Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
67. Bunga Lili


__ADS_3

hay hay readers.... happy reading yak. terimakasih banyak udah membaca karya othor dan dukung otor dengan like komen dan sawerannya hehehe. itu membuat Othor semangat. dan please... untuk silent reeader othor berharap bisa meninggalkan jejaknya ya minimal like. yang baca karya othor ahamdulillaah banyak tapi like nya sangat tidak seberapa. terimakasih semuanya. yuk tekan like dulu sebelum baca hihihihi


...****************...


Adit tersenyum lebar melihat kakak iparnya itu. Ia sangat bersyukur, akhirnya Sita bisa masuk kerja lagi. Sungguh ia sangat kerepotan saat Sita tidak ada. Divisi legal tidak semudah yang dia pikirkan. Belum lagi kalau klien nya rewel, sungguh sangat merepotkan.


"Syukur Alhamdulillaah akhirnya mbak Sita datang juga. Aku sudah dari tadi nungguin mbak di sini." Ucap Adit hendak memeluk Sita namun ia kembali memundurkan tubuhnya. Ia lupa jika singa jantan itu sangat posesif. Adit pun mengamit lengan Sita dan mengajaknya berjalan menuju ruangannya.


Banyak pasang mata yang menatap interaksi bos besar mereka dengan Sita dengan berjuta pertanyaan.


Mengapa bos besar mereka repot repot menunggu kedatangan Sita di lobi yang notabene nya hanya karyawan biasa?


Mengapa presdir yang terkenal datar dan dingin itu begitu ramah dengan Sita bahkan terkesan memasang muka manja?


Dan yang paling ingin mereka tahu, kemana selama ini Sita pergi mengapa lama tidak masuk bekerja dna mengapa bos mereka tidak marah?


Banyak sekali prasangka-prasangka yang dilontarkan kepada Sita.


"Heh dasar wanita penggoda. Bisa bisa nya ia menggoda presdir kita." 


"Iya, dia pake pelet apa ya pak Adit bisa berwajah manja begitu.?"


"He em, dia juga nggak masuk lama. Nggak tau tuh kemana."


Kasak kusuk beberapa karyawan membuat sita menghela nafasnya dalam. Sedangkan Adit yang mendengar wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Tangannya mengepal sempurna hingga menampilkan buku buku putih.


Adit hendak meneriaki para orang yang menggosip tentang Sita, namun dengan cepat Sita menarik tangan Adit dna menggeleng pelan.


"Sudah jangan diladeni biarkan mereka mau ngomong apa. Ingat di dunia ini itu cuma ada dua tipe orang. Satu yakni orang yang suka sama kita, dua yakni orang yang tidak menyukai kita. Entah seperti apa kita mendeskripsikan diri kita terhadap orang yang tidak menyukai kita tetap saja mereka akan membenci. Jadi biarkan saja."


Hah… Adit membuang nafasnya kasar. Adit menyadari dia adalah orang yang brengsek, namun Adit tidak suka jika ada yang menyinggung keluarganya dan saat ini Sita adalah bagian dari keluarganya yang harus ia lindungi juga.


Namun Adit menyimpan kekaguman terhadap Sita. Sita bisa tenang dan tidak terpengaruh dengan omongan orang terhadapnya.


"Oke mbak, sudah sampai. Aku yakin kembar 4 itu sudah sangat merindukanmu."


"Terimakasih Dit, maaf ya jadi banyak ngerepotin."


Adit tersenyum dan meninggalkan ruangan Sita setelah Sita masuk.


"Hay… Assalamualaikum anak anakku sayang." Sapa Sita.

__ADS_1


Lia, Desi, Anjar, dan Iman sangat terkejut mendengar suara Sita. Mereka berempat yang tadinya fokus dengan kegiatan masing masing langsung berdiri dan menghambur. Lia dna Desi memeluk Sita sambil menangis. Iman dna Anjar ikut meneteskan air mata mereka.


"Hey… sudah… aku sudah di sini maka kalian akan baik baik saja. Apakah selama tidak ada aku kalian ditindas."


Keempatnya mengangguk mendengar pertanyaan Sita. Memang benar. Saat Sita terbaring koma divisi legal selalu ditindas. Entah dengan cara diburu-buru membuat kontrak, ada saja hak yang salah dengan pekerjaan mereka, hingga menjelek-jelekkan pimpinan mereka.


"Tapi kalian sehat kan?" 


Lagi lagi keempatnya mengangguk.


