Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
41. Kamu Aman Disini


__ADS_3

Disisi lain Sita mengemudikan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Nafasnya tersengal karena dia merasa orang itu masih mengikutinya. Dan benar saja, dia masih diikuti. Dia pun memutar tidak jadi masuk ke Perumahan Dewa resident. Sita punya pemikiran bahwa orang tersebut pasti belum tau dimana tempat tinggalnya.


Sita masih memutar otaknya, dia masih berpikir dimana dia akan menepikan mobilnya. Sita juga tidak mau sembarangan berhenti dirumah orang, takutnya malah membahayakan pemilik rumah.


Sita kembali ke jalan raya, ia berusaha setenang mungkin agar si penguntit tidak menyadari bahwa sebenarnya dia sudah tau kalau diikuti. 


"Di depan ada komplek apartemen, ya sebaiknya aku ke sana."


Sita mengemudikan mobilnya menuju kawasan apartemen. Ia menghentikan  ditempat parkir yang ada di depan gedung apartemen lalu masuk. Sita sembarangan menekan lift. Dalam benaknya ia harus bisa mengelabui penguntit itu. Dia juga tidak mungkin membawa si penguntit ke kantor polisi karena ia tahu pasti si penguntit akan menjauh jika ia ke pergi ke kantor polisi.


Lift yang di tekan tombolnya oleh sita pun terbuka. Ia terburu-buru masuk lalu menutupnya.


Puk… seseorang di dalam lift itu menepuk punggung Sita.


"Astagfirullah." Pekik Sita reflek berjongkok dan menutupi kepalanya.


"Sita… kamu kenapa"


"Ya Allaah mas Rama…." Sita terduduk lemas nafasnya masih tersengal. Ia memegang dadanya.


"Kamu kenapa bisa di sini." Rama menatap bingung. Darimana Sita tahu dia tinggal di apartemen ini dna ada apa dia disini.


Sita masih kesulitan bernafas. Iq belum bisa menjawab pertanyaan Rama. Rama yang paham gurat ketakutan Sita lalu memapahnya berdiri dan menekan lantai tempat dimana ia tinggal.


Tring… pintu lift terbuka. Sita masih membisu tampak syok. Rama masih sangat bingung apa yang terjadi dengan Sita.


"Bos cepet amat makanan nya ma…...na.." Roni yang tadinya berteriak langsung mengecilkan suaranya saat melihat Sita yang tengah dipapah Rama. Roni pun membersihkan sofa agar Sita bisa duduk lalu lari ke dapur untuk mengambil air minum.


Rama mengulurkan gelas air minum yang dibawa Roni sna memberikan kepada Sita.


"Minumlah dulu agar lebih tenang."


Sita mengangguk patuh dan meminum air itu hingga tandas. Terlihat tampak lebih tenang Rama pun mengulang pertanyaannya.


"Ta, kenapa kamu bisa sampai sini dan dari mana kamu tau aku tinggal di sini?"


"Maaf mas aku tidak tahu mas Rama tinggal di sini. Tadi aku hanya sembarangan mengemudi ke sini." Ucap Sita gugup. Tangannya gemetar.


Roni dan Rama saling tatap merekaasih tidak paham ucapan Sita.


"Maksudmu gimana Ta?"


"Tadi aku pulang kantor mampir ke pusat perbelanjaan mau beliin Kai tas. Tapi aku merasa ada yang ngikutin aku. Dna ternyata bener. Aku bilang ke satpam dna satpma nganter aku sampai parkiran. Tapi paa aku mau ke arah pulang ternyata orang itu masih ngikutin aku. Terus aku puter arah biar dia nggak tau rumahku. Dan aku lihat kawasan apartemen ini jadi aku belok kesini aja." Jelas Sita dengan terbata.


"Astagfirullah." Ucap Rama dan Roni bersamaan.


"Jadi maksud bu Sita ada yang nguntit bu Sita." Tanya Roni dan Sita mengangguk.


"Ron coba tanya ke security, cek kamera pengawas." Perintah Rama.


"Siapbos." Roni pun bergegas keluar untuk menjalankan tugas.


Melihat Sita yang masih gemetar Rama memberanikan diri untuk meraih tangan Sita. Tangannya dingin dan begitu gemetar, pasti dia sangat takut, gumam Rama.


