Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
94. Abang Kai Sakit


__ADS_3

Kai sungguh frustasi mengetahui fakta yang terjadi. Ia sangat bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada Roni. Pasalnya orang yang menyebabkan Roni menjadi yatim piatu di usia yang terbilang sangat muda adalah orang yang dikenalnya.


" Apa benar yang menabrak orang tua om Roni adalah, Eyang Hardi?? Argh… aku sungguh pusing."


Hal tersebut membuat Kai tidak tidur semalaman sehingga membuat lingkaran hitam di matanya terlihat sangat jelas.


" Selamat pagi semuanya."


Kai menyapa semua orang yang sudah duduk di ruang makan dan dia sangat sukses membuat semua orang terkejut terutama Sita.


"Astagfirullah baby, kamu kenapa kamu sakit."


Sita langsung berdiri dari duduknya dan menjemput Kai yang masih berjalan dengan  gontai. Rama pun tak kalah panik, ia bahkan menggendong Kai dan menaruhnya di pangkuannya.


"Ayah… Aku bukan bayi yang harus dipangku."


"Ssst diam. Jangan kebanyakan protes."


Rama memeriksa suhu tubuh Kai menggunakan termometer yang diambilkan oleh Susi tadi. 


"38°, sudah hari ini ijin saja tidak sekolah. Kamu istirahat di rumah saja."


"Tapi yah?"


"Tidak ada penolakan, patuh! Sekarang makan sarapan mu dan minum obat."


"Ya ayah. Baik."


Akhirnya semua kembali memakan sarapannya. Namun Sita tetap khawatir dengan putranya itu. Kai jarang sekali sakit jadi Sita lumayan panik saat Kai sakit.


" Mas, aku ijin saja ya hari ini."


" Ya begitu lebih baik."


"Tidak usah mom, i'm ok. Nanti minum obat juga sembuh."


" No, ini keputusan mommy. Jadi menurut lah."


"Yes mom."


Huft… apes… apes… jika mommy di rumah aku nggak bisa kroscek lagi. Haishhh kenapa sih tadi malam nggak tidur barang sebentar, kan sekarang jadi panas. Semua orang jadi khawatir deh, sorry mommy, ayah, dan semuanya. Kai hanya bisa bergumam dalam hati. Kedua orang tuanya sudah sangat khawatir jadi lebih baik dia diam dan patuh.


Akhirnya Kai kembali ke kamar bersama Sita dan dengan digendong Rama.


"Oh ayolah Yah, aku bukan bayi. Aku masih kuat jalankan malu diliatin nenek, mbak Susi, sama onti Dewi."


"Sudah jangan banyak protes."


"Huft… baiklah."


Lagi lagi Kai menurut, ia pasrah digendong oleh Rama ke kamar dan Sita mengekor. Sampai kamar, Rama merebahkan tubuh Kai di ranjang lalu menyelimutinya.


"Sayang aku berangkat dulu ya. Kalau ada apa apa kabarin aja oke"


"Iya mas."


Sita mencium tangan Rama dan Rama balik mencium kening Sita lalu turun mencium perut Sita yang mulai terlihat menyembul meski hanya sedikit.


" Daah guys, ingat ya jangan buat mommy kecapekan. Ayah berangkat dulu. Jagain abang Kai biar cepet sembuh."


Rama mencium kening Kai lalu keluar dari kamar putranya. Sedangkan Sita masih berada di sana, ia ingin menemani Kai tidur di sebelah Kai.

__ADS_1


"Baby, lama ya mommy tidak tidur dengan kamu begini."


"Mom, please don't call me baby. Sebentar lagi aku akan punya tiga adik." 


Kai menjawab dengan sangat pelan matanya sudah terpejam. Efek obat rupanya sudah mulai terasa.


"Baiklah abang Kai, it's time to sleep. Have a nice dream, my baby."


Kai sudah tertidur pulas, Sita membelai wajah putranya itu. Air matanya tiba tiba menggenang. Ia teringat saat Kai masih berusia 2 bulan. Saat itu Sita pertama kalinya meninggalkan Kai untuk pergi bekerja. Rasanya sungguh sangat berat, tapi senyum baby Kai waktu itu menguatkan Sita untuk kembali bekerja.


Baby Kai waktu itu tidak pernah rewel sama sekali, ia sangat patuh dan penurut. Kai tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri.


Waktu berjalan sangat sebentar lagi bayi itu sudah akan berusia 7 tahun. Dan tidak mau lagi dipanggil baby.


Sayang, bayinya mommy, terimakasih sudah hadir di hidup mommy. Terimakasih sudah menjadi anak yang kuat dan mandiri. Terimakasih sudah menjadi cahaya mommy saat mommy berada di kegelapan. Terus seperti ini sayang, jadilah penerang untuk kami hingga nanti dan jadi pembimbing untuk adik adikmu nanti. I love you baby, I love you son.


Sita mencium kening Kai dan kembali tidur disebelah putranya itu.


