
Tiba- tiba Kai pingsan tepat di depan semua orang.
" Kai…..!!!!"
Sita berteriak histeris. Ia langsung meraup tubuh putranya dalam pelukannya. Rama juga berjongkok mendekati putranya. Sita menangis, ia merasakan ada yang basah di tangannya. Sita mengangkat tangannya dan melihatnya.
" Darah… mas… kai berdarah mas…. Hiks.. Kai… Bangun sayang… please…"
Rama mengecek keadaan Kai. Dan benar saja Ada darah di punggung Kai. Q yang menyaksikan bocah itu tidak berdaya seperti kehilangan dirinya. Tumbuhnya limbung hingga Geoff menahannya.
Entah mengapa Ernest merasa sakit melihat Sita yang menangis histeris. Rama langsung menggendong Kai dan membawanya berlari ke arah mobil.
" Ron… cepat….!!!!!"
Roni tersadar dari keterkejutannya. Ia pun berlari menyusul Rama. Sedangkan Sita dipapah oleh Q yang berhasil menguasai dirinya kembali.
" Mari nyonya kita susul mereka. Ge… ambil mobilku."
Q melempar kunci mobilnya kepada Geoff. Semua orang berlari menyusul Rama yang sudah lebih dulu di depan.
" Sayang… bangun boy… Ayah mohon… jangan seperti ini…"
Rama menangis sepanjang jalan. Ia merasakan tubuh kai benar benar lemas. Ia lagi lagi mengingat saat pertama kali menggendong Kai yang baru lahir.
" Boy… hiks… please… Ayah mohon… tetap sadar nak… ayah mohon… "
Tiba di mobil yang akan dipakai. Tiba tiba ada sebuah helikopter yang datang.
" Kalian naiklah pakai itu." Teriak Ernest dari belakang. Rupanya itu heli milik Ernest. Tadi saat semua berlari panik Ernest menelpon seseorang untuk membawa helikopter kemari.
Rama mengangguk, ia masuk bersama dengan Kia, lalu Sita ikut masuk bersama Q. Kini ketiga orang itu dan Kai terbang menuju rumah sakit Mitra Harapan. Dan yang lainnya menyusul menggunakan mobil.
" Hallo mas… please darurat. Tolong siapkan operasi segera. Iya… ada pasien darurat… bukan aku..iya...aku nggak pa pa.... Kalian tunggu di landasan heli. Ya di atap RS Mitra. Aku akan sampai dalam 10 menit."
Rama melihat Q yang tengah menelpon seseorang. Q paham arti tatapan Rama.
" Aku menelepon suamiku. Dia dokter bedah terbaik disana. Maaf semua karena aku."
" Tidak Q… ini bukan salahmu.. Ini sudah jadi tulisan takdir. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri." Jawab Rama bijak.
"Betul nona. Saya berterima kasih sudah menyelamatkan saya."
Sita menjawab Q sambil terus menangis melihat putranya. Ia membuka cardigan yang dipakai untuk menahan darah yang masih keluar.
Ternyata tidak sampai 10 menit, Heli tersebut sudah mendarat di landasan pacu atap RS Mitra Harapan. Tampak tim medis sudah siap disana dengan alat medisnya.
Rama turun sambil menggendong Kai. Baju rama yang berwarna putih tampak menjadi merah karena darah Kai.
Dokter dan perawat membawa brankar untuk meletakkan Kai.
" Pak Rama, Bu Sita… ini… Kai… Astagfirullah.. Apa yang terjadi…." Dokter itu berkata sambil memeriksa keadaan Kai. Ia memasang sebuah oksigen dan memiringkan tubuh Kai melihat dimana letak lukanya. Dokter tersebut terkejut, karena itu adalah luka tembak.
Dokter yang di sana itu ternyata adalah dokter Dika. Dokter Dika terkejut melihat keluarga Rama dan Rama serta Sita juga terkejut melihat Dika. Berarti orang yang dikatakan Q suaminya tadi adalah dokter Dika, beginilah isi pikiran Rama dan Sita.
" Nanti aku jelasin mas. Sekarang please selametin Kai dulu. Ayo mas… Aku mohon."
" Baiklah silvya sayang, kau berhutang penjelasan padaku. Ayo tim… kita lakukan yang terbaik."
Tim medis pun langsung membawa Kai ke ruang operasi dengan lift khusus pasien. Sedangkan Silvya, Rama, dan Sita turun menggunakan lift biasa.
Sita masih terisak mengingat kondisi Kai. Ia melihat tangannya yang juga berlumuran darah.
" Sebaiknya kalian membersihkan diri dulu. Aku yakin Kai akan baik baik saja. Dia anak yang hebat."
" Apakah kau sudah lama mengenal putraku?"
__ADS_1
" Kalau mengenal Kai saya baru hari ini tapi kalau Mr. Sun saya sudah mengenalnya selama 8 tahun lamanya."
Sita bingung mendengar jawaban Silvya. Tapi dia tidak bisa berpikir kali ini. Yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah Kai.
Di ruang operasi Dika seperti dejavu saat menyelamatkan Silvya. Luka Kai kali ini persis sama seperti luka Silvya saat itu. Yakni sebuah luka tembak yang pastinya ada peluru di dalamnya.
" Entah apa yang kalian berdua lakukan. Yang satunya bocah yang sedari kecil aku kenal baik keluarganya dan yang satunya adalah istriku. Haish…. Kalian berdua berhutang banyak penjelasan kepadaku…. Okay guys… let's work… do the best… we save the patient."
" Nest…."
Dokter Dika mulai menyayat kulit Kai dan melakukan operasi tersebut.
