
Belum puas terkejut dengan kedatangan Dani Atmaja di JD Advertising lalu Rama yang juga datang dengan tiba-tiba, kepanikan Adit dan suara bentakan Rama yang menggelegar di lobby perusahaan. Sekarang para karyawan Adit itu dibuat bingung juga panik saat melihat Sita tak sadarkan diri di gendongan Rama, orang nomor satu JD Grup.
Tidak ada yang tidak mengenal Rama. Kepanikan Rama bahkan tampak jelas di wajahnya, sekali air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Sayang… please… bangun ya…" Gumam Rama pelan.
Dibelakang Rama terlihat Adit dan Roni yang berlari. Adit berlari kencang mendahului Rama untuk keluar perusahaan menuju tempat parkir mobil dan membawanya ke depan pintu lobby. Sedangkan Roni masih terus menghubungi Dokter Dika.
"Sial.. Apakah dokter Dika sedang sibuk."
Tut...tut...tut….
"Bos…."
"Ron, aku nggak mau ada kesalahan."
Roni terdiam, ia sangat tahu bosnya tengah panik saat ini. Roni terus menghubungi dokter Dika.
"Alhamdulillah tersambung. Dok… Maaf ada keadaan darurat. Nyonya Sita tiba tiba pingsan. Kami sedang menuju ke RS."
"Baik saya tunggu kalian di depan pintu IGD."
Roni bernafas lega begitu pun Rama yang sudah mendengar pembicaraan Roni dan dokter Dika karena Roni mengaktifkan mode loudspeaker pada panggilannya tadi.
Adit sudah siap di mobile, Roni langsung membuka pintu belakang dan membantu Rama masuk. Lalu dia menutup pintu tersebut dan duduk di depan bersama Adit.
Adit langsung menekan pedal gasnya dengan dalam dan segera melaju ke rumah sakit. Di kursi belakang Rama tak henti-henti nya memanggil Sita.
"Sayang… bangun...ayo dong jangan bikin aku takut…"
Rama menggosok tangan Sita yang mulai dingin.
"Sita please… jangan membuatku takut."
"Ta… bangun… maafin aku Ta… aku beneran minta maaf tidak bisa melindungimu. Sayang… please… Ayo bangun ya."
Rama sudah kehabisan akal, dia bingung harus berbuat apalagi. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya melihat Sita yang tak kunjung bangun.
Sedangkan di rumah Kai yang mendapat notif pesan dari pengawal bayangannya langsung memanggil Hardi dan Ayu.
"Eyang putri… eyang kakung…."
"Apa sayang, Kai lapar nak. Mau makan."
"Antarkan Kai ke RS Mitra Harapan ya. Mommy pingsan di kantor dan sekarang menuju ke sana."
"Astagfirullah… apa. Sita… ayo ayo… eyang putri panggil eyang kakung."
Ayu tampak begitu terkejut mendengar perkataan Kai. Bahkan ia sampai lupa bocah itu dapat kabar dari mana.
Ayu mencari Hardi, ternyata Hardi berada di halaman belakang tengah memberi makan ikan ikan hiasnya.
"Yah, ayo… kita ke rs. Sita katanya pingsan. Dia sedang di perjalanan kesana."
"Ya Allaah gusti, ono opo maneh kie (ada apa lagi ini), ayo cepet kita ke rs. Semoga sita nggak pa pa."
__ADS_1
Hardi, Ayu, dan Kai langsung masuk mobil menuju ke RS Mitra Harapan dengan di supiri oleh Pomo. Hardi dan Ayu mencoba tenang mengingat ada Kai di sebelah mereka. Bocah itu tidak tampak menangis namun malah terkesan marah. Kilatan kemarahan terlihat jelas di mata nya.
"Le… kai… tenang ya. Mommy pasti baik baik saja." Ucap Ayu menenangkan.
"Iya eyang." Jawab kai sambil tersenyum simpul. Bocah itu cepat sekali merubah ekspresi wajah dan tatapan matanya. Semua itu tidak luput dari pandangan mata Hardi.
Anak ini tidak sesederhana kelihatannya, bocah ini begitu spesial. Dia buka anak yang akan menginjak usia 7 tahun ada hal lain di dirinya yang lebih dewasa dari sekedar angka umur. Batin Hardi.
🍀🍀🍀
Beruntung keadaan jalan tidak terlalu ramai jadi perjalanan dari JD Advertising ke RS Mitra Harapan hanya butuh waktu 29 menit. Hampir saja tadi Adit meminta bantuan patwal jika jalanku penuh.
Ciiiiiiiit
Adit menepikan mobilnya tepat di depan pintu IGD, dan benar saja dokter Dika sudah berada di sana dengan sebuah brankar dan 2 orang perawat.
Rama turun dari mobil sambil menggendong Sita. Dika pun meminta Rama meletakkan Sita di brankar dan kemudian mendorongnya menuju ruang tindakan.
Dokter Dika masuk, sedangkan Rama,Roni, dan Adit menunggu di sana.
Tak lama Hardi dan Ayu datang bersama Kia. Bocah itu berlari dna ditangkap oleh pelukan Rama.
