
Hay readers… weekend ini othor beri 3 bab ya. Sekali lagi othor minta maaf jika sekirannya karya othor ini mengecewakan para readers. Othor menyadari karya othor ini masih jauh dari sempurna. Terimakasih bagi para readers yang telah banyak mendukung Othor dan membersamai othor dalam proses belajar othor.
Love you all readers.
...****************...
Kesibukan Roni bertambah karena Rama tengah terbaring di rumah sakit, begitu juga dengan Adit. Mau tidak mau dia juga ikut andil dalam divisi legal karena ketua tim legal mereka saat ini masih belum sadarkan diri. Adit memanggil anggota tim legal untuk datang ke ruangan mereka.
"Ada apa ya kok kita dipanggil?" Bisik Anjar.
"Entah, mana bu Sita tidak ada lagi. Aku jadi deg deg an. Jangan jangan kita buat kesalahan." Ucap Lia yang sukses membuat ketiga temannya gemetaran.
"Ekhem…."
Adit berdehem, dia kemudian duduk di sofa dalam ruangan tersebut dengan menyilangkan kaki nya. Sungguh terlihat begitu mempesona dan berwibawa. Lia dna Desi dibuat kagum dengan tingkah bos besar mereka. Jika Desi terang terangan memperlihatkan kekagumannya maka berbeda dengan Lia. Gadis manis berhijab itu menundukkan wajahnya.
"Saya mengumpulkan kalian di sini karena ada yang harus saya sampaikan mengenai kepala Staf kalian."
Adit menjeda ucapannya, ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkan perlahan.
"Mbak Sita,, eh maaf maksudku Bu Sita saat ini tengah berada di rumah sakit dengan kondisi yang tidak baik. Jadi kedepannya saya harap kalian bisa bekerja lebih keras lagi untuk menjalankan tim legal dengan baik."
"Maaf pak Adit, Bu Sita kenapa pak?" Iman memberanikan diri bertanya.
"Apa yang terjadi dengan bu Sita pak." Anjar menambahkan.
Mereka cukup terkejut mendengar berita Sita berada di rumah sakit.
"Bu Sita kemarin terlibat laka lantas, sekarang masih di ruang ICU. Beliau tengah koma. Aku di sini juga meminta kalian untuk mendoakannya agar dia bisa kembali berkumpul bersama kita lagi."
" Astagfirullaah…. " Anggota staf legal yang punya julukan kembar 4 itu berteriak serempak. Bahkan Desi dan Lia tampak mulai menangis.
"Sudah jangan buat keributan. Aku harap berita ini jangan sampai keluar ya. Aku ingin kalian merahasiakannya. Kalau ada yang tanya bilang aja Bu Sita Cuti."
"Baik pak." Keempatnya mengangguk. Mereka pun undur diri. Namun belum sempat mereka keluar ruangan Adit memanggil mereka kembali.
__ADS_1
"Tunggu, untuk sementara waktu iman kamu yang jadi ketua Tim."
"S-saya pak. Tapi." Iman tergagap, dia kemudian mendapat tepukan di bahu nga dari Anjar. Disana Anjar mengangguk memberi tanda untuk mengiyakan perintah sang Bos.
"Baik pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
Adit menangguk, mereka berempat pun keluar ruangan. Di luar ruangan Adit iman melayangkan protes kepada Anjar.
"Njar, kok kamu suruh aku terima sih."
"Man… Bukan waktunya untuk menolak. Kita akan bekerja bersama-sama. Ingat kasian bu Sita dan pasti Kai juga sedih lihat mommy nya masih belum sadar. Meskipun kita tidak bisa membantu apa apa paling tidak sekarang yang bisa kita lakukan adalah bekerja dengan baik dan membuat tim legal tetap dalam kondisi stabil meski bu Sita nggak ada."
Desi dan Lia mengangguk menyetujui ucapan Anjar. Iman mendengus namun dia pun akhirnya mengangguk. Dia membenarkan ucapan para rekannya itu.
🍀🍀🍀
Bi Surti dan mbak Susi yang sudah diberitahu oleh Roni pun sangat syok. Apalagi bi Surti ia menangis sejadi jadinya, bahkan sampai pingsan. Saat bangun ia seperti orang linglung mencari keberadaan Sita.
"Neng… dimana kamu neng… sus, ibu sudah pulang belum Sus."