" Bowie… retraktor...… irrigation…. Lakukan perlahan… jangan menambah lebar…"
Asisten dokter itu mengangguk.
" Penjepit…."
Dokter Dika mengambil peluru itu dengan perlahan. Dan menaruhnya ke dalam mangkok
Kluntang…..
" Bersihkan lalu simpan. Berikan padaku nanti saat selesai operasi."
Seorang perawat mengangguk.
" Bagaimana status pasien dok…" Dika bertanya pada dokter anestesi.
" Semua normal dokter Dika."
" Bagus… anak ini memang kuat. Lanjutkan…"
" Benang… nald voeder….."
" Biarkan saya yang menyelesaikannya dok."
Sang asisten dokter pun mengangguk patuh. Selama ini menjadi asisten yang membantu Dika di ruang operasi baru kali ini dia melihat dokter Dika yang tampak berbeda.
" Ok… finish… bagaimana dok… aman…?"
" Aman dokter Dika…"
" Terimakasih.. Semua sudah bekerja keras. Tolong pindahkan ke ICU dan pantau."
" Baik dokter. Anda sudah bekerja keras."
Dika keluar dari ruang operasi membuang sarung tangan dna jubah operasinya lalu keluar dari sana.
" Dokter Dika… Bagaimana Kai."
" Alhamdulillaah Operasinya lancar pak bu.. Kita akan memantau Kai sampai Kai sadar nanti. Kalian boleh melihatnya Kai di ruang ICU setelah Kai kami pindahkan."
" Alhamdulillaah ya Allah… terimakasih Dokter Dika."
" Sama sama pak… bu… saya permisi dulu."
Sita terduduk lemas di kursi. Dia merasa sangat lega. Rama juga merasakan hal yang sama.
" Mas apa mas tau aku tadi sangat takut."
" Sama sayang… mas juga ngerasa gitu."
" Aku nggak tahu mas apa yang akan ku lakukan jika terjadi apa apa dengan Kai."
Sita tertunduk. Air matanya kembali berurai. Rama dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Sita saat ini. Ia mengingat tadi saat menggendong Kai. Bahkan Rama menangis sepanjang jalan. Dunianya seakan berhenti saat ja merasakan tubuh lemah Kai.
__ADS_1
" Sayang… aku merasa seperti ada yang kurang…"
" Iya mas… tapi apa ya…"
Ada perasaan yang janggal di hati keduanya. Ada sesuatu yang mereka lupakan.
" Si kembar!"
" Triple A !"
Sita dan Rama berucap bersamaan. Mereka melupakan si kembar. Dan ini sudah malam juga.
" Ya Allaah mas… kita lupa si kembar… pasti mereka cranky…"
" Iya sayang… astagfirullah… kita juga tertinggal sholat. Ya Allaah… ayo kita sholat dulu. Nanti baru kita tanya orang rumah."
Sita dan Rama benar benar melupakan banyak hal. Selepas sholat keduanya beristighfar sebanyak mungkin dan menyesali kelalaiannya. Mereka memanjatkan doa untuk Kai dan memohon ampunan atas kelalaian mereka.
***
" Hallo Ale… apa triple A sudah tidur?"
" Hallo tuan. Sudah setelah mereka capek bertanya dimana tuan, nyonya, dan tuan muda berada dimana."
" Baiklah Ale… tolong jaga mereka ya. Aku dan Sita di rumah sakit. Kai terluka. Tapi jangan beritahu triple A nanti yang ada mereka rusuh minta ke sini."
" Innalillahi … tuan muda kenapa?"
" Panjang ceritanya. Pokoknya gitu aja. Oh iya Al… tolong siapkan baju Kai ya. Dan bawakan beberapa punyaku dna Sita."
" Baim Tuan. Semoga tuan muda segera sembuh."
Rama menutup panggilannya. Di rumah Ale langsung menyiapkan apa yang diminta temannya sambil terus berpikir apa yang terjadi dengan tuan mudanya.
Tok...tok...tok…
" Assalamualaikum…."
" Waalaikumsalam… eh Ron. Sebenarnya apa yang terjadi?"
" Aku masuk dulu Al… dan bolehkah aku minta minum. Tenggorokanku amat kering sekarang."
Ale mengangguk, ia pun berjalan ke dapur dna mengambil botol minum beserta gelasnya. Roni segera mengambil botol minum dari tangan Ale dan menenggaknya sampai tandas.
" Lah.. Gelasnya…"
" Nggak perlu Al… dah keburu haus aku."
" Sekarang… ceritakan padaku apa yang terjadi."
" Jadi tadi tuh kita di kantor… terus bos kecil ngirim rekamanan cctv… di sana terlihat nyonya bos di culik… nah… lalu……. Begitu ceritanya Al."
" Hmmm…. Aku mengerti."
Roni menatap Ale dengan tatapan aneh. Sepertinya wanita di depannya itu tidak terkejut dengan apa yang dilakukan Kai.
" Al… Apa kau mengetahui yang tidak aku dan bos ketahui?"
" Tidak.. Kalian kan tahu siapa tuan muda. Dan kita sama sama tahu apa yang dilakukannya."
" Iya juga sih."
Roni terdiam, apa yang dikatakan Ale memang benar adanya. Di adan Rama sudah tahu siapa Kai sebenarnya. Hanya saja mereka tidak sepenuhnya tahu kemampuan Kai yang sesungguhnya.
TBC
__ADS_1
Readers…. Itu adegan dokter Dika operasi, othor nulisnya sambil bayangin drakor medis. Biar dapat feel nya hehehe.