
Kai yang mendengar pembicaraan Rama dan Roni merasa begitu prihatin. Ia berencana membantu ayah nya itu.
Sepertinya itu permasalahan serius, bahkan ayah mau menjual asetnya. Kakek ayah siapa orang itu. Baiklah nanti saja dicari yang penting saat ini dahulukan yang urgent dulu, monolog Kai.
"S-sat-tu j-jut-ta d-do-dol-lar." Ucap Rama dan Roni bersamaan melihat nominal yang tertera dalam tab yang dibawa Kai.
"Apakah, segini belum cukup. Jika belum Kai akan tambah lagi." Ucap Kai santai.
Buset ini bocah ngomong satu juta dolar santai begitu. Aku nabung puluhan tahun ge nggak bakal dapet setengah nya, batin Roni masih sambil dengan ekspresi terkejut.
Sedangkan Rama ia mencoba mengatur nafasnya dan menetralkan keterkejutannya.
"Boy, itu dari mana kamu punya uang begitu banyak. MasyaaAllaah."
Kai terdiam, ia bingung bagaimana menjelaskan kepada Rama.
"Ehm… aduh Kai bingung jelasinnya. Tapi intinya uang itu insyaallah halal. Ayah pakai aja."
"Kai… bukan begitu. Tapi… tapi apakah kamu tahu berapa banyak uang itu?"
"Untuk nominal persisnya sih nggak tahu yah, cuma kalau dilihat dari kurs dollar saat ini itu mungkin lebih dari 10 Milyar rupiah."
Glek…. Rama dan Roni menelan salivanya kasar. Bocah sekecil itu tahu tentang kurs dollar. Mereka berdua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh ya, mana nomor rekening nya, biar Kai transfer sekarang."
Rama dan Roni hanya saling pandang, bingung, kaget, terkejut, dan masih sedikit tidak percaya.
"Jangan boy, itu kan uang Kai. Nanti habis, buat tabungan Kai dimasa depan saja." Ucap Rama.
"Don't worry yah, aku masih punya sekitar $500.000 lagi. Dan setiap bulannya kan uangku bertambah jadi tabunganku tidak akan habis."
Lagi lagi pernyataan Kai berhasil membuat Rama dan Roni terbelalak. Bahkan Roni sampai jatuh melorot ke lantai.
Rama pasrah, dia mencoba percaya dengan Kai. Ia memberikan rekening perusahaan.
"Done" Ucap Kai singkat
Tring…
Satu juta dollar tersebut pun masuk. Rama sedikit bernafas lega dibalik rasa terkejut dan herannya. Di satu sisi dia lega karena permasalahan finansial nya teratasi namun disisi lain ia masih bingung, apa yang dikerjakan anak sambungnya itu sehingga mempunyai uang dengan jumlah yang fantastis.
Kai pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya, namun sebelum itu ia berhenti dan berpesan kepada Rama.
"Yah, om. Ini rahasia kita bertiga. Jangan sampai orang lain tahu terutama mommy. Ok?"
Rama dan Roni mengangguk. Mereka masih dalam mode bingung.
"Buseet bos, anakmu milyader. Ya Allaah aku sudah kerja lama ge nggak ke kumpul duit segitu. Lah ini tck...tck...tck… mana dia ngeluarin duit segitu kek santai aja tanpa beban."
"Huft… aku penasaran apa yang dilakuin bocah itu. Coba kamu cari tahu."
"Zonk bos, aku udah pernah cari tahu itu. Tapi nggak nemu sama sekali."
Rama membuang nafasnya kasar, ia merasa bingung tapi memang ia tidak punya pilihan lain selain menerima uang dari Kai itu. Ia pun berjalan meninggalkan Roni di ruang keluarga sendirian menuju kamarnya.
Ia masuk ke selimut istrinya secara perlahan dan mengecup kening Sita lalu memeluk Sita. Sita bergerak namun tidja terbangun.
__ADS_1
"Sayang, apakah kamu tahu bahwa anakmu itu begitu cerdas dan juga kaya. Aku sangat bingung bagaimana menghadapinya sekarang." Gumam Rama pelan.
"Mas… kamu belum tidur." Ucap Dita dengan suara serak.
"Maaf maaf apa aku membnagunlanmu?"
Sita menggeleng, ia kemudian duduk dari posisi tidurnya.
"Aku laper mas. Pengen makan."
"He??? Makan?? Emang mau makan apa?"
"Pengen sate deh mas."
Plok…. Rama menepuk keningnya dengan telapak tangan.
"Kamu mau makan Sate jam segini?"
Rita mengangguk dengan ekspresi yang sangat menggemaskan bagi Rama. Rama pun tidak bisa menolak permintaan istrinya itu.
"Oke oke baiklah, biar Roni yang beli."
"Eh, emang Roni di sini?"
Rama mengangguk lalu keluar kami diikuti oleh Sita.
"Ron… Ron… tolong beliin sate dong."
"Apa bos… sate? Ini lewat tengah malam lho. Yakin mau makan jam segini?"
