Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
65. Malam Indah


__ADS_3

Sita keluar dari kamar Kai dan menutup pintu dengan pelan. Kai tertidur dengan pulas . Sekarang waktunya ia kembali ke kamar, bukan kamar miliknya sendiri melainkan kamar bersama dengan Rama suaminya.


Setiap langkahnya menuju kamar jantungnya terus memompa dengan cepat. Nafas Sita pun tak beraturan. Banyak kekhawatiran yang ia pikirkan.


"Duh, kalau mas Rama meminta hak nya sekarang bagaimana ya. Kalau menolak dosa tapi kalau tidak menolak kau masih belum siap." Sita bergumam sepanjang jalan menuju kamar mereka.


Ia memperlambat jalannya karena kamarnya dan Kai sama sama di lantai 2. Setelah dia terbangun dari koma Rama memang langsung memintanya untuk tidur di kamar atas. Kamar yang sudah Rama persiapkan untuknya dan istrinya. Dan Sita lah yang menjadi istrinya.


Ceklek….


"Sayang kenapa lama sekali." Ternyata Rama sudah berada di atas tempat tidur menyambut kedatangannya. Rama bersandar pada headboard sedang membaca buku.


Glek… Sita menelan salivanya dengan kasar. Rama tampak mempesona dengan kacamata yang ia pakai untuk membaca buku. Sejenak Sita tersihir oleh ketampanan Rama.


"Maaf mas tadi, nemenin Kai sampai tertidur dulu."jawab Sita cepat.


" Oh….Sini. Mendekatlah." Rama menepuk kasur di sebelahnya meminta Sita untuk mendekat ke sana.


Sita berjalan dengan pelan lalu naik ke ranjang dan duduk di sebelah Rama dan ikut menyandarkan punggungnya di headboard.


Rama melepas kacamatanya, menaruh buku yang ia baca dan kemudian merangkul pinggang Sita agar lebih mendekat.


Wajah Sita seketika terasa panas merasakan tangan Rama yang mendarat di pinggangnya, beruntung lampu kamar hanya temaram jadi tidak terlihat oleh Rama.


"Ta, apakah besok kamu memang sudah harus berangkat kerja."


"I-iya mas. Kasihan anak-anak pasti sangat kerepotan."


" Apa kamu tidak kasihan terhadapku."


"Eh… mas kan bekerja juga."


Huft… Rama menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia tidak bisa menghalangi Sita untuk bekerja lagi. Dia sudah berjanji bahwa dia akan menghormati segala keputusan Sita.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Tapi aku akan minta imbalannya sekarang."


Rama mengusap pinggang Sita lalu naik ke punggung. Tangan yang satunya kini memegang dagu Sita dan mengarahkan tepat berhadapan dengannya. Rama memandang lekat mata Sita. Cantik, kata itulah yang keluar dari mulut Rama. Sita tersipu. Pandangan Rama turun ke hidung lalu ke bibir. Bibir Sita yang ranum membuatnya ingin segera melahapnya. Namun Rama tidak mau tergesa ia meminta izin dulu terhadap istrinya itu.


"Apakah boleh?" 


Sita mengangguk. Mendapat lampu hijau dari sang istri Rama langsung menyambar bibir Sita dan melum*tnya. Sita pun membalas cium*n Rama, ia mengalungkan tangannya dileher Rama. Mereka saling menyes*p dan bertukar saliva. Cium*n yang lembut itu menjadi semakin menuntut. Rama mulai menyusupkan tangannya kedalam baju Sita mencari sesuatu yang ada di sana.


Rama mulai menelusuri tubuh Sita setiap inci demi inci dan jengkal demi jengkal. Ia ingin membuat malam pertama mereka indah dan berkesan. Rama juga ingin menghapus kenangan masa lalu Sita terhadap mantan suaminya. sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya Rama meminta izin kepada Sita terlebih dahulu. Ia takut kalau Sita belum siap dan malah berakhir dengan memaksa


"Sayang, apakah kamu sudah siap. Jika Belum aku akan menunggu, aku tidak mau memaksamu."


Sita hanya mengangguk, nafasnya sudah tersengal. Rama pun tersenyum, "Bismillah, Allahumma jannibnaasy syaithaana wa jannibi syaithoona maa rozaqtanaa".


