
" Lepaskan mommy ku!!!"
Kai mengacungkan pistolnya ke arah pria tua tersebut. Sedangkan Rama yang sedikit syok dengan adegan ini kembali menetralkan degup jantungnya.
Ya Allaah… Aku nggak lagi main film action kan. Kenapa berasa nonton film action di bioskop, Rama bergumam dalam hatinya.
" Apa yang anda lakukan pada istri saya. Apa anda mengenal kami.?"
Rama memberanikan diri bersuara. Sedangkan Q mencoba mengingat lelaki Tua tersebut. Ia merasa mengenal pria itu.
" Astaga… Sir Alexander. Bukankah anda Sir Alexander? Apa yang anda lakukan di sini. Lalu mengapa anda menculik ibu dari anak ini."
Pria tua yang bernama Alexander itu pun bangkit dari duduknya dan menatap Kai dengan lekat. Mata hazel itu membuatnya tergugu, air matanya luruh.
" Mirip… Sangat mirip dengan milikmu Camelia."
Alexander jatuh ke lantai, kakinya terasa begitu lemas. Kai menurunkan pistolnya lalu lari ke tempat Sita berada. Begitu juga dengan Rama.
" Mom… mom.. Wake up mom…"
" Sayang… bangun sayang… bangun…"
Sita mengerjapkan matanya perlahan. Ia melihat Kai dan Rama bergantian.
" Sayang…."
Sita memeluk Rama dan Kai bersamaan. Rama mengusap punggung Sita dan menghujani ciuman di wajah Sita. Kai pun memeluk Sita dengan begitu erat. Tubuhnya bergetar. Ketenangannya luruh sudah. Yang Kai rasakan saat ini hanya takut. Takut mommy nya kenapa napa.
" Mom… are you ok. Adakah yang sakit?"
" Sayang.. Kamu tidak apa apa kan?"
" Tidak apa apa abang, mas. Aku baik baik saja. Tapi dimana ini?"
Sita mengedarkan pandangannya lalu melihat seorang pria tua yang tengah tergugu duduk di kursinya. Tampaknya Q tengah berbicara dengan pria tersebut.
Q pun menghampir Kai dan menarik Kai menjauh sari Rama dan Sita. Kedua orangtua Kai hanya saling pandang melihat putranya berjalnaenjauh dari mereka.
" Mas… Siapa mereka. Kenapa Kai kelihatannya kenal dengan wanita itu."
" Nanti minta Kai sendiri yang menjelaskan ya sayang. Aku bingung jelasinnya."
Sita tambah tidak mengerti dengan jawaban suaminya itu.
Disisi lain Q berbicara dengan Kai. Q menjelaskan siapa itu Sir Alexander.
"Apakah begitu? Coba aku lihat dulu."
Kai meminta sebuah laptop kepada Q. Dan Q meminta benda tersebut kepada Jerry yang sudah terlihat sadar dari pukulan Kai tadi.
Kai fokus dengan laptop nya lalu kesepuluh jarinya menekan tuts keyboard tersebut dengan sangat cepat. 10 menit berlalu, dan Kai sudah menemukan apa yang dia ingin cari.
" Sir Ernest Felix Alexander Seorang militer inggris berpangkat jenderal. Pensiun di usia 55 tahun. Pernah memiliki seorang istri bernama Camelia Wijatmoko seorang wanita keturuanan jawa belanda. Namun tiba tiba istrinya hilang dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Lalu apa hubungannya dengan mommy ku Sir Alexander?"
Ernest yang mendengar data dirinya dibacakan Kai sungguh sangat terkejut. Pasalnya data dirinya termasuk sebuah rahasia dan Kai bisa mengetahuinya. Pria tua itu pun menatap Q seolah meminta penjelasan.
"Mister Sun sepertinya lebih baik kita pulang terlebih dahulu. Aku takut para bocah kembar itu menangis mencari kalian." Q mencoba membujuk Kai untuk menyelesaikan urusan ini nanti saja dan lebih baik pulang sekarang.
" Baiklah Q. But one question for you Sir. Apa kau yang menculik orang orang di bawah itu."
__ADS_1
" Bukan...aku tidak mengenal gangster itu. Aku hanya meminjam tempat mereka dan membayar beberapa dolar untuk ini. Aku tidak tahu menahu soal mereka."
" Baiklah untuk saat ini aku akan percaya padamu. Q.. Kau bawa Sir Ernest ke tempatmu dulu. Nanti aku akan ke sana."
" Hey mister, im Queen, mengapa aku harus mematuhi perintahmu!!"
" Oh c'mon Q. don't act like a kid."
" Ok ok, I will comply with your wishes."
" Good girl. Aku percaya suamimu akan menyukai gadis penurut sepertimu."
" Shut up Sun!!"
Semua orang dibuat bingung dengan interaksi Kai dan wanita yang bernama Q tadi. Tapi sejenak Roni seperti mengenali wanita itu.
" Sorry miss… apakah aku pernah melihatmu?"
" Sepertinya tidak."
" Aha… aku ingat. Aku pernah melihat fotomu di perusahaan Linford Transportation."
Roni sangat yakin wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang saat ini berdiri di depannya.
" Hahaha… Silvya kau ketahuan juga. Oke uncle, mom, dan ayah aku harap kalian semua merahasiakan kejadian hari ini oke."
Semua mengangguk mendengar permintaan Kai yang lebih seperti perintah. Meski begitu dalam hati Sita muncul banyak pertanyaan. Pertanyaan mengenai mengapa dia diculik, mengapa Kai bisa seperti orang lain saat berbicara dengan orang dewasa itu, siapa orang orang ini. Sungguh Sita sangat pusing.