"Bu… kita harus kuat. Kalau kita kayak gini kasian bu Sita kasian den Kai pasti mereka sangat sedih. Kita harus selalu mendoakan bu Sita agar segera sadar. Oh iya bu kita juga harus ke rumah sakit untuk membawakan baju bu Sita dan den Kai, serta makanan. Kasian pasti den Kai belum makan."
Mendengar perkataan Susi, Bi Surti langsung berdiri menuju ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Kai. Susi tersenyum, ia berhasil membujuk Bi Surti. Susi pun bergegas ke kamar Sita dan Kai untuk mengambil beberapa baju yang akan dibawa ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Kai kukuh minta masuk ke ruangan Sita. Padahal dokter sudah melarangnya. Tapi Kai tetap berusaha sebisa mungkin untuk bisa diizinkan masuk, meski dia harus merengek seperti anak kecil pada umumnya. Kai sedikit terkejut saat mengetahui dokter yang menangani mommy nya adalah dokter Dika. Kai tahu dokter Dika ini adalah suami dari Q, teman mafianya.
"Dokter… please… izinkan aku masuk menemani mommy. Siapa tau dengan adanya aku mommy akan cepat bangun. Please." Kai memohon kepada dokter Dika. Ia bahkan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Tidak hanya Kai, Hardi dan Ayu pun ikut membantu Kai memohon.
Huft….. Dokter Dika mendengus. Ia sebenarnya juga tidak tega melihat bocah itu.
"Ya sudah saya izinkan." Kai tersenyum lebar dia pun langsung masuk diikuti oleh Hardi dan Ayu.
Mereka bertiga sangat terkejut melihat kondisi Sita. Terlebih Kai. Kai sudah menangis sesenggukan namun ia menghapus air matanya itu dan mengatur kembali nafasnya yang tersengal.
"Mom… ini Kai. Kesayangan mommy. Mommy kapan banngun, kai rindu mommy. Mommy jangan lama-lama ya tidurnya." Bocah itu mengusap tangan Sita dan menciumnya. Ia juga mencium wajah Sita membisikkan kata sayang.
__ADS_1
Hardi dan Ayu yang melihat pemandangan di depannya itu pun ikut terenyuh. Bocah seusia Kai mampu bersikap dewasa. Anak lain seusianya pasti akan menangis meraung, tapi tidak dengan Kai. Ayu pun meneteskan air matanya. Ia juga mendekat ke arah Sita dan mengusap air mata yang merembes dari mata wanita cantik itu.
"Nduk cah ayu, cepet bangun yo. Putramu kasian sendirian." Ayu juga mencium kening Sita.
Hardi keluar dari ruangan Sita membiarkan istrinya menemani Kai. Ia kemudian menuju ruangan Rama. Tampak Rama tengah menggerakkan tangannya dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Hardi langsung menekan tombol di samping brankar Rama.
Dokter Dika dan beberapa perawat datang.
"Alhamdulillah. Pasien sudah sadar Tuan. Sebentar saya akan melakukan pemeriksaan dulu."
Hardi bersyukur, ia memundurkan tubuhnya membiarkan Dokter Dika memeriksa.
"Baik pak, pak Rama sepertinya sudah tidak apa-apa. Hanya tinggal pemulihan saja. Untuk cedera kaki sementara menggunakan kursi roda dulu karena kaki kanan pak Rama ada retakan di tulang keringnya."
"Baik dok terima kasih." Ucap Hardi.
Dokter Dika pun undur diri. Hardi bersyukur melihat Rama susah sadar.
"Ayah…."
"Ya nak, kamu mau apa."
"Si-sita m-mana yah. Sita … ti..tidak aapa..aapa kan?"
Hardi terdiam. Meskipun belum dijelaskan ia tahu putranya itu menyukai ibu dari Kai. katena ketika sadar hal pertama yang ditanyakan adalah Sita.
"Sita ada di ruangan sebelah."
"Lho.. K-kok a-ayah t-tau siapa sita. Padahal aku belum jelasin"
"Sudah jangan banyak omong dulu, nanti jelasinnya. Sekarang kembali istirahat dulu biar cepat membaik. yang ayah tau wanita yang bersamamu saat laka bernama Sita."
Hardi kembali meminta Rama istirahat. Ia masih belum siap menerima pertanyaan Rama yang lebih lanjut mengenai kondisi Sita.
TBC
__ADS_1