Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
84. Kabar Bahagia Untuk Eyang


__ADS_3

Acara makan yang sempat tertunda itu pun akhirnya selesai juga. Mereka pun segera kembali ke rumah sakit dan tak lupa membawakan makanan untuk orang tua Rama dan pak Priyo.


Di rumah sakit ternyata Adipati sudah dibawa ke ruang ICU untuk terus dipantau pasca operasi. Dokter yang menangani Adipati menjelaskan bahwa operasi berjalan dengan lancar meski tadi sempat ada serangan jantung sebentar namun dapat diatasi dengan sangat baik.


Hardi begitu terpukul menyaksikan sang bapak di ruang ICU dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.


"Pak, maafin Hardi pak."


"Sudah mas, lebih baik kita doakan saja bapak. Semoga bapak bisa melewati ini dengan mudah."


Hardi mengangguk, mengusap air matanya yang sudah terlanjur mengalir deras. Ia pun membenamkan kepalanya di pelukan sang istri.


"Yu, terimakasih ya dan maafin semua kesalahan bapak."


"Sudah mas, Ayu sudah memaafkan bapak sedari dulu. Mas tidak perlu meminta maaf. Kita lalui semuanya bersama sama."


Rama dan Sita ikut haru menyaksikan kedua orang tua itu. Bahkan Sita juga ikut meneteskan air matanya. Hormon kehamilan sungguh membuatnya sangat sensitif terhadap sesuatu hal.


Sedangkan Kai dia tetap dengan mode cool nya namun ia juga cukup prihatin dengan kondisi Adipati. Sebenarnya yang membuat Kai lebih prihatin adalah perlakuan anak dan cucu adipati yang sama sekali tidak memperdulikan Adipati padahal segala fasilitas diberikan oleh orang tua itu. Sekarang yang ada mereka terkena kasus, dan Kai sudah memegang  semua bukti tersebut. Ia hanya tinggal memberikannya kepada pihak berwajib.


"Eyang kakung, eyang putri jangan sedih lagi ya. Kita doakan kakek buyut segera sehat biar bisa gendong cucu cucu buyutnya."


"Uhhh anak manis, makasih yo le kamu memang yang selalu membuat eyang merasa bahagia. Tapi kakek buyut pasti udah nggak kuat gendong Kai."


"Eh… bukan Kai yang digendong. Tapi itu adik adik Kai yang di perut mommy."


Hardi dan  Ayu terdiam sejenak, mereka tengah mencerna ucapan Kai dan seketika binar bahagia memenuhi wajah mereka. Keduanya berjalan cepat ke arah Sita dan Rama duduk.


"Selamat ya nduk. Kok nggak ngasih tahu ibu." Ayu memeluk Sita  bahkan menciumi wajah Sita meluapkan kebahagiannya. Sita yang tidak tahu apa yang dibicarakan hanya terdiam. Namun tidak dengan Rama, ia mengerti arah ucapan ibunya itu.


"Maaf yah, buk, bukannya tidak memberi tahu. Tapi tadi belum nemu waktu yang pas."


"Ora po po Le, selamet yo. Bentar lagi kamu mau jadi Ayah dan aku bakalan nambah seorang cucu lagi hahaha."


"Maaf yah bu, bukan seorang tapi tiga." Imbuh Sita yang sudah paham apa yang dibicarakan.


"Apa… masyaallah sekaligus 3, kamu memang tokcer Ram hahaha."


"Ayah… jangan keras keras. Malu didengar orang."


Sita yang mendengar pembicaraan ayah mertuanya dan suaminya hanya tersipu. sl

__ADS_1


Sedangkan Kai kembali tersenyum puas karena dapat membuat senyum bahkan tawa bahagia di wajah kedua eyangnya itu.


Mereka pun akhirnya berbincang perlahan seputar kehamilan Sita yang masih snagat baru itu.


"Nduk tau gitu kalian nggak usah ikut kesini." Sesal Ayu.


"Ndak pa pa bu, Sita seneng kok. Itung itung refresing."


Ayu mengangguk mengerti, sedangkan Rama yang mendengarkan ucapan Sita malah tampak sedih.


"Lho, kamu kenapa mas." 


"Tadi pas kamu ngomong refreshing aku jadi merasa bersalah. Solanya aku belum pernah ngajak kamu kemana mana. Bahkan kita belum jadi honeymoon."