"Bu Sita sehat kan, masih ingat kita kan. Nggak amnesia seperti cerita novel atau sinetron itu kan?" Akhirnya Anjar buka suara. Namun mendapat cubitan dari iman.


"Auchh… Sakit man, kan aku memastikan."


"Aku baik baik saja, jangan kebanyakan nonton sinetron. Heheh"


"Bu maaf ya, kami tidak bisa jenguk ibu. Tidak dibolehkan sama pak Adit." Ucap Desi.


"Its oke.. Tidak apa apa. Yang penting doa kalian. Itu paling utama. And then let's go to work!!"


Sita sangat bersemangat. Kembar 4 pun juga semangat, rasanya mereka hidup lagi.


🍀🍀🍀


"Maaf, apakah di sini ada yang bernama Arsita Ayuningrum?" Tanya oria tersebut.


Resepsionis wanita itu sedikit terkejut dengan pertanyaan sang pria.


"Maaf ada perlu apa ya mencari Bu Sita."


Yess, berarti bener Sita bekerja di sini. Batinnya.


"Ekhem, saya ingin memberikan ini kepadanya. Tolong sampaikan ya." Terimakasih.


Pria tersebut pun meninggalkan lobi perusahaan setelah menyerahkan sebuah buket bunga lili.


Resepsionis itu hanya melongo melihat pria aneh tersebut.


"Wajahnya familiar tapi dimana ya pernah lihat. Ah bodo amat. Bunga lili. Hemmm. Antarkan sekarang saja lah." 


Resepsionis tersebut langsung berjalan menuju ke ruangan Sita dan memberikan bunga lili yang sudah dititipkan.

__ADS_1


"Siapa pengirimnya?"


"Maaf bu tidak tahu, dia tidak menyebutkan nama. Setelah memberikan bunganya langsung pergi."


" Oke… makasih ya Din."


Resepsionis yang bernama Dina Itu pun kembali ke meja kerjanya. Sambil memegang buket bunga lili, Sita bertanya tanya siapa yang mengirimnya. Mengapa orang itu tahu bunga lili putih adalah bunga kesukaannya.


Tetapi Sita acuh, dia tidak  memperdulikan hal tersebut. Ia kembali ke pekerjaannya. Namun kiriman bunga lili itu datang dan datang lagi hingga memenuhi ruangannya. 


"Bi Sita… ini sudah yang ke 20. Bu… Saya sudah capek wira wiri dari meja resepsionis ke ruangan ibu." Keluh Dina sambil memijat kaki nya.


Sita terdiam ia merasa tidak enak dengan Dina.


"Ya sudah Din, nanti kalau ada yang ngirim lagi kamu tolak aja."


"Kalau kurirnya nggak mau bu."


"Ya sudah taruh di lobi saja. Nanti biar saya yang menjelaskan ke presdir."


Dina mengangguk, ia langsung kembali ke lokasi kerjanya. Sedangkan di dalam ruangan kembar 4 itu ikut bingung dimana mereka akan menaruh bunga lili tersebut.


"Bu…. Ini gimana bunganya banyak banget. Kalo 1 atau 2 sih iya bagus. Kalau 20 buket begini mah ampun deh." Keluh Desi.


"Ehm… kalian bantu saya tolong buang panggilkan OB buat membuang semua bunga ini." 


"Dibuang???" Teriak keempatnya bersamaan.


Sita menjawab dengan anggukan.


"Betewe, kira kira siapa yang mengirim bunga sebanyak ini.?" Tanya Iman penasaran.


"Eh man, dari tadi diem diem bae ternyata kepo juga." Saut Anjar.


"Iyalah,,, gila aja. Mubazir bnaget kirim bunga sebnayak ini. Iya kan bu." Imbuh Iman.


"Betul, saya setuju man. Mubazir memang. kalau makanan kan bisa dibagikan ke seluruh karyawan lha kalau bunga… hmmm "


Semuanya mengangguk membenarkan ucapan Sita. Tak lama beberapa OB yang sudah dipanggil pun datang lalu mengangkut semua bunga lili yang ada di ruangan Sita.


Sita terdiam, sepertinya ia tahu siapa yang mengirim bunga-bunga lili itu.

__ADS_1


"Huft… sepertinya orang itu yang mengirimnya. Sungguh tidak ada kerjaan. Haish dia pikir dengan mengirimiku bunga maka keadaan akan berubah. Anda terlalu percaya diri tuan."


TBC


__ADS_2