
Rama pulang ke rumah dengan perasaan sangat senang karena bisa membereskan para tikus tikus itu sampai bersih. Ia melebarkan senyumnya saat memasuki kamar, di sana sudah ada sang istri yang menyambut kedatangannya.
Greb…
Rama memeluk Sita dan mencium bibir Sita sekilas.
"Mas, mandi dulu. Kenapa pulang begitu telat?"
"Astagfirullah, mas lupa ngabarin. Tadi memang mas ada urusan kantor, bersihin antek antek orang yang korup di JD Grub."
"Makanya itu mas manggil Adit juga?"
Rama mengangguk membenarkan ucapan sang istri.
"Bagaimana kerjanya hari ini, apakah kamu baik baik saja. Apakah ada yang tidak nyaman?"
"Its ok mas. Aku baik. Oh iya ada yang mau aku sampaikan."
"Apa itu, kelihatannya penting." Rama mengendurkan pelukannya. Ia melepas pakaian kerjanya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Itu, tadi ada yang mengirimiku bunga yang sangat banyak sehingga memenuhi ruangan ku dan lobi perusahaan."
"Siapa yang berbuat kurang kerjaan seperti itu."
"Aku tidak tahu pasti, tapi aku punya filling itu Dani."
Rama yang hendak masuk ke kamar mandi batal dan langsung kembali berjalan ke arah Sita. Memegang kedua tangan Sita dan meneliti sita dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kutu kupret itu ngirimin kamu bunga? Tapi dia nggak ketemu kamu kan. Kamu nggak pa pa kan."
Rama sedikit parno mengingat Sita pernah pingsan gara gara Dani si kutu kupret itu.
" Aku tidak tahu benar dia atau bukan, cuma yang aku tau, orang yang tahu aku suka bunga lili ya cuma dia."
Perkataan Sita baru saja sukses membuat hati Rama mencelos. Selama ini Rama bahkan tidak tahu apa yang disuka dan tidak disuka istrinya itu. Rama pun memeluk Sita.
"Maafin aku, aku jadi ngerasa bersalah."
"Eeh… kenapa gitu. Mas salah apa sama aku?"
"Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang kamu suka dan kamu tidak suka."
Sita tersenyum mendengar ucapan Rama, " Mas, kita sama sama belajar saling mengenal. Aku juga belum tahu apa yang mas suka dan yang mas tidak suka. Tapi mas Rama harus tahu ada yang paling aku suka."
"Apa?" Rama melihat wajah istrinya dengan penasaran.
"Kamu" Jawab Sita dengan senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Rama yang sudah gemas dari tadi langsung meraup bibir mungil Sita. Ia menarik pinggang Sita agar menempel pada tubuhnya. Sita pun ikut membalas ciuman Rama. Mereka saling bertukar saliva. Rama membimbing Sita menuju tempat tidur dan membaringkan Sita dengan pelan.
"Sayang, kamu begitu menggoda."
Sita hanya merona, Rmaa kembali mencium bibir Sita. Satu per satu pakaian mereka sudah entah terbnag kemana. Rama menurunkan ciumannya ke leher dengan tangan yang terus menjelajah setiap tubuh istrinya itu. Baginya Sita adalah candu.
Rama menemukan tempat favoritnya, ia meremas yang satu dan menyesap yang satunya lagi.
"Akh…." Sita melenguh membuat Rama tersenyum ia sangat suka suara istrinya yang seperti itu. Rama terus bermain di bukit itu dengan mulut dan lidahnya. Sita mencengkeram rambut Rama dan menekannya, menandakan ia ingin lebih Rama menyesapnya lebih dalam. Tangan Rama meneruskan gerilyanya menuju lembah dan gua yang sudah sedikit banjir. Ia memainkan tangannya di sana dan berhasil membuat Sita kembali melenguh. Lagi lagi ia tersenyum, nampaknya pedangnya sudah siap. Sita sedikit tertegun melihat pedang Rama yang berdiri kokoh menjulang.
" Sayang aku mulai ya."
Rama membuka paha Sita, dia mulai menghunuskan pedangnya itu perlahan, sambil terus memainkan bukit bukit yang ikut menantang agar Sita lebih rileks dan nyaman.
"Akh…." Des*han Sita dan Rama memenuhi kamar mereka. Rama mulai bergerak cepat sesuai ritme.
"Sayang… panggil namaku." Pinta Rama dengan terus memaju mundurkan pinggulnya.
"Mas Rama" Sita memanggil nama Rama dengan nafas tersengal.
