
Sebulan berlalu semenjak kejadian Dani menyambangi Sita di perusahaan JD Advertising membuat Kai semakin mengetatkan pengawasannya. Hari ini libur semester Kai berada di rumah tepatnya di kamarnya mencoba mencari sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman beberapa hari ini.
Aku merasa ada suatu hal yang tidak baik akhir-akhir ini tapi apa ya.
Kai mencoba menjelajah di dunia maya. Melihat apakah ada berita yang berhubungan dengan keluarganya.
"MAJA ELEKTRONIK TERANCAM PAILIT KARENA PENGGELAPAN DANA."
"RUGI RATUSAN JUTA, MAJA ELEKTRONIK TERANCAM BANGKRUT."
Dua tagline berita tersebut cukup membuat Kai penasaran. Bagaimanapun dia tahu jika Maja Elektronik adalah perusahaan milik opanya. Ia kemudian mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. 30 menit, Kai akhirnya mengetahui penyebab berita itu muncul.
Lagi lagi koruptor, haish mengapa sih manusia itu tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Mana harus mengambil hak orang lain lagi. Investor?? Baiklah. Tidak ada salahnya kan berinvestasi, apa lagi ini adalah perusahaan opa Wira. Selama ini opa Wira juga sudah baik sama Kai.
Kai bermonolog, ia kemudian menuliskan sebuah pesan melalui surel ke perusahaan Maja Elektronik.
Dear CEO Maja Elektronik
I saw news about your company on the internet. I'm interested in investing. but i have a condition. I want the company's share of 30 %.
Do you agree? If yes, I will transfer the funds now.
(Mr. Sun)
Tring….
Di perusahaan Maja Elektronik Anton terhenyak mendapat sebuah surel dari Mr. Sun.
"Mr. Sun apa yang dia inginkan." Anton membaca isi pesan tersebut pelan pelan.
"Woaaah…. Ini beneran?... Tuan… tuan… tuan Dani."
Anton berteriak kegirangan memanggil Dani.
"An, apa sih. Kamu nggak tau aku lagi mumet cari investor." Keluh Dani.
" Masalah kita mungkin akan segera selesai tuan. Coba tuan lihat surel ini."
Anton menyerahkan tablet yang ia pegang dan meminta Dani membacanya. Mata Dani membelalak melihat isi pesan dari Mr. Sun.
"Woooh ini serius. Tapi 30 % saham ya. Tidak masalah lah. Dari pada kita bangkrut. Tapi mengapa dia tiba tiba membantu ya An. Dulu kita minta bantuan buat mencari Sita dia menolak keras. Tapi sudahlah tidak usah dipikirkan. Yang penting kita dapat investasinya. Balas An, bilang aja kita setuju dengan syarat yang diajuin."
"Tapi tuan, itu 30% saham. Apakah tidak apa-apa."
"Nggak pa pa An, yang penting kita selamat. Kita nggak ada waktu lagi buat cari investor yang lain. Ini pihak DCC udah ngedesak banget. Takutnya malah kerja sama kita diputus bisa merusak reputasi kita An."
Anton mengangguk paham dengan jalan pikiran tuannya. Ia pun kemudian menuliskan balasan surel tersebut dengan mata berbinar.
Dear Mr. Sun,
__ADS_1
We agree with the terms you provide. Thank you Mr. Sun for the investment.
(CEO Maja Elektronik)
Kai tersenyum membaca balasan surelnya, tidak akan ada yang menolak sebuah investasi saat mereka tengah berada di posisi yang sangat sulit.
Kai akhirnya mengetik nominal yang akan ditransferkan ke perusahaan daddy nya itu. Mungkin ucapan Rama waktu itu berhasil membuat hatinya melunak. Dia Tidak akan menaruh dendam untuk sang daddy. Bagaimanapun setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dan Kai mencoba berdamai dengan dirinya dengan cara memaafkan Dani Atmaja.
Tring…
5 menit kemudian sejumlah nominal masuk ke rekening perusahaan Maja Elektronik. Anton dan Dani membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya dengan jumlah nominal tersebut.
"An… ini tidak salah kan?"
" Tidak tuan, ini sangat benar."
"Alhamdulillah Ya Allaah, $ 200.000 ini sangat cukup."
Dani begitu bersyukur, ia tidak tahu lagi bagaimana jika orang misterius itu tidak muncul.
Di seberang sana Kai tersenyum puas. Ada kelegaan di hatinya. Memang benar ikhlas menerima sesuatu yang sudah ditakdirkan itu memang lebih membuat hati merasa tenang ketimbang terus menyimpan sebuah amarah dan dendam.
