Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
71. Live Drama in the Office


__ADS_3

Sorot kebencian terpancar dari mata hazel wanita cantik itu. Bahkan tatapan mata Sita berhasil membuat Deni tercekat. Dani seolah olah tengah ditusuk ribuan pisau di dadanya, ia merasa sesak yang luar biasa. Gadisnya yang dulu dicintainya, wanita yang dulu pernah menjadi istrinya dan menemani hari harinya dengan tatapan lembut penuh kasih kini menatapnya dengan benci. Ada gurat kekecewaan dan sakit yang dalam di sana.


"Mau apa kamu ke sini?" 


Beberapa kalimat itu sukses membuat jantung Dani seakan tertusuk belati.


"Ta, jangan usir aku. Aku hanya ingin bicara sama kamu." Dani memberanikan diri membuka mulutnya.


Lia, Desi, Anjar, dan Iman yang tidak paham apa yang sedang terjadi hanya bisa diam mematung. Mereka cukup menyaksikan sebuah drama itu tanpa ada satupun yang membuka mulutnya.


"Apalagi yang mau kau bicarakan mas. Aku sudah pernah mengatakan padamu bukan, jangan harap kamu bisa masuk lagi ke kehidupanku."


"Ta, please. Demi anak kita."


"Wooah… apa tadi kamu bilang. Anak kita. Oh hello apakah kamu lupa mas. Apa yang kamu lakukan dulu. Sepertinya kau amnesia ya,  perlukah aku mengingatkanmu dengan kejadian itu. Sudah ku bilang Kai hanyalah anakku."


Kembali, kembar 4 itu sangat terkejut mendengar perdebatan Dani dan Bos mereka itu.


"Berarti ini mantan suami bu Sita."


"Kai itu anak orang ini."


"Oh ya Allaah drama apa ini."


"Astaghfirullah berarti yang viral kapan waktu itu?''


Kembar 4 itu memiliki pikiran mereka masing masing. Banyak sekali pertanyaan dan kesimpulan yang mereka simpulkan dalam otak mereka namun sama sekali tidak mereka utarakan 


" Ta bisakah kita bicara berdua?"


"Maaf aku tidak bisa, takut jadi fitnah. Lagian apa lagi yang mau kamu bicarakan mas. Dan jangan takut mereka tidak mendengar apapun. Bukankah begitu anak anak?"


Sorot mata Sita yang mengintimidasi sungguh membuat keempat bocah itu hanya bisa mengangguk sambil menelan salivanya kasar.


"Buseet bu Sita nakutin juga kalau lagi mode singa." Batin Anjar.


"Ta, apakah kamu tidak mau memberiku kesempatan."


"Hahahaha… apa kamu bilang mas kesempatan. Oh yang benar saja. Apakah waktu 7 tahun kamu sama sekali tidak memikirkan itu."

__ADS_1


Sita menyunggingkan bibirnya sinis. Selama ini dia memendam rasa sakitnya dan kali ini seakan dibayar lunas ia bisa menumpahkan kepada orang yang menyakitinya.


Sedangkan di lobby Adit menunggu Rama yang masih diperjalanan. Saat dihubungi oleh Adit, Rama berada di tengah tengah rapat. Ia pun segera mengakhiri rapatnya dan bergegas menuju JD Advertising.


"Ron.. Cepet. Lelet amat ah."


"Tenang bos ini bentar lagi sampe."


Ckiiiit…


Mobil Roni dan Rama menepi pas di depan pintu lobby.


"Dimana kutu kupret itu Dit." Tanya Rama tergesa.


"Di ruqngna mbak  Sita mas."


"Teruuuus ngapain kamuu disini Adiiiit. Kalau ada apa apa sama Sita bagaimana???" Rama menatap nyalang ke arah Adit. Ia pun segera berlari menuju ruangan Sita.


Adit dan Roni mengekor sambil berlari kecil. Sungguh adegan itu sukses mencuri perhatian para karyawan, namun mereka tidak berani bertanya apapun. Mengingat itu adalah Rama orang nomor satu JD Grub saat ini. Mereka hanya membatin pertanyaan pertanyaan kekepoan mereka.


Tak tak tak…


Suara larian Rama, Adit, dan Roni begitu menggema di lantai perusahan JD Advertising.


Greb…


"Sayang kamu tidak apa apa kan." Ucap Rama sambil memeluk lalu mencium puncak kepala Sita. Hal tersebut membuat kembar 4  dan terlebih Dani melongo.


"Aku tidak apa apa mas. Aku bisa menghadapi ini." Ucap Sita lembut. Sungguh sangat berbeda ketika ia berhadapan dengan Dani.