" Sayang, sudahlah jangan dipikirkan nanti kita tanya Kai saat di rumah oke."
Sita mengangguk pasrah.
Mereka keluar dari ruangan itu bersama sama. Namun Geoff meminta mereka waspada.
" Oke tuan tuan dan nyonya, kita tetap harus waspada. Ada beberapa gangster yang ternyata masih belum dilumpuhkan."
Semuanya mengangguk patuh. Kai tepat berada di depan Sita, ia mengeluarkan pistolnya dan mengacungkan kedepan untuk berjaga jaga. Lagi lagi Sita terkejut, ia membekap mulutnya sendiri melihat tangan putra ABG nya memegang sebuah pistol. Namun Sita cukup tenang untuk tidak bertanya saat ini.
Sita berpegangan erat di lengan suaminya. Sungguh kejadian beberapa waktu ini merupakan hal yang sangat luar biasa dalam hidupnya. Namun tampaknya Sita belum bisa tenang karena ini belum berakhir.
Para gengster yang bersembunyi pun mengambil celah untuk bisa menyerang sekelompok orang yang telah mengobrak abrik bisnis mereka.
Dorr….
Suara tembakan terdengar nyaring mengenai tembok di belakang Kai. Jantung Sita, Rama, dan Roni berdetak hebat. Sita Kembali membekap mulutnya sendiri untuk menahan ia berteriak. Sedangkan Roni, ia berusaha menstabilkan lututnya yang terasa bergetar. Hanya mereka yang tampak ketakutan. Kai terlihat sangat tenang. Kai pun membidik orang yang menembak barusan.
Dorr….
Kai melepaskan tembakannya dan, bruk… tepat sasaran. Orang tersebut terjatuh dari ketinggian.
" Good job mr. Sun." Ucap Q singkat.
Sedangkan Ernest, ia tampak kagum melihat keahlian Kai. Bocah yang usianya masih muda itu begitu ahli menggunakan senjata api.
Kai meminta mommy, ayah dan Roni bersembunyi terlebih dulu. Q dan yang lainnya akan membereskan masalah gangster. Ketiga orang itu mengangguk. Mereka bersembunyi dibalik tembok. Karena tidak ada yang bisa dilakukan ketiganya. Ram dan Roni pun sama, mereka tidak memiliki senjata api untuk membantu.
Dor...dor… dor…
Suara tembakan saling saut menyaut. Berkali kali Sita terkejut. Air matanya jatuh, kali ini dia sudah tidak bisa membendungnya lagi. Rama tahu apa yang membuat istrinya itu menangis.
__ADS_1
" Sayang…dengarkan aku. Aku sangat tahu dan mengenal Kai. Putra kita itu sangat hebat."
" Aku hanya takut mas. Aku ternyata tidak mengenal putraku dengan baik aku merasa gagal jadi ibu."
" Stttt… tidak boleh bicara begitu. Kamu bisa mendengar penjelasan nya nanti ok. Jadi tenanglah. Jangan menangis. Nanti dia khawatir."
Sita menghapus air matanya. Apa yang diucapkan Rama benar. Dia tidak boleh membuat Kai khawatir.
Di luar tembok tersebut kelompok kai masih berusaha menghabiskan para gangster. Meskipun sudah tua, ternyata Ernest masih begitu lincah.
" Ge… apakah semuanya sudah habis."
" Aku rasa begitu Q."
" Bagus."
Mereka bernafas lega. Sebenarnya ini bukan hal yang sulit, namun karena ada warga sipil membuat mereka harus hati hati.
Namun Kai merasa ada seseorang yang masih mengawasi. Kai pun mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi gedung. Ia belum menemukan orang tersebut.
" What's wrong Mr. Sun?" Tanya Q
" Aku merasa masih ada seseorang yang mengawasi kita."
Q pun kembali melihat ke semua penjuru. Ia mengangguk menyetujui ucapan Kai.
" Kau benar… kita harus waspada."
Hebat, insting anak ini beneran sangat tajam hal yang aku lewatkan dia malah yang mengetahui nya lebih dulu. Aku yakin anak ini akan jadi orang yang luar biasa saat dewasa nanti. Batin Q.
Sebelum memutuskan dari gedung itu Kai dan Q memastikan sekali lagi bahwa situasi sudah aman.
" Baiklah ayo kita keluar tapi tetap harus waspada. Lindungi warga sipil ok."
" Baik."
Q memberi instruksi yang dipatuhi semuanya termasuk Ernest dan Jerry. Rama, Sita, dan Roni pun mengikuti arahan untuk berjalan keluar gedung. Semuanya tampak lega saat saat bisa berhasil keluar.
Ternyata hari sudah gelap. Kai lagi lagi merasa dirinya diawasi hingga sebuah suara tembakan terarah ke Q dengan secepat kilat Kai mencoba mendorong Q dan melepaskan tembakannya ke orang tersebut.
Dor
Dor
Semua orang terkejut, begitu juga Q yang tubuhnya didorong Kai dengan kuat. Sepertinya orang tersebut berhasil ditembak oleh Kai. Kedua anak buah Q langsung mendatangi penembak itu dan menemukan ia sudah tewas.
" Q… are you ok. Sorry aku reflek mendorongmu."
" No problem, i'm ok. Thank you Mr. sun."
Kai tersenyum melihat Q tidak apa apa, namun tiba tiba Kai pingsan. Tubuhnya terjatuh di depan semua orang di sana.
Bruk….
"Kai…….!!!!!!"
TBC
Maaf ya jadi melipir ke genre action dikit.. Buat bumbu biar rasanya menteb heheh. happy reading readers...
__ADS_1