
Rama menyelinap keluar kantor meninggalkan Roni yang masih bersungut sungut kesal karena ulahnya. Ia kali ini mau menjemput Sita untuk pulang bersama.
"Sttttsss… kalau Roni tanya, bilang aku sudah pulang. Ok.!"
"Ok bos, siap."
Rama pun berlari kecil segera meninggalkan lantai tempat pemimpin tertinggi JD Coal itu. Ia tidak mau mendengar ocehan Roni yang pasti akan merepet panjang.
"Hahahah, ternyata seru juga ngerjain Roni. Nanti kalau ngambek tinggal tambahi bonusnya pasti kicep." Monolog Rama yang sudah berada di kursi kemudinya.
Bremmmmmmm
Rama melajukan mobilnya menuju JD Advertising untuk menjemput istri tercintanya.
Sedangkan di toilet Roni masih berusaha menghilangkan coretan coretan spidol yang dibuat oleh Ram. Sungguh ia sangat kesal, tapi Roni pasrah. Roni tau betul jika bosnya begitu kelewatan dalam mengerjainya berarti suasana hatinya saat tidak baik baik saja.
"Huft… kali ini aku akan memaafkanmu bos." Gumamnya.
Roni akhirnya keluar dari toilet dan kembali menemukan dirinya sendirian. Pasti si bos udah balik, pikirnya.
Ckiiittt…
Rama sampai juga di JD Advertising. Ia berjalan memasuki lobby perusahaan. Semua orang yang berpapasan memberikan hormat dna menyapa nya ramah. Rama hanya mengangguk dan terus berlalu menuju ruangan Sita.
"Sayaaang… assalamualaikum."
"Waalaikumsalam mas, eh tumben masih sore gini udah pulang."
"Aku pengen pulang cepet. Yuk pulang "
"Tapi mas,...."
" Ayuk… pleaseee…."
Sita mengalah, entah mengapa ia merasa Rama sedikit lebih manja daripada biasanya.
"Anak anak, saya balik dulu ya. Kalian juga pulang saja. Kita lanjutkan besok."
Kembar 4 tersenyum dan mengiyakan. Mereka pun ikut senang jika hari ini tidak jadi lembur.
Rama dan Sita jalan berdampingan, Rama menggenggam tangan Sita posesif. Ia sengaja ingin menunjukkan ke semua orang bahwa Sita adalah istrinya.
"Mau kemana dulu sayang?" Tanya Rama.
"Terserah, emang mas mau ada yang ingin dibeli atau pengen sesuatu."
"Aku kepengen makan empek-empek nih, temenin yuk."
"Ehmmm boleh deh lama juga nggak makan mpek mpek."
"Siiippp lets go."
Rama mengemudikan mobilnya menuju rumah makan khusus mpek-mpek. Makanan khas kota yang mempunyai julukan Bumi Sriwijaya itu memang enak. Dibuat dari ikan tenggiri dan kuah yang disebut cuko bercita rasa pedas asam membuat lidah bergoyang.
__ADS_1
"Oke sayang kamu mau pesan apa." Tanya Rama setelah sampai di tempat tujuan.
"Mas dulu aja deh, apa emangnya?" Sita balik bertanya.
"Aku mau empek-empek kapal selam aja."
"Oke, kau mau kapal selam, lenjer, dos, adaan, sama lenggang."
Rama terkejut mendengar pesanan sang istri.
"Sayang itu yang mau dibungkus buat orang rumah?"
" Bukan, itu mau aku makan di sini."
"Apa? Memang kamu habis, emang nggak kebanyakan?"
Mendengar pertanyaan Rama wajah Sita menjadi muram tampak awan mendung di matanya. Rama pun panik, ia mengalah dan membiarkan sang istri memesan itu semua.
Ini kenapa jadi sensi gini, padahal aku kan cuma tanya, emang habis? Eh dia udah surem gitu mukanya mau nangis, haduuuh, batin Rama.
15 menit berlalu, akhirnya pesanannya pun sampai di meja mereka. Mata Sita berbinar dan mulai makan semua jenis empek-empek yang dipesannya itu satu persatu hingga habis tak bersisa.
Rama melongo, mulutnya menganga melihat selera makan sang istri yang begitu besar. Padahal biasanya Sita makannya sedikit, ini porsinya lebih lebih untuk dua orang. Tapu Rama bungkam, dia tidak ingin melihat wajah mendung istrinya lagi ketika ia mempertanyakan porsi makan istrinya.
"Sudah sayang?"
"Sudah mas, yang dibungkus juga sudah. Yuk pulang."
"Apakah istriku itu dari pagi tidak makan, mengapa dia bisa menghabiskan makanan sebanyak itu?" Gumam Rama.
