
hay readers kesayangan ane selamat membaca.
untuk silent readers, ayo dong tinggalkan jejak minimal like nya.
Alhamdulillah yang baca tiap harinya ribuan, tapi jejaknya tidak ada heheheh.
dukungan readers sangat berarti lho buat othor. apalagi othor newbie.
terimakasih yang sudah selalu dukung Othor. matursuwun.
monggo dibaca.
...****************...
Rama dan Roni kembali ke Kota dan langsung menuju apartemennya. Rama enggan berlama-lama di rumah ayahnya karena ada Ajeng di sana.
"Bos, napa sih buru-buru pulang aja. Belum juga makan masakannya budhe."
"Aku males disono ada ulet bulu anaknya tikus kantor. Mana udah kegatelan gitu lagi."
Roni tertawa melihat tingkah bosnya nya yang bergidik menyebut nama ulet bulu.
"Bos napa sih benci banget sama Ajeng. Apa karena bapaknya?"
" Hhhhh bukan karena bapaknya juga. Tapi emang kelakuan tuh cewek nyebelin. Dari jaman sekolah udah ngejar-ngejar aku terus. Bilangnya cinta suka padahal dibelakang cowok nya banyak."
"Oooh ceritanya cemburu."
"Idiiiih amit-amit deh. Beneran Ajeng ini tuh nggak sebaik kelihatannya. Dia itu cowoknya banyak dan yang jelas dia itu udah sering begituan sama cowok."
"Apa… masa sih." Roni terkejut dengan pernyataan Rama. Gadis yang terlihat anggun dan baik itu ternyata liar.
" Kelihatannya aja kalem tapi aslinya mah hiih… ayah sama ibu aja yang nggak tahu sifat aslinya. Kalau tau nggak bakalan deh minta aku buat deket sama dia. Udah ngapain sih ngomongin ulet bulu. Udah lanjut kerjaanmu. Inget ya malam ini harus kelar."
Roni lesu mendengar ucapan Rama, yang tadinya ia ingin merebahkan tubuhnya di sofa akhirnya dengan sangat berat hati ia bangun dan kembali membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Hufttt, makan makanan enak nggak jadi disuruh lembur iya, gerutu Roni.
Rama masuk ke dalam kamar dan menuju walk in closet untuk mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai.
Ia duduk di kursi sambil melihat ke luar jendela.
"Hahhhh sebenarnya ada apa antara ayah dan kakek. Mengapa ayah selalu menghindar jika membicarakan soal keluarga besar terlebih soal kakek. Ayah juga tidak pernah berkumpul dengan keluarga besarnya. Terakhir kali saat aku masih kecil dan Dewi masih bayi. Waktu itu juga baru saja sampai kita langsung pergi."
__ADS_1
Rama bermonolog, teka teki tentang keluarganya masih menjadi sebuah misteri dalam hati dan pikirannya. Ia pun merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lalu mencoba memejamkan matanya.
Tanpa sadar ia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya ia berada di sebuah danau dengan sebuah prau. Di sana ia bersama dengan Sita dan Kai namun tiba-tiba ada sebuah kapal besar yang mencoba menghantam prau kecilnya. Rama berusaha menjauh dengan menggunakan dayung dibantu Sita dan Kai, namun saat hendak sampai di pinggir danau tiba-tiba prau yang dinaikinya bersama Sita dan Kai terbalik dan byur Sita dan Kai tercebur ke dalam Danau. Rama berusaha menyelamatkan mereka berdua beruntung pinggiran Danau airnya tidak terlalu dalam namun tetap saja Kai dan Sita terluka.
"Syukurlah...syukurlah… Alhamdulillaah syukurlah."
"Bos… bos… bangun...bos…"
Roni mencoba membangunkan Rama tapi Rama belum juga membuka matanya namun mulutnya terus berucap kata syukur dan alahamdulillah.
"Bos… bangun…..!!!!!" Dengan terpaksa Roni mengguncang tubuh Rama dengan kuat.
"Hah…. Sita Kai… kalian baik-baik saja." Rama terbangun dengan peluh bercucuran.
"Bos… bos mimpi ya. Mimpi apa sampai ngelindur (mengigau) gitu" Tanya Roni khawatir.
"Astagfirullaah hal adzim… ya Allaah Ron. Aku mimpi. Mimpi itu nyata banget Ron. Mimpi Sita dan Kai."
"Ya sudah bos tenang. Mungkin hanya bunga tidur. Lagian ini mau magrib kenapa bos tidur. Nggka baik tidur saat senja gini."