"Ta…. Tenang ya. Kamu sudah aman. Kamu aman di sini."


Sita mengambil nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ia merasa kenyamanan disana.

__ADS_1


"Ta lebih baik kamu di sini dulu aja. Takutnya orang itu masih ngawasin kamu."


"Tapi mas.. Kai."


"Aku akan jemput kai. Biar kamu nggak kepikiran sama dia juga dia nggak khawatir sama kamu." 


"Tapi mas. Lebih baik aku pulang aja."


" Ta, please ini demi keselamatan kamu."


Sita terdiam sejenak. Memang benar mungkin di tempat Rama akan lebih aman, karena memang tidak ada tempat lain yang bisa dituju oleh Sita.


"Baik mas. Aku akan disini. Tapi tolong jemput Kai ya mas."


"Good girl. Ok. Tunggu disini aku akan kembali cepat." Reflek Rama mengusap kepala Sita dengan lembut. Entah mengapa Sita tidak mengelak bahkan ia merasa nyaman.


Di luar Roni sudah menunggu Rama untuk memberikan laporan.


"Iya bos, memang ada orang yang mencurigakan di luar apartemen. Tapi wajahnya tidak terlihat karena dia memakai Masker dan topi, dia juga memakai jaket hoodie dan plat nomor mobilnya ternyata palsu."


"Oke kalau gitu, nanti aku akan memanggil orang tapi tidak sekarang takutnya malah mencurigakan. Kamu sementara yang disini aku mau jemput Kai."


"Siap bos."


Sementara Roni menjaga Sita, Rama keluar apartemen dengan santai. Ia berjalan seolah olah tidak tahu apa-apa. 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Dewa Resident.


"Tok tok tok… assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh nak Rama. Masuk."


"Tidak usah bu. Saya hanya mau jemput Kai soalnya Sita lembur dan harus menginap takut kai nyariin."


Di dalam Kai sudah tau kalau yang datang adalah Uncle. Dia juga tau kalau mommynya tidak akan pulang karena pelacak yang ditaruh di jam tangan dan ponsel mommy nya berada di sebuah apartemen bukan di kantor.


"Ayo uncle. Mommy pasti sudah menungguku." Ucap Kai tersenyum.


Rama mengangguk dna menggandeng tangan Kai setelah pamitan dengan Bi Surti. Di mobil Kai bertanya mengenai keberadaan mommynya.


"Mommy tidak di kantor kan Uncle?"


Rama yang mendapat pertanyaan dari Kai terkejut, bagaimana bocah ini bisa tahu, pikirnya.


"Iya mommy ada di apartemen Uncle."


"Ohh… baguslah."


Rama terkejut mendengar jawaban santai Kai. Bocah ini sama sekali tidak terkejut atau menanyakan mengapa Sita bisa berada di apartemennya.


Rama memarkirkan mobilnya di belakang dan melewati pintu belakang. Lagi-lagi Kai sangat santai. Dia hanya mengikuti langkah Rama hingga mereka sampai di apartemen Rama.


"Mommy… are you ok." Teriak Kai saat melihat mommy nya duduk melamun.


"Baby, i'm ok now. Mommy kangen sama Kai." Sita memeluk putranya dan menciumnya sana sini. Kai geli tapi dia membiarkannya. Ia tahu mommynya tengah merasa gelisah.


Rama yang melihat keduanya terpaku.


"Ta, kamu dan Kai bisa tidur dikamarku, nanti aku akan tidur di kamar satunya lagi dengan Roni. Oh iya sholat isya dulu aja yuk biar kamu juga lebih tenang."

__ADS_1


Sita mengangguk ia setuju dengan saran Rama. Sita dan Kai bergantian mengambil air wudhu begitu juga dengan Rama dan Roni.


Rama memberikan mukena dan sajadah,"pakai ini Ta, ini punya ibu kalau ibu lagi datang ke sini." Sita mengangguk dan memakainya.


Mereka berempat shalat berjamaah dengan Rama sebagai imam. Kedua kalinya Rama menjadi imam sholatnya tapi baru kali ini Sita mendengar suara lantunan ayat suci yang merdu dari Rama. Entah mengapa hatinya bertambah tenang.