🍀🍀🍀
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Sita sudah tidur terlelap. Rama merasa istrinya itu sedikit aneh. Tidak biasanya setelah isya' Sita langsung tidur. Namun Rama tidak mau berpikir yang bukan bukan. Mungkin Sita memang sedang kecapekan. Ram apun membenarkan selimut Sita dna mengecup kening Sita sekilas.
Rama berjalan keluar kamar dengan perlahan membawa sebuah tablet miliknya, mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang perusahaannya hadapi.
"Huft…. Apakah harus menjual aset. Tapi itupun tidak cukup." Gumam nya pelan.
Tok tok tok…
Seseorang mengetuk pintu rumah Rama. Kang pomo yang masih terjaga sedikit berlari dari arah dapur untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum kang?"
"Waalaikumsalam. Eh mas Roni, masuk mas den Rama masih belum tidur itu." Kang Pomo paham Roni datang pasti hendak mencari Rama.
"Siap kang terimakasih."
Roni berjalan memasuki ruang keluarga, disana Rama tampak fokus dengan tablet nya.
"Bos."
"Eh kamu Ron, kupikir siapa malem malem gini namu."
__ADS_1
"Itu bos ,soal…"
"Iya aku tahu, aku juga sedang mikir itu Ron. Aku kepikiran buat jual aset Ron. Tapi entah cukup atau nggak."
"Bos, aku ada sedikit tabungan, tapi entah cukup atau tidak."
"Ya elah Ron, nggak usah sampai segitunya. Aku yakin kita bisa menghadapi ini. Yang jelas aku nggak bakalan buat minta tolong ke kakek tua itu. Aku yakin ini bagian dari rencana liciknya."
Roni terdiam, ia merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu permasalahan sang bos, namun hal ini memang tidak sesederhana itu. Dan itu semua diluar kuasa Roni.
Plak…. Rama menepuk punggung Roni pelan.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Dengan kamu berada disampingku dan selalu mendukungku itu bantuan yang lebih dari cukup."
Roni terkejut, bosnya itu dapat membaca pikirannya. Tanpa mereka sadari sosok kecil di belakang mereka mendengarkan dan memperhatikan apa yang mereka tengah bicarakan.
"Something wrong Yah?"
"Hey boy, you haven't slept yet?" Rama terkejut melihat Kai berada di belakangnya.
"Kai haus, jadi turun ke dapur buat ambil minum. Tumben om Roni kesini malem malem. Apakah ada sesuatu yang gawat?"
"No boy, om hanya bisa di apartemen sendirian. Jadi kesini deh." Jawab Roni asal. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kai terlalu cerdas, Roni khawatir bocah itu ikut memikirkan permasalahan orang dewasa.
"Yah, om aku dengar apa yang kalian bicarakan. Mungkin aku bisa membantu"
Kedua orang dewasa itu saling pandang, mereka merasa gemas kepada Kai. Tapi mereka tidak ingin tertawa, mereka takut itu menyinggung Kai. Mereka tahu niat baik bocah itu ingin membantu, namun hal ini tidak bisa dibantu oleh anak yang usianya saja belum genap 7 tahun.
Melihat reaksi kedua orang dewasa itu Kai sedikit mendengus. Ia pun kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
"Bos, Kai ngambek. Mungkin dikiranya kita ngeledek dia."
Rama terdiam, ia setuju dengan ucapan Roni. Rama pun berniat menyusul Kai ke kamarnya. Baru saja Rama ingin beranjak dari tempat duduknya Kai sudah turun membawa tablet miliknya.
Rama dan Roni lagi lagi saling pandang, mereka bertanya tanya apa yang sedang bocah itu lakukan.
Kai duduk di antara Rama dan Roni. Ia membuka tab nya dna menunjukkan sesuatu ke mereka berdua.
"Apakah segini cukup."
Glek… Rama seperti kehabisan nafas. Ia merasa jantungnya lepas dari tubuhnya. Otaknya ngehang bagai perangkat komputer yang dipenuhi virus.
Tak berbeda jauh dengan Rama, Roni pun merasakan hal yang sama. Ia seperti telah berpindah ke dimensi lain saat melihat apa yang tertera di tablet milik Kai.
"S-sat-tu j-jut-ta d-do-dol-lar." Ucap Rama dan Roni bersamaan.
TBC
Biasa readers 2 bab ya hehehe. Terimakasih untuk dukungan readers tercinta. Terus dukung Otor dengan like, komen dan jangan lupa sawerannya hihihi.
Semoga Readers semua selalu sehat dan bahagia.
Matursuwun 🙏🙏🙏😊😊
__ADS_1