Rama mendelik ke arah Roni lalu melirikkan matanya ke arah sang istri. Roni pun terdiam, ia langsung oaham jika itu adalah kemauan ibu negara.
Ketika Roni melangkahkan kakinya menuju pintu tiba tiba Sita memanggil.
"Ron…"
"Ya nyonya bos."
" Belinya 2 porsi ya sama beli lontongnya 5."
Roni membelalakkan matanya namun secepat kilat merubah ekspresinya itu.
"Si-siap nyonya bos."
Roni segera kabur sebelum muncul pesanan pesanan yang lain.
Rama mengajak Sita untuk duduk di sofa sambil menonton televisi. Namun bukannya menonton Sita malah sibuk mengusili Rama.
Sita memainkan telinga Rama dan meniup-niup nya. Rama yang merasakan hembusan nafas Sita membuat hasrat lelakinya muncul.
"Sayang… kamu jangan mancing-mancing."
"Hmmm apa… aku nggak mancing kok." Jawab Sita santai namun tangan dan mulutnya terus melakukan hal yang sama.
Rama menghembuskan nafasnya kasar mencoba menahan hasratnya yang sudah mulai naik, entah mengapa ia merasa tidak tega mencumbu istrinya saat ini.
Sekuat tenaga Rama menahan, Sita malah semakin gencar, ia menciumi leher Rama. Nafas Rama naik turun mendapat perlakuan dari Sita.
__ADS_1
"Sayang… stop. Kamu membnagunkan dia." Ucap Rama dengan suara yang mulai serak karena menahan nafs* halalnya.
Sita hanya tersenyum, bahkan terlihat seperti senyum nakal bagi Rama. Entah apa yang tengah terjadi dalam dirinya, Sita merasa ingin disentuh malam ini.
Jebol sudah dinding pertahanan Rama, ia pun meraup bibir Sita dengan rakus lalu menghisapnya. Sita tersenyum dan membalas apa yang dilakukan oleh Rama. Tangan Rama mulai menjelajah menemukan mainannya,"akh…" Sita sedikit memekik.
" Mas, ayo pindah. Aku mau lebih."
Tentu saja ajakan Sita disambut baik oleh Rama. Ia langsung menggendong istrinya menuju kamar tamu yang memang kosong. Mereka pun memadu kasih dan menyalurkan cinta mereka di sana.
Rama dan Sita sama sama tersenyum setelah sampai puncak masing masing.
"Terimakasih sayang. Tumben kamu begitu."
"Sama sama mas, nggak tahu. Pengen aja."
Sita tersenyum lalu berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sita sendiri merasa heran, mengapa dia seagresif itu tadi.
"Ya Allaah, kenapa aku tadi bisa menggoda mas Rama dulu ya. Haisshh jadi malu kan." Gumam Sita pelan.
Sedangkan Rama, ia merasa begitu puas. Karena dari awal permainan Sita lah yang mendominasi dan bergerak aktif. Rama lebih kepada pasrah dan menerima. Ia merasa malam ini Sita begitu hot.
Setelah membersihkan tubuh masing masing Sita dan rama kembali ke ruang keluarga menunggu Roni. Dan benar saja Rini datang tidak lama mereka kembali.
"Assalamualaikum, sate datang."
Rama dan Sita saling pandang dan melempar senyum, mereka teringat percintaan mereka yang terbilang kilat tadi.
"Waalaikumsalam, sini satenya."
Ucap Rama lalu menyiapkan ke piring yang sudah disiapkan Sita baru saja.
Sita mengambil seporsi Sate dengan 3 lontong dan menyerahkan satu porsi lagi dengan 2 lontong kepada Rama.
"Yang lontong 2 buat mas Rama dan Roni. Dan yang ini buat aku."
Sita pun langsung memakan satenya dengan begitu hikmat. Rama dan Roni terheran heran.
Rama ingin bertanya apakah Sita bisa menghabiskannya atau tidak namun dia urung. Ia memilih diam membiarkan istrinya itu menikmati sate miliknya.
"Bos… bos yakin bu Sita baik baik saja?" Roni merasa curiga dengan nafs* makan Sita yang begitu besar.
"Entahlah Ron, aku juga heran. Kemarin sore dia makan empek empek banyak banget tapi kayak nggak kekenyangan gitu."
"Emang nyonya bos makannya banyak ya biasanya."
"Enggak sih, Sita makannya sedikit malah."
"Bos… jangan jangan...nyonya bos hamil lagi."
"Eh… Masa sih. Sok tahu kamu. Jomblo tau tau an wanita hamil."
"Baca diinternet bos. Coba aja bos cek."
Rama pun berselancar di internet mencari tanda tanda hamil. Disana dijelaskan ciri ciri ibu hamil salah satunya nafs* makan yang besar dan meningkatnya libido.
Rama jadi sedikit curiga, pasalnya Sita tadi begitu agresif saat bercint*.
__ADS_1
"Kayaknya aku harus cek. Siapa tau kecebongku sudah berhasil bersemayam di perut istriku ."
TBC