Sholat isya usai. Mereka memanjatkan doa mereka masing masing dan mengaminkannya. Sita dan Kai masuk kekamar sedangkan Rama dan Roni masih di ruang tamu tengah membahas masalah Sita. Rama menghubungi Juna untuk memakai orang-orangnya. Yang Rama tau orang-orang Juna ini sangat berkompeten di bidangnya.


"Ok sob pakai aja, mereka juga orang mu. Orang kita semua jadi kalau butuh kamu tinggal panggil aja. Kamu, Charles tau Sukhdev kalau butuh mereka langsung panggil mereka akan langsung datang." Ucap Juna sahabat Rama di telepon.


"Thanks bro." 


Rama tenang, Juna memang bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini. Tidak lama beberapa orang sudah datang ke apartemen Rama.


"Saya minta kalian untuk mengawal keselamatan Sita dan pitranya. Tapi jangan terlihat karena dikhawatirkan ketahuan." Jelas Rama.


"Siap bos." Jawab seorang pria yang mungkin ketua dari kelompok tersebut. Mereka pun menyebar ke pos masing masing. Ada yang jadi security, cleaning servis hingga teknisi apartemen. Semua sudah dikondisikan oleh Rama jadi orang di luar tidak akan tahu bahwa mereka adalah pengawal, dan mungkin Sita sendiri juga tidak akan paham.


Saat kembali masuk ke dalam tanpa sengaja Rama melihat Kai tengah mengotak atik laptopnya. Dia tampak sedang melihat cctv sebuah pusat perbelanjaan  dan tempat parkir.


"Kai… kamu sedang apa."


"Yaaah ketahuan", gumam Kai.


Rama meraih laptop milik Kai. Kai pasrah, entah mengapa Kai tidak bisa menolak ataupun melawan Rama. Untuk sekedar berbohong dengan apa yang sedang ia kerjakan pun Kai tidak kuasa.


Rama sangat terkejut melihat tampilan laptop Kai, ia menganga. Berkali-kali mengucek matanya mematikan apa yang sedang dia lihat. Roni yang baru masuk pun terkejut melihat sang bos tengah menyaksikan cctv sebuah pusat perbelanjaan.


"Bos… bos yang melakukan ini?" Tanya Roni. Rama menggeleng dan menunjuk Kai. Roni masih mencerna semuanya.


"Ok boy, jelaskan kepada uncle." Ucap Rama sambil meletakkan laptop tersebut diatas meja.


"Huh….. Itu. Aku meretas cctv pusat perbelanjaan yang mommy datangi. Karena aku tau ada yang tidak beres dengan mommy. Alat pelacak yang Kai pasang di jam dan ponsel mommy menunjukkan mommy berputar-putar di pusat perbelanjaan lebih lama. Jadi aku ambil kesimpulan mommy sedang diikuti dan ternyata benar. Mommy juga tidak memilih pulang dan ke apartemen ini aku sebenarnya sudah tau melalui alat pelacak yang aku pasang."


Rama dan Roni melongo dan membulatkan matanya mendengar penjelasan Kai. Meretas, alat pelacak, sungguh mereka dibuat bingung dengan bocah 6 tahun itu.


"Tapi uncle, om.. Please jangan kasih tau mommy ya. Aku hanya berjaga-jaga agar mommy tidak disakiti orang."


Rama melunak, iq begitu trenyuh dengan omongan Kai. Ia pun meraih tubuh Kai lalu memeluknya dan mengusap kepala bocah itu.


"Baiklah.. Uncle tahu Kai sayang dengan mommy. Uncle akan jaga rahasia ini. Sekarang Kai tidur ya. "


Kai mengangguk patuh, Rama pun mencium puncak kepala Kai lalu kai berlalu masuk ke kamar.


"Ya Allaah bos, itu bocah ajaib kali." Ucap Roni yang sedari tadi tidak sabar ingin komentar.


"Anak ini benar jenius. Hhhhhh tapi kita juga harus waspada jangan sampai disalahgunakan."


Rama menghela nafasnya berat, ia memandangi laptop itu. Mencoba mencari sesuatu namun nihil karena semuanya dikunci menggunakan password oleh Kai.


TBC.


nah... sesuai janji kan weekend othor kasih 3 bab nih. gimana masih kurang???


kalau tembus 500 like nanti ditambahi lagi 1 bab biar readers, puas hihihi.


selamat membaca, dan selamat berakhir pekan.

__ADS_1


semoga selalu sehat semuanya.


__ADS_2