Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
45. Ungkapan Perasaan Rama


__ADS_3

Mauren….!!!!" 


Sita menutup mulutnya dengan kedua tangannya, badannya sedikit terhuyung. Beruntung Rama berada di samping Sita jadi bisa menahan bobot badan Sita yang nyaris jatuh.


"Kamu mengenalnya.?"


"Dia mantan istri mas Dani."


Rama mengerti, sebenarnya dia juga tahu kalau mauren mantan suami Dani Atmaja.


"Heh,...dasar wanita kampungan. Heran aku mengapa kau selalu beruntung. Lihatlah pria tampan kini berada disampingmu." Ujar Mauren dengan senyum sinisnya.


" Ren salah apa aku sama kamu. Sampai kau begitu membenciku."


"Salahmu karena kau hidup didunia ini."


"Tutup mulutmu, Ron bawa dia pergi. Jangan berikan ke polisi dulu. Aku akan mengurusnya sendiri." Ucap Rama murka. Ia sangat tidak suka melihat Sita diperlakukan begitu.


Roni mengangguk patuh lalu membawa mouren pergi dari sana. Sedangkan Rama membawa Sita ke mobil dan kembali ke apartemen. Entah apa yang dipikirkan dan dirasakan Rama, apa yang dilakukan Mauren tidak sesederhana itu. Rama berpikir ada orang lain dibelakang Mauren, tapi siapa. Hal tersebut masih membuat Rama belum berani melepaskan Sita untuk kembali ke rumahnya.


"Jangan dipikirkan. Sudah tidak apa-apa."


"Iya mas, aku nggak habis pikir aja. Aku nggak pernah menyalahi dia. Malah dia yang terang-terangan merebut suamiku dulu."


"Apa, jadi kamu ditinggalkan suamimu karena berselingkuh?"


"Iya, maaf mas bukan bermaksud curhat."


"Eh nggak pa pa tenang aja."


Sampai di apartemen Kai langsung menghambur arah Sita untuk memastikan mommy nya baik baik saja.


"Are you ok Mom."


"Y baby, i'm ok. Beruntung ada uncle yang tolong Mommy."


"Thank You uncle." Ucap kai tersenyum, semua sesuai dengan pengaturannya.


"Sama sama boy, jaga mommy mu oke. Uncle ada urusan sebentar. Ta. Aku akan keluar sebentar."


"Iya mas terima kasih."


Rama tersenyum lalu kembali pergi untuk menemui Roni.


***


"Mana wanita itu Ron?"


"Di sana bos, ayo."


Roni mengarahkan Rama untuk menemui Mauren. Di sana mauren duduk di sebuah Sofa dengan tangan terikat. Sebenarnya Rama melarang tapi dari tadi wanita itu terus memberontak sehingga Roni membuat keputusan untuk mengikatnya.


"Maaf bos saya harus menyuruh mereka mengikat wanita itu karena dia terus memberontak."


Rama mengangguk dia menarik sebuah kursi lalu duduk di depan Mauren.


"Katakan siapa yang menyuruhmu."

__ADS_1


"Hahaha ternyata tuan muda dari keluarga joyodiningrat ini tidaklah bodoh. Siapa yang menyuruhku kau nggak perlu tau."


"Oh gitu… baiklah. Kamu akan terus berada di sini dan lama-lama kau akan membusuk dengan penyakitmu itu."


"Heh tau apa kau. Siapa yang bilang aku sakit. Dasar badjingan."


"Ck ck ck. Jangan  begitu arogan, kau harusnya paham dengan dirimu sendiri. Kau yang begitu liar berhubungan dengan banyak pria apa kau tidak tahu terkena penyakit menular." 


Sebenarnya Rama asal bicara, ia tak benar tahu mauren sakit. Tapi bagi mauren apa yang dikatakan Rama itu begitu menakutkan, karena dia merasa badannya akhir-akhir ini tidak sehat dan area sensitifnya terasa gatal dan panas.


"Bagaimana, apakah aku berkata benar. Kuberi kau penawaran. Kasih tau siapa yang menyuruhmu dan kau akan aku bebaskan."


"Apakah benar yang kau katakan?"


"Tentu saja (tidak)" Kata tidak Rama ucapkan dalam hati. Dia tidak bodoh untuk melepaskan kriminal seperti mauren.


"Aku tidak tahu persis siapa dia, yang aku tahu dia adalah juragan sawit. Dia menyuruhku menghabisi Sita karena dia dekat denganmu dan itu menghalangi jalan anaknya untuk mendapatkanmu."


Rama terkejut, jantungnya seakan berhenti dan nafasnya terasa sesak. Roni yang paham seketika mengambilkan Rama air mineral dan meminta Rama untuk minum.


"Bos minum dulu, tenanglah."


Rama mengambilnya dan meminum air dalam botol dengan perlahan. Dadanya kembali normal nafasnya pun tidak tersengal lagi.


"Astagfirullah…." Rama mematung, ternyata apa yang menimpa Sita itu semua karenanya. 


Maureen yang tidak paham akan situasi tersebut hanya diam. Roni lalu membawa Mauren kepada polisi yang sudah berada di sana. Maureen berteriak histeris.


"Lepas… lepaskan aku… Dasar badjingan… kau membohongiku. Awas kau… lepas!!!"


Mauren terus berteriak bahkan saat sudah berada di mobil polisi. Rama sama sekali tidak bergeming, ia seakan tuli dengan teriakan Mauren.