Setelah melafalkan doa Rama perlahan membuka semua kain penutup yang membungkus tubuh Sita dan juga tubuhnya. Kini keduanya sama sama polos. Rama menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Rama kembali menyesap bibir Sita, lalu turun ke leher dan sampai ke bakpao milik Sita. Rama memainkan lidahnya di sana, ia menyes*p dan mengulum choco chip yang berwarna merah muda itu. Sita kembali melenguh. Rama senang mendengar suara merdu istrinya itu.


Bibir Rama terus turun ke bawah, menelusuri perut Sita dan ke tempat yang akan ia tuju. Ke lembah yang memang akan ia singgahi. Ia menundukkan kepalanya di sana dan memainkan lidahnya.


"Sayang apakah kamu siap. Aku berjanji aku akan selalu menjagamu. Kita akan menua bersama."


Sita mengangguk dan tersenyum, air matanya mengalir. Bukan karena sedih namun karena ia bahagia.


Rama kembali tersenyum, ia membelai wajah Sita. Anaconda miliknya itu sudah siap memasuki gua yang berada di lembah.


Rama mulai mengarahkan juniornya ke tempat yang sudah sangat basah di sana. Susah.. Itulah yang pertama ia rasakan. Rama tidak mau gagal ia mencobanya lagi.


Berhasil, percobaan kedua kali juniornya berhasil bermukim dengan sempurna. Ia berhenti sejenak. Dirasa sudah nyaman Rama pun menggerakkan pinggulnya.


"Ah…. Sayang panggil namaku." Ucap Rama sambil mempercepat temponya.


Kedua insan yang berada dibawah selimut itu tengah memadu kasih, mencoba menyalurkan rasa cinta dan hasrat dan nafs* yang halal kepada kekasih halalnya.

__ADS_1


Keduanya mencapai puncak bersama Rama ambruk di tubuh Sita dengan juniornya yang masih berada di tempat bermukimny tersebut. Sita merasakan ada sesuatu yang hangat menjalar di dalam rahimnya.


"Arsita Ayuningrum, aku mencintaimu sangat. Terimakasih untuk malam yang luar biasa ini."


"Aku juga mencintaimu Raden Rama Hadyan Joyodiningrat."


Rama  tersenyum ia menarik juniornya dari tempat bermukimnya. Ia mencium kening Sita dan menarik selimut sampai leher. Ia memeluk Sita dengan posesif.


"Auch…." Rama meringis.


Sita yang mendengar suaminya mendesis kesakitan reflek duduk tanpa sadar ia tidak mengenakan apapun. Hal tersebut malah membuat mata Rama membola sempurna dengan senyuman yang begitu lebar. Rama hendak mendekat ke arah Sita namun Sita dengan cepat menutupi bagian atas tubuhnya itu.


"Astagfirullah " Sita menarik selimut dan menutupi dadanya.


"Biarlah seperti aku suka melihatmu begitu. Cantik indah pula"


"Mas udah deh jangan mesum…. Tadi kamu kenapa."


"Dadaku nyeri."


"Ya Allaah mas. Kamu tidak boleh beraktivitas berat dulu. kata dokter kan begitu."


"Tenang saja aktivitas tadi malah membuatku sehat kok. Bahkan kalau diulang lagi aku masih sanggup."


"Mas cukup. Kamu belum pulih sepenuhnya juga."


" Ya ya ya. Patuh apa kata ratuku." 


Sita mengambil baju yang dilempar oleh Rama ke sembarang arah lalu memasuki kamar mandi. Rama tersenyum melihat istrinya yang berjalan ke arah kamar mandi menutupi bagian tubuhnya dengan baju.


"Ya Allaah jadi seperti ini kenikmatan duniawi. Rupanya memang sangat indah rasanya aku akan cepat sehat jika menikmatinya setiap malam." Rama tergelak oleh kata kata nya sendiri yang menurutnya absurd.


TBC

__ADS_1


Maaf ya readers kalo kurang ngena… haha othor bingung mau gimana menulisnya  dahlah readers bayangin sendiri aja ya. dan ini baru aja di revisi soalnya di tolaak berkali kali gengs. padahal otor nulisnya masih standar banget dan nggak ada apa apa nya dibanding yang lain-lain.


Happy reading...


__ADS_2