"Ah… Sayang… ini sungguh nikmat. Sita sayang, i love you..Sungguh kamu luar biasa."
Pak pak pak… Suara tabrakan kulit itu begitu nyaring bersahutan dengan suara desah*n panjang kedua insan itu.
Keduanya mengerang bersama setelah mencapai titik puncak. Rama mencabut pedangnya dari gua kenikm*t*n istrinya. Ia lalu menarik Selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Keringat tampak membasahi kedua tubuh suami istri itu.
"Terimakasih sayang" Ucap Rama sambil memeluk Sita.
Namun baru saja Sita ingin memejamkan matanya ia merasakan pedang suaminya kembali menegang.
"Mas…" Bisik Sita.
"Sudah tidak apa apa biarkan saja. Nanti dia akan tidur dengan sendirinya. Dengan syarat kamu anteng." Ucap Rama dengan mata terpejam.
"Tenang sayang aku bukan pria pria yang berada dalam novel yang menggempur istrinya sampai istrinya kelelahan dan tidak tertidur sepanjang malam. Aku sungguh tidak tega melihatmu yang kelelahan itu." Imbuh Rama.
Sita hanya tersenyum mendengar ucapan demi ucapan sang suami. Ia lalu ikut memejamkan matanya dna tertidur. Keduanya lupa bahwa Rama tadi tidak jadi mandi malah ia langsung berolahraga dan tertidur.
***
Suara kokokan ayam jantan berhasil membangunkan Sita, ia bangkit dari posisi tidurnya. Hendak berdiri namun ia lupa tubuhnya masih polos. Ia pun membangunkan Rama.
"Mas… bangun bentar lagi subuh. Kita perlu mandi."
Tidak butuh waktu lama memang untuk membuat Rama bangun. Rama bukan tipe tipe orang yang susah dibangunkan.
"Baiklah, ayo kita mandi."
__ADS_1
Tanpa aba-aba Rama menggendong tubuh Rama.
" Mas apa yang mas lakukan?"
"Menghemat waktu sayang, biasanya jagoan kita akan datang ke kamar kita untuk sholat berjamaah."
Sita diam, apa yang diucapkan Rama benar juga. Rama pun menurunkan Sita di bath up dan mengisi airnya.
"Kamu mandi di sini aku di sana" Ucap Rama sambil menunjuk ke arah shower.
Mereka pun berdua mandi, benar benar mandi.
Selang 20 menit mereka sudah siap untuk sholat subuh bersama. Dna benar saja Kai sudah mengetuk pintu kamar mereka. Sita dan Rama saling menatap dna melempar senyum.
"Morning mom, ayah."
"Morning baby."
"Morning boy, mari kita sholat subuh bersama."
Ketiganya sholat dengan khusyu hingga akhir.
"Mom…"
"Yes baby."
"Kapan aku akan punya adik."
Uhuk… uhuk… uhuk… sita tersedak oleh salivanya sendiri. Ia sangat heran kenapa tiba tiba putranya itu menanyakan tentang seorang adik. Rama yang melihat keterkejutan Sita hanya terkekeh kecil.
"Boy, kamu mau punya adik? Mau cewe atau cowok?"
"Ya ayah, aku mau punya adik. Tidak peduli cowok atau cewek sama aja. Yang penting adik Kai sehat tidak kurang suatu apapun."
Rama dan Sita tertegun dengan jawaban bocah yang akan menginjak usia 7 tahun itu.jawaban yang sangat cerdas, tenang, dan bijak. Keduanya langsung memeluk dan mencium Kai.
"Kapan adikku akan lahir mom"
"Kenapa Kai seperti terburu buru ingin punya adik."
"Biar aku bisa cepet jadi kakak, jadi nggak akan ada lagi yang nyubit nyubit pipi aku. Terus aku nggak dipanggil dek dek lagi. Kan kalau aku punya adik aku jadi dipanggil kakak "
Jawaban polos Kai membuat Sita dan Rama tertawa. Mereka berdua pun hanya bisa menggeleng pelan. Namun sebenarnya bukan itu jawaban yang sebenarnya.
Jika Kai punya adik, mom tidak akan merasa sedih lagi. Kai tahu setiap malam menjelang ulang tahunku mommy akan menangis karena mengingat sakit akan penghianatan pria itu, dan sungguh aku tidak ingin melihat mommy menangis lagi. Tapi aku bersyukur, Allaah memberikan mommy sebagai ibuku. Aku sangat bangga dengan mommy. I love you mom.
TBC
__ADS_1