Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
87. Aku Adalah Mr. Sun


__ADS_3

Hardi terlihat masih geram dengan semua berita mengenai keluarganya. Bukan karena beritanya namun lebih kepada para saudaranya. 


" Sudah yah, ayah tidak usah memikirkan mereka. Biarlah mereka mendapatkan hukuman. Ayah fokus saja dengan kakek."


"Benar, biar mereka dapat hukuman sesuai apa yang dilakukan."


"Oh iya yah, sepertinya Rama harus balik ke kota J. Banyak hal yang harus dikerjakan, kasian Roni kelimpungan sendiri."


" Astagfirullaah, ayah hampir lupa itu. Ya baiklah. Kalian kembalilah dulu. Ayah dan ibu akan disini untuk beberapa waktu."


Rama mengangguk, ia sengaja mengucapkan akan kembali ke kota J lebih keras agar Kai mendengar. Bak gayung bersambut Kai pun langsung menghubungi Q untuk menyiapkan pesawat pribadi lagi besok pagi untuk membawanya kembali ke kota J.


***


Sita membereskan semua pakaian dan memasukkannya ke dalam koper saat mengetahui mereka bertiga akan kembali ke kota J besok.


Sita melihat Kai sudah tidur dengan nyenyak. Ia pun berjalan pelan keluar menemui Rama yang tengah duduk di balkon kamar hotel tersebut dna memeluk suaminya itu dari belakang.k


"Mas… lagi mikirin apa."


"Eh sayang, Kai sudah tidur? Nggak… nggak lagi mikir apa apa."


Rama menarik tubuh Sita di pangkuannya lalu mengelus perut Sita dengan sangat lembut. 


" Terimakasih ya sayang."


" Terimakasih untuk apa mas?"


"Kau telah memberiku anak anak yang luar biasa, Kai dan ketiga yang berada di sini."


Rama mencium perut Sita, dan tangan Rama mulai menyusup kedalam baju Sita mencari benda kenyal kesukaanya. Ia menundukkan kepala istrinya itu lalu meraup bibir Sita. Mereka berdua larut dalam cium*n yang semakin dalam. Rama mulai menurunkan bibirnya ke leher lalu terus turun ke bukit kembar yang terlihat semakin kencang itu.


"Shhh…." 


Sita mendesis saat mulut Rama memainkan bukitnya. Tangan Rama bergerilya turun.


"Mas…"


"Aku tau sayang, kita belum boleh melakukannya. Tapi aku bisa menyenangkan mu dengan cara lain."


Sita hanya bisa diam dan menurut apa yang Rama perbuat. Ia menggendong sang Istri menuju ke dalam dan meletakkannya ke sofa. Rama kembali mencium Sita dan mengulang yang sudah dilakukannya tadi.


Tangan Rama kembali turun ke bawah mencari lembah yang sudah sangat basah. Ia memainkan jarinya di sana membuat sang Istri melenguh panjang.


Rama tersenyum, karena sang istri sudah sampai di puncaknya.

__ADS_1


"Sekarang giliran ku, sayang maukah kamu membantuku?"


Sita mengangguk paham dia pun melakukan hal yang dipahami untuk membantu suaminya melakukan pelepasan.


"Shhhhh ….."


Rama pun sampai juga pada puncaknya. Ia ikut menjatuhkan tubuhnya ke sofa lalu memeluk istrinya erat.


"Maaf ya mas, aku…."


"Sttt, nggak usah bilang apa apa. Aku tahu kok. Ini kan demi para krucil yang masih di perutmu. Tenang saja aku paham itu. Aku ini suami yang sangat pengertian kok hehehe."


"Haishh… mas biasa saja tapi benar kamu yang sangat pengertian."


Sungguh aku sangat bersyukur bertemu dengan kalian berdua. Kau dan Kai, aku benar benar menemukan berlian yang tak bernilai.


🍀🍀🍀


Pagi harinya mereka sudah berada di bandara kota S. Lagi lagi pesawat Linford Air sudah berada di sana, dan beberapa orang berpakaian jas hitam berjajar di depan tangga pintu masuk pesawat tersebut.


"Selamat pagi tuan…" Seorang diantara mereka membungkuk dan memberi salam diikuti yang lainnya.


"Ya… Selamat pagi. Bisakah aku bertanya?" Jawab Rama.


"Baik tuan silahkan, apa yang hendak ingin anda tanyakan." 


