Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
85. kesibukan Roni dan Adit


__ADS_3

Dua hari berlalu dan kondisi Adipati menunjukkan perkembangan yang baik meski belum ada tanda tanda kesadaran. Dan selama dua hari itu juga Rama lupa memberi kabar terhadap Roni membuat sang asisten uring-uringan tidak jelas.


" Elaaah ini bos kemana sih, dah dua hari nggak muncul. Mana kerjaan lagi banyak banget lagi. Arghhh…"


Roni berteriak frustasi di ruang kantor Rama.


"Oh Adit, anak itu pasti tau dimana si bos."


Roni segera mengambil ponselnya dan mencari nama Adit. Bukan tulisan Adit di daftar ponselnya tapi casanova geblek. Ya nama itu yang ditulis di ponsel Roni untuk menamai kontak Adit.


Tuuut….tuuuut…. Panggilan Roni dirijek oleh Adit.


" Haish… tuh anak lagi ngapain sih pagi pagi begini. Pup kali."


Roni mencoba menghubungi Adit kembali dan berhasil.


"Heh casanova, kemana aja sih pagi pagi susah bener di hubungi. Lagi meeting ya?" Cerocos Roni.


"Hssshhh…..aaah….."


"Heh, geblek… kamu lagi ngapain bangs*t..?"


"Come on baby, I like it. Ron.. Sialan kau mengganggu kesenanganku. Uhhh."


Tuuut……


Roni langsung menutup sambungan teleponnya, ia bergidik membayangkan apa yang dilakukan Adit pagi ini.


"Astagfirullah Adiiit..Adiiit… bener bener tuh bocah ya kelakuannya. Dasar casanova geblek, ntah kapan dia bakalan insaf."


Roni kembali mendaratkan bokongnya di kursi milik Rama mencoba kembali menghubungi ponsel Rama namun nihil. 


Kring… ring….


Ponsel Roni berbunyi, ia segera melihatnya berharap Rama yang menghubunginya.


"Haissh …. Kupikir bos Rama."


"Kenapa tadi telpon?"


"Mau nanyain bos Rama dimana, udah dua hari nggak muncul. Eh nelpon kamu kamunya lagi nggak jelas gitu. Emang harus ya pagi pagi begitu dikantor pula."


"Hahaha sarapan pagi bro biar bersemangat menghadapi hari."


"Dasar cassanova geblek. Udah ah bahas begituan kamu mah nggak akan ada habisnya. Udah kamu tau nggak dimana Bos. Telponnya nggak aktif."

__ADS_1


"Kamu udah coba nelpon Kai atau mbak Sita?"


"Belum. Oh iya lupa."


"Wkwkwk, dasar ogeb. Mangkanya kamu butuh asupan seperti aku ini."


"Hiih ogah… males banget ngikutin kamu. Ya udah aku nelpon dulu. Bye."


Roni mematikan sambungan telepon dengan Adit. Berbicara dengan Adit lama lama hanya akan membuat otaknya rusak karena pembicaraan tidak lain  dan tidak bukan selalu urusan ranjang. Tingkat kemesumman Adit itu sudah di high level dan Roni bukanlah tandingannya.


Roni mencoba menghubungi nomor telpon Sita, ia berharap kali Sita mengangkat telepon darinya.


"Alhamdulillah nyonya bos, akhirnya."


"Ada apa Ron?"


"Bu, bos Rama ada tidak ya. Kok sudah 2 hari ini tidka ke kantor. Ponselnya dihubungi juga tidak buka."


"Astagfirullah, maaf Ron kami lupa memberitahu. Kami sekeluarga pergi ke kota S, kakek mas Rama di rawat Ron. Kami juga pergi mendadak."


"Oh begitu, baik bu terima kasih."


"Nanti, aku minta mas Rama buat telpon kamu Ron. Dianya lagi cari makan sama Kai."


"Siap bu, terimakasih. Assalamualaikum."


Setelah mengetahui keberadaan sang Bos Roni kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda gara gara investor yang tiba tiba menarik investasinya.


"Masyaallaah beruntung ada Tuan Juna dan bos kecil yang membantu." Gumam Roni.


🍀🍀🍀


Jika Roni sudah bisa kembali bekerja dengan tenang, maka tidak dengan Adit. Kini presdir itu dibuat pusing oleh sebuah model yang sangat sangat menjengkelkan, karena memiliki beberapa syarat dalam melakukan pembuatan perjanjian kerja.