🍀🍀🍀
Di JD Advertising Sita tengah berada di ruangannya mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Semua tampak adem ayem tanpa ada keributan apapun terlebih saat semua karyawan JD Advertising tahu jika Sita adalah istri big bos mereka. Para karyawan selalu menunduk hormat dan tersenyum ramah setiap berpapasan dengan Sita.
Sita sedikit sungkan dengan tingkah mereka yang berubah drastis. Sita yang terbiasa mendengar kasak kusuk buruk tentang dirinya seakan akan merindukan momen tersebut. Aneh memang tapi begitulah adanya.
"Siang bu…"
"Mari bu Sita duluan."
"Mau makan siang ya bu, mari bu."
Semua terlihat sangat manis menyapa Sita. Sita hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
"Tck...dasar penjilat." Ucap Desi sewot.
"Ho ih, dulu aja ngejelek-jelekin yang bu Sita ini lah itu lah. Huh dasar manusia manusia labil." Imbuh Lia
Sita hanya tersenyum mendengar kedua gadis itu menggerutu sambil mencebikkan bibir mereka melihat ulah para karyawan JD Advertising yang begitu berubah. Pasalnya kedua gadis tau betul bagaimana Sita dibelakang selalu dibicarakan dengan buruk.
"Sudah ah tidak baik begitu. Kita berbaik sangka saja. Mungkin memang mereka sudah berubah." Ucap Sita memberi pengertian kepada Desi dan Lia.
Sampai di kantin mereka duduk mengambil bnagku yang paling pojok, Sita sangat suka di sana karena dekat dengan sebuah taman kecil.
"Oke… mari kita pesan. Anjar… jalan pesan." Perintah Desi.
"Ya nyonya, mau pesan apa." Jawab Anjar dengan nada malas.
__ADS_1
"Soto betawi." Ucap Lia.
"Aku gado gado aja deh." Desi memilih.
" Ehmmm apa ya. Bakso kali ah yang seger." Kini giliran Iman.
Sita masih diam belum menyebutkan keinginannya.
"Bu Sita mau apa bu." Tanya Anjar pada akhirnya.
"Itu aja Njar, tolong pesankan saya gado gado, bakso, sama soto betawi deh. Sama kayak punya yang lain tapi saya mau tiga sekaligus."
Ha……
Kembar 4 itu mengangakan mulutnya, mereka saling bertatapan heran dengan pesanan Sita.
"Ibu yakin mau makan semuanya.?" Tanya Desi.
"Hmmm yakin sih, buruan ya Njar. Udah laper nih."
Anjar mengangguk dan langsung berjalan cepat untuk memesan makanan mereka.
10 menit berlalu akhirnya makanan mereka pun datang. Dan benar saja Sita mulai memakan satu persatu yang dipesannya. Keempat orang yang duduk bersamanya dibuat heran oleh selera makan Sita yang begitu luar biasa itu.
"Anjar, kamu makan apa itu." Tanya Sita melirik isi piring Anjar.
"Ini bu, ini pecel ayam bu."
"Oh… boleh deh. Siapa yang udah selesai ya. Tolong dong pesankan saya satu."
Terkejut, hanya itulah yang mereka rasakan saat ini. Tapi semua tidak mau berkomentar. Desi yang sudah selesai makan beranjak dari tempat duduknya dan pergi memesankan makanan yang diinginkan Sita.
"Ini bu."
Sita mengambil pecel ayam yang diserahkan Desi lalu memakannya sampai habis.
" Bu apa bu Sita nggak kekenyangan." Tanya Lia."
"Alhamdulillaah, eh… kenapa memangnya."
"Bu Sita baru aja ngabisin 4 porsi makanan lho."
"Eh… masa. Astagfirullaah, kok bisa ya. Mungkin karena saya merasa laper banget kali ya, soalnya kan dari tadi wira wiri terus. Ya udah yuk balik. Masih banyak kerjaan. Siang ini saya yang traktir. Nih Njar tolong bayar ke kasir ya."
Keempatnya tersenyum, Sita memang sangat baik kepada mereka. Bukan hanya sekali ini Sita mentraktir mereka, tapi sudah sangat sering.
Anjar pun menerima uang tersebut dengan senyum lebar.
"Alhamdulillah, lumayan makan siang gratis. Semoga kebaikan bu Sita dibalas berkali kali lipat oleh Allaah."
__ADS_1
"Aamiin….."
TBC