"Maaf tuan, kami tidak bisa menjawab itu. Kami hanya menjalankan perintah untuk mengantar anda dan keluarga."


"Baiklah… terimakasih."


Rama pun menuntut Sita menaiki tangga memasuki pesawat pribadi tersebut. Linford Air memang memiliki pesawat pribadi khusu digunakan Q untuk menghadiri acara ada urusan bisnis baik di dalam maupun di luar negeri.


Kai yang mendengar jawaban dari para pengawal suruhan Q pun hanya tersenyum simpul.


"Good Q, kau memang bisa diandalkan," gumam Kai pelan.


Rama masih mencoba mencerna semua kejadian ini, sepertinya ia akan menanyai Kai. Rama merasa Kai mengetahui sesuatu.


Setelah mereka semua duduk akhirnya pesawat pun lepas landas. Rama meminta izin kepada Sita untuk duduk dengan Kai.


"Sayang aku ketempat Kai dulu sebentar ya. Kasihan dia sendirian gitu."


"Iya mas, aku juga sangat ngantuk pengen tidur."


Rama tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya lalu duduk di samping Kai.

__ADS_1


" Boy, bolehkah ayah duduk di sini."


"Of course, silahkan ayah."


"Boy, ayah ingin bertanya sesuatu padamu. Ini tentang beberapa kejadian yang terjadi beberapa hari ini. Ayah merasa kau mengetahui sesuatu."


Kai seketika tertunduk mendengar pernyataan Rama. Rama melihat perubahan ekspresi Kai dengan sangat jelas. Kai sangat terkejut, namun secepat kilat ia merubah keterkejutannya dengan tatapan mata yang begitu manis.


"Ayah… Apa kau curiga terhadapku?"


"Apakah ayah boleh jujur?"


" Tentu saja, mungkin dengan saling terbuka kita bisa saling memahami."


"Baiklah, ayah memang curiga terhadap Kai. Semenjak ayah tau Kai bisa meretas cctv milik apartemen ayah saat mommy bertemu dengan mantan suami mommy. Lalu ayah semakin curiga ketika kamu memberi ayah uang sebesar $1.000.000. Ayah berpikir keras bagaimana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu yang bahkan perusahaan ayah membutuhkan beberapa waktu untuk mendapatkannya."


Rama menghentikan ucapannya. Ia kembali melihat ekspresi putranya itu. Namun Kai sangat tenang bahkan tidak ada gurat kegelisahan sama sekali.


"Hingga kejadian terbongkarnya kejahatan keluarga besar Joyodiningrat sepertinya semuanya sudah diatur, pesawat pribadi, mobil rolls royce dan para pengawal. Ayah merasa kamu mengetahuinya."


Kai menatap Rama dengan lekat, ia mencari sesuatu di sana. Mencari sebuah kemarahan atau kekecewaan, namun Kai tidak menemukan itu. Ia hanya menemukan tatapan kekhawatiran dan rasa sayang.


Huft….. Kai membuang nafasnya secara perlahan. Ia merasa siap untuk mengungkapkan. Mungkin ini waktunya.


"Apakah ayah akan marah jika memang aku yang mengungkapkan kejahatan keluarga ayah ke pihak berwajib?" 


Rama tersenyum, ia memahami kegalauan putranya itu.


"Tentu saja tidak boy, ayah tidak akan marah. Karena jika mereka memang salah maka mereka memang haruslah dihukum sesuai dengan kesalahannya."


"Alhamdulillah jika ayah tidak marah. Baiklah… tapi Kai harap ayah tidak akan terkejut dan aku mohon jangan beritahukan ini ke mommy."


"Why?"


"Aku tidak ingin mommy khawatir Yah, aku hanya ingin mommy hidup bahagia tanpa berpikir yang aneh aneh. Terlebih mommy sedang mengandung adik adikku."


"Baiklah, sesuai mau mu. Kau memang anak dan calon kakak yang baik."


Kai tersenyum sepertinya memberitahu Rama tentang identitasnya yang lain bukanlah pilihan yang buruk setidaknya Ayah nya itu bisa menjaga rahasianya dengan sangat baik.


"Janji ayah tidak akan terkejut ya."


Rama mengangguk, sejujurnya dia sudah sangat penasaran.


"Ayah… Sebenarnya…. Aku… adalah… Mr. Sun."

__ADS_1


"Apa…..?!!!!?!?!?!"


TBC


__ADS_2