"Bener Ron, mungkin ini hanya mimpi. Ya sudah siap siap sholat magrib yuk."
Roni mengangguk dan keluar dari kamar Rama. namun tidak dengan Rama, ia masih duduk merenungkan mimpi yang baginya tidak biasa. Entah kenapa Rama merasa seperti mimpi itu adalah sebuah pengingat buatnya. Tapi ia mencoba menepisnya ia berdos agar Sita dan Kai dilindungi.
Ya Allaah, semoga benar hanya mimpi. Lindungilah Sita dan Kai Ya Allaah. Aamiin. Doa Rama
JD Advertising
Sita tengah membereskan meja kerjanya, para anggota stafnya sudah pulang dulu. Sita memang pulang belakangan karena ada sedikit hal yang harus segera diselesaikan.
Tring….. Ponsel Sita berbunyi, ia melihat siapa yang menelpon dan ternyata Kai.
"Mom… apakah mommy lembur?"
"No baby, mommy hanya butuh menyelesaikan sedikit saja pekerjaan."
"Terus mommy sudah on the way pulang?"
"Sebentar lagi baby. Ini mommy baru selesai sholat magrib dan sedang beres-beres. Setelah ini langsung pulang."
"Oke mommy take care."
"Siap sayang. Daa muuaach."
__ADS_1
Sita menutup teleponnya. Dia tersenyum mengingat sang putra kadang terlalu protektif terhadapnya.
Kantor JD Advertising tampak sepi. Hanya ada segelintir orang yang terlihat.
"Sore menjelang malam bu Sita. Tumben bu sendiri. Kembar 4 nya mana" Sapa security
"Sore menjelang malam juga pak. Hahaha bapak bisa aja. Ia ada sedikit pekerjaan heheh. Kembar 4 sudah saya suruh pulang duluan. Ya sudah pak mari.'
Sita tersenyum lalu menuju tempat parkir, ia pun memasuki mobil dan mulai menyalakannya. Ia melajukan mobilnya membaur di jalan raya.
Malam itu jalanan sedikit macet dikarenakan banyak genangan setelah seharian hujan. Sita masih duduk santai di meja kemudinya. Tiba tiba ia merubah arah mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Sita memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Ia ingin membeli sebuah daypack untuk Kai sekolah. Pilihannya jatuh ke NaurE Outdoor.
"Tas Kai sudah lama, sudah waktunya ganti. Apalagi dia suka bawa tab atau chromebook milinya. Haih entah apa yang dilakukan anak itu. Kemana mana membawa batang tersebut. Untung gurunya tidak pernah komplain." Gumam Sita. Setelah menentukan pilihan ia pun membayar dan berjalan ke luar toko. Sita hendak menuju Foodcourt untuk membeli pizza. Saat berjalan Sita merasa dia diikut. Ia mencoba berjalan lebih cepat. Lalu menengok ke belakang, dan benar saja ada seseorang yang mengikutinya. Namun Sita berusaha tenang, dia tetap masuk kedalam gerai penjual pizza lalu memesan. Sita tengah mengulur waktu agar penguntit itu lengah.
Sesaat setelah membayar Sita memasuki supermarket. Ia tidak berbelanja hanya berjalan memutari tempat itu. Dan ketika waktunya tepat ia berjalan pelan sedikit berlari menuju ke security meminta security tersebut untuk mengantarkan ke parkiran.
Sampai di parkiran Sita merasa aman karena security tersebut masih menemaninya.
"Terimakasih pak dan maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa bu. Keamanan anda adalah kenyamanan kami. Nanti saya akan mengecek cctv jika memang ada penguntit seperti yang anda katakan kami akan menindaknya."
"Baik pak terimakasih banyak."
Security tersebut mengangguk. Bahkan dia menunggu sampai mobil Sita melaju.
Jauh dibelakang orang yang menguntit Sita sangat kesal karena barang buruannya lepas. Ia pun menggertakan giginya saking kesalnya.
Tring… sebuah telepon pun masuk. Orang itu mendengus.
"Bagaimana." Suara diseberang sana terdengar begitu mengintimidasi.
"Maaf bos, perempuan itu lolos."
"Bodoh… mengurus satu perempuan saja kau tidak becus."
"Maaf bos perempuan itu sangat cerdik dia meminta bantuan security untuk mengawalnya sampai ke tempat parkir."
" Persetan dengan semua alasanmu. Aku ingin kau dapat menghabisi nya secepat mungkin."
"Ba-baik bos."
__ADS_1
Orang tersebut menutup teleponnya. "Brengsek… sialan… awas kau lain kali kau tidak akan membiarkanmu lolos Sita…"
TBC