🍀🍀🍀


Rama datang ke JD Advertising untuk bertemu dengan Adit membahas tentang majalah bisnis yang akan diluncurkan.


"Lho mas… kok sendirian, mbak Sita mana?"


" Oh iya hampir aku lupa, Sita izin ya hari ini Kai sakit."


"Apa? Keponakanku tersayang kenapa?"


"Tadi pagi bangun tidur badannya panas."


"Nggak ke dokter mas?"


"Sementara ini minum paracetamol aja, nanti kalau panasnya nggak turun baru bawa ke dokter."


"Tunggu!!!"


Roni berlari dari pintu lobby menuju lift dengan sekuat tenaga agar bisa masuk bersama Rama dan Adit.


Hosh...hosh...hosh…


"Capek Ron."


Roni hanya mengangguk mendengar pertanyaan Adit. Sedangkan Adit hanya tertawa geli melihat Roni yang kelelahan.


Tring….


Lift sampai di lantai paling atas, tempat dimana ruangan presdir berada.


"Gimana mas, apakah kita beneran sudah fiks untuk meluncurkan majalah bisnis nya." Tanya Adit memulai percakapannya.


"Aku sih yes… mungkin salah satu terobosan baru untuk JD Advertising juga. Sudah lama kita tidak membuat terobosan baru. Oh iya Dit tolong kasih tau divisi legal kalo Sita izin, biar mereka tidak menunggu." Jelas Rama.


"Siiaaap… hallo assalamualaikum Lia, ini tolong beritahu ke team kalau Bu Sita hari ini izin tidak masuk… ya… terima kasih. Waalaikumsalam."


Rama dan Roni merasa seperti baru saja terbang di awan mendengar Adit yang menelpon dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Ron… Adit lagi nggak salah makan kan?"


"Nggak tahu bos?"


"Apa jangan-jangan kepalanya kejedot terus jadi lupa ingatan terus berubah."

__ADS_1


"Bisa jadi Bos."


Adit yang tengah diledek oleh Rama dan Roni hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Sudah ah… lanjut lagi nih  terus apa yang mesti kudu disiapin."


" Salah satu nya…. Eh bentar Sita telpon."


Rama menghentikan pembicaraannya dengan Adit lalu mengangkat panggilan dari Sita.


"Sa…."


"Mas, pulang cepet, Kai demam tinggi. Dia menggigil."


"Apa… Kai menggigil. Ya ya… Aku langsung pulang. Please jangan panik jangan nangis oke…  coba dikompres dulu. Aku langsung jalan."


Rama sudah beranjak dari duduknya dan berlari keluar. Roni dan Adit mengekor.


"Mas, ponakan ku kenapa?"


"Kai demam tinggi, dia menggigil. Padahal tadi aku tinggal dia sudah akan tidur. Ron kemudikan mobil!"


Rama melempar kunci mobil kepada Roni, Roni langsung bergegas ke parkiran dan mengambil mobil milik Rama.


" Aku ikut ya?"


" Nggak usah Dit, ntar aja kamu nyusul ke RS. Aku langsung mau bawa Kai ke RS doain aja Kai nggak kenapa napa."


Adit mengangguk. Saat mobil datang Rama langsung masuk mobil dan meminta Roni mengemudi dengan cepat.


"Semoga bocah itu tidak kenapa-napa." Gumam Adit pelan sambil kembali berjalan masuk ke kantor.


***


"Kai...sayang…  anaknya mommy kenapa. Hiks.."


Sita dari tadi sudah menangis, baru kali ini dia melihat Kai begitu. Berulang kali Sita menghapus air matanya namun tetap jatuh juga. Bi Surti dan Susi membantu untuk mengompres dan mengganti pakaian Kai.


Tak..tak...tak..


"Sayang…. Kai kenapa, astagfirullaah."


Rama langsung berlari dan menyentuh kepala Kai. Dia pun langsung menggendong Kai dan membawanya keluar.


"Sayang kita bawa ke Kai rumah sakit, Sus tolong siapkan baju Kai, nanti minta sopir antar!"


Susi mengangguk. Rama sudah setengah berlari membawa Kai yang menggigil dan Sita mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk.


"Sayang, kamu tetap hati hati. Ingat jangan panik, dan ingat kamu sedang hamil."


"Iya mas… tapi Kai… hiks…"


" Mas tahu… selalu berpikir positif."


Keduanya sampai di mobil. Rama memangku Kai dan memeluknya, dan Sita memberikan selimut untuk menghangatkan Kai.


"Ron….!!!"


"Siap bos!"


Roni langsung tancap gas. Dia ikut sedih melihat bos kecilnya yang biasanya ceria itu terlihat lemah tidak berdaya.

__ADS_1


TBC


Gimana gimana readers kesayangan otor masih setia sama Kai kah? Terimakasih untuk dukungan readers semuanya ya. Jangan ketinggalan sawerannya hehehehe. Terimakasih semuanya, love you all.... Happy reading.


__ADS_2