
Rama mengantarkan Sita sampai di ruangannya. Tampaknya istrinya itu masih memikirkan perkataan guru Kai. Karena sepanjang perjalanan menuju ke kantor Sita hanya diam.
"Sayang… masih kepikiran perkataan bu guru tadi? Sudah.. Jangan dipikirkan. Kita harus bersyukur Allaah memberikan kita putra yang begitu pintar."
" Iya, mas Rama benar."
" Ingat, meskipun begitu Kai tidak pernah merasa pintar dia tidak sombong dia juga sama sekali tidak pernah pamer dengan kepintaran yang dimilikinya. Apa yang dilakukan di sekolah semata mata hanya membantu."
" Iya mas aku juga berpikir seperti itu tadi. Soal dia nanti mau sekolah dimana biar Kai yang mengambil keputusannya."
" Siiiip… itu baru istriku. Ya sudah aku tinggal ya. Hati hati kerjanya, jangan capek capek. Kabari kalau kamu capek atau kenapa napa oke."
" Oke… hati hati juga ya."
" Siappp.. Love you istriku…"
" Love you too pak suam."
Setelah Rama memastikan Sita memasuki ruangan ia pun kembali menuju parkiran. Namun pandangan matanya terhenti di sebuah mobil yang dikenalnya.
Rama memicingkan matanya, ia sedikit heran melihat mobil fortuner hitam itu sedikit bergerak. Sejenak Rama memiliki perasaan yang tidak enak. Ia tahu itu adalah mobil milik Adit.
" Ini bocah pasti di dalam lagi berkelakuan nggak bener."
Rama pun mendekat ke arah mobil milik Adit. Sebenarnya dia ingin acuh, tapi mengingat om Aji ayah dari Adit ia pun dengan terpaksa harus ikut campur.
Dok… Dok… Dok…
"Adiiiiiiiit…….!!!!!!"
Rama menggedor mobil Adit dengan kakinya dan meneriakkan nama Adit dengan sangat keras. Ia tidak peduli jika mobil tersebut lecet atau penyok atau bahkan orang orang akan datang mendengar teriakannya.
"Mampus… mas Rama. Shit… mengapa mas Rama bisa di sini jam segini."
Adit yang tengah berada di setengah perjalanan maju menarik lagi bendanya yang sudah terlanjur menegang itu. Sedangkan si wanita di dalam mobil sudah blingsatan.
"Sayang… kenapa di tarik. Aku sudah terlanjur mau."
" Diam brengsek. Pakai bajumu dan cepat pergi dari sini."
__ADS_1
" Tapi… "
" Tck… cepat. Atau aku nggak jadi memberimu tiket liburan ke paris."
" Oke oke.. Aku akan segera keluar."
Wanita itu kembali merapikan pakaiannya yang entah sudah seperti apa lalu keluar dengan sedikit berlari. Begitu pula Adit. Dengan pikiran carut marut dan siap di gebuk oleh sang kakak sepupu ia pun segera memakai kembali celana nya dan keluar dari mobil miliknya.
" Mas…."
Bugh….
Rama memukul perut Adit dengan keras hingga Adit terhuyung. Tubuhnya membentur mobil.
"Shhhhhh…." Adit meringis merasakan sakit di perutnya tapi Adit diam ia tidak mengeluh ataupun melayangkan protes terhadap Rama.
Bugh… bugh… bugh…
Rama kembali melayangkan bogem mentah. Kali ini wajah Adit yang jadi sasaran Rama. Lagi lagi Adit hanya diam, ia hanya mendesis merasakan sakit hasil karya dari Rama.
Meskipun lama tidak berlatih, ilmu silat Rama lumayan dan tenaga yang dihasilkan juga pasti lumayan besar, cukup membuat pipi Adit membiru. Sudut bibir Adit pun berdarah.
Tanpa bicara Rama menarik Adit dan memasukkan ke dalam mobil miliknya. Adit masih saja diam. Dia hanya patuh menerima setiap apa yang Rama lakukan.
" Ngopo… sakit… sukur… itu belum seberapa dibanding kamu dirajam."
" Mas…."
" Rasah (nggak usah) mas mes mas mes… aku sudah bosen dengan alesan mu itu. Alesan nggak mutu. Alesan norak."
