngeri… pokoknya campur aduk."
" Tapi kamu waktu itu terlihat tenang."
" Itu mah akting, ya kali kamu panik aku ikutan panik."
Rama dan Sita sama sama tersenyum mengingat momen pertama kali Sita melahirkan. Sungguh keduanya tidak menyangka mereka akan berjodoh sekarang.
" Makasih ya mas. Waktu itu kamu dah nolong aku."
" Iya sayang. Sama sama. Aku sungguh sangat senang bisa menolongmu waktu itu."
Pagi ini Rama dan Sita mengantar Kai ke sekolah dikarenakan guru Kai ingin bertemu dengan kedua orang tua Kai.
" Sayang… apa kamu membuat masalah di sekolah."
" No mom… tidak pernah."
" Apa kamu tidak mengerjakan tugas sekolah."
" Kai selalu ngerjain tugas mom."
" Hmmm kenapa ya kita dipanggil mas?"
" Entahlah…. Nanti kita tanya saja. Menebak nebak juga percuma saja."
Akhirnya mereka sampai juga di sekolah dan langsung menuju ke ruang guru.
" Selamat pagi…"
" Oh selamat pagi bapak dan ibu silahkan duduk. Kai boleh ke kelas dulu ya, ibu guru mau berbicara dengan ayah dan ibu Kai."
" Baik bu guru, ayah mommy, Kai ke kelas dulu."
Rama dan Sita mengangguk. Mereka kembali fokus kepada guru Kai.
__ADS_1
" Maaf bu guru, sebenarnya ada apa ya apakah Kai membuat masalah di sekolah?"
Sita sudah tampak khawatir dengan apa yang terjadi dengan putranya. Namun tampaknya bukan seperti yang sudah ia pikirkan karena reaksi guru Kai malah tersenyum.
" Bukan ibu, Kai adalah anak yang cerdas dan baik. Kai tidak membuat masalah apapun di sekolah hanya saja…."
" Kenapa ya bu." Rama ikut penasaran.
" Hanya saja menurut saya dan beberapa guru lain yang mengajar, Kai bisa lompat kelas ke kelas yang lebih tinggi. Kemarin saya mendapat cerita dari anak anak kelas 6 katanya Kai membantu mereka untuk menyelesaikan latihan soal soal ujian nasional."
"Apa….!!!"
Sita sangat terkejut mendengar penjelasan dari guru tersebut sedangkan Rama dia hanya bisa diam. Rama tidak terkejut sama sekali dengan kejeniusan putranya itu.
" Mungkin bu guru salah dengar mana mungkin anak kelas 1 mengerjakan soal anak kelas 6?"
" Benar ibu, saya tidak berbohong. Karena bukan hanya satu anak yang dibantu oleh Kai tapi beberapa anak."
Sita menyandarkan punggungnya di kursi lalu mengusap perutnya yang tampak bergerak gerak.
Apa kalian juga kaget dengan ilah abang Kai, atau kalian bangga dengan abang Kai? batin Sita.
Rama menggenggam tangan Sita di bawah meja untuk menenangkan sang istri. Rama tahu Sita pasti terkejut, karena Rama perna merasakanya.
" Lalu maksud ibu guru bagaimana ya?" Kini giliran Rama yang bertanya.
" Begini pak kami usulkan Kai bersekolah di sekolahan yang ada kelas akselerasinya karena sayang menurut saya kalau Kai bersekolah di sekolah konvensional biasa. Kecerdasan Kai sangat jarang ditemui, di sekolah yang lebih bagus mungkin bisa mengembangkan dan mendukung kecerdasannya. Dan sekolah yang memiliki semua itu adalah DIS, Dewa International School."
" Milik kakek Juna bukannya itu?"
" Maaf pak…"
" Oh tidak bu. Iya saya tahu DIS soalnya cucu pemilik DIS adalah sahabat saya."
" Waaah luar biasa, mungkin ini akan menjadi lebih mudah."
" Tapi maaf bu, kami akan menanyakan dulu kepada Kai, kami tidak mau mengambil keputusan sepihak karena menurut kami Kai lah yang berhak menentukan dimana dan dengan siapa dia akan belajar."
"Betul kata suami saya bu, kami harus mendiskusikan ini dulu dengan putra kami."
Bu guru tersebut sangat kagum dan salut dengan pemikiran Rama dan Sita. Disaat para orang tua berlomba lomba menyekolahkan anaknya di tempat yang bagus dan terkenal meski anak mereka tidak setuju dan mungkin tidak mampu mengikutinya, Rama dan Sita lebih memilih mendiskusikan dengan putra mereka. Mereka lebih mementingkan kenyamanan sang anak dalam belajar.
" Baik pak bu, saya mengerti. Saya akan menunggu kabar dari anda berdua."
" Baik bu guru. Jika demikian kami pamit undur diri dulu."
" Baik pak bu, terimakasih atas waktunya."
" Sama sama bu guru. Kami juga berterima kasih atas perhatian bu guru terhadap putra kami."
Sita tersenyum dan menyalami bu guru Kai. Mereka berdua pamit undur diri. Rama menggandeng Sita berjalan perlahan.
Sepanjang koridor sekolah Sita terdiam memikirkan percakapannya tadi. Sita sungguh tidak menyangka putranya itu begitu jenius. Selama ini dia hanya tau Kai adalah anak yang mandiri dan cerdas.
__ADS_1
TBC