"Bukan bos. Bukan Bos Rama… itu si bedebah Eko Priambudi."


" Tapi semua gara-gara aku Ron."


" Nggak bos. Itu gara-gara keserakahan Eko. Ia rela melakukan segala cara. Bos harus kuat jangan terpuruk dengan rasa bersalah. Bu Sita sudah tidak apa-apa yang kita inginkan adalah bagaimana bisa memenjarakan Eko tanpa dia bisa melakukan pembelaan sama sekali."


Rama termenung apa yang dibicarakan Roni benar. Ia harus segera membereskan Eko ini.


"Oke Ron, kau benar. Kita hatus bergerak cepat. Tapi ini tidak akan mudah. Kita harus memperketat pengawalan terhadap Sita dna Kai. Aku merasa dia tidak akan mudah berhenti."


"Siap bos."


Rama dan Roni keluar dari tempat itu. Roni mengantarkan Rama ke apartemen dan dia sendiri kembali ke perusahaan. Setelah turun dari mobil Rama kemudian berlari, cepat-cepat ia menekan tombol lift. Ia ingin segera menemui Sita dna mengucapkan kata maaf.


"Ayooo… lama banget sih ini lift...cepet napa." Gumam Rama. Rama begitu kesal karena banyak sekali yang menggunakan Lift itu jadi ia tak kunjung sampai di lantai tempat kamar apartemennya berada.


Tring….


Pintu apartemen terbuka Rama berlari, beberapa orang melihat Rama dengan tatapan bingung tapi dia acuh. Saat ini yang dipikirkan ingin menemui Sita dan mengungkapkan rasa bersalahnya.


Memasuki Rumah ia melihat Sita tengah berdiri di dapur tampaknya ia sedang memasak di sana. Rama berjalan cepat dan berhenti tepat di belakang sita.


"Ta…." Grep, Rama memeluk Sita. Sita yang tidak siap atas perlakuan Rama hanya diam membatu. Rama mengeratkan pelukannya sambil mengucapkan maaf.


"Maafkan aku… aku minta maaf Ta. Semuanya gara-gara aku. Aku benar-benar minta Maaf."

__ADS_1


Sita hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan Rama tanpa bertanya apapun. Ia mengusap punggung Rama dengan lembut. Dia tau pria di depannya itu sedang merasa tertekan.


15 menit berlalu Rama akhirnya melepaskan pelukannya. Sita tersenyum menatap wajah Rama. Senyuman yang dapat memporak porandakan hati Rama dan semakin menambah rasa bersalahnya.


Sita berinisiatif menggandeng Rama dan membawanya duduk.


" Ada apa mas. Bicaralah. Kenapa kamu minta maaf sama aku. Sedangkan kamu nggak pernah buat salah sama aku."


"Mauren Ta, mauren adalah orang suruhan Eko. Eko itu teman ayah yang ingin menjodohkan anaknya kepadaku. Dia tau aku dekat denganmu dan menganggapmu sebagai penghalang. Jadi dia…."


"Sudah jangan diteruskan. Aku mengerti."


"Tapi Ta, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu dan Kai."


Sita mengerutkan keningnya mencoba menelaah maksud ucapan Rama.


"Maksud mas Rama?"


"Aku… Aku menyukaimu Ta. Aku jatuh cinta sama kamu." Akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulutnya.


"Hehehe mas Jangan bercanda ah. Nggak lucu."


"Ta, apa aku terlihat sedang bercanda." Rama menatap lekat mata hazel Sita yang indah. Ucapannya dalam. Sita bisa merasakan keseriusan dalam tatapan mata Rama. Sita pun sedikit memundurkan tubuhnya.


"T-tapi mas. Sejak kapan?"


"Sejak aku menemanimu melahirkan Kai."


"Apa….!!!" Sita terkejut. Ia tidak bisa mengatakan apapun dan berpikir apapun.


"Sejak saat itu aku sudah jatuh cinta padamu, saat aku bilang jika ayahnya tidak mau maka aku siap jadi ayahnya itu adalah kalimat serius yang kuucapkan bukan sebuah candaan."


Sita menelan salivanya dengan kasar, ia mengingat momen itu. Ia juga ingat kata kata Rama saat itu. Saat Rama hendak pergi dari ruangannya setelah membantunya. Sita masih tidak bisa berkata-kata.


Rama mengikis jarak, ia mendekatkan tubuhnya ke arah Sita dan meraih tangan Sita.


"Ta, apakah kamu mau menerimaku."


"Tapi mas aku…"


"Aku tau kamu masih punya trauma. Tapi aku yakin aku bisa menjadi obat trauma. Aku akan pelan pelan membuatmu percaya padaku."


Rama mulai mendekatkan wajahnya, dada Sita bergemuruh. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasnya menjadi tidak beraturan.


Rama semakin mendekat, Sita memejamkan matanya. bibir Rama sudah sangat dekat dengan bibir Sita.


"Mom, apakah sudah matang."


Gludak….


Sita reflek mendorong Rama hingga Rama terjatuh dari kursi.


"Astagfirullah ,mas maaf aku nggak sengaja"


"Uncle… Apa uncle baik baik saja."


Sita membantu Rama berdiri begitu juga dengan Kai.

__ADS_1


Sial, bibir nggak dapet malah kejengkang heh, sakitnya nggak seberapa tapi malunya, ampuun Kai kenapa sih kamu muncul disaat kritis begini, batin Rama sedikit kesal.


TBC


__ADS_2