" Tapi mas memang itu yang ku rasain. Mas bisa bilang gitu karena…."
Ckiiiit….
Rama menepikan mobilnya di bahu jalan.
" Karena opo… karena aku nggak ngerasain. Karena orang tuaku baik baik aja. Karena orang tuaku bukan orang tuamu… ngunu… ngunu kui sek arep mbok omongke ( begitu… begitu itu yang mau kamu katakan)."
Adit tertunduk dengan ucapan Rama. Sungguh dengan Rama, Adit sama sekali tidak bisa menjawab ataupun membantah.
__ADS_1
" Dit jangan kamu selalu melihat dari dirimu … tapi coba sesekali lihat dari sisi ayahmu. Memangnya om Aji nggak hancur ditinggal istrinya. Memangnya Om Aji tidak sakit diselingkuhi oleh istri tercintanya tapi kamu lihat pernahkah ayahmu itu main wanita, bahkan sampai saat ini dia tidak mau menikah lagi karena dia memikirkan perasaanmu."
Deg… Adit terhenyak. Ia lupa dengan sang Ayah. Ia lupa menanyakan hati sang ayah. Selama ini dirinya sibuk melampiaskan kemarahannya kepada sang ibu dengan berpetualang menjamah banyak wanita. Ia sungguh lupa kondisi mental dan hati sang ayah.
" Dit… jika om Aji tahu seperti apa kelakuanmu apa yang akan dia katakan. Tahukah kamu, kamu itu kebanggaanya. Kamu itu adalah satu satunya pegangannya. Turun….!!!!"
"Tapi mas… ini di tengah jalan tol. Ojo tego tego to mas."
" Ora urus…. Turun!!!!!"
Adit pasrah ia pun turun dari mobil Rama dengan kondisi yang sedikit berantakan. Rama pun melesatkan mobilnya meninggalkan Adit sendirian di sana.
Hufttt…. Anak itu kapan akan sadarnya. Aku sungguh dibuat pusing olehnya, kadang ingin sekali cuek dengannya. Tapi juga tidak bisa membiarkan dia terjerumus semakin dalam, haish... Rama bermonolog sambil melajukan mobilnya ke arah kantor JD Grup.
Adit sejenak memikirkan perkataan Rama mengenai sang Ayah. Ingin rasanya ia berubah namun entah mengapa itu sangat sulit. Bayang bayang perselingkuhan sang ibu selalu membuatnya marah dan jijik kepada ibunya sendiri.
Hah…. Sial, brengsek…. Wanita itu benar benar membuatku muak.
Adit merogoh saku nya. Beruntung ponselnya ada di sana.
" Haloo… To.. Jemput aku di tol xx… iya… cepet…. Hmmm… nggak usah banyak tanya… iya… buruan…"
Adit menghubungi asisten pribadinya yang bernama Doto. Ia menunggu di sana sambil berjongkok seperti anak hilang yang terpisah dari rombongan.
🍀🍀🍀
Rama masuk ke ruangannya dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Roni yang melihat sang bos baru datang langsung menyusul dan duduk di depan sang bos.
" Bos… kok baru sampai.. Kemana aja?"
" Habis tamasya."
" Eeh… tamasya kemana."
" Stop… Roni Syahputra kau diam dulu. Aku sedang sangat amat lelah pagi ini. Biarkan aku merem sebentar."
Roni sedikit terkejut. Sudah sangat lama sang bos tidak memanggil nama lengkapnya. Roni pun diam di sana dan benar saja tidak sampai 5 menit Rama tertidur. Dengkuran halus pun terdengar. Rama tertidur dengan begitubpulasnya.
Roni mengamati wajah Rama, tampak gurat kelelahan di sana. Roni pun memutuskan keluar dari ruangan Rama dengan perlahan. Tadinya ia ingin mengatakan kepada Rama kalau siang ini ada rapat. Namun sepertinya ia harus membatalkan rapat yang sudah dijadwalkan.
__ADS_1
Roni tidak tega membangunkan Rama yang terlihat begitu lelah. Kebetulan rapat siang ini juga bukanlah rapat yang urgent jadi masih bisa dijadwal ulang.
TBC