Ada apa ini, mengapa pria itu datang datang langsung memeluk sita dan memanggilnya sayang. Dna Sita ekspresi serta nada suaranya langsung berubah ketika berhadapan dengan pria itu, gumam Dani dalam hati.


Sedangkan kembar 4 itu saling tatap, sepertinya ada yang kita lewatkan. Begitulah kira kira arti tatapan mereka.


Rama masih memeluk Sita dengan erat. Sungguh ia takut sita down dan pingsan lagi mengingat kalo dia baru bangun dari komanya. Rama sangat ingat pesan dokter Dika untuk tidak membuat Sita terlalu menguras otak dan pikirannya.


"Mas… sudah aku tidak apa apa. Lepas dulu malu sama anak anak." Sita berbisik di telinga Rama. Namun Rama acuh, ia masih memeluk Sita di sana.


"Ekhem… Ta, bagaimana apakah…."

__ADS_1


"Maaf tuan Dani sanjaya, saya sebagai suami Sita tidak mengizinkan anda untuk bertemu dengan istri saya. Saya rasa anda adalah masa lalunya jadi saya harap anda bisa menghormati masa depan Sita juga."


"Maaf, siapa anda berbicara seperti itu?" Dani berucap berani seakan akan Rama itu memang hanyalah suami pura pura Sita.


Rama yang mendengar ucapan Dani geram, ingin sekali ia meneriaki Dani namun tangannya ditarik oleh Sita.


"Maaf tuan Dani yang terhormat, yang anda tanya siapa pria di samping saya ini, dia adalah suami sah saya. Bukanannya tadi suami saya sudha mengatkaan bahwa saya ini isttinya. Apakah pendengaran nada terganggu?" Sita berucap sinis.


Duaar…..


Dani sangat terkejut, kemarin ia masih sangat yakin mereka hanya bersandiwara.


"Ta, kamu bohong kan. Kamu pasti hanya pura pura buat ngejauhin aku kan."


"Hehehe, buat apa aku bermain main soal pernikahan mas. Mas Rama ini memang suami aku. Kami sudah resmi menikah secara agama dan negara. Apa kau masih tidak percaya. Itu di belakangmu ada Roni dan Adit. Mereka tahu pernikahan kami, bahkan Roni ada disaat kami menikah."


Dani terhuyung mendengar penjelasan Sita, ia memundurkan tubuhnya hampir jatuh. Namun Anton yang sedari tadi berada di luar ruangan cepat menopang tubuh Dani.


"Ta… mengapa. Mengapa begini."


Dani tergugu, air matanya mengalir begitu saja namun Sita acuh sama sekali tidak tersentuh dengan apa yang dilakukan Dani.


"Mengapa kamu bilang. Mas… Aku juga ingin kebahagiaan. Aku juga butuh bahagia. Apa kamu tahu sakit yang kurasakan. Apa kamu mengerti bagaimana mencari nafkah disaat hamil besar. Apakah kamu tahu bagaimana rasanya meninggalkan seorang anak yang masih begitu kecil untuk kembali bekerja tanpa adanya dukungan keluarga dan pria  yang dikatakan suami. Dan kamu masih bilang mengapa sungguh otakmu bermasalah mas. "


Bruk…. 


Setelah mengucapkan apa yang ada di hatinya dengan begitu emosional tiba tiba Sita jatuh pingsan tak sadarkan diri, beruntung dia berada di dekapan Rama.


Ingin sekali Rama menghajar Dani saat itu juga, namun kondisi kesehatan Sita lebih penting. Semua orang ikut terkejut dan panik. Dani reflek ingin mendekat namun cepat dihadang oleh Rama.


"Badjingan… jangan mendekat. Atau aku akan mematahkan kakimu sekarang juga. Ini untuk pertama dan yang terakhir jangan lagi kamu temui Sita. Stop membuat fisik dan psikisnya terluka."


Rama menatap nyalang, semua terkejut melihat Rama yang begitu marah.


Rama lalu menggendong tubuh Sita dan berlari menuju mobil.


"Roniiii Adiiiit…..!!!"


Rama berteriak, dan kedua nama yang dipanggil pun paham. Adit berlari menyiapkan mobil dan Roni langsung menelpon dokter Dika menanyakan keberadaannya memastikan Dokter tersebut sedang tidak melakukan operasi.

__ADS_1


Dani hanya bisa menatap pias. Ia tahu seberapa besar kesalahannya namun ia tidak pernah tahu jika itu membuat mental Sita begitu terluka. Dani tersungkur di lantai menangisi setiap kesalahannya, bahkan melihat Sita seperti itu sungguh sangat menyakitkan baginya.


TBC


__ADS_2