Model tersebut memanglah termasuk dalam jajaran model kelas atas, namun sifatnya yang arogan membuat Adit jengah.


"Ekhem…. Jadi maksud anda kami tidak boleh memanggil anda saat lewat dari jam 5 sore, tidak meminta anda melakukan pekerjaan di hari sabtu dan minggu beserta hari libur. Penggunaan make up yang baru setiap kali take dan syuting, memakai peran pengganti jika itu adegan yang menurut anda berbahaya lalu anda juga meminta pelayanan kamar kelas nomor 1 jika kita melaksanakan pekerjaan di luar kota."


"Yes,  that's right." Jawab model tersebut.


Huft…. Brengsek nih cewek. Mentang mentang terkenal dia bisa sesuka hati begini, ntar gue pake juga loe, geram Adit yang hanya bisa ia lontarkan dalam hati.


" Baiklah nona Agatha Cynthia, kami akan  berusaha menyetujui persyaratan dari anda."


"No, bukan berusaha tapi harus. Kalian harus memenuhi setiap syarat yang sudah diajukan untuk dapat memintaku menjadi model di perusahaan kalian. Jika tidak aku pun tidak masalah."

__ADS_1


 Cih… sombong, ucap kembar 4 di sana. Ya saat Sita tengah tidak ada begini makan keempatnya akan ikut meeting bersama Adit dengan model yang akan mereka jadikan talent di perusahaan.


"Baiklah nona Agatha kalau begitu."


"That's good, dimana aku harus tanda tangan?"


"Di sini nona." Ucap Lia.


Lia yang memang membawa berkas surat perjanjian itu pun menyerahkannya kepada si model.


Agatha pun mengambil pena dna berkas yang diberikan lalu menandatanganinya. Namun setelah itu ia langsung mengambil hand sanitizer untuk membersihkan tangannya seolah olah di baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.


Lia sedikit terkejut namun dia langsung menetralkan wajahnya dan tersenyum sembari mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih nona Agatha." Ucap Lia.


"Baiklah nona terima kasih, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." 


"Ya… terimakasih."


Agatha hanya mau menerima uluran tangan Adit dan menolak bersalaman dengan yang lain. Tentu saja hal tersebut membuat kembar 4 itu sangat geram. Saat model itu keluar merekapun satu satu mengumpat.


"Huh… dasar sombong." Ucap Anjar.


"Anjriiiit sok kecakepan banget. Buset deh. Males banget lihatnya." Iman ikut berucap.


"Astagfirullah ada ya manusia modelnya begitu, ampuun deh." Kini Desi yang angkat bicara.


Sedangkan Lia di memilih diam dan hanya tersenyum melihat teman-temannya. Mereka bertiga tidak sadar jika bos mereka masih di ruangan yang sama.


"Ekhem…" Adit berdehem memberi tanda jika dia masih di sana.


Ketiganya baru sadar dan bersikap kikuk. Lagi lagi Lia tersenyum, senyum yang sangat manis bagi Adit. Adit memang tidak pernah memperhatikan karyawannya, dan baru kali ini dia melihat kalau Lia ini memang sangat cantik dengan hijabnya.


Cantik yang sangat berbeda. Gumam Adit.


"Apa kalian sering mendapati klien model begini?" Tanya Adit.


"Sering sih tidak pak, hanya kadang saja tapi yang modelan seperti nona Agatha ini baru kali ini. Kemarin bu Sita sudah mewanti wanti katanya ikuti saja syarat yang diajukan karena bagaimanapun nona Agatha adalah model kelas Atas yang kemampuannya tidak diragukan lagi, dan hal tersebut bisa menambah nilai jual perusahaan kita." 


Lia menjelaskan dengan sangat baik, namun Adit tidak terlalu peduli dengan penjelasan Lia. Ia malah menikmati suara Lia yang menurutnya sangat lembut dan membuat hatinya bergetar.


Akhirnya mereka berempat pun meninggalkan ruang meeting, hanya tertinggal Adit sendiri di sana. Adit masih terngiang-ngiang dengan senyum Lia.


"Eeeh buset… Apaan nih kenapa jadi keingetan tuh cewek. Tapi tuh cewek asli cantik dan suaranya lembut banget. Bahkan suara desah*n cewek cewek yang berada di bawah kungkungan ku nggak ada yang bisa ngalahin suara lembut Lia."

__ADS_1


TBC


Terimakasih readers untuk dukungannya. Selalu dukung Author ya biar semangat nulisnya. Happy weekend.


__ADS_2