Menangis, ya bocah itu menangis. Bocah yang akan beranjak usia 7 tahun itu menangis tanpa suara. Hanya isakan, namun cukup membuat pilu orang yang mendengarnya.
"Sttt… boy anak solih pinter, cup ya. Mommy pasti baik baik saja. Mommy hanya kecapekan." Rama berbohong, ia mencoba menenangkan Kai. Ia tak ingin hubungan ayah dan anak yang sudah buruk itu bertambah buruk.
"Ayah jangan membelanya, aku tahu apa sudah dia lakukan." Bisik Kai di sela-sela isakannya.
Rama tercekat, matanya membelalak mendengar suara lirih Kai yang begitu menekan. Ia merasakan getaran marah dan benci dalam suara bocah itu.
Kai merenggangkan pelukannya dan menatap Rama dengan lekat lalu mengangguk.
"Bagus. Jika Kai percaya dengan ayah maka percaya juga mommy tidak akan kenapa napa. Ok boy. Dan satu lagi jangan ada dendam dalam hati mu nak. Ikhlaskan serahkan kepada Allaah. Maka hatimu akan tenang. Kai, hati yang dipenuhi dendam maka sesungguhnya di sana ada iblis yang bersemayam, maka hilangkan dendam itu."
Kai termangu ia pun membuang nafasnya perlahan lalu mengangguk mengerti.
Tama tersenyum,"good boy, this is my son."
30 menit berlalu sejak Sita mendapat penanganan medis. Dokter Dika akhirnya keluar dengan wajah khasnya datar dna dingin.
"Bu Sita sudah sadar. Dan alhamdulillaah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bu Sita pingsan karena tekanan darah rendah dan gula darahnya juga rendah serta terlalu emosional"
Alhamdulillaah….
Semua orang bernafas lega terutama Kai dan Rama. Pria berbeda umur itu langsung masuk tanpa aba aba. Dokter Dika yang melihat hanya tersenyum tipis.
"Oh iya bu Sita boleh langsung pulang setelah menghabiskan infusnya."
"Baik dokter terimakasih." Ucap Hardi.
Mereka pun kembali duduk di kursi tunggu. Mereka membiarkan Rama dan Kai berada di dalam.
"Dit, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Hardi.
Huft… adit membuang nafasnya perlahan dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi di perusahaan. Mulai dari kiriman bunga lili dan kedatangan Dani mantan suami Sita.
__ADS_1
Hardi dan Ayu terdiam, mereka ikut merasakan sakit yang Sita rasakan. Di saat tidak punya sanak keluarga hamil tanpa suami karena suaminya berselingkuh sungguh hal yang sangat menyakitkan.
Sedangkan di dalam ruangan Rama dan Kai memeluk Sita dengan posesif. Mereka berdua enggan meleoaskan Sita.
"Oh ayolah boy, men, mommy tidak apa apa. Mommy hanya lelah sedikit saja." Sita mengeluh dengan kelakuan kedua pria beda generasi itu.
"Ya Allaah, mas, Kai. Sudah ayo kita pulang. Sebentar lagi infusnya habis."
Mereka bergeming, tidak bergerak sama sekali.
"Oh c'mon, apakah kalian akan membiarkan aku kelaparan."
Kata lapar berhasil membuat keduanya melepaskan pelukan itu.
"Sayang kamu lapar? mau makan apa nanti biar Roni yang beli."
"Mommy lapar? Kai pesankan makanan Mau?"
Bukannya menjawab Sita hanya tertawa geli melihat tingkah suami dan anaknya itu.
Tak lama datang seorang perawat melepas infus yang sudah habis.
"Anda sudah boleh pulang nyonya. Semoga selalu sehat"
"Terimakasih sus."
Sita hendak turun dari brankar namun dilarang oleh Rama. Rama ingin menggendong Sita. Tapi Sita menolak, akhirnya Rama mengalah.
Di luar ruangan tampak semua orang tengah menunggu langsung berdiri melihat Sita keluar dari ruangan itu.
"Maafin Sita yah, bu, membuat anda berdua khawatir."
Ayu tidak menjawab namun ia langsung memeluk Sita. Sita merasa nyaman dengan pelukan Ayu, ia merasakan kelembutan seorang ibu.
"Nggak nduk, tidak perlu minta maaf. Kamu juga anak ibu."
Akhirnya mereka kembali ke rumah kecuali Roni dan Adit mereka kembali ke perusahaan masing-masing. Lagi lagi Adit harus merelakan Sita untuk cuti bekerja karena permintaan Rama.
"Huft alamat alamat ngelembur lagi." Keluh Adit.
"Ahahahah nikmati aja bro." Ledek Roni.
Mereka berdua berada di mobil yang sama kembali ke JD Advertising karena Roni meninggalkan mobilnya di sana.
"Nikmati sih nikmati tapi dedek ku ini lama tidak menikmati basahnya gua lembah kenikmatan."
"Astagfirullah, brengsek koe Dit. Sesat emang."
Adit hanya terbahak melihat reaksi dan jawaban Roni.
TBC
hay hay readers... happy weekend ya...
nih otor kasih satu bab lagi. yok jangan lupa nyawernya ya hehehhe. terimakasih matursuwun sanget.
__ADS_1