Sita tersenyum mendengar pernyataan sang suami. Sita memahami kesibukan suaminya. Karena bukan hanya Rama saja yang disibukkan dengan urusan pekerjaan, Sita pun begitu juga.


"Ram, ajak istri dan anakmu beristirahat. Di sebelah RS ini ada hotel kalian menginap lah di sana."


"Baik yah. Terus ayah sama ibu?"


"Kami akan disini menunggu kakekmu sadar."


Rama mengerti, ia lalu membawa Kai dan Sita ke hotel terdekat untuk beristirahat. Ia sudah melihat wajah lelah istrinya.


"Yes baby, mommy hanya sedikit lelah saja."


"Ya sudah sayang ayo kita segera istirahat. Kamu butuh banyak istirahat dengan kehamilan kembar mu itu. Ingat kata dokter kemarin."


"Iya mas. Iya."


"Mom, apa sebaiknya mom cuti saja bekerja. Biar mommy bisa banyak istirahat."


"Hehehe no baby mommy masih ingin bekerja. Mommy oke oke aja. Malah mommy happy dengan bekerja."


Sebenarnya Rama juga menginginkan hal yang sama seperti Kai, namun melihat istrinya begitu semangat ia menjadi tidak tega menyuruh Sita berhenti bekerja.


"Oke baiklah sayang tapi ingat kamu tidak boleh capek."


"Iya iya, kenapa mendadak kalin jadi over protektif begini. Don't worry mommy bisa menjaga diri mommy." Ucap Sita sambil mencium pipi Rama dan Kai bergantian.


"Oh ya Allaah mom, don't kiss me in public."

__ADS_1


Sita hanya terkekeh gemas melihat sang putra, sudah lama Kai tidak pernah berkata seperti itu.


🍀🍀🍀


Dani Atmaja yang tengah sibuk dengan urusan perusahaan lambat laun tidak lagi memikirkan Sita. Ia merasa mungkin waktunya baginya merelakan dan melepaskan apa yang sudah menjadi seharusnya. 


Kini Dani tengah melakukan persiapan final untuk pengadaan perangkat komputer dari Dewantara International School. Ia tampak sibuk mengecek satu persatu perangkat yang hendak dikirimkan.


"Tuan, apakah  sebaiknya anda istirahat dulu." Anton yang sedari tadi mengikuti terlihat sedikit khawatir, pasalnya Dani dari pagi belum juga berhenti beraktivitas.


"Tenanglah An, aku merasa senang dengan cara seperti ini. Dengan begini aku akna bisa melupakan Sita."


"Baiklah jika itu yang tuan mau. Tapi saya harap anda tidak memaksakan diri."


"Iya An, kau ini begitu bawel. Ih iya An sampai kapan kau akan terus bicara dengan formal padaku."


"Maaf tuan… maksudnya?"


"Sudahlah…"


Dani hanya tersenyum, sulit untuk membuat Anton menjadi sedikit santai saat berbicara dengannya. Anton selalu memposisikan dirinya sebagai anak buah. Padahal Dani ingin sekali berbicara kepada Anton selayaknya teman.


Wira yang sengaja datang menemui Dani merasa sangat lega melihat putranya tidak terpuruk seperti kemarin.


Wira merasa Dani sudah mau ikhlas  menerima apa yang terjadi saat ini.


"Dan… bagaimana apakah semuanya aman?"


"Alhamdulillah pa, mandali alias aman terkendali."


"Oh iya Dan, ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa mendapat uang secepat itu?"


"Itu pa, ada yang membantu kita dengan jaminan saham 30%. Dia hacker terkenal yang bernama Mr. Sun."


"Papa nggak ngerti Dan."


"Sudahlah pa. Intinya perasaan kita selamat dna kerjasama dengan DCC tetap lancar, itu sudah lebih dari cukup. Nah berhubung papa di sini ayolah bantu aku buat mengecek perangkat perangkat ini."


"Ya ya ya baiklah itung itung papa olahraga lah."


Alhamdulillah Ya Allaah, tuan Dani kembali seperti dulu lagi. Kembali ceria lagi. Batin Anton. Ia merasa sangat senang melihat Dani yang sudah cukup bisa kembali tersenyum setelah beberapa kejadian yang dialami.

__ADS_1


TBC


__ADS_2